Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Masa Muda Andian (Bongkar Misteri S1)



JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MBMB🥀...


Kampus Diamond Bangsa adalah kampus terfavorit para mahasiswa dan mahasiswi di Indonesia. Bukan hanya kampusnya yang megah serta fasilitas yang sangat komplit, namun di kampus itu juga tempat para siswa berprestasi. Tidak hanya itu, ada organisasi yang mengurus kemajuan kampus tersebut. Jika di SMP maupun SMA adalah osis.


Tapi di kampus ini diberi gelar Associations dan yang mempimpin tidak lain Presiden kampus. Untuk menjadi Presiden kampus perlu memiliki bakat dan minat yang sangat tinggi. Seperti saat ini, Andian akhirnya terpilih menjadi Presiden Kampus dengan wakil Zain. Tentu usahanya tidak sia sia.


Andian menjadi siswa teladan diantara siswa lainnya. Selain itu, dia juga menjadi idola kampus karena ketampanannya. Juga sangat ditakuti para siswa lain baik satu kampus maupun berbeda kampus. Karena Andian merupakan salah satu geng motor XEY—Box yang dipimpin Raka.


Dan Andian menjadi bahan pembicaraan para mahasiswa dan mahasiswi kampus tersebut. Seperti saat ini, tiga gadis muda yang tengah menikmati sarapan paginya di kantin tak henti hentinya membicarakan sang Presiden Kampus itu. Tiga gadis itu tidak lain Aline, Antika dan Arila.


"Ya ampun, aku udah duga pasti Andian yang kepilih... Ternyata benerkan... Daripada si Raka sama si Fandi yang hobinya bikin onar." Ucap Antika.


"Kalau tidak salah, Andian mahasiswa jurusan Ekonomi bukan??" Tanya Arila dan direspon anggukan oleh Antika.


Arila melihat sekeliling yang memang terlihat agak asing. Pasalnya, sekarang kantin dipenuhi oleh mahasiswa dan mahasiswi baru. Hingga dia menatap seorang gadis yang tengah dibully oleh para pria.


"Aline kau lihat itu." Ucap Arila. Alina menghela napas kasar dan tanpa babibu lagi dia menghajar tiga orang pria yang suka membully siswa baru.


"Aku sarankan agar kalian mengganti celana dengan rok, orang seperti kalian tidak pantas disebut laki laki!" Ucap Aline yang mana membuat ketiga pria itu lari terbirit birit.


"Kau tidak apa apa??" Tanya Arila sembari mengulurkan tangannya membantu gadis itu berdiri.


"Te.. Terima kasih kak." Jawabnya.


"Siapa namamu?? Kamu mahasiswi baru ya di kampus ini?? Kamu alumni mana??" Tanya Arila.


"Naira Amanira... Kakak panggil aku Naira, alumni SMA Tunas Jaya." Jawab gadis bernama Naira itu.


"Oh Naira, aku Arila... Dia Alina dan ini Antika." Ucap Arila memperkenalkan.


"Bergabunglah dengan kami... Sekarang kita teman." Ucap Antika yang mana membuat Naira tersenyum.


"Oi Fandi, lo kenapa dah??" Kesal Raka. Pasalnya Fandi berhenti mendadak membuat ponsel Raka terjatuh.


"Sorry! Yok duduk." Ajak Fandi kemudian duduk di bangku tengah kantin.


Gua dapat mangsa baru. Batin Fandi tersenyum miring. Sedangkan Raka menggelengkan kepalanya melihat Antika yang terdengar cerewet dengan suara melengkingnya.


"Tuh cewek cerewet amat... Nyokapnya ngidam mercon kali ya." Batin Raka kemudian duduk dimeja. Biasa, anak barbar🙂


"Oh iya Zain... Andian mana?? Dia bukannya pergi sama lo ya tadi??" Tanya Raka sembari meminum bobanya.


"Ntar juga dateng... Nah ntu dia dateng." Jawab Zain.


"Lo darimana??" Tanya Raka sembari menatap kakak sepupunya yang duduk.


