
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊
Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕
Pagi Harinya
Antia langsung menyiapkan dirinya untuk kekampus. Dia sangat telat karena setelah menjenguk kakaknya tengah malam tadi, Arion kembali memaksanya begadang. Dan itu yang membuat Antia telat bangun pagi.
"Sayang sarapan dulu." Ucap Arion.
"Nggak ada waktu lagi... Aku berangkat dulu ayo Kean cepat!" Ucap Antia dengan buru buru. Kean tampak menatap Arion dan Arion mengaggukan kepala.
Setelah mendapatkan izin dari tuannya, Kean pun mengantar Antia untuk ke kampus. Arion bangkit dari duduknya dan menuju ke kamarnya.
"Antia sangat buru buru aku takut dia melupakan sesuatu." Ucap Arion sembari mengecek ke meja belajar Antia.
Diperjalanan. Antia berkali kali mengumpat tentang Arion. Dia sangat kesal karena ini kali pertama Arion membuat Antia telat bangun dari biasanya.
Kak Arion nyebelin banget... Tau aku ada jam pagi tapi kak Arion malah.... Tau ah... Ntar malam pisah kamar aja. Batin Antia kesal.
Sesampainya di kampus. Antia pun bergegas menuju ke kelasnya. Antia bernapas lega begitu melihat tidak ada dosen dikelasnya. Antia pun duduk disamping Sista.
"Tia, aku pikir kamu nggak berangkat... Kenapa bisa telat sih?? Kamu bilang habis jenguk kakak ipar langsung pulang??" Tanya Sista.
"Ini gara gara kak Arion... Nyebelin banget pokoknya." Jawab Antia tampak kesal.
"Oh... Kirain kenapa, rupanya..." Ucap Sista sembari tersenyum. Membuat Antia semakin kesal.
"Udah... Udah jangan cemberut gitu dong... Eh kamu tau nggak, tadi pas aku ngumpulin tugas ke dosen... Mereka lagi bahas pemilik kampus katanya sih mau datang hari ini. Kira kira siapa ya??" Tanya Sista.
Aku lupa, kak Arion cuman donatur di kampus ini... Alasan kak Arion menjadi donatur utama juga karena aku. Batin Antia
"Nggak tau juga Sis, aku juga penasaran." Ucap Antia.
"Yah... Kirain kamu udah tanya sama suamimu." Ucap Sista.
"Sttt... Jangan keras keras Sis... Kamu tau kan aku belom ada resepsi sampe kakakku sembuh." Ucap Antia.
"Jadi pernikahan semegah itu... Ya ampun Antia aku pikir kamu udah bikin resepsi... Baru nikahan aja tamunya udah banyak banget apalagi kalo resepsi... Bisa bisa satu negara dateng tuh." Ucap Sista. Antia hanya meresponnya dengan gelengan kepala.
"Eh ngomong ngomong kamu udah ngumpulin tugas belom ke pak Satya??" Tanya Sista. Seketika Antia langsung membuka tasnya dan buru buru membawa mapnya.
"Aku baru ingat... Aku ngumpulin tugas dulu." Ucap Antia buru keluar dari kelas nya.
Sesampainya di ruang dosen. Antia langsung memberikan mapnya pada pak Satya dosen Antia. Antia menatap pak Satya yang tampak mengerutkan keningnya.
"Loh Antia... Kok kamu kasih saya lembaran kosong ini?? Kamu belum mengerjakan??" Tanya Pak Satya. Antia pun menepuk keningnya sendiri.
"Maaf pak... Kayaknya ketuker deh... Bentar pak, bentar banget... aku mau ambil dulu dirumah... Permisi pak." Pamit Antia buru buru keluar.
"Eh hati hati... Ada ada saja anak muda jaman sekarang." Ucap Pak Satya sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
Antia tampak mengeluarkan ponselnya sembari berjalan cepat. Dia berniat menelfon Kean karena Kean yang bisa melakukannya dengan cepat. Namun tiba tiba *Bruk!!!* Antia menabrak seseorang dan hampir jatuh. Beruntung orang itu menariknya kedalam pelukannya. Antia pun menatap orang itu dan langsung mendorong tubuhnya.
