Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 68



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


Di Vila Tua


Arion dan Andian pun keluar dari dalam mobilnya. Mereka langsung memasuki Vila tua yang tidak terurus itu. Sesampainya di ruang tengah Vila, Arion dan Andian melihat Antia yang terikat ditembok dengan luka luka. Hati Arion seperti tertusuk belati saat melihat wajah Antia yang sembab karena menangis.


"Antia." Ucap Arion sembari hendak mendekat.


"Jangan gegabah tuan muda Anvert." Ucap Amar dibelakang Antia sembari menyondorkan pistol tepat di kepalanya.


"Amar Surya jika kau benci padaku lampiaskan padaku jangan pada adikku." Ucap Andian.


"Hahahaha.... Lucu sekali, melihat kau begitu tersiksa karena adik kesayangan mu terluka... Tapi kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat adikku mati gara gara kau!!!" Ucap Amar sembari mencengkram dagu Antia.


"Apa maksudmu?!!" Tanya Andian emosi. Sedangkan Arion tampak memikirkan cara agar bisa membebaskan Antia.


"Kau ingat gadis yang kau tolak itu... Vinara dia adikku!!! Adikku sangat mencintai mu sampai sampai meninggalkan aku untuk selamanya!!! (Andian dan Arion terkejut.) Sehari setelah kau menolaknya dia langsung bunuh diri tanpa memikirkan aku!! Jika aku kehilangan adik kesayangan ku maka kau juga, harus kehilangan adik kesayangan mu." Ucap Amar sembari hendak melukai Antia.


"Ku mohon maafkan aku.... Lukai aku atau bunuh aku tapi jangan adikku. Aku akan melakukan apa yang kau inginkan tapi jangan lukai adikku." Ucap Andian memohon.


Tampak Amar tersenyum miring.


"Mudah saja... Kalian berdua tetap ditempat, dan kau... (Menujuk Andian.) Akan aku buat kau pilihan... Pilih adik kesayangan mu yang selamat atau." Ucap Amar sembari mengarahkan anak buahnya.


"Arila..." Lirih Andian.


"Istri cantik mu ini." Ucap Amar Surya sembari membelai wajah Arila.


"Jangan sentuh dia!!!" Bentak Andian.


"Whoo... Rupanya kau mencintai istri mu ini ya?? Sepertinya seru."


"Lepaskan mereka berdua dan bunuh saja aku... Kau membenciku kan maka bunuhlah aku." Ucap Andian.


"No...no... Dari kedua orang ini aku tau mereka sama sama penting untukmu... Tapi, dari kedua orang ini hanya satu yang bisa kau selamatkan." Ucap Amar Surya.


Tampak Andian tengah berpikir. Andian menatap Arila yang menangis meronta ronta ingin dibebaskan. Begitu pula Antia yang terluka membuat Andian merasa gagal sebagai suami dan seorang kakak.


"Andian ada pistol disakuku... Kau pilihlah Arila dan aku akan menyelamatkan Antia." Bisik Arion.


"Aku ingin...... Antia yang dibebaskan." Ucap Andian membuat Arila tersentak.


"Andian apa maksudmu?!!" Ucap Arion.


"Wah memilih adik kesayangan mu daripada cintamu sangatlah egois." Ucap Amar. Antia pun didorong dan jatuh kedalam pelukan Arion.


"Kak aku takut...hiks...hiks." Ucap Antia sembari memeluk tubuh Arion erat.


"Jangan takut ada aku disini." Ucap Arion sembari menghusap puncak kepala Antia.


"Kau bersiap melihat kematian istri tercinta mu ini???" Tanya Amar.


"Sayangnya aku tidak mencintainya.... Kapan aku mengatakan hal itu." Jawab Andian sembari melangkah sedikit mendekat.


Mendengar jawaban Andian membuat Arila meneteskan air matanya. Hatinya sakit mendengar pernyataan Andian.


Jadi selama ini aku hanya mencintainya tanpa terbalas... Tapi kenapa dia mengatakan agar aku tidak membahas perceraiannya?? Apa karena aku hanya boneka untuknya. Batin Arila.


"Baiklah... Ucapkan selamat tinggal untuk istrimu." Ucap Amar sembari menyondorkan pistolnya.


Arila hanya memejamkan matanya menerima apa yang akan Amar lakukan. *Dor!!! Dor!!!!!!* Dua kali tembakan terarahkan. Sedetik sebelum itu Andian berlari memeluk Arila dan menghadang peluru tersebut.


"Kakak!!!!" Teriak Antia. Saat itu Kean datang bersama deretan anak buahnya.


"Tuan muda menunduk." Ucap Kean. Arion memeluk Antia dan menunduk.


*Dor!!!* Kean menembak Amar dan seketika Amar terhempas ke lantai.


"Andian pergilah kau ke neraka." Ucap Amar sesaat sebelum tidak sadarkan diri.


Arion merampas pistol dari tangan Kean. *Dor!!! Dor!!! Dor!!* Arion menembak Amar Surya dengan kejamnya. Membuat Amar Surya seketika mati ditempat. Sedangkan Arila dia memangku kepala Andian.


"Kau tidak mencintai ku... Kenapa kau mengorbankan nyawamu?? Kau bodoh!" Ucap Arila sembari menangis. Andian tersenyum dan membelai wajah Arila.


"Ka...kau yang bodoh... Kau mempercayai apa yang aku katakan tadi... Aku mencintai mu Arila... Selamanya... Tetaplah bersamaku." Ucap Andian.


Setelah mengucapkan kalimat itu Andian langsung tak sadarkan diri. Arion hendak menghampiri Andian. Namun, Antia lebih dulu pinsan.