"Toilet." Jawab Andian singkat membuat Raka memutar bola matanya kesal. Andian menatap Fandi yang diam diam curi pandang terhadap Naira. Namun dia tidak peduli karena mungkin Fandi menyukainya.


"Eh Zain... Gua denger... Cowok kampus sebelah suka sama lo ya, dia g*y ya??" Tanya Raka sembari tertawa keras.


"B@c*t lo!!! Hih jijik gua, jangan bahas dia napa?!!" Kesal Zain kemudian menjitak kening sahabatnya.


"Ya maap." Ucap Raka.


"Tapi kalo lo sama si cewek taekwondo itu keknya cocok deh... Dia kasar lo halus kan saling melengkapi ya nggak Fan??" Ucap Raka sembari menepuk bahu Fandi.


"Fandi oi!!" Ucap Raka yang mana menjadi pusat perhatian.


"Apaan lo lo pada liat?!! Ntar naksir gua kagak tanggung jawab." Ucap Raka.


Sombong sekali dia. Umpat Antika sembari memakan roti bakarnya.


.


.


.


Beberapa hari kemudian, Naira bisa berinteraksi dengan teman sekelasnya. Bukan tanpa alasan, setiap ada yang membully Naira pasti selalu Aline yang menghajarnya. Tentu Naira senang karena merasa terlindungi.


"Bagaimana kelasmu??" Tanya Arila pada Naira.


"Menyenangkan kak, berkat kalian tidak ada yang membully ku lagi... Terima kasih kak." Jawab Naira.


"Tidak perlu... Naira, kita sahabat sekarang jangan sungkan meminta bantuan jika kamu kenapa napa." Ucap Arila sembari menggegam tangan Naira.


"Dan jika ada yang membully mu lagi, aku akan lebih dulu melemparnya dengan penghapus dan memukulinya... Aku ini sabuk hitam taekwondo." Ucap Antika yang mana membuat Arila menggelengkan kepalanya.


"Saat sabuk putih kamu keluar." Ucap Aline dengan elegant meminum es tehnya.


"Apa??? Ayolah Aline, tidak bisakah kau bercanda... Menyebalkan!" Kesal Antika sembari mengecurutkan bibirnya kesal.


"Em, kak aku ke toilet dulu ya." Ucap Naira dan dia pun pergi saat ketiga sahabatnya menganggukan kepalanya tanda setuju.


"Lepaskan!!!! Tolong!!! Tol—Humph!!!" Ucap Naira terjeda saat pria itu menutup mulutnya dengan tangan.


"Gua udah lama bern*fsu sejak gua liat lo, gak usah teriak teriak nikmati aja permainannya." Ucapnya yang tak lain Fandi. Naira menangis, rasanya memberontak tidak ada gunanya. Saat kancing ketiga Naira hendak terbuka tiba tiba.


Bughh!!


Andian menarik Fandi dan memukul pipi kanannya. Naira pun sembunyi dibalik tubuh Andian.


"Andian, lo—"


"Keluar dan renungkan kesalahanmu!" Titah Andian membuat Fandi pergi dengan kesal. Jika dia melawan, sudah pasti dia babak belur.


"Terima kasih kak—"


"Katakan pada sahabatmu jika Andian yang melakukannya." Ucap Andian kemudian pergi. Dan Naira pikir Andian adalah nama pria yang hampir mel*cehkannya tadi.


Jika ayah Fandi tau, dia akan dibawa ke Berlin dan aku tau Fandi membenci Berlin karena disana tempat kematian ibunya. Batin Andian.


"Kakak!!" Panggil Naira kemudian memeluk Arila. Yang mana membuat Arila terkejut.


"Naira, kenapa denganmu... Naira kenapa kamu??? Katakan siapa yang melakukan ini padamu?? Katakan!" Ucap Arila. Dia tau dengan wajah dan pakaian Naira yang berantakan tentu membuat pikiran Arila kemana mana.


"A... Andian kak, Andian yang melakukannya." Ucap Naira yang mana membuat Arila Antika dan Aline terkejut.


"Dasar pria tidak tau diri!!! Ikut aku!! Ayo Naira." Ucap Arila kemudian menarik Naira pergi. Antika dan Aline pun mengikutinya.