"Maaf pak saya tidak sengaja... Saya buru buru." Ucap Antia hendak pergi. Namun peria itu menceghatnya dan memojokan Antia.
"Kau mahasiswa disini?? Sangat cantik... Mau berkencan denganku??" Ucap orang itu sembari hendak membelai wajah Antia. Namun, Antia lebih dulu menampis tangan orang itu.
"Jaga sikap bapak!!! Saya permisi!!" Ucap Antia dengan nada mengancam. Saat Antia hendak pergi lagi, orang itu menarik tangan Antia dan kembali memojokannya ketembok.
"Berani melawan kamu??" Ucap orang itu sembari mendekatkan wajahnya. Antia terus memberontak dan tiba tiba.
*Bugh!! Bugh!!* Peria itu tersungkur. Antia membuka matanya dan tampak Arion yang berada didepannya. Arion pun menarik pinggang Antia dan mendekatkannya pada tubuhnya.
"Kak Arion..." Lirih Antia.
"Beraninya kau mel*c*hkan mahasiswa disini!! Apa kau tidak malu?!!" Ucap Arion dengan nada tinggi.
Mendengar keributan, para dosen keluar dari ruangannya. Begitu pula beberapa mahasiswa yang mendengar suara Arion. Tampak pak Satya membelakan matanya saat melihat Arion.
"Tuan muda Anvert... Ada apa yang terjadi?? Pak Fandi anda??" Tanya Pak Satya hati hati.
"Hey dia presdir Arion...."
"Ya ampun ganteng banget sih."
"Ayo foto dia... Pasti bakalan terkenal kampus kita."
"Dia hampir melecehkan salah satu mahasiswa disini. Apa kampus ini begitu tidak ada pengawasannya??" Ucap Arion dingin.
"Maaf tuan muda Anvert atas kecerobohan kami tapi... Pak Fandi pemilik kampus ini jadi—" Ucap Pak Satya terpotong.
"Aku bisa saja menggusur kampus ini sekarang juga." Ucap Arion. Antia meraih lengan Arion dan menghusap punggung tangannya. Tampak Arion memandang Antia.
"Jangan diributkan lagi... Aku tidak apa apa." Lirih Antia sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
"Baiklah... (Memberikan map.) Tugasmu tertinggal di meja tadi... Lain kali jangan buru buru. Kamu kembalilah ke kelas." Ucap Arion.
Antia pun mengaggukan kepala sembari tersenyum. Dia pun langsung menuju ke kelasnya. Arion menatap para dosen dan Fandi tentunya.
"Kumpulkan semua dosen sekarang aku ingin bicara." Titah Arion.
"Baik tuan." Jawab Pak Satya dengan nada ketakutan.
Tak berapa lama tampak beberapa dosen berkumpul. Arion tampak menyilangkan salah satu kakinya dan kaki satunya sebagai tumpuan. Arion menatap Fandi yang tampak santai dan tidak memperdulikan tatapan tajam dari Arion.
"Tuan muda... Semua dosen dan termasuk pak Fandi sudah ada disini." Ucap Pak Satya.
"Tunggu tuan besar Fermansyah datang kemari." Ucap Arion.
"Tuan muda Anvert anda memanggil saya?" Tanya Dicko Fermansyah, ayah dari Fandi begitu memasuki ruangan.
"Iya... Duduklah saya ingin membicarakan tentang perilaku putra bungsu anda." Ucap Arion.
"Maaf tuan apa yang anak saya lakukan??" Tanya Dicko.
"Dia hampir mel*c*hkan mahasiswa disini... (Dicko menatap tajam Fandi.) Saya mungkin akan memberikan hukuman ringan pada putra anda jika yang dia l*c*hkan bukan siapa siapa bagi ku... Tapi wanita tadi adalah istriku dan aku ingin agar anda tidak menyerahkan kampus ini padanya atau... Saham keluarga yang akan turun dalam satu ketukan jariku." Ucap Arion.
