
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊
Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕
📞
"Pergi ke kontrakan xxxx, bawa semua barang barang di kontrakan itu ke apartemenku." Titah Kean.
"Baik Tuan." Jawab diseberang sana.
Kean pun mematikan telefonnya dan melepaskan jasnya kemudian membalutkannya pada tubuh Naira. Kean menggendong Naira ala bridal style. Naira yang masih trauma hanya membenamkan wajahnya pada dada bidang Kean.
"Disini sudah tidak aman untukmu... Aku akan membawamu ketempat yang lebih aman." Ucap Kean. Naira yang masih trauma hanya bisa diam dengan tatapan kosong.
Kean mendudukan Naira dan kemudian dia pun melajukan mobilnya menuju ke apartemennya. Karena lama menangis, Naira tertidur didalam mobil saat perjalanan. Matanya sembab dan beberapa luka ringan ditangannya. Sungguh malang nasib Naira.
Sesampainya di apartemen
Kean kembali menggendong Naira sampai ke kamar apartemennya yang mewah. Perlahan Kean menidurkannya diatas ranjang kemudian menyelimutinya. Apartemen itu sudah lama tidak Kean tinggali mengingat dia harus 24 jam setia disamping tuan mudanya.
Sejenak Kean menatap wajah Naira. Entah rasa apa yang membuat seorang Kean mau nenolong Naira. Tatapan Kean berhenti pada tangan Naira yang terluka. Beruntung ada kotak P3K berada didalam laci nakas. Perlahan Kean memberikan obat merah pada lukanya dan membalutkan plester.
Apa hidupnya selalu disiksa seperti ini?? Batin Kean.
Kean pun bangkit dari duduknya dan pergi menuju ke Vila Andian. Untungnya Kean sudah mengambil laporan yang Arion minta. Sepanjang perjalanan Kean memikirkan Naira. Dan ini pertama kalinya seorang Kean memikirkan sesuatu dengan begitu serius.
Di Vila Andian
Hari semakin gelap. Reno Vanect pamit untuk pulang begitu pula Randy dan Anzo. Sedangkan Gio dan Lyin berniat menginap di Vila Andian sampai Andian benar benar bisa beraktifitas seperti sebelumnya. Berbeda dengan Arion yang menggerutu karena Kean belum datang.
Kemana sekertaris sialan itu?? Apa dia bermalam dengan wanita itu?? Ah itu tidak mungkin, Kean juga sangat membingungkan disebut laki laki tidak memiliki ketertarikan dengan wanita... Disebut perempuan dia bebadan kekar dan berdada rata. Batin Arion dengan sumpah serampah.
Saat mobil yang Kean kendarai memasuki Vila, saat itulah Arion bernapas lega. Dia pun bergabung dengan Lyin Gio dan lainnya.
"Antia sudah malam... Ayo pulang, besok kau ada kelas pagi kan?" Ucap Arion lembut. Antia menggeleng kepala kuat dan memeluk lengan Arila.
"Tidak... Aku akan menginap disini." Jawab Antia.
Humph... Kakak pikir aku tidak tau maksud dari senyuman palsumu itu. Batin Antia menatap tajam Arion.
"Antia, Arion suamimu... Kamu harus patuh padanya, atau kamu berdosa sayang." Ucap Lyin pada putrinya. Tampak Antia terdiam sejenak. Saat itulah Kean datang.
"Maaf atas keterlambatan saya tuan." Ucap Kean.
"Baiklah kamu menginap saja disini... Aku akan pulang, ayo Kean." Ucap Arion dengan wajah kesal.
"Ak... Aku ikut, ma...pa... Kakak aku pulang dulu ya." Pamit Antia.
"Iya sayang kalian berdua hati hati ya." Jawab Lyin.
"Jangan berantem." Timpal Gio Andian dan Arila.
Antia pun membuntuti Arion yang berjalan lebih dulu. Sampai masuk kedalam mobil, Arion memalingkan wajahnya tidak mau menatap Antia menandakan jika dia sedang marah.
Aku yang seharusnya marah, kenapa jadi kak Arion sih... Biarin ah, capek ngurusin bayi tua. Batin Antia.
Kenapa diam aja?? Nggak tau apa aku lagi pura pura marah, ayo bujuk aku sayang. Batin Arion.
"Jun siapkan kopi pahit untukku, antar ke ruang baca ku." Ucap Arion tanpa menoleh Antia yang berada dibelakangnya.
