Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Extra Part



Extra Part—2


Extra part spesial untuk para readers, jangan lupa komen, like dan votenya ya❤️


Sedangkan dengan Kean


Disaat Andian dan Arila bermesraan, Kean tampak kebingungan dengan pertanyaan dari penjual rujak asam manis. Ini pertama kalinya Kean membelikan jajanan pasar terlebih di pinggiran jalan.


"Den ini mau asam manis asam pedas atau manis pedas??" Tanya ibu penjual. Hal itu membuat Kean geram dengan tugasnya kali ini.


"Semuanya... Aku beli semuanya bungkus sekarang." Jawab Kean.


"Eh, dasar anak muda jaman sekarang." Lirihnya dan tidak direspon oleh Kean.


Tuan muda bilang untuk membelikan rujak asam manis tapi disini kenapa banyak sekali pilihan. Membuat aku pusing... Batin Kean.


"Ini den." Ucap ibu penjual sembari menyondorkan kresek besar.


"Berapa totalnya??" Tanya Kean.


"200 ribu den." Jawab ibu penjual. Kean mengeluarkan kartu kreditnya membuat ibu penjual bingung.


"Kenapa?? Aku bayar menggunakan ini." Ucap Kean.


"Den, saya penjual rujak keliling bukan seperti di mall... Mana ada bayar menggunakan kartu, bayarnya harus ces." Jelas ibu penjual.


"Oh begitu... Ku pikir semuanya membayar dengan ini." Lirih Kean. Kean pun mengeluarkan uang 500 ribu dan memberikannya pada ibu penjual.


"Ini kelebihan den." Ucapnya. Kean yang kesal pun masuk begitu saja.


"Ambil kembaliannya." Jawab Kean begitu masuk kedalam mobil.


Kenapa ibu ibu itu begitu cerewet... Membuat aku kesal saja. Batin Kean sembari memijit pelan pelipisnya kemudian mengemudikan mobilnya.


Sesampainya di Vila Andian


Kean mengerutkan keningnya begitu melihat Renzo yang tengah memanjat pohon mangga yang tumbuh didepan Vila. Hal itu membuat Kean menggeleng kepala pelan.


"Tuan anda bisa jatuh jika menyangga ranting itu." Ucap Kean membuat Renzo menoleh.


"Diam kau sekertaris gila... Aku tidak akan jatuh, lebih baik kau masuk sana... Mengganggu saja." Jawab Renzo. Saat itu tampak Arila menghampiri Kean dengan wajah bahagia.


"Dimana rujaknya??" Tanya Arila antusias.


"Sebentar nona." Jawab Kean hendak mengambil rujak yang dia borong tadi. Baru melangkah “Bruk!!!” Renzo terjatuh dari pohon mangga. Bukannya menolong, Arila dan Andian tertawa kecil.


"Andian!!! awas jika anakmu laki laki aku akan—" Ucap Renzo terpotong saat mangga muda mengenai kepalanya.


"Hahaha... Kakak mau apakan anakku jika mereka laki laki??" Ejek Andian. Tampak Renzo kesal dan menendang pohon mangganya. Hampir dua buah mangga muda mengenai Renzo kembali.


"Jika tau sekali tendang langsung dapet... Kenapa aku harus susah payah memanjat pohon sialan ini." Lirih Renzo.


Renzo pun mengambil buah mangga yang dia petik dan diberikan pada Arila. Tentu dengan senang hati Arila menerimanya. Andian tampak menahan tawa melihat Renzo menghusap punggungnya. Saat itu tampak Kean membawa kresek besar dan mendekat ke arahnya.


"Kean, apa kau akan berganti karir menjadi tukang rujak?? Kenapa kau memborong semuanya??" Ucap Renzo terkejut.


"Gian bawa ini masuk." Titah Andian.


"Baik tuan." Jawab Gian.


"Saya tidak tau selera nona muda... Jadi saya membeli semuanya. Kalau begitu saya pamit." Pamit Kean dan diangguki oleh Andian. Kean pun pergi meninggalkan mereka.


"Dasar sekertaris gila." Umpat Renzo.


"Terima kasih kakak ipar." Ucap Arila sembari tersenyum.


