Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 30



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Terima Kasih dan selamat membaca semua💕


"Kau tidak apa apa??" Tanya wanita itu.


"Aku tidak apa apa, terima kasih kak karena sudah menolongku." Jawab Sista sembari tersenyum.


"Tidak perlu... Kenapa kau sendirian di tempat berbahaya seperti ini??"


"Aku menunggu kakakku... (Sista melihat mobil Arila mendekat.) Itu dia kakakku." Ucap Sista sembari menujuk ke arah mobil kakak nya.


Wanita itu pun memandang ke arah yang Sista tunjuk. Tampak Arila keluar dari dalam mobilnya. Arila mendekat dan tiba tiba memeluk wanita itu.


Eh, kakak memeluk wanita ini?? Apa mereka akrab ya? Batin Sista bingung.


"Aline kau kembali... (Arila melepas pelukannya.) Kemarin adikku berniat menjemputmu di bandara tapi dia bilang kau tidak ada."


"Jadi dia adikmu? Kemarin aku mengambil koperku dan mungkin saat adikmu menunggu dia mengira aku belum tiba di bandara." Jelas wanita itu yang tidak lain Aline.


"Jadi ini sahabat yang kakak bilang itu?? Kakak sangat hebat."


"Dia memang hebat Sis, Ayo Al ke rumahku dulu." Ajak Arila.


"Em...nanti saja aku harus pulang sekarang." Pamit Aline.


"Baiklah aku tunggu." Ucap Arila.


Aline mengagguk dan meninggalkan Sista juga Arila. Sista dan Arila pun memasuki mobil dan meninggalkan tempat itu. Di perjalanan Sista memandang Arila yang sedang fokus menyetir.


"Jadi kakak, kak Aline dan kak Antika sahabat sejak SMA dulu ya??"


"Iya... Tapi, Aline berpisah dengan aku dan Antika karena dia harus ikut bersama ayah dan ibunya di Inggris. Dan baru kembali saat ini... Aku senang dia masih Aline yang ku kenal."


"Wah apa ini kebetulan, nama depan kakak dan kedua sahabat kakak huruf A semua."


"Sebenarnya tidak... Kau tau sendiri jika nama Antika sebenarnya Cantika dan Aline Ralinea... Tapi kakak kesulitan ketika memanggil mereka jadi kakak membuat nama panggilan sendiri." Jelas Arila.


"Huft...(Menghela napas.) Andai kak Aline lebih cepat pasti di bandara aku tidak akan menemui kakak tua narsis itu." Ucap Sista tampak kesal.


"Kakak tua narsis??? Siapa itu... Sista kau ini dulu kau menamai Andian dengan panggilan kakak es hidup... Sekarang kau menamai siapa lagi itu... Coba kau cerita." Ucap Arila.


"Apa kakak tau kemarin saat di bandara." Ucap Sista mengingat kejadian semalam.


[Sebenarnya saat di Bandara.]


Sista tampak menunggu seseorang yang tidak lain Aline di ruang tunggu bandara.


Agar menghilangkan rasa bosan Sista pun memainkan handphone dan duduk di kursi panjang.


Lama menunggu Sista benar benar merasa bosan. Dia melihat ke arah arlojinya dan menujukan pukul 13.45 siang.


"Sudah hampir satu jam tapi mana teman kakak??? Sudah lah aku pulang saja." Ucap Sista.


Dan saat Sista berdiri tiba tiba *Brak!!* seseorang menabrak nya sampai dia terjatuh. Melihat orang itu tidak berhenti dengan kesal Sista berdiri.


"Hey kau!!! (Orang itu berhenti dan Sista mendekatinya.) Apa kau merasa tidak memiliki kesalahan setelah menabrak ku?!!" Ucap Sista emosi.


"Hey gadis cerewet apa kau tidak memiliki etika saat bicara?? Kau hanya terjatuh tidak sampai patah tulang kan kenapa harus marah padaku?? Atau kau diam diam mengaggumi ku secara aku kan tampan dan menawan." Ucap orang itu.


"Hey kakak tua narsis... Bukannya minta maaf malah memamerkan kelainan narsismu. Sudahlah lebih baik aku pergi daripada menghadapi kakak tua narsis sepertimu." Ucap Sista dengan kesal meninggalkan orang itu.


"Hahaha... Katakan saja kau memang mencari perhatian ku dasar gadis cerewet." Ucap peria itu.


Ucapan peria itu mampu membuat Sista kesal. Sista meraih botol minum entah punya siapa.


Sista melemparnya dan tepat mengenai kepala peria itu. Tampak peria itu kesal bercampur kesakitan.


"Aku beri tau sepertinya penyakit narsismu sudah stadium akhir.... Jadi aku harap kau cepat berobat ya." Ucap Sista.


"Dasar gadis cerewet awas saja kau." Ucap peria itu sembari kesakitan.


Ya Tuhan mimpi apa semalam aku sampai menemui peria tidak jelas seperti dia?? Batin Sista.


[Setelah kejadian.]


Sista tampak kesal saat menceritakan hal itu pada Arila justru ditertawakan oleh Arila. Arila melirik Sista sekilas yang tampak kesal.


"Maaf...maaf...baru kali ini aku melihat adikku tersayang begitu kesal." Ucap Arila.


"Kakak bekerja karena kakak ingin mandiri dan tidak membebankan ayah dan ibu... Tapi saat kakak belum berstatus istri... Tinggal hitungan hari kakak berubah status... Dan kewajiban... Status kakak akan menjadi istri dan kewajiban kakak adalah mematuhi dan melayani suami. Begitu pun kau Sista." Jelas Arila.


