Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 27 Season 2



JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MBMB🥀...


Di Hari Perubuhan Kampus


Avindra benar benar dijemput oleh Reanzo Elliot dan Alan. Bukan tanpa alasan, hanya mereka bertiga yang berani memasuki hutan lebat itu. Sedangkan Renafo dan Leon memilih menunggu didalam mobil. Tadinya Alan ingin menggunakan helicopter guna mempersingkat waktu, namun pepohonan tinggi sangat sulit untuk mendaratkan helicopter nantinya.


"Hati hati kak, sampai bertemu lagi." Ucap Alita sembari melambaikan tangannya.


"Terima kasih Alita." Jawab Avindra.


Alita tersenyum sembari memandang punggung Avindra yang perlahan menjauh. Namun senyumannya pudar, dia benar benar merasa nyaman dengan Avindra. Walaupun hanya waktu singkat namun Alita sangat nyaman dengannya.


"Kampus digusur nanti sore... Semua siswa juga sudah pindah ke kampus terdekat." Ucap Reanzo.


"Hey ayolah... Kalian bisa menjemputku nanti siang, tidak perlu pagi pagi begini... Menyesalkan!" Kesal Avindra.


"Kau suka gadis itu??" Tanya Reanzo.


"Sangat."


"Kau akan menikahinya??" Tanya Elliot.


"Tentu saja, dia akan menjadi istriku." Jawab Avindra sembari tersenyum mengingat kejadian romantis antara dia dan Alita.


"Luka di lenganmu sepertinya cukup parah, tapi bagaimana bisa ditangani??" Tanya Elliot.


"Calon istriku yang mengobatinya... Ya Allah ingin aku menikahinya sekarang." Jawab Avindra.


"Kau lupa jika beberapa minggu lagi ulang tahun Arisa." Ucap Reanzo.


"Aku kakaknya, tentu saja ingat." Jawab Avindra.


"Dan kau tau, jika Alan mafia yang selama ini uncle cari... A.rc adalah panggilannya." Ucap Elliot.


"Apa?!!!" Ucap Avindra terkejut.


"B*doh! Jangan berisik!!" Ucap Alan dingin.


"Ma... Maaf, ini reaksi normal manusia... Dan Alan... (Merangkul leher Alan.) Bisa ajak aku ke Italia?? Aku ingin menjadi mafia." Ucap Avindra. Dengan kasar Alan menapis rangkulan Avindra.


"Mafia bukan taman kanak kanak." Jawab Alan.


"Hey ayolah... Potensiku sangat bagus menjadi... Apa yah namanya, nah congsilire... Aku bisa menjadi pengacara mafia." Ucap Avindra.


"Iya kau bisa... Lakukan itu dimimpimu." Jawab Alan membuat Avindra mengecurutkan bibirnya kesal. Dan Avindra tersenyum saat melihat souvenir ditangan Alan.


"Sepertinya souvenir itu sangat berharga untukmu... Dari kekasihmu—"


"Dari ayah angkatku, berhenti bicara dan masuklah!" Ucap Alan. Dengan wajah kesal Avindra masuk kedalam mobil, disusul Reanzo dan Elliot.


"Sebenarnya aku malas menjemputmu, tapi Aunty memaksaku untuk membawamu kesana sekarang—" Ucap Reanzo.


"Apa?!!! Kenapa tidak bilang?? Ayolah kak, aku bisa diterkam bunda jika dia melihat lukaku." Jawab Avindra dengan wajah takut.


"Dan bukan hanya kamu Avin, Uncle saja sudah tidur terpisah selama 3 hari ini." Ucap Renafo sembari menyetir.


"Itu pasti berat." Ucap Avindra kemudian menatap Alan yang fokus pada ponselnya.


"Kau akan kembali ke Italia??" Tanya Avindra.


"Nanti malam, Machel dan Serly juga akan kembali." Jawab Alan.


"Tunggu... Bisa kau tunda, aku sangat memohon padamu." Ucap Avindra sembari memohon mengetupkan kedua tangannya didepan dada🙏🏻.


"Berhenti memohon aku akan menundanya... Ada hal apa??" Tanya Alan.


"Aku akan memberitaumu nanti." Jawab Avindra.


Sesampainya di kediaman Anvert, Avindra keluar dari dalam mobilnya. Dan sesuai dugaan, sang ibu menatapnya tajam. Antia mendekat kemudian memeluk putra sulungnya. Setelahnya, Antia menjewer telinga Avindra.