"Tidak!!! Saya tidak akan mengulanginya lagi tapi kampus ini harus atas namaku." Ucap Fandi antusias.
"Diam kau!! (Menatap Arion.) Saya akan menyerahkan kampus ini pada putra sulungku... Bagaimana menurut anda tuan??"
"Saya akan lihat kedepannya... Jika memang pantas maka serahkan saja pada putra sulungmu... (Bangkit dari duduknya.) Dan iya beberapa anak buah ku akan memasang lebih banyak CCTV dan penjagaan disini akan ku perketat... Bagaimana bisa kampus ternama dinegara ini bisa ada tindakan seperti tadi." Ucap Arion kemudian keluar ruangannya.
Tampak wajah Arion sangat kesal dan marah. Dia tidak bisa bayangkan jika dia tidak datang bagaimana nasib Antia. Arion sangat terkejut karena kampus itu tidak sebaik seperti yang Antia ceritakan padanya. Saat bergulat dengan pikirannya, para mahasiswa menggerombolinya membuat Arion tersentak. Terlebih ada beberapa reporter yang datang.
"Tuan Anvert kami minta tanda tangannya."
"Tuan Anvert kami minta fotonya."
"Tuan Anvert apakah benar perusahaan B telah bangkrut karena ulah Anda???"
"Tuan Anvert apa benar anda sudah menikah??"
"Tuan Anvert bisa anda menjawabnya."
Hey ayolah aku hanya seorang pengusaha... Bukan artis, kenapa aku harus menjawab masalah perusahaan pada mereka... Ini bukan konfersi pers. Batin Arion sembari menepuk keningnya sendiri.
Sedangkan dari kejauhan, Antia mengamati para mahasiswa yang tampak centil pada Arion. Membuat Antia memantau Arion dari kejauhan. Wajah Antia memerah menahan amarah saat Arion mau berfoto dengan beberapa gadis.
"Sepertinya ada yang cemburu nih." Goda Sista.
"Apaan sih, udah lah aku balik ke kelas." Ucap Antia kesal dan meninggalkan Sista.
"Eh... Kok ngambek... Tia tunggu." Ucap Sista sembari mengejar Antia.
Di Apartemen
Renzo membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa lemas dan sedikit panas. Tampak kening Renzo dikompres membuat Renzo sedikit terkejut.
"Kamu sudah bangun??" Tanya Lyara sembari membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas susu.
"Kenapa aku ada disini??" Ucap Renzo balik bertanya. Lyara meletakan nampan tersebut diatas nakas.
"Tadi pagi kau kemari dan pinsan saat aku membuka pintunya." Jelas Lyara sembari membantu Renzo duduk bersandaran.
Setelah itu Lyara mengambil mangkuk yang berisi bubur itu dan hendak menyuapi Renzo. Membuat Renzo menatap Lyara sedikit terkejut.
"Buka mulutmu... Setelah itu istirahat kembali, aku akan panggil dokter kemari." Ucap Lyara.
Renzo pun menerima suapan dari Lyara. Renzo menatap Lyara yang tampak datar tidak seperti sebelumnya saat merawatnya sakit. Biasanya Lyara akan tersenyum dan cerewet berkali kali menggoda Renzo.
Dia sepertinya masih marah, ini memang salahku... aku harus meminta maaf padanya. Batin Renzo.
Setelah memakan habis buburnya, Renzo pun meminum susu yang telah Lyara buatkan.
"Lyara aku minta maaf soal ucapanku kemarin." Ucap Renzo.
"Tidak perlu... Yang kau katakan tidak salah." Jawab Lyara.
"Tapi Lya—" Ucap Renzo terpotong.
"Sudah tidak perlu dibahas." Ucap Lyara.
Perhatian!!
Assalamualaikum Wr.Wb
Sebelumnya mohon maaf, Author cuman mau kasih tau kalau novel ini sesuai imajinasi Author... Jadi tolong hargai dan dukung novel ini... kalau ngeluh nggak suka, nggak nyambung silahkan baca yang lain aja... Bikin semangat Author berkurang alhasil jadi malas nulis. Terima Kasih...
Wassalamualaikum Wr.Wb