
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊
Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕
"Kunci?? Kunci untuk apa ini bibi??" Tanya Andian bingung.
"Itu kunci Vila bibi yang ada dipegunungan tersembunyi, jadi keponakan ku tersayang bibi sudah menyiapkan semua nya disana untuk kamu dan istri kamu... Nanti malam Dev akan jemput kamu dan mengantar nya ke Vila bibi... Dan Dev akan menjemput kalian lagi setelah satu minggu kedepan." Jawab Renia panjang.
"Em...bibi apa maksudmu—" Ucap Andian terjeda.
"Iya anggap saja satu minggu kedepan adalah honeymoon kalian... Raka bilang kamu belum menghabiskan waktu dengan istrimu jadi bibi sudah menyiapkan semuanya." Ucap Renia memotong pembicaraan Andian.
Raka sialan!!! Awas saja jika bertemu nanti. Umpat Andian dalam hati.
Renia melihat wajah Andian yang tampak kesal. Membuat Renia mengira jika Andian menolak hadiahnya.
"Kamu tidak mau yah... Tidak apa apa padahal bibi sudah bersusah payah menyiapkan nya khusus untuk kamu begitu bibi kembali dari Wingshtoon." Ucap Renia dengan raut wajah sedih sembari membelakangi Andian.
Ini yang paling Andian tidak suka. Melihat ibu adik atau bibi nya bersedih. Andian pun menghela napas panjang dan berdiri dari duduknya. Andian pun memegang kedua bahu Renia.
"Andian tidak pernah menolak hadiah yang bibi buat dengan susah payah... Nanti malam aku dan istriku akan ikut dengan Dev jadi bibi jangan bersedih ya." Ucap Andian dan membuat Renia tersenyum.
"Ini baru keponakan bibi... Ya sudah bibi pulang dulu, semangat kerjanya ya keponakan bibi tersayang." Ucap Renia kemudian pergi dari ruangannya.
Sesaat setelah Renia pergi Andian merebahkan tubuhnya di atas sofa. Perlahan matanya menutup dan mengingat permintaan Renia.
"Meskipun bibi Renia paling cerewet dan sedikit menyebalkan... Tapi dia selalu ada saat aku kecil dan memberikan kasih sayang lebih... Bagaimana mungkin aku menolak usaha bibi untuk semua ini." Lirih Andian.
Andian bangkit dari sofa dan mengambil handphone nya. Andian berniat untuk memberikan pesan pada Arila.
Cavan Andian, Nanti siang tidak perlu antar makan siang aku akan pulang cepat.
Beberapa saat kemudian pesan dari Andian terbaca. Andian pun menunggu dan tak berapa lama jawabannya muncul.
Arila L, Baiklah kau ingin sesuatu??
Cavan Andian, Tidak ada.
Tanpa menunggu jawabannya Andian langsung mematikan handphone nya dan meletakannya di meja. Andian pun membuka leptopnya dan kembali bekerja.
Di sebuah Mall
Renzo tampak kesal karena sudah hampir 7 kali mengelilingi Mall namun tidak dapat menemukan barang yang ibunya titip kan.
"Mommy ini berkali kali dibilangin nggak ada tetep nggak percaya, maunya apa sih Mom." Lirih Renzo dengan kesal.
*Tring!!* Handphone milik Renzo berbunyi. Dengan malas Renzo pun menyalakan handphone nya dan tampak ada pesan baru dari ibunya.
Mommy cerewet, Anak ku tersayang barangnya tidak jadi, Mommy sudah membelinya.
Renzo pun kesal setengah mati begitu mendapat pesan saat dirinya sudah mengelilingi mall lebih dari 7 kali. Tanpa menjawab pesan dari ibunya, Renzo mematikan handphone nya dan memasukannya kedalam saku.
Renzo pun beranjak pergi meninggalkan Mall. Saat di parkiran, dia melihat seorang yang tidak asing baginya. Karena penasaran Renzo pun mengikutinya.