Hal itu membuat Antia menghela napas panjang. Dia pikir Arion akan setuju untuk menginap semalam di Vila Andian. Nyatanya Arion justru marah karena Antia selalu mengabaikannya. Saat Jun akan mengantar kopinya, Antia menceghat.
"Jun berikan padaku... Biar aku yang mengantarnya." Ucap Antia.
"Baik nona." Jawab Jun kemudian memberikan bakinya.
Antia pun menarik napas panjang kemudian mengeluarkannya perlahan. Kali ini, kali kedua Antia harus membujuk Arion yang sedang marah. *Cklekk!!!* Perlahan pintu terbuka dan tampak Antia menyinggung senyuman manisnya. Arion memalingkan wajahnya kesal.
"Masih marah??" Tanya Antia sembari memberikan secangkir kopinya. Arion tidak menjawab dan langsung meminum kopinya.
Antia meletakan bakinya dan duduk dipangkuan suaminya. Antia merangkulkan kedua tangannya pada leher kekar suaminya. Tampak Arion memasang wajah datar dan fokus pada leptopnya.
"Marah padaku?? Kau tidak akan dapat jatah malam ini... (Membelai wajah Arion.) Apa kau tahan sehari tanpa sentuhanku??" Goda Antia.
Kenapa dia sudah pandai menggoda sekarang?? Baiklah, kita lihat sampai mana dia menggodaku. Batin Arion bahagia.
"Kau tidak mau bicara padaku, ya sudah marah saja... Aku akan tidur di kamar tamu." Ucap Antia pun turun dari pangkuan Arion dan keluar dengan wajah cemberut. Tampak Arion tersenyum menyerengai begitu melihat wajah cemberut Antia.
"Istriku sudah besar sekarang... Mungkin ini saatnya agar Arion junior hadir." Ucap Arion.
Sedangkan dengan Antia, dengan wajah kesal menuju ke kamar tamu dan menggulung dirinya pada selimut.
Harusnya aku yang kesal, kenapa kak Arion sih... Sudah dibujuk masih marah, sepertinya dia benar benar marah... Ah memalukan sekali, tau begini aku tidak mau menggodanya. Batin Antia sembari menutup wajahnya yang merona dengan bantal.
Tiba tiba seperti ada yang memeluknya dari belakang. Arion pun mendekatkan bibirnya pada daun telinga Antia.
"Kau sudah berani menggoda ya?? Istriku memang pandai belajar." Bisik Arion membuat Antia merona.
"Awas... Aku mau tidur." Ucap Antia.
"Kita begadang saja, besok kau tidak ada jam pagi kan??" Ucap Arion.
"Tuh kan... Bohong lagi, pasti ini rencana kak Arion kan... Tau ah kesel." Kesal Antia.
Arion membalikan tubuh Antia dan menindihinya. Arion mencium bibir mungil istrinya perlahan Arion melepaskan pakaian istrinya satu per satu. Pada akhirnya mereka menghabiskan waktu bersama meskipun ada satu pihak yang merasa kesal. Arion selalu berharap kelak anaknya menuruni sifat tegasnya dan penyayang Antia. Iya, itu harapannya untuk melengkapi keluarga kecilnya.
Keesokan harinya
Naira membuka matanya perlahan begitu mendapat sapaan dari sinar mentari pagi. Naira duduk dibibir ranjang mengumpulkan kesadaran. Naira menatap pakaiannya yang robek membuatnya ingat dengan kejadian yang menimpanya.
"Sudah bangun." Ucap Kean diambang pintu.
"Tuan." Lirih Naira.
"Mulai detik ini sampai seterusnya kau tinggal diapartemen ini... Kontrakanmu tidak aman sekarang, sampai kondisinya aman kau bisa pergi kapan saja." Ucap Kean.
"Terima kasih tuan." Ucap Naira sembari tersenyum menatap Kean. Hal itu membuat Kean salah tingkah dan memalingkan wajahnya.
"Bersihkan dirimu, kita harus berangkat lebih pagi... Dan iya nanti malam kau diundang untuk datang ke acara tuan Raka... Tenang saja hanya orang terdekat yang datang." Ucap Kean kemudian pergi.
Terima kasih tuan, aku berhutang nyawa padamu. Batin Naira sembari tersenyum.
Beberapa saat kemudian Naira keluar dengan pakaian rapinya. Tampak Kean menunggu dihalaman apartemen. Naira pun menghampiri Kean.
"Ayo berangkat." Ucap Kean. Naira pun mengaggukan kepala pelan.