Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 61



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


Sedangkan dengan Raka


Baru mobilnya terparkir, Antika dengan bahagia keluar dari dalam mobil dan berlari kecil. Hal itu tentu membuat Raka khawatir dan buru buru mengejarnya. Antika hampir terjatuh dan beruntung Raka menarik tangan Antika dengan cepat.


"Antika sayang! Lain kali jangan lari lari, bagaimana jika kau terjatuh tadi?? Kau—" Ucap Raka dengan nada sedikit tinggi.


Namun, ucapannya terjeda karena Antika menunduk dan meneteskan air matanya. Raka lupa jika Antika sangat emisional. Raka menghela napas panjang dan memegang kedua bahu Antika.


Raka memandang wajah Antika. Tampak mata Antika sudah berlinang air mata. Membuat hati Raka seolah tertusuk belati. Raka pun menghusap air matanya dengan kedua jempolnya.


"Maaf sayang... Sudah jangan nangis lagi ya, aku tadi khawatir kamu...(Menghusap perut Antika sekilas.) Dan baby junior kenapa kenapa... Maaf ya tadi aku bentak kamu." Ucap Raka lembut.


"Kamu nggak marah sama aku kan??" Tanya Antika.


"Nggak sama sekali... Udah yuk katanya mau beli sesuatu." Jawab Raka menghibur.


Antika pun kembali tersenyum cerah. Raka menggandeng tangan Antika dan mereka pun masuk ke dalam mall. Sesampainya di dalam, Antika langsung memilih sangat banyak berbagai macam pakaian. Bahkan sampai Raka kualahan.


"Sayang apa masih ada lagi yang perlu kau beli??" Tanya Raka tampak kesusahan membawa pakaian yang Antika pilih.


"Bentar lagi." Jawab Antika masih memilih pakaiannya.


Raka merasa terkejut saat Antika melempar pakaian yang dia pilih. Mata Raka berbinar saat melihat beberapa pakaian sejenis lingerie yang sangat minim. Raka pun mengendap endap mengambil beberapa jenis lingerie.


Pakaian ini akan sangat indah jika Antika memakainya. Batin Raka mulai berpikiran kotor.


Raka langsung menyelipkan lingerie tersebut dan kembali mendekat pada Antika. Selain pakaian, rupanya Antika memborong berbagai macam cemilan. Dan malangnya Raka yang harus membawa semua barang belanjaannya.


"Seperti nya sudah, sayang ayo kamu bayar. Aku tunggu di mobil ya." Ucap Antika.


"Baiklah... Hati hati." Jawab Raka.


Raka pun menuju ke kasir dan menaruh semua belanjaannya. Tampak sang kasir tersenyum karena kagum dengan ketampanan dan perhatian Raka.


"Wah anda memborong semuanya... Seperti nya anda sangat mencintai istri anda. Tidak hanya tampan rupanya anda sangat perhatian." Ucap sang kasir sembari tersenyum.


"Tentu saja, istriku segalanya untukku." Jawab Raka.


"Hahaha... Beruntung sekali istri anda... Ini tuan barangnya sampai jumpa dan datang kembali lagi kemari." Ucap sang kasir.


Raka hanya mengagguk sebagai respon. Setelah semuanya barang dibayar, Raka pun keluar membawa semua barang belanjaannya. Tampak Antika sedang menunggu disana. Raka menaruh barang belanjaannya di bagasi mobil dan mendekati Antika.


"Sudah puas kan?? Satu mall kamu borong kamu bahagia kan??" Tanya Raka.


Antika pun menatap Raka dengan wajah imutnya.


"Bahagia banget... Karena suamiku yang tampan dan perhatian mau menuruti ku... Terima kasih sayang." Ucap Antika sembari tersenyum.


"Jangan menggoda ku... Ayo kita pulang." Jawab Raka.


Dangan wajah tersenyum Antika pun mengaggukan kepalanya. Baru melangkahkan kakinya, tiba tiba.


"Aaaaa....aw sa...sayang sakit..." Rintih Antika sembari memegang perutnya.


