Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode Terakhir (Ending.)



JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MBMB🥀...


6 Hari Kemudian


Arisa tampak cemberut karena sosok yang dia tunggu tidak kunjung pulang. Siapa lagi jika bukan Avindra. Sudah 6 hari ini dia di Italia dengan alasan ada urusan dan berjanji akan kembali sebelum acara ulang tahun Arisa. Namun, sampai saat ini belum juga terlihat batang hidungnya. Melihat putri bungsunya cemberut, membuat Arion mendekatinya.


"Kenapa sayang?? Hmm??" Tanya Arion sembari membelai puncak kepala Arisa. Arisa memeluk lengan ayahnya menyembunyikan rasa sedihnya.


"Kakak ingkar janji." Jawab Arisa dengan nada kesal.


"Hey sayang, kakakmu pasti akan segera kembali... Jangan khawatir." Ucap Arion.


"Kenapa kakak selalu pergi kemana mana??" Tanya Arisa seraya menatap wajah tampan ayahnya.


"Karena kakakmu adalah anak ayah... Kamu juga begitu bukan??" Ucap Arion sembari mencubit hidung Arisa. Arion terkekeh saat Arisa memanyunkan bibirnya.


"Hola Baby!!!" Panggil Delvin dan tanpa aba aba menggendong Arisa.


"Kakak!" Pekik Arisa membuat Delvin tertawa kecil.


"Hahaha... Uncle tidak bisa membuat adik kesayanganku ini ceria... Baby, bagaimana kalau kita lihat dekorasi pesta untukmu??" Ucap Delvin.


"Sudah jadi??" Tanya Arisa.


"Tentu saja sudah... Daripada bersedih memikirkan kakak penggila pekerjaan seperti Avindra, lebih baik bermain dengan kakakmu yang tampan sepertiku." Jawab Delvin kemudian pergi dengan menggendong Arisa ala bridal style.


Arion tersenyum melihatnya. Meskipun Arion maupun Antia tidak bisa menghibur Arisa, tapi masih ada kakak sepupunya yang bisa menghiburnya. Arion bangga karena kedua anaknya tidak merasakan pahitnya dunia seperti dirinya dulu.


"Wah... Semua ini sangat indah, siapa yang memilih dekorasinya?? Aku tidak memilih dekorasi ini sebelumnya." Ucap Arisa sembari turun dari gendongan Delvin.


"Benteng antartika... Dan uncle juga aunty setuju dengan pilihannya." Jawab Delvin membuat Arisa terdiam.


"Halo Arisa." Sapa Leon dan Rian bersamaan.


"Halo kak... Kak Leon dimana Lista??" Tanya Arisa.


"Lista sedang di rumah... Dia mempersiapkan sesuatu untukmu." Jawab Leon.


"Astaga anak itu." Ucap Arisa sembari menepuk keningnya sendiri.


"Ah, iya Elliot aku akan datang." Ucap Delvin kemudian pergi meninggalkan Arisa Leon dan Rian.


"Aku tidak mem—"


"Ketahuilah sinkon b*go!" Ucap Delvin sembari menarik Elliot pergi.


"Lista bilang kamu akan kuliah diluar negeri, apa benar??" Tanya Leon.


"Yup! Doakan aku agar mendapatkan gelar MBA seperti kakakku." Jawab Arisa dengan senyuman manisnya.


"Jadi, bisa kamu jawab siapa yang kamu pilih diantara kami Arisa?? Aku, Leon atau kak Alan?? Berikanlah kepastian." Ucap Rian. Tampak Arisa menghela napas panjang kemudian menatap kedua pria yang menunggu jawabannya.


"Aku tidak memilih siapa pun... Terlepas dari itu, aku sudah tidak kagum pada kak Alan... Jadi, kalian carilah wanita yang pantas dicintai... Kelak saat aku kembali, aku berharap kalian sudah memiliki pasangan masing masing." Jawab Arisa yang mana membuat Leon tertawa kecil.


"Rian, ku rasa tidak ada gunanya sekarang kita berselisih... Arisa, meskipun aku tidak bisa memilikimu... Izinkan aku melindungimu layaknya adikku." Ucap Leon. Tampak Arisa menganggukan kepalanya pelan sembari tersenyum.


"Tentu saja." Jawab Arisa. Saat itu terdengar suara yang mana membuat Arisa dan lainnya keluar. Rupanya, Avindra datang dengan helikopter pribadinya. Tentu di landasan pribadi keluarga Anvert.


"Kakak!!" Panggil Arisa kemudian berlari memeluk Avindra erat.


