Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 2 Season 2



••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Di Vila Andian


Seorang pria tengah semangat mengangkat tubuhnya dengan tumpuan tiang horizontal. Kaos oblong putih yang membalut tubuhnya kini basah oleh kringat. Namun kegiatannya terganggu oleh suara ketukan pintu.


"Kakak... Avindra sudah pulang, Ayo ke rumah paman." Ucap seorang pria yang tidak lain saudara kembarnya sendiri.


Mendengar hal itu seketika dia menyambar handuk kecil dan mengelap keringat yang masih berkecucuran di lehernya. Terlihat sangat sexy. “Cklekk!” Pintu terbuka perlahan.


"Seharusnya kamu tidak perlu berteriak... Renafo." Ucapnya menyebut nama saudara kembarnya. Iya, pria yang memanggilnya tadi tidak lain Renafo. Terlihat jelas wajahnya ceria dan humoris.


"Ayolah kakak Es, bukankah kau juga menunggu dia pulang." Ucap Renafo sembari menujuk saudara kembarnya yang tidak lain Reanzo.


Wajahnya yang dingin membuatnya dia terlihat mirip seperti Andian saat masih muda dulu. Reanzo menghela napas panjang dan berjalan melewati Renafo. Tentu membuat Renafo mengejarnya dengan berlari kecil.


"Eh...eh, Ayolah kak... Aku juga ingin bertemu Arisa." Ucap Renafo. “Bruk!!” Reanzo justru melemparkan handuk kecil kewajah Renafo kemudian membuka pintu kamarnya.


"Tunggulah dibawah." Ucap Reanzo kemudian menutup pintunya.


Renafo pun berdecak kesal dan melempar handuknya sembarangan. Beruntung ada pelayan yang melihat dan mengambilnya. Dengan wajah kesal, Renafo pun turun menunggu sang kakak diteras. Renafo membeku saat melihat ayah dan ibunya yang hampir berciuman.


"Ekhem... Ayah tidak bisakah kau mengenal tempat saat bermesraan." Ucap Renafo seketika membuat keduanya menjauh.


"Renaf, sejak kapan kamu disitu??" Tanya Arila sedikit gugup.


"Baru saja... Ah iya, Avindra sudah pulang... Ibu tidak mau melihatnya." Jawab Renafo.


"Tidak perlu... Yang pasti dia selamat itu sudah cukup." Ketus Andian yang merasa kesal karena moment nya terganggu.


"Ayah apa kau merasa kesal padaku, secarakan aku mengganggumu." Ucap Renafo membuat Andian menatapnya tajam.


"Ayah ibu, kita ke rumah paman sebentar." Ucap Reanzo begitu datang. Reanzo dan Renafo pun menjabat tangan kedua orang tuanya kemudian mencium punggung tangannya.


"Hati hati dijalan." Ucap Arila.


"Oke bu... Kami pergi." Jawab Renafo. Mereka pun masuk kedalam mobil dan perlahan menjauhi kediamannya.


"Jadi sayang bisa kita lanjutkan???" Goda Andian.


"Kau selalu tidak kenal tempat... Ingat umur." Ucap Arila sembari mencubit lengan Andian.


"Oh nakal kamu ya... Aku akan membuatmu tidak bisa berjalan nanti." Ucap Andian kemudian menggendong istrinya ala bridal style.


"Dasar m*s*m." Ucap Arila sembari memukuli dada suaminya.


"Aku memang m*s*um, mau melihatnya??" Goda Andian pada Arila.


Dua seloji ini sama sekali tidak memperdulikan umur mereka yang tidak muda lagi. Yang mereka peduli kan hanyalah kenangan manis untuk keduanya.


Di Kediaman Anvert


Avindra duduk ditaman disamping sang adik yang fokus melukis. Sesekali Avindra meminum kopinya dan menikmati pemandangan taman belakang Vila.


"Kakak lihat, bagus tidak??" Tanya Arisa.


"Sangat bagus... Kamu ikut tutor melukis juga disekolah??" Jawab Avindra kembali bertanya.


"Masih aja ada malesnya ya." Ucap Avindra membuat keduanya tertawa. Saat itu tampak seorang pelayan datang.


"Tuan muda, tuan besar memanggil anda untuk ke ruang baca." Ucapnya.


"Baiklah... Aku akan kesana." Jawab Avindra. Saat akan pergi, Arisa menceghat.


