Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 69



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya๐Ÿ˜˜


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku๐Ÿ˜Š


Terima Kasih dan selamat membaca semua๐Ÿ˜™๐Ÿ’•


2 Bulan kemudian


Suara mesin pendeteksi jantung masih berbunyi. Menandakan ada kehidupan diruangan tersebut. Tak terasa sudah 2 bulan Andian terbaring dirumah sakit. Dan sebulan yang lalu Antia dan Arion memutuskan untuk menikah. Pernikahan mereka digelar sangat megah. Antia sangat bahagia karena sepenuhnya menjadi milik Arion. Namun, dia juga bersedih mengingat Andian masih belum sadarkan diri.


Selain Antia, Raka juga sedang bahagia karena kandungan Antika yang sudah memasuki bulan ke 5. Dia sangat tidak sabar menanti sang buah hatinya lahir. Meskipun, Raka sempat mengeluh dengan sifat Antika yang berubah ubah tapi tetap saja dia harus bersabar karena itu semua bawaan dari buah hati yang dikandungnya.


Dan mengenai perkembangan hubungan Renzo. Masih tetap sama, Lyara masih terus menggoda Renzo agar bisa mencintainya. Sedikit kecewa karena sudah 2 bulan ini Lyara terus berjuang tanpa terbalas. Namun, dia tidak menyerah dan tetap berusaha.


Untuk Kean tidak perlu ditanyakan lagi. Hidup nya sangat tentram dengan kesendiriannya. Namun, dia kesal pada Arion karena selalu menjodoh jodohkannya dengan Naira. Dan selalu membawa bawa atas nama pekerjaan. Namun, Kean tidak pernah membantah Arion mengingat jasanya yang begitu besar padanya.


Berbeda dengan Arila. Hari demi hari dia lalui hanya dengan kesedihan dan harapan. Kesedihan karena Andian masih belum sadarkan diri dan harapan agar Andian sadar. Seperti saat ini Arila duduk disamping Andian. Menggegam tangannya yang terjarum infus. Wajahnya masih tetap tampan meskipun dengan mata terpejam.


"Aku datang lagi... Apa kau merindukanku?? Kau tidak mau menjawab ku, sudahlah... Kau tau Andian Raka terlihat kesal menghadapi Antika... Antika selalu minta ini dan itu padanya... Bahkan Raka juga bilang akan meminta uang padamu jika dia bangkrut... Bukankah itu lucu... (Mata Arila berkaca kaca.) Kau jahat... Kau tidak mau menjawab ku... Aku sedang bercerita padamu... Kau bilang mencintai ku kan?? Kenapa kau terus tidur?? Bukalah matamu... Aku ingin lihat wajah kesal mu saat aku mendorongmu... Ku mohon bukalah matamu...hiks....hiks." Ucap Antia sembari menangis. Saat itu Antia dan Arion datang. Antia menepuk bahu Arila membuat Arila memandangnya.


"Kakak jangan menangis... Kakakku sangat kuat dia pasti akan bangun... Kita hanya menunggunya saja kak." Ucap Antia berusaha menenangkan.


Padahal sejujurnya Antia sangat sedih. Mengingat dia pernah kehilangan Glan. Dan dia tidak ingin kehilangan kakaknya untuk kedua kalinya.


"Ayo kak... Kakak sarapan dulu... Jika kakak sakit, siapa yang akan menemani kakakku lagi??" Ucap Antia.


Arila dengan terpaksa pun meninggalkan Andian. Antia pun menggandeng tangan Arila dan disusul oleh Arion.


Di Vila Raka


Raka bingung harus menjawab apa pada istrinya yang sedang sibuk mengeluh karena pakaiannya sudah tidak muat. Disatu sisi jika Raka bilang Antika sedikit gemuk dia pasti akan marah dan menangis. Tapi disisi lain jika Raka tidak menjawab Antika akan terus mengacuhkannya.


"Sayang sudah ya... Kita beli lagi pakaian yang muat olehmu ya." Ucap Raka hati hati.


"Sayang kau tidak mengerti soal ini jadi diamlah." Jawab Antika.