"Aduh, aduh sakit bunda!!! Maaf!!!" Pekik Avindra.


"Sakit ha?!! Lalu lenganmu itu tidak sakit?!!! Untung lenganmu, bagaimana jika jantungmu?!!" Omel Antia sembari menangis. Dia benar benar khawatir akan keselamatan Avindra.


"Hahaha, ayolah bunda... Bunda tau aku menyukai seorang gadis, boleh aku menikahinya??" Tanya Avindra.


"Nikahi saja dia." Jawab Antia. Avindra pun merangkul Antia dan mencium pipi Antia.


"Bunda yang terbaik, aku akan memberikan bunda cucu setampan diriku." Ucap Avindra dan mendapatkan pukulan kecil dari Antia.


.


.


.


"Dari awal... Tujuanku adalah... Menggusur kampus ini." Lirih Alan.


Duaaarrrr!!!!


Kampus besar itu pun hancur saat para tentara menggusurnya dengan memasang bom.


Trriinngg!!


(Emilio)💬


Emilio: Aku sudah tiba di Indonesia, bisa carikan aku vila??


^^^Sejak kapan kau miskin?? ^^^


Emilio: Ayolah, aku membawa dolar bukan rupiah... Aku lupa menukarnya ke bank.


Pesan singkat berakhir. Tampak Alan menelfon anak buahnya untuk mencari Vila. Dan Alan tau jika Emilio akan menetap di Indonesia kemudian membubarkan organisasi gelapnya sesuai janjinya. Meskipun begitu, mafia tetaplah mafia.


"Aku ingin bicara denganmu Alan." Ucap Avindra berjalan mendahului.


"Ingat tempat ini?? Tempat dimana kita mengajukan kerja sama sekarang sudah hancur... Bukankah sedikit memprihatinkan??" Ucap Avindra.


Tempat yang mereka maksud adalah taman depan perpustakaan. Alan tak meresponnya dia lebih memilih melihat para pekerja yang membereskan puing puing bangunan. Dan secara resmi tanah itu akan dijadikan panti ashuan dengan Arion dan Alan sebagai donatur.


"Yah 3 minggu 4 hari lagi adikku berulang tahun... Aku sudah pernah menceritakannya padamu jika dia sangat kagum padamu... Dia tidak bisa berjalan selama 3 bulan karena mengejarmu." Ucap Avindra.


"Jujur sebagai kakaknya, aku sedikit sakit saat dia tidak memperhatikan dirinya sendiri hanya karena mengejarmu... Mengejar pria yang menolongnya." Timpal Avindra.


"Tidak ada gunanya menyalahkanku, adikmu sudah sembuh." Ucap Alan.


"Heh, seperti inilah seorang kakak Alan... Kau pasti merasakannya saat bersama Almarhum kakakmu dulu." Jawab Avindra.


"Dia bukan kakakku, dia meninggalkan ku pergi." Ucap Alan tanpa menatap Avindra.


"Kau tau, aku juga mempunyai sahabat yang sudah ku anggap sebagai kakakku... Dia senior seperguruanku saat latihan di Amerika... Dia berjanji untuk tidak lebih dulu meninggal, tapi saat menjalankan misi... Dia orang pertama yang meninggal... Sangat menyakitkan, aku tidak tidur selama 3 hari... Fantastis bukan." Ucap Avindra yang mana membuat Alan terdiam.


"Sudahlah, aku langsung ke intinya... Bisa kau datang saat acara ulang tahun Arisa... Dia sangat menantikanmu." Ucap Avindra.


"Aku tidak peduli—"


"Aku mohon Alan... Dia akan sangat bahagia jika melihatmu... Terlepas dari itu, akan aku anggap kita seimpas... Tidak, aku masih berhutang padamu." Ucap Avindra. Membuat Alan menghela napas panjang.


"Kau ingin adikmu berumur pendek??" Ucap Alan.


"Maka jangan salahkan aku jika adikmu berumur pendek." Ucap Alan membuat Avindra tersenyum.


"Terima kasih." Jawab Avindra.


Setelah melihat seperti apa hancurnya kampus Arumettra Bangsa, Avindra pun kembali ke rumahnya. Tentu bersama dengan Alan. Agar tidak canggung, Avindra juga mengundang sahabat dan saudaranya. Tak lupa Machel dan Serly juga ikut.