"Antika...(Memapah Antika.) Antika kamu kenapa sayang?" Tanya Raka cemas.


"Sa...sakit..." Jawab Antika melemah. Perlahan dia kehilangan kesadaran membuat Raka semakin cemas.


"Antika... Antika." Ucap Raka. Namun Antika tidak bergeming.


Dengan segera Raka pun membawa Antika ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, Raka terus melirik ke arah Antika. Saking cemasnya Raka sampai meneteskan air matanya.


Ya Tuhan selamat istri dan anak ku... Ini penantian ku sejak lama. Aku mohon... Batin Raka berdoa.


Sesampainya di rumah sakit Raka langsung menggendong Antika dan membawanya ke ruang UGD. Bahkan Raka tetap disamping Antika dan mengegam tangan Antika. Dokter langsung memeriksa Antika. Raka memandang dokter nya begitu selesai memeriksanya.


"Ada apa dengan istri saya?? Apa dia baik baik saja??" Tanya Raka cemas.


"Tuan istri anda baik baik saja... Sakit seperti ini biasa dialami oleh ibu hamil... Ini terjadi karena rahim terus membesar dan memberi ruang pada janin yang semakin tumbuh. Lebih jelasnya anda menemui dokter kandungan." Jawab sang dokter. Membuat Raka bernapas lega.


"Tapi kenapa istriku sampai pinsan?" Tanya Raka.


"Mungkin istri anda kecapean dan tidak terbiasa dengan sakitnya." Jawab Dokter.


Raka pun mengagguk kepala paham. Beberapa saat kemudian Antika membuka matanya perlahan. Segera lah Raka mendekatinya dan membantunya duduk dibibir ranjang.


"Pelan pelan sayang... Bagaimana apa ada yang sakit??" Tanya Raka.


"Pinggangku sedikit sakit... Anak ku..." Jawab Antika kemudian menyentuh perutnya.


"Saya permisi tuan... Dan nona jaga diri anda baik baik." Pamit dokter.


"Iya... Terima kasih dok." Jawab Raka mewakili. Dokter tersenyum dan kemudian pergi.


"Kamu bisa jalan?? Kita ke dokter kandungan ya sekarang... Sekalian USG." Ucap Raka.


"Aku bisa jalan... Ayo." Jawab Antika tersenyum.


Raka pun membalas senyumannya. Dengan hati hati Antika turun dari ranjang. Mereka pun menuju ke ruang dokter kandungan.


Sesampainya disana. Antika langsung diminta berbaring. Tampak sang dokter menuangkan jel sebelum mengarahkan alat untuk usg. Beberapa saat menunggu tampak bulatan kecil yang tidak lain sang baby junior.


"Nah tuan... Bulatan kecil ini adalah calon anak anda... Usia kandungan istri anda sudah memasuki bulan kedua." Jelas sang dokter.


"Sayang itu anak kita." Ucap Antika sembari tersenyum bahagia.


"Iya sayang... Itu anak kita." Jawab Raka. Dokter melepas alat usg nya dan memberikannya hasil usgnya.


"Ini usg pertama anak anda." Ucap dokter dan dengan wajah bahagia Raka menerimanya.


"Terima kasih dok... Kami pamit." Ucap Raka.


"Terima kasih kembali tuan." Jawab sang dokter.


Antika dan Raka pun keluar dari area rumah sakit. Begitu memasuki mobil, Antika langsung membuka hasil usgnya. Antika dengan tersenyum terus menyentuh gambar bulatan kecil itu dan sesekali menyentuh perutnya.


Sayang baik baik disana ya... Kami menunggu kamu sayang. Batin Antika.


Raka memandang Antika sembari tersenyum. Dia bernapas lega begitu Antika baik baik saja. Raka pun melajukan mobilnya dan menjauhi area rumah sakit.


Di Vila Andian.


Andian dan Arila langsung turun dari mobilnya begitu sampai di Vila. Sedangkan Antia, Lyin sengaja meminta Antia untuk tinggal bersamanya agar memberikan waktu pada Andian dan Arila agar lebih dekat.


