
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊
Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕
Di Vila Andian
Andian menemui Arila yang tengah menata kamarnya. Meskipun ada Gian, tidak sembarang orang bisa masuk kedalam kamar Andian. Bahkan Antia sendiri hanya beberapa kali itu pun hanya memanggil Andian untuk sarapan.
"Aku pikir kau ikut dengan mereka." Ucap Arila masih fokus merapikan ranjang.
"Tadinya iya, tapi sore ini kita akan pergi." Jawab Andian sembari duduk di sofa.
Mendengar ucapan Andian membuat Arila berhenti dari kegiatannya dan menatap Andian sekilas kemudian kembali merapikan ranjang.
"Pergi kemana??" Tanya Arila.
"Ke suatu tempat... Kau akan mengerti nanti." Jawab Andian membuat Arila sedikit kesal.
"Berapa lama kita kesana??" Tanya Arila lagi.
"Seminggu... Kau tidak perlu membawa apapun semuanya sudah di siapkan disana." Jawab Andian.
Arila hanya meresponnya dengan anggukan kepala. Tiba tiba *Tok, Tok, tok* Terdengar suara ketukan pintu. Arila yang masih menata meja riasnya pun membuat Andian bangkit dari duduknya dan membuka pintu kamarnya.
"Gian, ada apa??" Tanya Andian.
"Tuan ada kepala pelayan Dev dibawah. Dia bilang sedang menunggu anda." Jawab Gian.
"Baiklah, Gian aku dan Arila akan pergi selama satu minggu kedepan... Jadi minta Antia untuk tidur di rumah mama dan papa jika disini dia akan terus terusan di ganggu Arion. Dan soal perusahaan beritau pada Raka untuk ambil alih." Ucap Andian.
"Baik tuan muda." Jawab Gian.
Gian pun pergi dan Andian kembali menutup pintu kamarnya. Dia mengambil pakaian ganti dan menuju ke kamar mandi.
Memang mau kemana sih?? Kenapa harus seminggu bahkan pekerjaannya ditunda?? Apa dia akan meracuniku kemudian membuangku ke tebing?? Batin Arila merasa sedikit takut.
Beberapa saat kemudian Andian sudah rapi dengan pakaiannya. Begitu pun Arila yang sudah bersiap membawa tas tangan dan handphone nya.
"Ayo berangkat." Ajak Andian dan Arila pun mengagguk patuh.
Mereka berdua pun menuruni tangga dan menghampiri Dev yang sudah menunggu di halaman Vila. Andian dan Arila pun masuk kedalam mobil. Perlahan mobil yang mereka kendarai menjauhi Vila.
Gian pun berjalan mendekati pintu gerbang dan memastikan mobil yang membawa tuan mudanya pergi. Setelah itu, Gian menutup pintu gerbang dan memasuki Vila menuju ke telefon rumah. Gian tampak menghubungi seseorang.
📞
"Hallo, nyonya besar... Tuan dan nona muda baru saja berangkat." Ucap Gian.
"Baguslah, terima kasih kabarnya Gian." Jawab diseberang sana.
"Sama sama nyonya." Ucap Gian kemudian memutuskan sambungan telefon.
Semoga setelah kembali dari sana hubungan nona dan tuan muda akan lebih baik. Batin Gian sembari tersenyum.
Sedangkan dengan Kean
Kean memberhentikan mobilnya begitu mendengar suara dering dari handphone nya. Dan rupanya telefon dari Arion. Segera lah Kean mengangkatnya.
📞
"Hallo tuan." Ucap Kean memulai pembicaraan.
"Kean ambilkan beberapa data di rumah sekertaris Andian." Jawab Arion diseberang sana.
"Tuan bukankah data salinannya ada di tuan Andian." Ucap Kean.
"Andian sedang honeymoon dengan istrinya sampai minggu depan. Makanya aku meminta kau mengambil datanya." Jawab Arion diseberang sana.
Aku berdoa proyek tuan Arion dan tuan Andian cepat selesai. Batin Kean.