Di kantin, Andian seperti biasanya tengah berkumpul dengan ketiga sahabatnya sesekali memakan makanan yang mereka pesan. Diiringi gelak tawa Raka seperti biasanya.


"Andian!!" Panggil Arila. Saat menoleh, Arila lebih dulu menamparnya.


Plakkk!!


"Haaa!" Ucap Raka dan Zain sembari menutup mulutnya tak percaya. Sedangkan Fandi menatap Naira yang ada dibelakang Arila. Dan mahasiswa maupun mahasiswi yang berada di kampus tak kalah terkejutnya.


"Beraninya kamu menyentuh sahabatku!!! Kau pikir karena kau tampan, teladan dan seorang presiden kampus ini bisa seenaknya menindas orang lain ha?!!!" Bentak Arila yang mana membuat kepala dosen yang kebetulan lewat menghampiri keributan tersebut.


"Ada apa ini?? Ada apa??" Tanya kepala dosen.


"Kebetulan bapak disini, Andian m*nghamili sahabat kami." Ceplos Antika.


"Bukan pak, maksudnya... Andian mel*cehkan sahabat kami... Mahasiswi baru jurusan Ekonomi." Ucap Aline membenarkan.


Apa?? Jangan bilang kalo Andian. Batin Fandi.


"Apa benar itu Andian??" Tanya sang kepala dosen.


"Benar pak." Jawab Andian datar dan menatap tajam Arila. Begitu juga sebaliknya.


Sial! Hatiku sakit.


"Kamu bapak liburkan sampai sepekan!!—"


"Jangan hanya di liburkan pak, tapi juga hukuman yang pantas untuk pria sepertinya." Ucap Arila memotong. Dia kini berdiri dihadapan Andian dan menatap mata tajam milik pria bertubuh tinggi itu.


"Kau bisa menambahkan hukumannya Naira." Ucap Andian.


"Ak... Aku—"


"Baiklah aku Arila mewakili Naira... Aku ingin agar Andian, diturunkan pangkatnya dari Presiden Kampus." Ucap Arila lantang dan mendapatkan tatapan penuh benci dari Andian.


Selama 1 tahun Andian berusaha mendapatkan gelar itu... Dan apakah dia akan turun pangkatnya hanya dengan kesalahan yang tidak diperbuatnya?? Batin Raka. Andian menatap Arila penuh kebencian sembari mengepalkan tangannya erat.


"Pak, saya yakin saudara saya tidak akan tertarik pada wanita berdada rata." Ucap Raka dan mendapatkan jeweran dari sang kepala dosen.


"Dasar kau ini!! Kalian semua bubar, keputusan akan bapak keluarkan lusa." Ucap sang kepala dosen dan yang bergerombol pun membubarkan diri.


Bughh! Bughh!!


Aline menendang kaki Andian keras dan juga perutnya. Yang mana membuat Raka memapah saudaranya.


"Dasar pria br*ngs*k!!" Ucap Aline dengan wajah menyeramkan sebelum akhirnya pergi.


"Andian lo gak apa apa??" Tanya Raka.


"Gak apa apa." Jawab Andian kemudian pergi ke kelasnya.


Rasa hina ini kelak aku bayar dengan rasa kebencian dan kekejamanku, Arila!!! Batin Andian.


🥀🥀🥀


Spoiler Bab Selanjutnya:


"Jangan sentuh aku mas!!! Jika kamu menganggap pernikahan ini main main, kenapa tidak ceraikan saja aku?!! Kenapa?!! Kenapa kamu harus menyentuhku?!!" Ucap Lyara dengan menangis.


"Lyara apa maksudmu?? Selama seminggu kau menjauhiku dan mengabaikanku tanpa alasan... Sekarang kamu tiba tiba mengatakan hal itu setelah seharian kabur dari rumah... Apa alasanmu sebenarnya—"


"Kamu tega menyentuhku sedangkan kamu sendiri mencintai cinta pertamamu... Jangan menyentuhku mas, ceraikan aku!" Ucap Lyara sedikit berteriak.