Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 51



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


Di Markas Arion


Para anak buah Arion kini tengah beristirahat, meskipun begitu pengawasan para tahanan sangatlah ketat. Amar Surya yang menjadi tahanan dengan keamanan lebih ketat.


Saat ini Amar Surya sedang duduk dan menunggu beberapa anak buah Arion pergi. Sampai semua nya benar benar pergi Amar tersenyum miring.


Dia melepas celana panjangnya dan tampak kedua kakinya yang ditekuk. Rupanya Amar berpura pura lumpuh begitu tau Kean menyelidiki dirinya. Amar bangkit dari kursi rodanya dan meregangkan otot ototnya.


"Jadi seperti ini rasanya berdrama... Tidak masalah jika tuan Kalfa sudah tiada tapi aku akan tenang jika membuat Andian dan Arion menderita terlebih dahulu sebelum akhirnya aku mati." Lirih Amar.


Tanpa pikir panjang Amar membuka pintu rahasia yang sudah dia buat selama dalam tahanan. Amar pun pergi dari ruang tahanan, namun sebelum itu Amar meninggalkan secarik kertas dengan tulisan.


Tunggu pembalasanku Andian.


Mendengar suara kaki mendekat Amar langsung kabur dengan selamat. Anak buah Arion pun terbelak begitu melihat ruang tahanan nya kosong.


"Gawat.... Amar Surya telah melarikan diri cepat kalian cari disekitar markas." Ucap salah satu pengawal.


"Baik tuan." Jawab mereka serentak.


"Ini masalah besar, aku harus menghubungi tuan Kean." Ucap pengawal itu sambil mengeluarkan handphone nya.


📞


"Katakan ada masalah apa??" Ucap Kean diseberang sana.


"Maaf tuan, tahanan kita Amar Surya baru melarikan diri." Jawab pengawal itu.


"Apa??!! Cepat cari disekitar markas aku akan segera kesana." Ucap Kean diseberang sana.


"Baik tuan." Jawab pengawal itu.


Kini seluruh anak buah Arion berpencar mencari keberadaan Amar Surya.


Di Vila Andian


Mobil milik Andian kini memasuki halaman Vila. Andian pun keluar dari dalam mobil dan melihat Antia sedang duduk berdua di taman bersama dengan Arion. Andian tak ingin mengganggu momen pun memutuskan untuk masuk kedalam Vila.


Begitu masuk kedalam Vila Andian melihat Arila yang tengah menyiapkan makan siang dengan bantuan Gian tentunya. Saat Arila sadar Andian datang, Arila pun menghampiri.


"Aku ingin mandi siapkan air panas." Ucap Andian sembari memberikan tas kantor dan kardigannya pada Arila.


"Baiklah." Jawab Arila sembari pergi membawa tas kantor dan kardigan Andian.


"Gian panggil Arion dan Antia untuk makan siang." Ucap Andian sesaat sebelum menaiki tangga.


Gian pun mengagguk patuh dan Andian langsung menaiki tangga menuju ke kamarnya. Gian tersenyum melihat kedekatan hubungan Arila dan Andian.


Syukurlah anda tidak sedingin dulu lagi, Tuhan terima kasih telah mengirim wanita sebaik nona Arila yang mampu merubah sifat dingin tuan Andian. Batin Gian kemudian pergi memanggil Antia dan Arion.


Sesampainya di kamar, Andian melepaskan dasinya dan membuka kancing ketiga kemejanya. Tampak Arila di ambang pintu kamar mandi sembari memalingkan wajahnya.


"Air nya sudah siap." Ucap Arila masih memalingkan wajahnya.


"Baiklah, kau bisa keluar lebih dulu." Ucap Andian sambil mendekati Arila yang masih diambang pintu kamar mandi.


Arila pun mengagguk kepala dan hendak pergi dari sana. Karena terburu buru, kaki Arila terpeleset dan membuatnya terjatuh kedalam bath up.


"Awas...." Ucap Andian berusaha meraih tangan Arila.