"Kean!! Apa kau dengar aku??" Ucap Arion diseberang sana.
"Iya tuan, Saya akan segera membawa datanya pada anda." Jawab Kean dan seketika sambungan telefon diputuskan oleh Arion.
Kean menghela napas panjang. Dan kembali melajukan mobilnya. Sejujurnya Kean sangat malas begitu menyangkut tentang sekertaris Andian yang tidak lain Naira. Namun, perintah Arion adalah yang utama baginya. Kean sendiri juga bingung pada dirinya sendiri.
Biasanya, Kean jika diberikan perintah dari Arion tanpa mengeluh langsung menjawab *Iya*. Dan untuk pertama kalinya, Kean sedikit mengeluh pada Arion.
Lama bergulat dengan pikirannya, Kean sadar kini dia telah sampai didepan gerbang sebuah rumah yang sederhana. Kean pun keluar dari dalam mobilnya dan tiba tiba *Prankkk!!!* Terdengar suara benda jatuh. Membuat Kean masuk begitu saja saat tau pintu gerbang tidak dikunci. Kean berjalan pelan mendekati ke sumber suara.
Dan hal yang Kean lihat adalah Naira terduduk dilantai dengan seorang peria paruh baya memegang tongkat biliar. Sedangkan seorang wanita muda melipat kedua tangannya didepan dada sembari tersenyum melihat Naira menangis. Kean sedikit terkejut saat melihat lengan dan kaki Naira lebam.
"Ayah maafkan aku... Hiks...hiks...hiks." Ucap Naira dengan menangis.
"Maaf katamu!!! Apa kamu pikir uang segitu cukup ha?!!!" Bentak peria paruh baya itu yang tak lain ayah Naira, sembari hendak memukul Naira.
Naira hanya menundukan kepala sembari menutup matanya, begitu ayahnya hendak memukulnya dengan tongkat biliar. Merasa tidak ada satu bagian tubuh yang terasa sakit, membuat Naira membuka matanya perlahan.
Rupanya Kean menahan tongkat yang ayahnya arahkan dan membuangnya ke sembarang arah. Setelah itu Kean berbalik dan mengulurkan tangan membantu Naira berdiri. Tampak wajah ayah Naira memerah karena marah. Sedangkan wanita muda yang tidak lain kakak Naira memandang Kean dengan wajah berbinar.
"Aku? Aku Kean Arjuna Pratama, sekertaris sekaligus tangan kanan Presdir dari CA Grop, Colvis Arion Anvert." Jawab Kean dingin.
Dan untuk pertama kalinya Kean memberitaukan jati dirinya. Mendengar jawaban dari Kean membuat ayah Naira terdiam seketika.
CA Grop?? Jadi, peria ini tangan kanan Presdir CA Grop. Batin ayah Naira tak percaya.
Ganteng banget sih... Jadi, dia sekertaris misterius dari CA Grop?? Baru tau kalo dia seganteng dan secool ini. Batin kakak perempuan Naira.
"Tuan muda memerintahkan ku untuk mengambil beberapa data mengenai proyek." Ucap Kean pada Naira.
Naira pun mengagguk kepala pelan dan dengan langkah perlahan Naira menuju ke kamarnya. Beberapa saat kemudian, Naira kembali dengan beberapa map ditangannya. Naira pun memberikan map tersebut pada Kean.
"Aku tidak peduli siapa kau, sekarang keluar dari rumahku!!!" Bentak ayah Naira.
"Saya memang akan pergi." Jawab Kean dengan wajah dinginnya.
Kean pun pergi dari rumah Naira setelah mengatakan hal itu. Naira memandang punggung Kean yang perlahan menghilang dari pandangannya. Saat Naira berbalik, kakak perempuannya menjambak rambut panjang Naira.
"Akh... Sa.... Sakit kak." Rintih Naira dengan menangis.
"Sakit...sakit... Katakan apa hubunganmu dengan sekertaris misterius dari CA Grop itu???" Tanya kakak perempuan Naira sembari mengencangkan jambakannya.
