Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 25 Season 2



JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MBMB🥀...


Prankkkkk!!!


Antia menjatuhkan gelas susunya membuat Arion terbangun dari tidurnya. Dilihatnya, istri kesayangannya itu tampak cemas dan gelisah.


"Sayang kamu mengkhawatirkan sesuatu??" Tanya Arion.


"Tiba tiba aku kepikiran Avindra... Mas coba kamu telefon dia, apa dia baik baik aja??" Ucap Antia.


"Sekarang sudah tengah malam, mungkin saja Avindra sudah tidur." Ucap Arion menenangkan istrinya.


"Nggak mas, pokoknya telefon Avindra sekarang!" Ucap Antia. Tak bisa menolak, akhirnya Arion menghubungi putra sulungnya. Namun operator yang menjawab membuat Antia khawatir.


"Tuh kan mas, Avindra pasti kenapa kenapa... Kita susul Avindra ke kampusnya sekarang—"


"Sayang... Sekarang sudah tengah malam, jangan berpikiran negative... Mungkin saja Avindra sudah tidur... Biar kamu nggak cemas, aku telefon Reanzo." Ucap Arion. Dia pun menelfon Reanzo dan tak lama diangkat.


📞


“Hallo Uncle??”


“Rean syukurlah kau belum tidur... Avindra baik baik saja?? Sedang apa dia??” Tanya Arion.


“Dia sangat baik, apalagi dia baru terpilih menjadi anggota inti bagian keamanan... Dan dia sudah tidur sekarang.” Bukan Reanzo melainkan Renafo yang menjawabnya.


“Kau ini... Apa ada lagi Uncle??” Tanya Reanzo.


“Tidak ada, kalian istirahat saja.” Jawab Arion.


Tut.


Arion memutuskan jaringan telefonnya. Dia menatap istrinya yang terdiam. Arion meletakan ponselnya diatas nakas, dan memeluk istrinya.


"Sudah dengarkan sayang?? Avindra sudah tidur, dia pasti kelelahan." Ucap Arion.


"Tapi aku—"


"Sssstttt... Sudah, jangan cemas berlebihan... Lebih baik kamu tidur sebelum g*irahku bangkit." Ancam Arion. Yang mana membuat Antia memejamkan matanya dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya.


Sedangkan dengan Arisa. Dia masih tidak tidur sampai tengah malam hanya memandangi foto Alan yang Avindra kirim beberapa hari lalu. Gadis remaja itu tersenyum melihat Alan yang tampak fokus pada ponselnya sampai sampai tidak sadar jika Avindra memotretnya.


Sebenarnya, Avindra belum yakin jika Alan yang menolong Arisa. Tapi karena Arisa terus menagih janjinya, membuatnya berbohong pada sang adik. Avindra tidak tau jika adik kesayangannya jatuh hati pada pria yang menolongnya.



(Foto Alan yang tengah dipandang Arisa😘👆🏻.)


"Aku akan mencuci fotonya dan memajangnya di kamar ini." Lirih Arisa sembari tersenyum menatap foto Alan.


Keesokan Harinya


Alan tampak membawa sebuah berkas, yakni berkas yang selalu dibawa Javas kemana mana. Mengingat dia seorang pengacara mafia (Congsilire). Dan Alan mengepalkan tangannya erat saat membaca satu per satu isi dari barkas tersebut.


"Ke kediaman Nickel." Ucap Alan.


"Iya A.rc." Jawab supir pribadinya.


**A.rc, apa kau sadar jika didunia ini ada neraka yang paling menyakitkan... Penyesalan... Jadi A.rc, jangan pernah kamu menyesali apa yang kamu perbuat... Termasuk membunuh banyak orang, aku juga tidak menyesalinya.* ~Javas Leonard-3th lalu*.


Sesampainya di kediaman Nickel, Alan turun dari dalam mobilnya. Dilihatnya anak anak belia tengah berlarian. Mereka tampak menghampiri Alan, namun begitu mendekat mereka tampak kecewa. Melihat wajah kekecewaan mereka, Alan berjongkok menyamai tinggi bocah belia itu.


"Kau terlihat kecewa?? Kenapa??" Tanya Alan.


"Kami kira paman Javas yang datang... Paman Javas sering kemari saat jam seperti ini, dan ikut sarapan kemudian bermain dengan kami." Jawab salah satu dari mereka.


"Maaf membuat kalian kecewa, bisa panggilkan nyonya Nickel??" Ucap Alan.