"Haha, kakak tidak ingkar janji bukan??" Ucap Avindra sembari menghusap puncak kepala adiknya.


"Kakak yang terbaik." Jawab Arisa. Avindra tersenyum dan mencubit pipi Arisa.


"Yooo!!! Karena Avindra sudah kembali, bukankah kita harus berpesta?!" Ucap Delvin sembari merangkul leher Avindra.


"Kalian melupakan aku??" Ucap seseorang yang baru saja datang dengan motor sportnya.


"Deryl??"


🥀🥀🥀


Alita baru saja berbelanja di minimarket terdekat kontrakannya. Dia membeli beberapa kebutuhan bulanannya yang baru saja habis. Dengan menaiki angkot, Alita pun kembali ke kontrakan kecilnya. Dan dia terkejut saat melihat beberapa orang berpakain jas hitam.


"Itu orangnya!" Ucap salah seorang dan langsung membawa Alita masuk ke kontrakannya. Orang sekitar hanya bisa melihat dan tidak berani melapor. Mengingat ada orang berpengaruh disana.


"Lepaskan aku!!! Aku tidak kenal kalian!!!" Ucap Alita. Orang tersebut mendudukan Alita disofa.


"Jadi kau tidak mengenaliku??" Tanya seseorang sembari duduk berhadapan dengan Alita. Alita terdiam mengingat kembali siapa orang itu.


"Kamu...—"


"Alandra Zaials, Alfarezi Rachman, atau A.rc." Jawabnya yang tidak lain Alan.


"Untuk apa menangkapku??? Aku tidak ada salah apapun—"


"Salahmu membuat sahabatku, Avindra menderita dengan kepergianmu." Ucap Alan memotong. Alan bangkit dari duduknya dan memainkan pistol ditangannya. Tentu membuat Alita ketakutan.


"Setiap tahun... Aku membunuh orang setidaknya 200 orang, membunuh gadis lemah sepertimu... (Menatap Alita.) Masalah kecil untukku." Ucap Alan.


"Ak... Aku tidak kenal—"


"Jangan katakan itu lagi!! Bisa kau tebak alasanku tidak membunuhmu saat kau keluar dari Kediaman Anvert??" Tanya Alan.


Brakk!


Dia meletakan pistolnya diatas meja. Dan menyondorkannya pada Alita.


"Jika kau menjawab benar... Kau hidup dan aku mati... Jika kau menjawab salah.... Kau mati dan aku hidup." Ucap Alan.


"Biarkan aku pergi.... Ku mohon." Ucap Alita memohon dengan linangan air mata.


"Haish, kenapa kau masih saja berniat pergi?? Alasanku tidak membunuhmu... Karena Avindra... Mencintaimu." Ucap Alan menekan kata mencintai.


"Saat kau keluar dari Kediaman Anvert... Dia menghubungiku untuk melindungimu tanpa sepengetahuanmu... Dan kau pikir, setelah pergi kamu bebas??? Tidak nona, Aku menemukan 9 orang yang mengincarmu saat itu... Dan jika bukan karena Avindra, kau mungkin tinggal nama saat itu juga... (Bangkit dari duduknya.) Peneror keluarga Anvert adalah Fendi Fermansyah... Agar tidak ada interaksi antara keluarga Anvert dengan masyarakat, dia menyuruh anak buahnya membunuh setiap orang yang menemui keluarga Anvert." Jelas Alan membuat Alita terdiam. Alan menatap gadis yang meneteskan air mata itu. Kemudian menggerakan jarinya menyuruh salah satu anak buahnya.


"Nanti malam, adik kesayangannya berulang tahun... Temui Avindra... Anak buahku yang akan menjemputmu." Ucap Alan kemudian pergi. Salah satu anak buah Alan pun memberikan sebuah gaun bewarna biru muda warna kesukaan Avindra. Begitu keluar, Alan mendapatkan telefon dari Avindra.


📞


“Alan??”


“Hmm.”


“Ayah angkatmu sudah bebas... Sekarang dia di Vila lamaku... Ada Machel dan Serly disana.”


“Aku mengerti... Imbalanmu akan datang nanti malam.” Ucap Alan.


“Yah kau datang di acara ulang tahun adikku saja sudah cukup.”


“Aku tutup telefonnya.” Ucap Alan kemudian memutuskan sambungan telefonnya.


Tut.


Emilio Rachman... Kematian akan lama menjemputmu jika kamu tidak kunjung memberitau siapa orang tuaku. Batin Alan.