Membuat Andian ikut terjatuh dan kini mereka berdua sama sama basah di dalam bath up. Posisi Arila yang berada dibawah kungkungan Andian membuatnya tidak bisa bergerak.


Saat akan bangun, Arila memandang mata tajam Andian dalam. Begitu pun sebaliknya, Andian memandang mata lentik Arila. Dimana membuatnya tanpa sadar dengan tangannya sendiri Andian membelai wajah cantik Arila. Membuat Arila benar benar gugup.


Apa yang tameng es ini lakukan?? Batin Arila sedikit takut.


Meskipun aku sangat membencimu tapi ku akui jika kau memang cantik. Batin Andian sembari tersenyum.


Tentu hal itu membuat Arila terbelak. Untuk pertama kalinya dia melihat seorang peria sedingin Andian tersenyum padanya. Ingin bicara namun Arila tidak bisa.


Dia tersenyum padaku?? Kenapa dia sangat tampan saat tersenyum?? Batin Arila.


Perlahan Andian mendekatkan wajahnya pada Arila. Membuat Arila sangat gugup dan memundurkan wajahnya. Mata Arila terbelak saat Andian mencium bibirnya dengan dalam.


Arila yang menatap Andian dan perlahan ikut menutup matanya. Detak jantung Arila berpicu sangat cepat. Bahkan Andian sendiri bisa merasakan nya. Saat menikmati moment itu tiba tiba. *Tok!!!tok!!!tok!!!* Suara ketukan pintu membuat Andian bangun dari posisinya. Dengan wajah sama sama merona.


"Pakai jubah mandiku dulu. Aku akan mandi." Ucap Andian dan diangguki oleh Arila.


Arila pun mengenakan jubah mandi Andian dan keluar dari kamar mandi. Dengan rambut basah dan pakaian basah tentunya. *Cklek!!* Perlahan pintu kamar terbuka dan tampak lah Antia yang didepannya.


Sedangkan Antia sendiri memandang Arila dengan tersenyum begitu melihat Arila keluar dengan jubah mandi milik Andian.


Jubah mandi kakak digunakan kakak ipar?? Apa aku mengganggu momen mereka ya?? Ya ampun, bahkan aku sebagai adiknya saja tidak diizinkan menyentuh jubah mandi milik kakak dan sekarang kakak ipar menggunakan nya. Sepertinya ada momen romantis yang terjadi antara mereka. Batin Antia sembari tersenyum.


"Hehe.... Kakak ipar maaf mengganggu, aku berniat memanggil kakak untuk turun dan makan siang." Ucap Antia.


"Ti...tidak mengganggu... Aku akan segera turun kamu bisa turun duluan." Ucap Arila langsung masuk dan menutup pintu.


Tentu hal itu membuat Antia tertawa kecil. Dengan wajah bahagia Antia menuruni tangga dan menghampiri Arion yang sedang menikmati kopinya.


"Sayang kamu tampak bahagia, ada apa??? Dimana Andian dan istrinya??" Tanya Arion.


Belum menjawab Antia langsung menarik kursi untuk duduk didekat Arion dan merangkul lengannya. Melihat sikap Antia membuat Arion semakin bingung.


"Sayang kamu belum menjawab pertanyaan ku." Ucap Arion sembari menghusap puncak kepala Antia.


"Kak Arion sepertinya kakakku sudah tidak sayang padaku." Ucap Antia pura pura cemberut.


"Apa maksudmu sayang??" Tanya Arion.


Antia pun menceritakan soal Arila yang mengenakan jubah mandi milik Andian dengan kondisi basah. Tentu hal itu membuat Arion tertawa.


"Hahaha... Tenanglah sayang jika dia sudah tidak sayang padamu... Ada aku yang selalu menyayangimu." Ucap Arion.


"Terima kasih kak Arion ku." Ucap Antia sembari mencium pipi kanan Arion.


Arion pun tersenyum melihat sikap manja Antia. Beberapa saat kemudian Andian Dan Arila tampak menuruni tangga bersamaan. Tentu hal itu membuat Antia dan Arion tersenyum.