"Tunggu sebentar." Jawabnya kemudian berlari menuju ke dalam mansion.


Dan setelah mendapatkan izin untuk masuk, Alan akhirnya menemui nyonya Nickel yang tengah duduk dibalkon bersama putrinya. Sejak suami dari nyonya Nickel meninggal, nyonya Nickel membangun mansion untuk para anak anak yatim piatu. Dan Javas sering mengujunginya untuk bermain, memberikan fasilitas layak dan lain sebagainya.


"Sepertinya anda sangat menyukai kakakku??" Ucap Alan begitu selesai mendengar cerita dari nyonya Nickel.


"Hahaha, dia ramah tampan dan sopan... Itu sebabnya putriku menyukainya." Jawabnya. Yang mana membuat Alan bernapas lega.


"Aku datang kemari hanya ingin memberitaukan soal kakakku... Dia baru meninggal semalam." Ucap Alan sontak membuat gadis yang berdiri disamping nyonya Nickel itu terbelak.


"Ap... Apa?? Bagaimana mungkin?? Dia kemarin baru kemari dan...." Ucap gadis itu tertahan, panggil saja Luciana.


Dia ingat betul saat dimana Javas mengajaknya bicara berdua sebelum akhirnya Javas mencium bibir Lucia. Apa itu ciuman pertama sekaligus terakhir baginya?? Begitulah pikir Lucia saat ini.


"Kematiannya memang tiba tiba... Jika kalian berkenan, kunjungilah makamnya... Terutama kau nona, kakakku sepertinya mencintai anda... Mungkin dia bahagia dengan kedatangan kalian... (Menatap arloji ditangannya.) Waktu ku tidak banyak, dan ini setengah harta kakakku... Dia memberikan ini untuk memenuhi fasilitas pada anak anak disini." Ucap Alan. Luciana menundukan kepalanya. Dia menangis sejadinya. Alan meninggalkan mereka kemudian langsung menuju ke bandara.


"Sampai jumpa A.rc." Ucap sang supir.


"Katakan pada Rachman jika aku pergi." Ucap Alan kemudian pergi dengan koper disampingnya. Ponselnya berdering membuat Alan menyalakan ponselnya. Rupanya pesan masuk dari anak buahnya yang berhasil menyandra para anak buah Jovirzo.


16 jam, setidaknya aku sampai disana nanti malam. Batin Alan.


Di lain Sisi


Avindra membuka matanya perlahan. Dia menatap langit langit yang berupa kayu. Dengan sangat perlahan, Avindra menatap sekitar yang ternyata rumah minimalis dari kayu.


"Apa seperti ini surga??" Lirih Avindra.


"Arghh!!" Pekik Avindra merasakan sakit dilengannya.


"Kakak tidak apa apa??" Tanya seorang gadis penuh kekhawatiran. Yang mana membuatnya menoleh ke arah gadis tersebut. Gadis putih bersih dengan bibir merah alami itu membuat Avindra tak bergeming.


"Kak??" Ucapnya lagi.


"Ah iya, hanya sakit sedikit... Terima kasih sudah menolongku." Ucap Avindra.


"Sepertinya efek dari obat itu... Maaf, aku harus mengeluarkan pelurunya tadi agar tidak infeksi." Ucap gadis itu sembari membuatkan sesuatu untuk Avindra.


"Tidak masalah, aku sangat berterima kasih... Kau tinggal sendirian??" Tanya Avindra.


"Iya, maaf karena mungkin kakak tidak nyaman dengan rumahku." Ucap gadis itu.


"Tidak, aku justru berterima kasih padamu.. Sekali lagi terima kasih sudah menolongku... Boleh ku tau siapa namamu??" Ucap Avindra.


"Alita." Jawabnya singkat.


Alita?? Batin Avindra. Dia pun menerima teh hangat yang Alita buatkan untuknya.


"Kaki kakak sedikit parah, mungkin perlu beberapa hari untuk sembuh... Tapi jika kakak mau, kakak bisa tinggal disini sampai kaki kakak benar benar pulih." Ucap Alita.


Dia mengingatkanku pada Arisa... Oh iya, bulan depan Arisa akan berulang tahun... Ku harap mereka bisa menyelsaikannya tanpa aku. Batin Avindra.


Di Kampus Arumettra


Even tengah mengamuk dan benda sekitar menjadi sasarannya. Bagaimana tidak?? Rekaman dan dokumen mengenai korupsi sudah hilang. Bahkan salinan dari data tersebut.