Kenapa semakin kesini Antika semakin menyebalkan sih?!! Apa anak ku nanti akan lebih menyebalkan darinya. Batin Raka.


Antika yang merasa pegal karena terus berdiri pun memutuskan duduk dibibir ranjang. Saat itulah Raka mendekat dan duduk disampingnya.


"Apa tidak berat seperti ini??" Tanya Raka sembari menghusap perut Antika.


"Sedikit berat dan susah... Mau bagaimana lagi ini sudah kewajiban setiap istri kan?" Jawab Antika. Membuat Raka tersenyum dan mencium pipi kanan Antika.


"Terima kasih sayang." Ucap Raka.


Tidak heran kenapa setiap wanita sangat berpedoman pada perasaan... Karena dia merasakan beban begitu berat sebagai seorang istri dan seorang ibu... Meskipun aku tidak merasakannya tapi sangat bodoh bagi peria yang berani menyakiti hati seorang wanita bahkan sampai menangis. Batin Raka.


"Oh iya bukankah dokter bilang kita sudah bisa melihat baby junior laki laki atau perempuan... Bagaimana kita ke dokter kandungan sekarang??" Tanya Raka sembari menyelipkan rambutnya disela telinga.


"Ah iya aku lupa... Ayo, tapi aku lapar." Jawab Antika.


"Kau baru makan tadi mau makan lagi??" Tanya Raka.


"Kan baru aku... Belum baby." Jawab Antika sembari tersenyum.


"Baiklah ayo sayang." Ucap Raka sembari mencubit hidung Antika.


Antika dan Raka pun keluar dari kamarnya menuju ke meja makan. Setelah Antika makan, mereka pun menuju ke rumah sakit seperti yang direncanakan sebelumnya.


Di Vila Renzo


Lyara tengah menyiapkan pakaian untuk Renzo kenakan. Saat ini Renzo tengah membersihan diri di dalam kamar mandi. Tentu ini adalah kebiasaan sekaligus salah satu cara agar bisa meluluhkan hati Renzo.


Nggak kerasa udah 2 bulan menikah... Tapi... Tidak Lyara kau harus semangat, selama aku tulus berjuang pasti hasilnya akan memuaskan. Batin Lyara menyemangati dirinya sendiri.


Saat tengah sibuk dengan pikirannya, tiba tiba handphone milik Renzo berbunyi. Awalnya Lyara membiarkannya, namun handphone milik Renzo kembali berbunyi. Membuat Lyara mengambil handphone Renzo.


Telefon dari siapa sih?? Ganggu orang lagi halu aja. Batin Lyara sembari mengambil handphone Renzo diatas nakas.


Saat akan mengangkat telefon mata Lyara terbelak saat melihat walpaper handphone Renzo. Bahkan tangannya sedikit bergetar dan ada rasa nyeri didadanya.


Siapa wanita ini?? Batin Lyara.


Belum Lyara bertanya Renzo merampas handphonenya dari tangan Lyara. Tampak Renzo mematikan handphonenya dan menatap Lyara tajam.


"Si...siapa wanita itu?? Apa diaโ€”" Ucap Lyara terpotong.


"Sudah aku bilang berkali kali Lyara, jangan berani menyentuh barang ku tanpa seizinku!!!" Bentak Renzo memotong ucapan Lyara.


Membuat Lyara menunduk takut, karena sejak menikah baru pertama kali dia dibentak oleh Renzo.


"Tap...tapi aku istrimu." Ucap Lyara lirih.


"Iya memang dalam status kau istriku, tapi kau tidak ada hak untuk menyentuh barang ku tanpa seizinku... Karena cukup tau bahwa kau aku nikahi karena paksaan dari mommy!!! Kau ingin tau kan siapa wanita di handphone ini kan?!!! Dia Aline, wanita yang aku cintai tapi dia sudah menikah dengan orang lain!!" Jelas Renzo dengan nada tinggi.


Membuat Lyara tersentak seolah jantungnya berhenti berdetak. Lyara pun menatap Renzo dengan mata berkaca kaca.