Avindra berniat membuat makan malam besar kali ini. Dan beruntungnya, putra tunggal Raka sudah kembali dari Singapura. Sang raja penggoda wanita. Siapa lagi jika bukan Delvin Putra Utama. Saat ini dia tengah berbincang dengan Renafo yang sudah menjadi best partnernya sejak kecil. Tidak hanya Renafo, Reanzo Elliot dan Leon juga ikut mendengarkan.


"Wow, kak kau terlihat bugar setelah kembali dari Singapura... Kakak mendapatkan hiburan disana??" Tanya Renafo.


"Tentu saja... Kau tau, banyak wanita cantik dan sexy." Jawab Delvin membuat Renafo tertawa kecil.


Dilain sisi, saat Delvin bercerita diam diam Arisa memperhatikan Alan yang fokus menikmati anggurnya. Dan Alan yang tidak peka, mengira jika Arisa memperhatikan Rian yang berada disampingnya. Sedangkan Serly dan Machel menatap Alan dan Arisa bergantian.


"Sinbet apa kau berpikiran sama denganku??" Tanya Machel.


"Iya, Arisa sepertinya benar benar mencintai Alan tapi bocah itu tidak peka." Jawab Serly.


"Kau harus bertindak agar RC junior on the way." Ucap Machel dan keduanya bertos ria.


"Wah kalian sepertinya sangat menikmati makan malam ini... Baguslah." Ucap Antia.


"Ow aunty kau sangat cantik sekarang." Ucap Delvin kemudian memeluk Antia.


"Anak nakal, kenapa baru pulang sekarang??" Ucap Antia sembari menjewer telinga Delvin.


"Aduh sakit aunty... Ayolah, aku hanya membutuhkan hiburan." Jawab Delvin. Membuat Antia tersenyum.


"Hallo baby, astaga kau sudah dewasa sekarang." Ucap Delvin sembari menggendong Arisa ala bridal style.


"Benarkah??" Tanya Arisa sembari menatap kakak sepupunya itu.


"Tentu saja, apa perlu kita berkencan?? Aku tau Avindra mengurungmu dan tidak membiarkanmu untuk berkencan." Jawab Delvin.


"Hey kak turunkan Arisa... Bagaimana pun dia menyukai seseorang." Ucap Avindra sembari melirik Alan. Namun tampak Alan tetap fokus meminum anggurnya.


"Astaga aku sakit hati... Jadi baby, siapa yang kau sukai?? Dia??" Ucap Delvin sembari menujuk ke Alan. Yang mana membuat Alan menoleh sekilas kemudian kembali meminum anggurnya.


"Ti... Tidak, bukan dia." Jawab Arisa gugup. Tampak Delvin tersenyum dan menurunkan Arisa.


"Begitukah... (Delvin berbisik.) Lagi pula dia sangat tampan, tidak masalah kamu menyukainya." Ucap Delvin sukses membuat Arisa merona.


"Kau tau kak, Arisa selalu ingin bertemu dengan Alan... Tapi, begitu bertemu dia malu malu." Ucap Renafo yang mana membuat wajah Arisa semakin memerah.


"Astaga Alan, anak itu...." Umpat Serly kemudian berdiri dan mendekati Alan. Dia menarik tangan Alan membuat Alan menatapnya bingung.


"Permisi aku ingin bicara dengan saudaraku." Ucap Serly.


"Serly... Berhenti menarikku!" Ucap Alan namun tak direspon oleh Serly.


Sejak ada Alan, Arisa menjauhi ku... Aku harus mendekatinya. Batin Leon.


Apa bagusnya kak Alan?? Dia sudah tua... Dia 6 tahun lebih tua dari Arisa... Sangat tidak cocok! Umpat Rian.


Kak Alan pasti merasa tidak nyaman, aku ikuti saja dia dan meminta maaf padanya. Batin Arisa diam diam mengikuti Alan.


"Alan tidak bisakah kau peka sedikit??!!" Ucap Serly menatap tajam Alan.


"Apa maksudmu??" Tanya Alan tidak mengerti.


"Astaga... Arisa menyukaimu, tidakkah kau sedikit saja memperhatikannya." Jawab Serly.


"Untuk apa?? Dia bukan keluarga ku, dia suka padaku aku juga tidak peduli." Ucap Alan.


"Tapi dia menyukaimu Alan... Tidakkah kau sedikit tersentuh saat Arisa dengan nekat mengejarmu hanya ingin menemuimu??" Tanya Serly yang mana membuat Alan memejamkan matanya kesal.