"Tenang Even... Avindra sudah mati." Ucap Claude membuat Even menatapnya.


"Gua nggak peduli Clau, karena yang ngambil data ama rekamannya bukan si b*jing*n itu.... Tapi orang lain, dia hanya umpan agar lo gak masuk ke perpus pas mereka lagi beraksi." Ucap Even.


"Jika data itu tersebar... Maka kampus ini bisa digusur oleh pemerintah." Ucap Geandra.


"Lo bener... Apa tujuan mereka dari awal... menggusur kampus ini??" Ucap Claude. Yang mana membuat Even semakin geram.


"Tunggu... Bukankah ada keanehan, tadi pagi bocah cupu itu nggak ada dikelasnya... Si manusia es juga... Dan, dua saudara kembar itu kek habis berantem gitu... Coba deh kalian liat tangannya." Ucap Even.


"Alan tidak ada??" Tanya Claude lagi.


"Hooh, di sekitar kampus sama di apartemennya kagak ada." Jawab Even yang mana membuat Claude terkejut.


Apa A.rc... Adalah Alan?? Batin Claude.


"Maaf mengganggu tuan... Kami sudah menemukan tempat mereka tinggal." Ucap anak buah Even.


"Claude lo tau kan apa yang harus lo perbuat??" Tanya Even. Tampak Claude menganggukan kepalanya.


"Kita kepung mereka saat malam hari... Saat dimana mereka tengah menikmati malam terakhirnya." Jawab Claude. Even dan Geandra pun tersenyum miring.


.


.


.


"Gonar!!! Gonar!!! Kan aku udah bilang jangan ke kamar Alan... Duh gimana sih kamu?!!! Ntar Alan pulang bisa ngamuk—"


"Astaga Sinbet... Bisa nggak sih sehari aja, jangan teriak teriak... Gua cuman minjem kamar mandinya doang." Ucap Machel memotong.


"Tapi kan si Alan itu alergi sama kamu!! Bersihin nggak??!!" Ucap Serly sembari menujuk kearah kamar mandi yang baru Machel gunakan.


"Sinbet, itu masih bersih... Lagian Alan ntar bisa ganti kamar sama lo." Ucap Machel sukses membuat Serly marah.


"Sinbet tunggu—"


Brukkkhhh!!


Lantai yang licin membuat Machel terjatuh diatas tubuh Serly. Dan yang membuat Serly membelakan matanya adalah.... Kedua bibir mereka sudah menyatu saat ini.


"Apaan sih bris—... Wah kayaknya aku ganggu nih." Ucap Renafo. Sontak membuat Serly mendorong tubuh Machel dan bangkit dari posisinya. Yang mana membuat Renafo menahan tawa.


"Aku pergi dulu." Ucap Serly kemudian buru buru pergi.


"Kau terlihat kesal saat aku datang, kau suka pada Serly??" Tanya Renafo menggoda.


"Apa pedulimu?!! Menyingkirlah." Jawab Machel dengan wajah merona. Dia pun pergi meninggalkan Renafo sendirian.


"Sudah ketauan masih aja nggak mau ngaku." Ucap Renafo sembari menggelengkan kepalanya pelan. Dia pun pergi setelah menutup pintu kamar Alan. Sedangkan dengan Leon, dia tengah melacak ponsel Avindra.


"Sudah ketemu??" Tanya Renafo begitu datang.


"12 kilometer dari sini... Itu artinya dihutan perbatasan kota." Ucap Leon.


"Huwaaa apa kak Avindra akan selamat?? Ya Tuhan, dia belum melihatku menikahi Arisa." Ucap Rian dan mendapatkan pukulan dari Leon.


"Kau pikir Arisa mau menikahi mu?!" Ucap Leon sembari memicingkan matanya.


"Tentu saja, aku tampan dan sangat dekat dengan Arisa." Jawab Rian penuh percaya diri.


"Tapi Arisa menyukai pria yang menolongnya." Ucap Renafo.


"Apa??" Ucap Machel dan Serly bersamaan.


"Heh ada apa dengan kalian??" Tanya Renafo. Sontak Serly dan Machel menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia baru sadar jika ditatap oleh Reanzo Leon dan Rian.


"Eh itu... Anu, aku mengajak Sinbet berkencan tapi dia tidak mau dan mengejutkan ku... Bukan begitu Sinbet??" Ucap Machel.