"Sama sama... Lain kali kalau mengidam harus menyusahkan suamimu... Enak saja dia duduk diam sedangkan aku memanjat pohon mangga sialan itu. Aku pulang dulu, Lyara pasti mencariku." Jawab Renzo.


"Hati hati kak... Dan terima kasih untuk hari ini." Ucap Andian dan direspon anggukan oleh Renzo. Renzo pun melambaikan tangannya sebelum akhirnya mobil yang dia kendarai menjauh.


"Kau senang??" Tanya Andian sembari menghusap puncak kepala Arila yang tampak bahagia.


"Sangat senang... Kupaskan mangganya untukku ya." Jawab Arila. Andian tersenyum melihat wajah bahagia istrinya.


"Baiklah ayo masuk... Akan aku lakukan apapun untukmu dan anak anak kita." Ucap Andian.


Arila pun mengagguk semangat dan merangkul lengan suaminya. Mereka berdua pun memasuki Vila dan menutup kembali pintu Vilanya.


Malam Harinya


Antia tampak bersiap siap dengan gaun biru muda dengan bagian belakang gaun sampai menyentuh lantai. Antia tampak cantik dan imut. Saat Antia tengah memoles make up dimeja riasnya, tampak Arion yang menggunakan jas biru tua dengan kemeja putih itu mendekat kemudian memeluk istri kecilnya.


"Tidak perlu memakai make up sayang, kau sudah sangat cantik." Goda Arion.


"Nggak usah ngegombal." Ucap Antia sembari tersenyum. Arion mencium bibir Antia sekilas dan melepaskan pelukannya.


"Kak Arion!!! Kan jadi berantakan lipsticknya." Kesal Antia. Arion menghapus lipstick Antia yang menempel dibibirnya kemudian tertawa kecil.


"Maaf sayang, kau sudah siap?? Kita berangkat sekarang." Ucap Arion.


"Sudah... Oh iya kak, apa kak Naira juga hadir disana??" Tanya Antia sembari merangkul lengan suaminya.


"Tentu saja, sekertaris ku yang malang... Sampai sekarang dia masih lajang, jadi aku berupaya mendekatkan mereka berdua... Yah meskipun sampai sekarang belum ada peningkatan." Jawab Arion. Tampak Antia mengagguk mengerti. Diluar Vila tampak Naira dan Kean menunggu. Sejenak Antia tersenyum menatap mereka.


"Pilihanku tidak salah kan." Jawab Arion. Melihat Arion dan Antia tampak berbisik membuat Kean dan Naira menatapnya bingung.


"Kita berangkat sekarang tuan." Ucap Kean.


"Ah iya ya... Kak Naira aku duduk disebelahmu ya." Ucap Antia kemudian merangkul lengan Naira. Naira hanya mengagguk dengan wajah bingung. Mereka berempat pun masuk kedalam mobil dan menuju ke Vila Raka.


Sesampainya disana


Tampak semua tamu yang diundang hadir. Antia mengajak Naira berkumpul bersama Arila Sista dan Lyara. Sedangkan Kean dan Arion menghampiri Andian dan Renzo.


"Kakak ipar, bagaimana kabar kedua keponakanku??" Tanya Antia begitu datang. Tampak Arila mencubit hidung Antia.


"Datang bukannya tanya kabar kakak dulu, malah kabar keponakanmu... Kamu melupakan kakak ya??" Ucap Arila.


"Benar, apalagi nanti jika mereka sudah lahir... Bisa bisa Arion yang dilupakan." Timpal Lyara dan mereka pun tertawa kecil.


"Kakak ipar apaan sih... Aku hanya perhatian pada kedua keponakanku tidak boleh??" Ucap Antia pura pura marah. Arila pun tersenyum melihat tingkah Antia. Arila menatap Naira yang berdiri disamping Antia.


"Naira, bagaimana kabarmu??" Tanya Arila.


"Baik, selamat ya kak atas kehamilanmu." Jawab Naira sembari tersenyum.


"Iya... Kamu juga dong cepet cepet nyusul." Goda Arila membuat Naira merona dan mereka pun tertawa kecil.


"Oh iya kak Lyara... Dia sekertaris kak Andian kak Naira, kak Naira dia istri kakak sepupu ku kak Lyara." Ucap Antia memperkenalkan. Mereka berdua pun berjabat tangan.