"Iya kak, Sista paham apa yang kakak katakan." Ucap Sista sembari tersenyum. Arila pun membalas senyuman adiknya.


Tapi ada hal yang tidak kau pahami adikku... Dan ku rasa tidak perlu kau ketahui. Batin Arila.


Di Vila Raka


Antika tampak memasuki kamarnya. Sedikit ragu namun dia ingin menjelaskan mengenai hubungannya dengan Lukas agar tidak terjadi kesalahpahaman.


*Cklek!!* Perlahan Antika membuka pintu kamarnya. Antika pun menutup pintu kembali dengan hati hati. Antika melihat sekeliling kamarnya namun tidak menemukan keberadaan Raka.


Hingga Antika mendengar suara gemricik air dari dalam kamar mandi.


Sepertinya dia sedang mandi, tapi bagaimana menjelaskan hal ini padanya... Apa dia akan marah?? Batin Antika dan duduk dibibir ranjang.


Lama menunggu akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Antika memandang Raka yang tampak membuka pintu lemari dan mengeluarkan beberapa pakaian yang akan dia kenakan.


Antika memalingkan wajahnya begitu Raka membuka balutan handuknya dan memakai pakaiannya. Setelah berpakaian Raka mendekati pintu dan hendak pergi.


"Tunggu...(Raka terhenti.) Kau mau kemana?? Ini sudah malam??" Tanya Antika hati hati.


"Apa urusan nya denganmu?!" Jawab Raka ketus.


"Aku akan menghibur diriku ditempat dimana banyak wanita yang melayani ku dengan baik." Ucap Raka sembari mendekati Antika.


"Maksudmu... Sejenis Club Malam??" Tanya Raka memastikan. Raka tersenyum dan tiba tiba menjambak rambut panjang Antika.


"Kau benar sekali, disana aku bisa memilih wanita sesuai seleraku daripada disini dengan wanita yang menjadi kekasih orang lain namun berstatus istriku... Bukankah itu sangat konyol." Ucap Raka.


"Raka ku mohon dengarkan penjelasan ku.... Aku dan Luk—" Ucapan Antika terjeda.


"Jangan panggil nama itu lagi!!! (Antika menangis.) Baiklah, aku akan menceraikanmu secepatnya dan kau bisa bersama kekasihmu itu." Ucap Raka sembari keluar dan membanting pintu.


"Tidak... Aku tidak mau bercerai dengannya... Tidak!!!" Teriak Antika dan terbangun dari tidurnya.


"Hey kau kenapa?? Siapa yang mau menceraikanmu??" Ucap Raka sembari memegang bahu Antika.


Antika yang masih tidak sadar jika itu hanya mimpi pun memeluk Raka dengan erat. Raka membelakan matanya tidak percaya. Terlebih Antika menangis di pelukannya.


"Hey... Adapa denganmu?? Apa kau mimpi buruk??" Tanya Raka lembut sembari menghusap puncak kepala Antika guna menenangkan.


"Hiks...hiks... Ku mohon jangan ceraikan aku... Aku tidak ada hubungan apapun dengan Lukas. Percayalah padaku." Ucap Antika masih memeluk Raka dan menangis.


Raka melepas pelukannya pelan dan menatap wajah Antika. Perlahan Raka menghapus air mata Antika dengan kedua ibu jarinya.


"Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu... Kau hanya takut menjelaskan semuanya padaku jadi sampai kau terbawa mimpi seperti ini." Ucap Raka menatap Antika dalam.


"Jadi tadi aku hanya bermimpi??" Tanya Antika memastikan. Dan Raka pun mengaggukan kepalanya.


Antika memalingkan wajahnya dan menghusap air matanya sendiri. Wajah Antika semerah tomat. Membuat Raka terkekeh. Raka mendekati Antika dan mendekatkan wajahnya pada daun telinga Antika.


"Apa kau sudah jatuh hati pada suami tampanmu ini??" Ucap Raka menggoda istrinya.


"Apa yang kau katakan." Ucap Antika memalingkan wajahnya sembari tersenyum dengan pipi masih merona.


"Kenapa kau tersenyum...(Mendekati Antika.) Dan wajahmu juga memerah seperti tomat... Jadi benar ya jika istriku ini jatuh hati padaku??" Goda Raka.


Antika hanya tersenyum dan hendak pergi. Namun dengan cekatan Raka menarik tangan Antika dan kini Raka berada diatas tubuh Antika.


Raka tersenyum dan membelai wajah cantik Antika. Sedangkan Antika hanya menatap dalam Raka.


"Apa itu tandanya suami mu ini bisa meminta haknya??" Tanya Raka sembari tersenyum.


Melihat senyuman tulus Raka membuat Antika mengagguk pelan. Raka pun tersenyum bahagia.


Dia pun mulai mencium bibir Antika. Antika memejamkan matanya menikmati apapun yang Raka lakukan terhadapnya.


Aku tidak tau sejak kapan aku mulai mencintaimu... Tapi aku sadar saat tadi aku bermimpi seperti itu secara tidak langsung di lubuk hati ku yang paling dalam memang tidak mau hal itu terjadi... Aku mencintaimu Raka Putra Utama. Batin Antika.


Mereka pun menikmati malam pernikahannya setelah lebih 1 bulan menikah.


Maaf ya, Author cuman bisa ceritain


sampai kesitu lebih lanjut kalian bisa


berimajinasi sendiri ya...😁😊