"Jika ingin membahas tentang kencan, jangan disini." Ucap Reanzo. Membuat Machel dan Serly bernapas lega.


Syukurlah mereka percaya... Apa reaksi Alan yah saat tau ada gadis yang berani menyukainya. Batin Serly.


Astaga, sudah ku duga gadis cantik itu menyukai Alan... Aku harus memberitaukan hal ini pada Alan nanti. Batin Machel.


"Sepertinya Avindra baik baik saja... Coba kau hubungi dia." Ucap Elliot pada Reanzo.


"Baiklah." Jawab Reanzo. Dia pun menghubungi Avindra. Dan mereka bernapas lega saat telefonnya terangkat.


📞


“Hal—”


“Arghh!!”


“Avindra??” Ucap Reanzo tanpa reaksi saat mendengar suara wanita. Berbeda dengan Machel Serly dan orang normal lainnya.


“Ah, iya kak... Aku masih hidup.”


“B*d*h!! Kau terluka??” Tanya Reanzo.


“Iya sedikit... Tapi tidak apa apa, jangan jemput aku.” Jawab Avindra dibalik sana.


“Kenapa??” Tanya Reanzo dengan kening berkerut.


“Aku ingin lebih dekat dengan calon istriku... Jemput aku lusa saja oke?? Okelah, aku tutup telefonnya... Dan jangan salah paham, tadi gadis itu terjatuh makanya berteriak.”


Tut.


Sambungan telefonnya diputuskan sepihak. Reanzo hanya menggelengkan kepalanya pelan dan memasukan kembali ponselnya.


"Dia mendapatkan gadis?? Astaga, dia selalu bilang tidak ingin menikah... Apa dia jatuh cinta pada pandangan pertama??" Tanya Machel antusias.


"Yah sepertinya begitu." Ucap Renafo sembari mengangkat kedua bahunya.


"Baguslah setidaknya dia normal kan." Ucap Machel tanpa sengaja membuat Reanzo dan Elliot tersinggung.


"Hey ayolah, aku tidak bermaksud menyinggung kalian... Bukankah Alan tidak normal?? Aku menyinggung dia." Ucap Machel dengan keinginan hidup lebih tinggi.


Trrriiinnnggg!!!


Ponsel milik Machel berbunyi. Rupanya ada telefon dari Alan. Tanpa basa basi, Machel pun mengangkat telefonnya.


📞


“Hallo Alan—”


“Nanti malam jangan ada yang keluar Vila sebelum aku meminta kalian.” Mendengar hal itu pun, Reanzo mengambil alih ponsel Machel.


“Memang ada apa??” Tanya Reanzo.


“Kalian hanya mematuhi apa yang aku katakan!”


Tut.


Panggilan berakhir yang mana membuat Reanzo mengerutkan keningnya. Dia menatap Machel kemudian memberikan ponselnya.


"Alan memang begitu... Tapi kita jangan keluar sampai Alan kembali... Aku yakin pasti ada hal besar yang terjadi." Ucap Machel.


"Baiklah, kalian berdua yang dekat dengannya kami percaya pada kalian." Ucap Reanzo.


"Paman Arion sudah menangkap menteri keuangan... Dan sekarang tinggal kita menangkap 3 b*randal sialan itu." Ucap Elliot.


"5 bulan kita disini... Hasilnya tidak mengecewakan." Ucap Reanzo.


Sedangkan dengan Avindra


Alita dengan hati hati membersihkan sisa darah yang belum sempat dia bersihkan. Dan yang membuat gadis itu terkejut adalah postur tubuh Avindra yang sangat ideal.


"Aw..."


"Maaf, apa masih sakit??" Tanya Alita.


"Tidak ini lebih baik." Jawab Avindra hendak berdiri.


"Jangan dipaksakan kak!" Pekik Alita. Avindra terkejut saat gadis itu kini berada dipangkuannya. Wajahnya sangat dekat, ingin sekali Avindra mencium bibir mungil milik gadis cantik itu.


"Ma... Maaf." Ucap Alita sembari menundukan pandangannya begitu dia bangun dari posisinya.


"Tidak perlu... Kita teman bukan?? Jangan canggung begitu... Kemarilah duduk disampingku." Ucap Avindra. Ragu ragu akhirnya Alita duduk disamping Avindra.


"Boleh ku tanya sesuatu?? (Alita menganggukan kepalanya.) Kau kenal dengan keluarga Anvert??" Tanya Avindra.