"Aku tidak ada hubungan apapun... Sungguh kak, percayalah padaku." Jawab Naira memohon.
"Oh iya aku lupa, peria setampan dan sekaya dia mana mungkin memiliki hubungan dengan gadis jelek kayak kamu." Ucap kakak perempuannya meremehkan.
"Nila lepaskan saja anak tidak berguna itu." Ucap ayah Naira.
Nila yang tidak lain kakak perempuan Naira tersenyum miring. Nila menghempaskan Naira dengan sangat kuat. *Brukk!!* Kepala Naira terbentur ujung meja dan membuat keningnya mengeluarkan darah.
Naira memegangi keningnya yang mengeluarkan darah. Membuat Naira sedikit takut. Nila dan ayahnya pun meninggalkan Naira begitu saja. Naira memandang ayah dan kakaknya nanar. Dia pun berdiri dan dengan langkah tertatih menuju ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Naira langsung mengambil kotak P3K dan mengobati keningnya yang berdarah. Selesai mengobati keningnya, Naira duduk dibibir ranjang. Dan tak terasa air matanya menetes.
Ibu aku sangat merindukanmu... Kenapa kamu pergi begitu cepat. Batin Naira sembari menangis.
Di Vila Raka
Antika bersandar di bahu kekar Raka dengan manjanya. Sedangkan Raka sendiri sibuk menghusap perut rata Antika. Dan tentu tanpa penolakan dari Antika. Sampai suara dering handphone milik Raka berbunyi. Membuat Raka memberhentikan kegiatannya.
"Ada apa??" Tanya Antika.
"Sebentar sayang, ada pesan masuk." Jawab Raka sembari menghusap puncak kepala Antika.
Arion Anvert, Mulai besok kendali perusahaan Andian diberikan padamu sampai seminggu kedepan.
Membaca pesan itu membuat kening Raka berkerut. Raka pun membalas pesan dari Arion.
Raka Putra, Memang ada apa??
Beberapa saat kemudian balasan dari Arion pun muncul.
Arion Anvert, Honeymoon sesekali lah biarkan dia menghabiskan waktu dengan istrinya, kasihan jika istrinya dianggurin.
Raka Putra, Baiklah akan aku lakukan sekarang aku akan menghabiskan waktu dengan istriku.
Setelah mengirim balasan, Raka meletakan handphone nya diatas nakas. Saat hendak berbalik, Antika memeluk nya dari belakang. Membuat Raka tersenyum bahagia.
"Kenapa sayang?? Biasanya kau malu malu memelukku??" Tanya Raka menggoda.
"Aku ingin kamu bikinin nasi goreng buat aku." Jawab Antika manja.
Raka pun melepas pelukannya perlahan dan berbalik menghadap Antika. Raka pun mengelus perut rata Antika.
"Apa baby junior yang minta??" Tanya Raka.
"Tidak tau, tapi aku mau nasi goreng bikinan kamu." Jawab Antika.
"Hahaha... Baiklah aku kedapur dulu ya." Ucap Raka.
Saat Raka hendak pergi, Antika menarik baru Raka membuat Raka terhenti.
"Mau ikut." Ucap Antika merangkul kan kedua tangannya pada leher kekar Raka.
"Baiklah istriku tersayang." Ucap Raka menggandeng tangan Antika.
Mereka pun keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur. Sesampainya di dapur Raka dan Antika melihat Jin tengah berkutat didapur. Sadar akan kedatangan mereka Jin berhenti dari kegiatannya.
"Tuan, nona apa anda perlu sesuatu??" Tanya Jin.
"Tidak Jin, aku akan membuat nasi goreng jadi kau bisa melanjutkan pekerjaanmu." Jawab Raka.
"Baik tuan muda, pekerjaan saya di dapur sudah selesai saya izin ke taman belakang." Ucap Jin dan diangguki oleh Raka.
"Kamu duduk disini ya sayang." Ucap Raka mendudukan Antika.
"Baiklah jangan lama lama ya." Jawab Antika.
Raka pun tersenyum dan mengagguk kepala pelan.