Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 1



Di Vila


Antia baru pulang dari sekolahnya. Dia pun menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.


"Em...lelahnya aku akan minta kakak untuk membantuku mengerjakan PR." Lirih Antia sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Antia menghentikan kegiatannya begitu mendengar suara percakapan dari kamar kakaknya. Karena penasaran Antia sedikit menguping di balkon kamarnya.


"Kakak dan Kak Raka apa yang mereka bicarakan?" Lirih Antia sambil mendengarkan pembicaraan.


"An apa Antia sudah tau soal perjodohannya?" Tanya Raka kakak sepupu Antia. Dan disitulah Antia menegang.


"Cepat atau lambat Antia akan mengetahuinya...lagipun peria itu sangat pas untuk menjaganya terlebih dia begitu berusaha untuk menepati janjinya yang dia berikan padaku dan kak Glan tepat saat Antia baru lahir." Ucap Andian. Antia merasa sedih dan memutuskan untuk tidak mendengarkannya lagi.


"Aku tidak tau jika dia akan menepati janjinya diwaktu yang dia janjikan." Jelas Andian.


[Sebenarnya 17 Tahun Yang Lalu]


Suara tangis bayi memenuhi ruangan. Segeralah para perawat membersihkan bayi itu dan memasukannya kedalam boxs tidur. Bayi yang mungil dan lucu. Saat itu Glan masih berumur 10 tahun, Andian 8 tahun dengan sorang peria yang berumur sebaya disampingnya. Lyin masih belum sadarkan diri karena masih dalam kondisi lemah. Sedangkan Gio lebih mementingkan pekerjaannya.


"Za adikmu sangat cantik." Ucap peria itu yang tidak lain sehabat Andian.


Andian hanya mengagguk dan bersama Glan memainkan jari mungil adiknya.


"Selama beberapa tahun adik kami akan bersama kami tapi dia perempuan yang akan kami serahkan pada peria yang tepat." Ucap Glan.


"Maka nama yang tepat untuknya Cantia Putri Vania." Jawab Andian dan Glan bersamaan.


"Nama yang bagus tapi aku berharap bisa melihatnya tumbuh menjadi gadis yang cantik." Ucap Glan.


Sehabat Andian mendekat dan menatap Antia yang masih bayi mungil dengan kedua tangan menggenggam jari telunjuk Glan dan Andian. Wajah dingin sehabat Andian tiba tiba tersenyum. Dia pun menujukan jari telunjuknya hendak memegang pipi Antia.


 


Tanpa mereka kira kedua tangan mungil Antia melepaskan jari telunjuk kedua kakaknya dan menggegam erat telunjuk Sehabat Andian dan tersenyum. *Deg deg deg* Suara detak jantung peria berdarah dingin itu.


"Adik kecil aku berjanji kelak akan memperbesar perusahaanku dan akan ku berikan padamu tepat saat umurm mu 19 tahun. Kak Glan Andian pegang janjiku." Ucap Sehabat Andian.


 


[17 Tahun Kemudian] 


Andian menyenderkan tubuhnya pada kursi berputar di kamarnya.


"Kau kenal dia bukan? Sejak kecil dia ditinggal bersama kakeknya dia bertentangan dengan kedua ayah ibunya dan sekarang dia belum ada kabar kita tunggu 2 tahun lagi." Ucap Andian.


"Lalu jika saat ini dia berhasil apa kau benar benar akan menikahkan Antia dengannya? Dia masih kelas 2 SMA." Jelas Raka. Andian berdiri dan menatap pemandangan dari balkon.


"Jika dia benar berhasil aku akan menepati janjiku." Jawab Andian. Sedangkan dengan Antia dia menutup dirinya dengan selimut dan menangis.


"Jadi, kakak sudah menjodohkanku dengan orang yang tidak ku kenal? Bukankah aku masih kecil? Hiks hiks hiks." Lirih Antia dan terlelap dalam tidurnya.


 


Di Satu Sisi


Seorang peria muda berumur 24 tahun tengah menikmati segelas coktail. Sambil melihat pemandangan malam yang indah dari balkon perusahaannya. Dengan wajah datar dan dingin adalah ciri khasnya. *Ting ting* Suara bel pintu ruangannya berbunyi menandakan akan ada yang datang. Peria itu menekan tombol di sebelahnya dan otomatis pintu terbuka.


 


"Tuan muda kabar gembira perusahaan anda kini sudah menang jauh dari tuan besar... Benua Asia Eropa dan Amerika sudah anda kuasai yang artinya sekitar 75% dari keseluruhan adalah milik anda dan 25% adalah milik tuan muda Andian yang berada di Asia." Jelas sekertarisnya. Peria itu tampak tersenyum miring tanpa sekertarisnya tau. Dia menggerakan tangannya memberi kode pada sekertarisnya untuk pergi. Dengan hormat sekertarisnya pergi.


"Akhirnya... Adik kecil sudah 17 tahun rupanya apa kau melupakanku." Lirih peria itu. Dengan perasaan bahagia dia pun meneguk coktailnya.