"Antia sayang... Antia... Kean kau bawa Andian ke rumah sakit, (Menggendong Antia.) Aku yang akan membawa Antia." Ucap Arion.


"Baik tuan." Ucap Kean.


Di Rumah Sakit


Andian langsung dilarikan ke ruang gawat darurat. Arila pun duduk diruang tunggu dengan tatapan kosong. Beberapa saat kemudian tampak Tarti Sista dan Reno datang. Tarti duduk disamping Arila dan memeluknya.


"Bu... Andian... Hiks... Dia terluka karena aku." Ucap Arila sembari menangis.


"Sayang tenang... Andian akan baik baik saja." Ucap Tarti menenangkan.


"Iya kak... Kakak ipar pasti kuat." Timpal Sista.


"Tuan Kean apa yang terjadi??" Tanya Reno.


"Tuan Andian terkena peluru karena menyelamatkan nona Arila... Ceritanya panjang lain waktu aku cerita." Jawab Kean.


"Sista... Antia pinsan... Kau temani dia." Ucap Arila.


"Tapi kakak-"


"Ada ibu disini, kamu temanilah Antia." Jawab Tarti.


"Baiklah bu... Tuan Kean dimana Antia??" Tanya Sista.


"Di ruang sebelah... Mari saya antar." Jawab Kean.


Sista dan Kean pun menuju ke ruang sebelah. Mereka berdua pun masuk dan tampak Antia duduk dibibir ranjang sembari menangis bersama Arion yang menenangkannya. Melihat Sista datang, Antia langsung mendekat kearahnya dan memeluknya.


"Antia syukurlah kau tidak apa apa." Ucap Sista sembari menepuk punggung Antia guna menenangkannya.


"Sista katakan bagaimana keadaan kakakku?? Apa dia baik baik saja??" Tanya Antia perlahan melepaskan pelukannya. Sista menatap Arion dan Arion menggeleng kepalanya pelan.


"Kakak ipar baik baik saja, jangan khawatir." Jawab Sista.


"Kak Arion, aku ingin melihat keadaan kakak." Ucap Antia.


"Kita lihat keadaannya bersama... Ayo aku akan memapahmu." Jawab Arion.


Di depan ruang gawat darurat. Tampak Arila menangis dipelukan Tarti. Membuat Antia mendekat ke arahnya.


"Kakak ipar." Ucap Antia. Membuat Arila bangkit dari posisinya. Tanpa basa basi lagi, Arila langsung memeluknya.


"Maafkan aku Antia... Aku memang tidak berguna." Ucap Arila.


"Tidak kakak... Itu karena kakakku mencintai mu kak... Kita berdoa agar kakakku baik baik saja." Ucap Antia.


"Tuan... Tuan Gio sudah sadar apa perlu kita memberi tau hal ini?? Tuan Raka membawanya ke rumah sakit ini." Bisik Kean pada Arion.


"Di ruang ke berapa??" Tanya Arion.


"Ruang VIP nomor 3 lantai 2." Jawab Kean.


"Beritau saja... Katakan jangan khawatir karena Andian baik baik saja. Juga beritau pada paman Anzo dan Randy untuk menjenguk paman Gio baru beritau soal Andian.... Dan satu lagi... Kubur mayat Amar Surya disamping mayat adiknya. Biarkan dia tenang bersama adiknya." Ucap Arion


"Baik tuan." Jawab Kean.


Kean pun pergi meninggalkan mereka. Arila duduk disamping Antia dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang memikirkan masa masa romantisnya bersama Andian. Wajah dingin Andian yang berubah tersenyum saat berdua dengan Arila. 5 jam kemudian. Tampak dokter keluar dari ruangan. Semua orang pun bangkit dari duduknya dan penasaran dengan keadaan Andian.


"Dokter bagaimana keadaan suamiku?? Apa dia baik baik saja??" Tanya Arila.


"Nona suami anda baik baik saja... Akan tetapi... Suami anda harus melewati masa kritisnya... Saat ini kami tidak bisa memprediksi kapan suami anda sadar." Jawab sang dokter.


"Tapi kakakku bisa diselamatkan kan dokter??" Tanya Antia.


"Kita hanya bisa berdoa agar kakak anda bisa melewati masa kritisnya." Jawab sang dokter.


"Apa aku bisa melihatnya." Ucap Arila.


"Saat tidak bisa nona... Kami akan memindahkannya ke ruang inap... Jika keadaannya stabil anda bisa menemuinya. Permisi..." Pamit sang dokter.


Tampak mereka membawa Andian pindah ke ruang inap. Arila hanya bisa mandangnya dari kaca ruangan. Matanya tak berhenti menangis mengingat kejadian yang menimpanya. Begitu pula Antia yang merasa sedih. Melihat hal itu, Sista pun berniat menghibur Antia dengan memberitau soal pendaftaran kuliahnya.


"Antia jangan bersedih... Kakak ipar adalah peria yang kuat... Ada kabar bahagia untukmu." Ucap Sista.


"Kabar apa??" Tanya Antia.


"Kita di terima dikampus Diamond Bangsa." Jawab Sista.


"Benarkah??? Kita diterima... Kak Arion...(Memeluk tubuh Arion.) Aku diterima kak... Aku diterima dikampus Diamond Bangsa." Ucap Antia bahagia.


"Benarkah... Selamat ya sayang... Itu artinya kita bisa menikah kan??" Tanya Arion. Membuat Antia merona dan kembali duduk disamping Sista.


Arion pun terkekeh dengan sifat menggemaskan Antia.