Mau kemana gadis istimewa ku pergi?? Batin Renzo.
Orang itu tidak lain Aline yang tampak berbincang dengan seorang peria. Karena penasaran, Renzo pun lebih mendekat dan mendengar pembicaraan mereka.
"Rea... Katakan alasan kenapa kamu menolak ku sejak dulu?? Bukankah kamu sendiri yang bilang aku lah peria pertama yang kamu cintai." Ucap peria itu sambil menggegam kedua tangan Aline.
Sungguh membuat Renzo terkejut melihat seorang gadis sedingin Aline mencintai seorang peria tanpa diketahuinya. Tampak Aline melepas genggaman dari peria tersebut.
"Maaf aku tidak bisa." Ucap Aline.
"Kenapa Rea??? Kenapa??" Tanya peria itu sambil mengguncang tubuh Aline.
"Karena dia kekasihku." Jawab Renzo yang langsung keluar dari penguntitannya.
"Apa maksudmu??" Tanya peria itu tidak terima.
Renzo tersenyum dan menarik pinggang Aline kemudian membelai wajahnya. Tampak Aline tidak menolak perlakuan Renzo. Aline sibuk dengan pikirannya kenapa Renzo bisa ada disana.
"Maksudku adalah dia kekasihku dan akan menjadi calon istriku." Ucap Renzo.
Calon istri?? Batin Aline.
"Jangan bicara omong kosong, Rea dia—" Ucap peria itu terjeda.
"Dia benar. Dan mulai sekarang jauhi aku Afar... Menikah lah dengan tunanganmu." Ucap Aline.
Peria itu tidak lain Afar. Afar Versta adalah teman kuliah Aline Arila dan Antika. Dia sering bersama mereka bertiga dan membuat mereka menaruh hati padanya. Namun, begitu tau Afar menyukai Aline. Arila dan Antika pun memutuskan menganggap Afar sebagai sahabat. Dan mendukung usaha Afar mengejar Aline.
"Baiklah... Tapi kita akan tetap menjadi sahabat kan??....(Aline mengagguk.) Aku doakan semoga kalian berdua langgeng. Aku pergi dulu." Pamit Afar dengan wajah kecewa.
Aline pun memandang punggung Afar yang mulai menjauh. Begitu pun Renzo yang dengan hati berbunga bunga begitu mendengar ucapan Aline. Aline menatap Renzo yang tak bergeming dan tetap memeluk pinggang nya. Aline pun geram dan mengijak kaki Renzo.
"Aw.... Sakit... Sayang apa yang kau lakukan??" Ucap Renzo sembari menghusap kakinya yang sakit.
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu, menjijikan." Ucap Aline.
"Menjijikan??? Ku rasa tidak... Aline apa itu artinya kamu menerima ku??" Tanya Renzo dengan wajah serius.
"Tidak... Aku tadi hanya mencari titik aman." Jawab Aline sambil beranjak pergi. Namun dengan cegatan Renzo menceghat.
"Titik aman dengan mengorbankan perasaanku??" Tanya Renzo mencengkram tangan Aline.
"Lepaskan aku, kau juga hanya asal bicara kan?? Peria Playboy seperti mu biasa mengucapkan hal itu. Aku pergi dulu." Jawab Aline sembari melepas tangan dari cengkraman Renzo dan pergi meninggalkan Renzo sendirian.
Renzo memandang punggung Aline yang mulai menjauh. Senyuman di bibir Renzo terbit. Renzo mencium tangannya yang baru saja mencengkram tangan Aline.
"Meskipun kau wanita yang sangat tidak berperasaan... Tapi kau begitu istimewa dan itu sebabnya aku begitu tertarik padamu. Aline ku tersayang." Lirih Renzo sembari tersenyum.
Renzo pun masuk kedalam mobilnya dan melajukan nya menjauhi area Mall.