"Jadi selama ini usaha ku sia sia.... Ku pikir cepat atau lambat kau akan menghargai usaha ku... Tapi ternyata aku salah, selama ini ternyata ada wanita lain dihatimu... Bahkan dia sudah menikah... Ku rasa tidak ada gunanya lagi aku memperjuangkan mu, kau bisa mencari wanita lain yang sesuai dengan tipe mu atau bahkan Aline wanita yang kau cintai itu." Ucap Lyara perlahan meneteskan air matanya. Mendengar ucapan Lyara membuat Renzo sadar akan apa yang dia katakan barusan. Lyara pun beranjak pergi, namun saat diambang pintu dia menatap Renzo.


"Dan satu hal lagi... Aku sarankan agar kau tidak membentak lagi... Cukup kau membentak ku saja." Ucap Lyara.


Dengan menangis Lyara berlari keluar dari Vila. Renzo masih membatu ditempat namun beberapa detik kemudian, Renzo sadar akan yang dia lakukan. *Plak!!!!* Renzo menampar dirinya sendiri.


Bre*gs*k kau Renzo... Apa yang kau pikirkan, bukankah kau berjanji akan berusaha menerimanya... Dan sekarang malah membuatnya menyerah... Aku harus mengejarnya sekarang, jika mommy tau dia pasti akan marah dan kecewa padaku. Batin Renzo.


Segeralah dia memakai pakaiannya yang sudah Lyara siapkan untuknya. Dan tanpa basa basi lagi Renzo menyambar kunci mobilnya dan langsung mengejar Lyara.


Sedangkan dengan Lyara. Didalam taxi dia terus menangis mengingat setiap kata yang dilontarkan oleh Renzo. Melihat kondisi Lyara membuat supir taxi salah paham.


"Nona anda baik baik saja?? Apa kita perlu ke kantor polisi??" Tanya sang supir.


"Aku baik baik saja... Hanya hatikku yang sakit." Jawab Lyara.


Mendengar jawaban dari Lyara tentu membuat sang supir mengerti perasaannya. Tanpa bertanya lagi, sang supir fokus mengemudikan mobilnya mengantar Lyara sampai tujuan.


Di Rumah Sakit


Arila masih setia duduk disamping Andian yang masih terbaring. Berharap Andian sadar dan memeluknya. Antia dan Arion yang melihatnya pun merasa terenyuh dengan kesetiaan Arila.


"Sayang kapan kak Andian sadar??" Tanya Antia sembari merangkul lengan suaminya.


"Dia peria yang kuat, dia akan segera sadar... Kita jangan berhenti berdoa." Jawab Arion.


"Tapi kasihan kakak ipar, dia bahkan tidak ada nafsu sedikit pun saat makan... Aku takut dia akan sakit." Ucap Antia cemas.


"Itu namanya kakak ipar sangat mencintainya... Kau juga akan begitu kan kalo aku koma??" Ucap Arion menggoda Antia.


"Nggak buat apa aku ngelakuin hal itu." Jawab Antia sembari melepas rangkulannya. Membuat Arion tersenyum dan mendekatkan wajahnya tepat didaun telinga Antia.


"Sudah berani menggodaku ya... Mau besok ku buat kamu kelelahan hem??" Bisik Arion.


"Sayang ih... Besok aku ada kelas pagi nanti telat gimana??" Kesal Antia sembari memanyunkan bibirnya. Membuat Arion gemas dan sekilas mencium bibir Antia.


"Sayang!" Ucap Antia kesal.


"Maaf...maaf makanya jangan manyun gitu dong... Mau aku cium lagi apa??" Jawab Arion. Membuat Antia kesal dan mencubit lengannya.


"Sakit sayang." Ucap Arion.


"Makanya jangan bikin aku kesel." Ucap Antia.


Arion hanya menggelang kepalanya pelan. Saat itu, tampak Arila keluar dari ruangan.


"Kakak ipar, kakak kenapa?? Kakak sakit??" Tanya Antia cemas.


"Emh... Nggak kok Antia cuman sedikit lelah." Jawab Arila.


"Beneran?? Tapi kakak pucet banget... Kita periksa dulu yuk kak." Ucap Antia.


"Beneran nggak apa apa." Ucap Arila sembari tersenyum. Belum Antia kembali bertanya, Arila jatuh pinsan.


"Kakak ipar." Ucap Antia.