"Itu karena dia b*d*h!!! Aku hanya menolongnya sekali, dan dia menyukaiku??!! Kekanak kanakkan!! Aku paling benci gadis manja dan kekanak kanakkan seperti Arisa itu!! Kau tau aku sangat malas kesini, aku kesini bukan untuk gadis itu tapi hanya menepati janji ku pada Avindra." Jawab Alan dengan nada agak tinggi.


Jederrrrrrr!!!


Tanpa mereka sadari, Arisa menguping pembicaraan itu. Yang mana ucapan Alan itu sukses membuat Arisa meneteskan air matanya. Arisa yang tadinya ingin meminta maaf pada Alan atas ketidak nyamanannya, mengurungkan niatnya. Dia menghusap air matanya dan menuju ke kamarnya.


"Arisa kau mau kemana??" Tanya Leon. Membuat Avindra dan lainnya menoleh.


"Ke kamar kak, aku sudah mengantuk." Jawab Arisa tersenyum palsu.


"Mau bunda antar—"


"Tidak perlu bund, Arisa capek pengen langsung tidur." Jawab Arisa. Dia pun langsung menuju ke kamarnya.


Aneh, Arisa tadi sangat bahagia kenapa dia tiba tiba berubah?? Batin Avindra.


Baammm!! Cklekkk!!


Arisa menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam. Arisa menuju ke kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi. Arisa menyalakan kran dan duduk dilantai tepatnya dipojok kamar mandi. Arisa menangis kuat disana, dia merasa sangat sakit saat Alan dengan fasih menolaknya.


Apa aku sangat kekanak kanakkan?? Aku hanya menyukainya apakah aku salah?? Batin Arisa sembari meneteskan air matanya.


"Arisa!! Arisa!!" Panggil Avindra dari luar. Tidak ada respon membuat Avindra mendekatkan telinganya pada pintu.


"Sepertinya Arisa benar benar tidur." Lirih Avindra. Dia pun pergi dari depan kamar Arisa.


"Arisa baik baik saja??" Tanya Leon dan Rian bersamaan.


"Dia baik baik saja, sepertinya dia sudah tidur." Jawab Avindra. Dia pun menatap Alan yang tengah memakai coat hitamnya.


"Terima kasih sudah datang Alan, aku akan sering berkunjung ke Italia nantinya." Ucap Avindra. Tampak Renafo Leon dan Rian menatap Alan.


"Aku menetap di Indonesia." Jawab Alan.


"Oh menetap... Apa menetap?!! Benarkah?!!" Ucap Avindra Renafo dan Rian bersamaan. Ketiganya berlari mendekati Alan dan memeluknya yang mana membuat Alan terkejut.


"Lepaskan!!" Pekik Alan.


"Menetap!!! Menetap!!! Menetap!!!" Teriak ketiganya tampak gembira. Yang mana membuat Machel Serly dan Delvin tertawa kecil. Sedangkan Reanzo Leon dan Elliot menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap sahabatnya.


"Oh iya karena kau menetap... Bagaimana kalau aku menjadi pengacara mafiamu??" Ucap Avindra.


"Aku juga ikut... Aku ingin menjadi bagian... Modifikasi senjata." Timpal Renafo.


"Aku juga... Menjadi, ahli teknologi." Ucap Leon.


"Tes pertama... Kalian kuliti manusia hidup hidup!" Ucap Serly.


"Tidak masalah... (Seperkian detik.) Apa?!!" Ucap ketiganya terkejut.


"Hahaha... Sayang kau membuat mereka ketakutan." Ucap Machel.


"Halo cantik, siapa namamu??" Goda Delvin sengaja membuat Machel marah.


"Dia calon istriku... Jauh jauh darinya!!" Ucap Machel.


"Hahaha!!! Manusia kutub sepertinya sahabatmu tengah bucin parah." Ucap Delvin dan lainnya tertawa kecil kecuali Alan.


Hingga di tidak sengaja menatap Arisa yang diam diam keluar dari kamarnya dan kembali masuk sembari membawa teko air yang terbuat dari kaca itu. Sedikit terkejut saat melihat kondisi Arisa dengan mata memerah. Melihat hal itu Alan hanya terdiam. Pukul 1 pagi, mereka baru kembali ke rumah masing masing dan langsung beristirahat.


"Alita... Besok aku akan menjemputmu." Ucap Avindra sembari menatap langit langit kamarnya kemudian tersenyum.



(Delvin Putra Utama😘👆🏻)