Sedangkan alasan yang Lyin berikan agar Antia dibatasi bertemu dengan Arion. Tentu Andian menyetujuinya karena saat ini dia kesal dengan Arion karena selalu menggodanya.


Sesampainya di kamar, Arila langsung membersihkan diri dan memakai piyama tidurnya. Setelah itu, Arila langsung merebahkan dirinya diatas ranjang. Rasanya sangat empuk dan nyaman. Karena seharian ini sangat melelahkan baginya.


Nyamannya... Kenapa mama dan bibi Renia selalu menggoda ku?? Apa begitu terlihat ya hubungan ku dengan Andian membaik?? Aaaa... Andian merespon bibi Renia yang artinya... Tidak... Dia tidak akan melepaskan ku jika sudah memulainya... Apa yang harus ku lakukan?? Batin Arila mulai takut sembari menutup matanya dengan kedua tangannya.


Merasa rasa takutnya sedikit menghilang, Arila pun membuka kedua tangannya dari wajahnya. Matanya terbelak saat Andian berada tepat didepannya.


"Ka...kamu...(Mendorong tubuh Andian.) Kenapa selalu mengejutkanku??" Ucap Arila lirih.


"Kau tidak perlu mendorong ku." Jawab Andian tampak tak senang dengan sikap Arila.


Andian bangkit dari posisinya dan duduk dibibir ranjang dengan wajah kesal. Melihat hal itu Arila tau jika Andian dalam mode kesal.


Aku lupa jika dia tidak suka didorong... Bagaimana ini??Jika aku menenangkannya yang ada berakhir dengan dia tidak melepaskan ku... Tapi jika dia kesal... Dia akan bersikap dingin padaku nanti... Tidak ada cara lain... Batin Arila.


Perlahan Arila memeluk Andian dari belakang. Andian tersenyum penuh kemenangan. Karena sejujurnya ini lah yang dia inginkan.


"Jangan marah ya... Maafkan aku... Aku tidak akan mengulanginya lagi." Ucap Arila. Namun, Andian tak bergeming membuat Arila takut.


Seperti nya dia benar benar marah... Hanya ada satu cara jika gagal dia benar benar marah padaku. Batin Arila.


Terus lah memohon istriku... Aku ingin lihat sampai mana kau menggoda ku.. Batin Andian.


Arila mengeratkan pelukannya dan hendak mencium pipi Andian. Namun, tanpa sengaja dia justru mencium leher Andian yang dimana membuat Andian langsung bereaksi. Andian berbalik dan menindihi tubuh Arila.


"Kau yang memulainya maka kau harus mengakhirinya." Ucap Andian membuat Arila menelan ludah kasar.


Habislah aku, Batin Arila.


Belum Arila bicara Andian lebih dulu mencium bibir Arila. Arila tidak bisa menolak mengingat Andian akan marah. Mereka pun menghabiskan waktu bersama.


Di Vila Raka


Randy dan Laura tersenyum bahagia. Takala dia berkali kali melihat hasil usg Antika. Sedangkan Antika merangkul lengan Raka sembari tersenyum.


"Mama nggak sabar pengen lihat cucu mama lahir iya kan pa." Ucap Laura.


"Iya ma... Papa juga udah nggak sabar." Jawab Randy.


"Ya disabar sabarin dong ma... Pa... Kan masih nunggu beberapa bulan lagi." Ucap Raka.


"Iya sayang mama pasti sabar kok... Ya udah kalian tidur ini sudah malam... Dan ini foto usgnya, simpan baik baik." Jawab Laura.


"Baiklah ma pa kami tidur dulu ya. Selamat malam." Ucap Raka dan Antika bersamaan.


Randy dan Laura tersenyum menatap punggung putra dan menantunya yang mulai menjauh. Mereka merasa sangat bahagia karena penantiannya selama ini terbalaskan. Kini mereka hanya menunggu sang cucu hadir.