"Senang berkenalan denganmu Naira." Ucap Lyara dan direspon anggukan oleh Naira.


"Bentar lagi juga kak Naira nyusul kak." Bisik Antia.


"Ah iya bagaimana hubunganmu dengan Kean Naira??" Tanya Arila. Bertepatan dengan itu Kean tidak sengaja lewat dan berhenti seketika mendengar pertanyaan Arila.


"Ka.. Kalian salah paham. Kami hanya rekan kerja saja, tidak lebih." Jawab Naira. Dan entah mengapa membuat Kean kesal.


Rekan kerja?? Batin Kean. Setelah mengambil segelas anggur, Kean kembali bergabung dengan Andian dan Arion.


"Ah padahal kalian cocok loh... Kean tampan dan kau cantik... Bukankah begitu." Ucap Lyara.


"Benar sangat cocok." Jawab Antia dan Arila bersamaan. Saat semua tengah menikmati hidangan diiringi dengan berbincang, tampak Afar dan Aline datang. Aline menghampiri Antika kemudian memeluknya.


"Happy Anniversary Antika." Ucap Aline.


"Terima kasih... Kau bersenang senanglah dan nikmati hidangan kami." Ucap Antika. Tampak Aline menatap Renzo yang sedari tadi menatapnya sejak datang.


"Aline sini." Panggil Arila dan Aline pun mendekat ke arah Arila setelah mendapat izin dari Afar. Baru Aline pergi tampak Arion mendekat ke arah Afar.


"Senang bertemu denganmu tuan Afar." Sapa Arion sembari mengulurkan tangannya.


"Senang bertemu denganmu juga tuan Anvert." Ucap Afar sembari menjabat tangan Arion.


Arion pun mengajak Afar bergabung dengannya dan tampak Renzo menatap Afar tak bersahabat. Sedangkan Aline, dia kini sudah bergabung dengan Arila dan lainnya.


"Naira, lama tidak bertemu." Ucap Aline.


"Kak senior Aline... Senang bertemu denganmu dan selamat atas pernikahanmu." Jawab Naira sembari tersenyum.


"Terima kasih." Ucap Aline sembari tersenyum. Aline menatap Lyara dan menyapanya dengan senyuman. Hal itu membuat Lyara membalas senyumannya paksa.


Jadi ini Aline, dia lebih cantik daripada di foto waktu itu... Tidak heran jika Renzo belum bisa melupakannya. Batin Lyara.


"Aline kenalkan ini Antia adik suamiku dan ini Lyara istri kak Renzo... Jika Sista, kau sudah mengenalnya kan." Ucap Arila memperkenalkan.


"Hallo kak Aline." Sapa Antia.


"Hai Antia, Lyara senang bertemu denganmu." Jawab Aline sembari tersenyum.


"Iya senang bertemu denganmu." Ucap Lyara tersenyum paksa.


"Kakak aku dan Sista kesana dulu ya." Pamit Antia sembari menujuk ke arah Lyin Gio dan lainnya.


"Baiklah." Jawab Arila. Antia dan Sista pun tersenyum dan mendekat ke arah Lyin Gio dan lainnya.


"Aline kau banyak berubah ya setelah menikah." Ucap Arila.


"Iya, kak Aline jadi murah senyum sekarang." Timpal Naira.


"Ah tidak juga." Jawab Aline sembari tertawa kecil.


Saat itu diam diam Lyara menatap Renzo, dan benar saja Renzo menatap Aline seolah penuh kerinduan. Hal itu membuat Lyara merasa sesak didadanya. Meskipun


Lyara sepenuhnya milik Renzo, tapi Renzo belum pernah mengatakan jika dia mencintainya. Hal itu membuat Lyara merasa sedih.


"Aku ke toilet dulu." Pamit Lyara buru buru pergi. Baru beberapa saat Lyara pergi, tampak Renzo mendekat ke arah Aline.


"Aline bisa aku bicara denganmu?? Tenang aku sudah meminta izin pada Afar." Ucap Renzo. Aline menatap Afar sejenak dan mengagguk.


"Arila aku tinggal sebentar." Pamit Aline.


"Tidak masalah, ada Naira bersamaku." Ucap Arila