Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 7 Season 2



••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


👩‍💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕


👩‍💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘


👩‍💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘


👩‍💻Terima kasih dan happy reading semua❤


📖📖📖


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Di SMA


Arisa duduk dibangkunya sembari menyangga kepalanya dengan tangannya. Dia tersenyum senyum sendiri sembari mengingat sekilas wajah pria yang menyelamatkannya. Meskipun hanya tatapan matanya saja, sudah membuat Arisa senang.


"Dorr... Hayo ngelamun, senyum senyum sendiri lagi." Ucap seorang gadis yang sebaya dengan Arisa.


"Lista apaan sih, kaget tau nggak... Kalo kena serangan jantung gimana??" Kesal Arisa.


Christina Lista Maharani. Anak kedua dari Lukas dan Sista. Dia cantik, jail dan cerewet sama seperti Sista dulu. Lista menyeret kursinya dan duduk bersampingan dengan Arisa.


"Kayaknya ada yang lagi jacin nih." Ucap Lista menggoda.


"Jacin?? Apaan tuh??" Tanya Arisa bingung.


"Masa nggak tau sih, Jatuh Cinta maksudnya... Itu aja nggak tau." Jawab Lista.


"Oh... Lagian akal akalan kamu pake disingkat singkat segala... Eh Lis kamu tau nggak, semalem pas aku jalan jalan sama kakak kakakku aku hampir ketabrak." Ucap Arisa.


"Astghafirullahalazim... Kamu nggak apa apa kan, nggak ada yang luka." Ucap Lista panik dan melihat Arisa dari ujung kaki sampai kepala.


"Aku nggak apa apa Lis, tapi tau nggak aku ditolongin sama kakak misterius... Tatapannya dingin banget." Ucap Arisa.


"Yah kamu pasti selalu dikelilingi sama cowok dingin." Jawab Lista sembari mengangkat kedua bahunya.


"Ih kamu mah... Aku kemarin gambar wajahnya sepintas, bentar." Ucap Arisa sembari membuka tasnya. Dia pun mengeluarkan buku gambarnya dan memperlihatkan hasil gambarnya.


"Ada gambaran nggak di otak kamu??" Tanya Arisa.


"Emm... Dia kayaknya ganteng deh, terus habis itu kamu ucapin terima kasih??" Ucap Lista.


"Nggak dia cepet banget... Jalankan mau ngomong, napas aja rasanya susah." Jawab Arisa membuat Lista mencubit pipi kanan Arisa.


"Aw sakit Lis, apaan sih." Kesal Arisa sembari memegangi pipi kanannya.


"Lagian kamu si lucu." Ucap Lista sembari tertawa kecil.


Trrrriiiiinnnnggggg!!!!


"Udah main bel aja, padahal lagi asik cerita." Kesal Lista.


"Udahlah Lis, duduk yang benar." Ucap Arisa. Lista pun menyeret kursi ke tempatnya dan duduk disana.


Kakak penyelamat... Iya, aku akan memanggilmu kakak penyelamat... Apa yang kau lakukan sekarang kakak penyelamat??? Batin Arisa sembari tersenyum sendiri.


Ni anak aneh bener, baru kali ini lihat Arisa kayak gitu. Batin Lista menatap sekilas sahabatnya itu.


Di Vila Andian


Andian membuka pintu kamarnya perlahan dan kembali menutupnya. Tampak Arila tengah duduk disofa dekat balkon dengan wajah kesal. Hal itu membuat Andian menghela napas panjang. Andian pun berjalan mendekati sang istri.


"Aku bilang tidak... Berarti tidak mas." Ucap Arila tanpa memandang Andian.


"Mas kampus itu bukan tempat main main... Jika Rean dan Renaf menyamar... Bagaimana jika mereka.... Aku nggak setuju mas." Ucap Arila masih dalam pendiriannya.


"Rean akan menyetujui perjodohannya asal kau mengizinkannya." Ucap Andian. Dan sesuai dugaan Arila menatap suaminya sembari tersenyum.


"Rean akan setuju?? Atau kau berbohong??" Ucap Arila curiga.