"Keluarga itu berpengaruh dalam dan luar negeri... Bagaimana aku tidak mengenalnya... Hanya saja aku selalu berharap untuk tidak bertemu dengan keluarga itu." Jawab Alita.


"Kenapa?? Kau membencinya??" Tanya Avindra.


"Tidak... Bukan begitu, aku justru sangat kagum dan berterima kasih pada keluarga Anvert... Dulu nyonya Anvert memberikan dana untuk panti asuhan tempat aku dibesarkan... Jika bertemu dengannya, aku akan mengucapkan banyak terima kasih padanya." Jawab Alita.


"Lalu?? Kenapa kamu tidak mau bertemu dengannya?? Aku sangat yakin dia sangat baik." Ucap Avindra kembali bertanya.


"Aku tidak mau berurusan dengan keluarga Anvert... Aku takut. Karena banyak orang meninggal hanya karena ingin bertemu tuan besar Anvert... Mereka dibunuh oleh orang orang tanpa keluarga Anvert sadari... Itu membuatku sadar, aku hanya manusia biasa... Bisa makan saja sangat beruntung." Jelas Alita.


Jadi, ada yang menindas masyarakat saat mereka ingin menemui ayahku... Itu pasti ulah Ferdi Fermansyah! Batin Avindra.


"Aku sangat iri pada putri bungsu keluarga itu." Lirih Alita dan tentu saja didengar oleh Avindra.


"Kenapa?? Kita teman bukan?? Ceritalah padaku." Ucap Avindra.


"Dia sangat cantik, ceria dan mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya... Bahkan ku dengar kakak dan kakak sepupunya sangat melindunginya... Kadang aku berpikir, kapan aku mendapatkan kasih sayang itu... Aku tidak ingin harta atau pun kecantikan fisik... Aku hanya ingin tau siapa orang tuaku dan ingin memeluknya." Ucap Alita sembari menunduk dan tak terasa air matanya mengalir. Dia ingat betul saat di panti asuhan selalu disiksa dan dipaksa bekerja.


Jadi, seperti ini kehidupan... Ku pikir semua orang bahagia karena tidak menanggung beban seperti ku, tapi mereka justru menderita karena tidak mendapatkan kasih sayang layaknya seorang anak. Batin Avindra menatap Alita yang tengah menghapus air matanya.


"Maaf... Aku memang cengeng." Ucap Alita sembari tersenyum menyembunyikan rasa sedihnya.


"Tidak... Jika aku diposisimu... Aku juga melakukan hal yang sama." Jawab Avindra.


"Begitu ya... Terima kasih sudah menjadi temanku." Ucap Alita sembari tersenyum menatap Avindra.


Dan sebentar lagi aku akan menjadi suamimu... Aku akan membahagiakanmu sama seperti Arisa... Bahkan lebih dari itu. Batin Avindra.


"Sama sama... Kau istirahatlah, sepertinya kamu kurang tidur... Kakiku sudah bisa digerakan." Ucap Avindra.


"Tapi—"


"Tidurlah... Masih ada banyak waktu... Aku akan kembali lusa... Jadi jangan khawatir." Ucap Avindra kemudian menyelimuti Alita. Avindra pun pergi keluar guna membiarkan Alita beristirahat.


Apa seperti ini rasanya mencintai seseorang?? Batin Avindra sembari menatap lengannya yang dibarut kain.


Ku pikir dia sama seperti wanita lain... Yang mendekati ku hanya ingin kekuasaan... Tapi Alita berbeda, dia justru takut untuk berhubungan dengan keluargaku... Dia terlalu merendah, itu bisa membuatnya mudah direndahkan orang lain. Batin Avindra.


Lama bergulat dengan pikirannya, Avindra kembali masuk. Tak lupa dia mengunci pintu kayu susun itu. Dan sesuai dugaan, Alita sudah terlelap. Yang mana membuat Avindra berjongkok menatap wajah alami gadis yang membuatnya mengerti tentang cinta. Menyibak anak rambut yang menghalangi wajah cantik Alita.


Aku akan membuatmu bahagia... Tenang saja. Batin Avindra sembari menatap Alita.


Cup.


Avindra mencium bibir Alita. Ciuman pertama yang dia dapatkan dari gadis penolongnya. Alita yang terlelap itu tak merespon. Setelah Avindra melihat kehancuran kampus Arumettra Bangsa, Avindra berjanji akan mengajak Alita. Mengatakan kebenarannya dan menikahinya memberikannya kebahagiaan.