"Adapa dengan kalian??? Tersenyum seperti orang gila." Ucap Andian sembari menarik kursi untuk duduk.


Bukannya berhenti tersenyum Antia dan Arion semakin melebarkan senyuman membuat Andian semakin risih.


"Arion... Antia Adapa dengan kalian??? Apa kalian sudah gila??" Tanya Andian dengan kesal.


"Bukan kami yang gila kakak... Tapi kakak sendiri yang tergila gila dengan kakak ipar." Jawab Antia dengan wajah imutnya.


*Uhuk, uhuk, uhuk* Arila tersedak saat mendengar ucapan Antia.


"Maaf... Maaf." Ucap Arila dengan wajah merona.


"Sampai kapan pun aku tidak akan tergila gila padanya... Bahkan menerima pun tidak." Jawab Andian membuat Antia dan Arion terdiam kemudian memandang Arila.


Sedangkan Arila sendiri hanya menahan rasa perih dihatinya dengan tersenyum paksa yang dia tunjukan.


Apa yang kamu harapkan Arila? Dia bahkan dengan lantang mengatakan tidak menerima mu sebagai istrinya bagaimana bisa dia akan jatuh cinta pada wanita yang tidak dia anggap sebagai istrinya... Lalu kenapa dia harus menampilkan momen romantis padaku dan membuatku berharap. Batin Arila sedih.


Dasar Andian sialan, tidakah di pikir dulu sebelum bicara. Apa dia tidak sadar jika benih benih cinta mulai tumbuh dihatinya. Batin Arion kesal.


Tanpa ada pembicaraan lagi mereka kini fokus menyantap makan siang mereka.


Di Vila Raka


Raka baru keluar dari dalam mobilnya dan langsung memasuki Vila. Raka terkejut saat melihat suasana Vila sepi. Raka hanya melihat Rita dan Jin yang sibuk membersihkan meja makan.


"Em Jin dimana yang lain??" Tanya Raka.


"Syukurlah tuan sudah sampai, selesai makan siang nyonya besar dan tuan besar di kamar anda tuan... Nona Antika tidak mau makan sebelum anda pulang dan sekarang dia sedang menangis tuan." Jelas Jin.


"Menangis???" Lirih Raka kemudian dengan segera menuju ke kamarnya.


Seperti dugaan Antika tengah menangis di pelukan Laura dan tampak Randy berdiri kebingungan. Raka pun melepas kardigan dan meletakan tasnya di sofa kamarnya.


Tampak Antika melepas pelukannya dan langsung memeluk Raka.


"Sayang kamu kenapa??" Tanya Raka khawatir.


Antika tak menjawab dan hanya membenamkan wajahnya pada dada bidang Raka sembari menangis. Raka pun menatap ibunya guna meminta penjelasan.


"Sayang istrimu dari tadi nangis... Padahal mama cuman minta dia buat makan siang." Jelas Laura.


"Sayang kenapa kamu nangis?? (Menangkup wajah Antika dan menghusap air matanya.) Kalau tidak mau makan siang tidak apa apa tapi jangan nangis lagi ya. Apa kamu mau sesuatu?? Aku akan memberikannya untukmu." Ucap Raka. Hal itu membuat Antika menatapnya.


"Beneran??" Tanya Antika dan Raka pun mengaggukan kepala.


"Aku pengen mangga tapi yang langsung dipetik dari pohonnya. Dan kamu yang petik." Tambah Antika. Seketika membuat Raka terkejut.


"Aku harus manjat pohonnya gitu??(Antika mengagguk.) Belikan bisa sayang." Ucap Raka. Namun hal itu justru membuat Antika kembali menangis.


"Hiks... Hiks... Kamu jahat..(Antika duduk di kursi balkon.) Aku nggak mau liat kamu." Ucap Antika sembari menangis.


Melihat sikap emosional Antika membuat Raka Laura dan Randy bingung. Laura pun mendekati Raka.


"Sayang petikin aja, mama nggak tega lihat Antika nangis." Ucap Laura. Raka pun menghela napas panjang dan mendekati Antika.