"Kak ikut." Ucap Arisa memohon.


Jika ayah memanggilku secara pribadi, pasti ada hal pribadi juga. Akan tidak baik kalo Arisa ikut. Batin Avindra.


"Kamu disini aja, kakak sebentar... Yah... Kamu janjikan nggak akan nakal." Ucap Avindra membuat Arisa terdiam.


"Baiklah... Tapi jangan lama yah." Ucap Arisa. Avindra mengangguk sembari tersenyum dan pergi.


"Pelayan tolong simpan ini, jangan sampai rusak ya." Ucap Arisa kemudian pergi.


"Baik nona." Jawabnya sesaat sebelum Arisa pergi.


Nggak tau kenapa, hari ini aku seneng banget... Apa karena kakak pulang yah?? Batin Arisa sembari tersenyum. Arisa pun menuju ke ruang keluarga dan melihat Antia sedang duduk disana.


"Wah anak kesayangan bunda senyum senyum, kenapa nih??" Tanya Antia pada Arisa.


"Nggak kok bunda, Arisa cuman seneng aja kakak udah pulang." Jawab Arisa sambil duduk disamping ibunya.


"Oh gitu, sekarang nggak perlu lagi kan nangis nangis minta kakak pulang?" Ucap Antia.


"Nggak lah bund, kan kakak udah pulang." Jawab Arisa membuat keduanya tertawa kecil.


"Assalamualaikum... Halo adik sepupuku yang cantik, jelita, imut dan cerewet." Ucap Renafo menghampiri keduanya.


"Walaikumsalam, kak Renaf... Kakak tumben kesini, bawa apaan tuh kak??" Ucap Arisa sembari mendekat dan menatap pepar bag yang Renafo bawa.


"Tentu saja ini untukmu... Bukalah." Ucap Renafo. Arisa pun tersenyum dan menerima pepar bag yang Renafo berikan.


"Ini makaron kesukaan aku, terima kasih kakak." Ucap Arisa sembari memeluk Renafo dan Reanzo secara bergantian. Arisa pun pergi ke kamarnya untuk memakan makaron kesukaannya sejak kecil. Setelah Arisa pergi, tampak Reanzo menatap Antia.


"Bibi dimana Avindra??" Tanya Reanzo.


"Avindra mungkin sedang bersama ayahnya di ruang baca... Kalian susul saja." Jawab Antia.


"Tidak perlu, kita akan menunggu disini." Ucap Reanzo.


"Ya ampun, kamu sangat mirip seperti ayahmu saat muda... Kemarilah duduk disamping bibi." Ucap Antia. Mereka pun berbincang sembari menunggu Avindra.


Di ruang baca


Avindra menerima lembaran dari ayahnya. Seketika dia tersenyum miring dan menatap ayahnya. Avindra pun meletakan lembaran tersebut di meja kemudian duduk berhadapan dengan sang ayah.


"Aku mengerti sekarang, ayah mengirimku ke London untuk membubarkan geng gelap disana dan mengikuti pelatihan selama 3 tahun karena untuk ini kan?" Ucap Avindra. Arion tersenyum dan berdiri kemudian berjalan mendekati ke arah jendela balkon.


"Sepertinya kau memang sangat teliti dan hati hati... Selama kau kuliah di London banyak yang terjadi disini, ku harap kau mengerti apa yang perlu kau lakukan." Ucap Arion. Avindra bangkit dari duduknya dan menyandarkan tubuhnya dengan tumpuan lemari yang dekat dengan jarak ayahnya.


"Yah mungkin kali ini akan sulit, tapi jika refreshing dengan melihat para gadis cantik dan segelas cocktail hal itu akan sangat mudah." Ucap Avindra membuat Arion menatap tajam.


"Avin, jangan bilang kamu—"


"Ayolah ayah, aku juga seorang mahasiswa yang perlu mendapatkan kesenangan... Aku mendapatkan gelar MBA kau juga yang bangga kan??" Ucap Avindra membuat Arion menyentil kening putranya.


"Nggak kamu, Renaf dan Delvin sama saja." Ucap Arion.


"Ya karena kami saudara, sudahlah aku keluar... Soal ini ayah hanya perlu membantuku membujuk bunda." Jawab Avindra kemudian pergi. Arion menghela napas panjang dan tersenyum.


Sedikit bicara banyak bertindak, dialah putraku Avindra. Batin Arion.