"Aku pernah membohongimu??" Ucap Andian. Saat itulah senyuman indah Arila terukir.


"Yey putraku akhirnya menyetujuinya... (Bangkit dari duduknya.) Aku harus menemuinya." Ucap Arila tampak bersemangat. Namun baru melangkah, Andian menarik tangannya dan mendudukannya di pangkuannya.


"Mas lepasin... Mau apa sih??" Ucap Arila memberontak.


"Mau jatah." Jawab Andian dan langsung menyerang sang istri.


"Kakak." Panggil Renafo. Tampak Reanzo menoleh.


"Kakak benar benar menerima itu?? Setelah berkali kali menolaknya?? Ayolah kak, ini hanya menggusur kampus saja... Tanpa bantuan kita, Avindra juga bisa menyelsaikannya." Ucap Renafo.


"Renaf apa kamu lupa? Pemilik kampus itu tidak lain Fandi Fermansyah... Pria yang hampir membuat ibu celaka saat mengandung kita, kau juga tidak lupa kan siapa yang hampir membunuh oma?? Dendamku padanya sudah sangat besar dan tidak ada yang bisa menceghatku termasuk ibu sekalipun." Ucap Reanzo dengan wajah dinginnya. Sungguh menuruni sifat dari sang ayah.


"Jadi karena itu... Baiklah aku akan ikut denganmu, menghancurkan hidupnya." Ucap Renafo dengan wajah penuh dendam. Saat itu ponsel milik Renafo berbunyi.


📞


“Halo Avin, ada apa??” Tanya Renafo.


“Kak nanti malam kita ke BAR... Aku dengar ada BAR baru dibuka dan banyak wanita cantik disana.” Jawab Avindra diseberang sana. Mendengar kata “BAR” dan “wanita” tentu membuat Renafo bersemangat.


"Tentu saja... Ini sangat fantastis." Ucap Renafo bersemangat.


"Good, aku tunggu di BAR Royal." Jawab Avindra.


“Tut.”


Telefon terputus. Tampak Renafo menatap Reanzo bersemangat. Melihat wajah Renafo membuat Reanzo mengerti apa yang sebenarnya akan dia katakan.


"Kakak nanti malam kita ke BAR.... Avindra yang traktir.... (Reanzo hendak menjawab.) Aku sudah duga kakak akan setuju... Fantastis." Ucap Renafo kemudian meninggalkan Reanzo.


Padahal aku belum menjawabnya... Anak yang aneh. Batin Reanzo.


Malam Harinya


Seperti yang sudah Avindra rencanakan, malam ini dia ke BAR bersama dengan Elliot sedangkan dua bersaudara itu akan menyusul. Kata kata manis yang Avindra ucapkan tentu bisa membuat Antia luluh dan mengizinkannya ke BAR. Namun Avindra harus diacuhkan oleh adiknya karena saat Arisa ingin ikut Avindra tidak mengizinkannya. Bagaimana mungkin wanita polos dan lugu sepertinya ke tempat yang tidak seharusnya?


Avindra pun memilih beberapa wanita yang baginya menarik dan menyuruhnya ke ruang VIP. Sedangkan Elliot hanya duduk sendiri sembari meminum segelas cocktailnya. Berbeda dengan Avindra yang dikelilingi banyak wanita.


"El kau sudah menghubungi Leon??" Tanya Avindra.


"Sudah, sebentar lagi dia akan sampai." Jawab Elliot.


"Kalian membicarakanku??" Tanya seorang pria sebaya dengannya.


Dia tidak lain Cristina Leon. Anak pertama dari Lukas dan Sista. Dia sangat ahli dalam bidang komputer dan yang berhubungan dengan teknolongi. Tampak Leon duduk berhadapan dengan Avindra dan bersampingan dengan Elliot.


"Bagaimana??" Tanya Avindra.


"Aku sudah menganalisis data tentang putra tunggal Fendi Fermansyah." Jawab Leon sembari mengeluarkan ponselnya.


"Bahas nanti saat kedua kakakku datang." Ucap Avindra sembari membelai dagu salah satu wanita.


"Yang benar saja." Lirih Leon sembari menggelengkan kepalanya.


Prankkkk!!!!!!