Malam Harinya


Para tetamu undangan hadir disana. Baik dalam maupun luar negeri. Mengingat ini pesta dari putri tersayang sang konglomerat yang terkenal hampir ke seluruh dunia. Mereka tampak menikmati pestanya. Dan saat ini, Avindra tengah berbincang dengan saudara dan temannya. Sedangkan Arisa, tengah diajak sang ayah untuk dikenalkan pada rekan bisnisnya.


"Kak Derly ku kira tadi siapa." Ucap Avindra. Iya, seseorang yang datang tadi tidak lain Deryl Neo Adithama. Putra tunggal Renzo dan Lyara. Ada sebuah kecelakaan yang mana membuat Lyara tidak bisa hamil lagi.


"Ayolah... Adik kesayangan kita bertambah umur dan aku tidak datang?? Yang benar saja." Ucap Deryl.


"Yah setidaknya kau tidak hanya penggila pekerjaan... Selama 40 kau tidak bekerja pun hartamu tidak akan habis." Ucap Delvin membuat Deryl menjitaknya.


"Yang benar saja... Lalu?? Apa ada tanda tanda kau mendapatkan gadis??" Tanya Deryl sembari merangkul leher Delvin.


"Masih jauh dari pikiranku... Tapi... Ucapkan selamat pada gunung Fuji kita yang sudah menerima perjodohan dari uncle dan aunty." Ucap Delvin sembari melirik Reanzo.


"Bravo! Jangan lupa undangan khusus untukku Rean." Ucap Deryl.


"Masih lama kak." Jawab Reanzo santai yang mana membuat Deryl terkekeh.


"Iya aku mencarimu... Untuk mengulitimu hidup hidup." Ucap Serly.


"Astaga dia sangat kejam." Ucap Deryl.


"Tentu saja, dia kekasihku... Bukan begitu sayang." Ucap Machel dan langsung merangkulkan tangannya pada pinggang kekasihnya.


"Maaf aku terlambat." Ucap Alan dan langsung duduk disamping Avindra.


"Tidak apa Alan... Oh iya, dia kakak sepupuku... Kak Deryl dia sahabatku Alan." Ucap Avindra memperkenalkan.


"Yo, salam kenal pria tampan." Ucap Deryl dan tidak direspon oleh Alan. Dia memilih menuangkan bir dan meminumnya.


"Astaga, ternyata ada manusia es selain Rean." Ucap Deryl sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Itu sebabnya kita memanggilnya benteng antartika." Ucap Delvin dan semuanya tertawa lepas.


"Yahoo ayo kita party." Ucap Delvin mengangkat gelas anggurnya.


"Ayo kita bersual!!" Ucap Deryl. Semuanya pun bersula.


Ting!


Saat semua orang sibuk menikmati pesta, Alan mendekati Avindra yang berdiri termenung di balkon. Sadar Alan datang, Avindra menoleh.


"5 menit lagi, pergilah ke taman belakang vilamu... Ada seseorang yang menunggumu." Ucap Alan sembari meminum anggurnya.


"Sangat misterius, Aku menyukainya." Ucap Avindra dan baru 4 menit berlalu, dia langsung menuju ke taman belakang vila.


Orang seperti Alan akan memberikanku ap— Batin Avindra terjeda saat mendengar suara tawa ibunya dan suara dari seseorang yang menjadi bagian hidupnya.


"Alita..." Panggil Avindra.


Gadis berbalut gaun berwarna biru muda itu membalikan tubuhnya. Menatap Avindra tersenyum lembut. Dan tanpa basa basi, Avindra memeluknya erat. Antia tersenyum dan membiarkan putranya itu berbincang dengan wanita pujaannya.


"Maaf—"


"Aku tidak membutuhkan permintaan maafmu... Aku membutuhkanmu menjadi istri dan ibu untuk anak anak ku Alita." Ucap Avindra semakin mengeratkan pelukannya. Setelah puas memeluknya, Avindra melepaskan pelukannya perlahan dan menatap Alita.


"Bagaimana kamu ada disini?? Dan gaun ini... Kau sangat cantik menggunakannya." Ucap Avindra.


"Ceritanya panjang, mungkin aku akan—"


Cup.


Belum Alita menyelsaikan perkataannya, Avindra menciumnya terlebih dahulu. Avindra menuntun tangan Alita agar melingkar dilehernya. Dengan penjelasan dari Alan dan Antia, akhirnya Alita mengerti jika keluarga Anvert tidak semenakutkan yang dia kira.


"Aku mencintaimu." Ucap Avindra setelah melepaskan ciumannya. Alita tersenyum.


"Aku juga mencintaimu kak." Jawab Alita.


Prokk!!! Prokk!!! Prokk!!!


"Complimenti!!!! (Selamat.)" Teriak para tetamu bersamaan.


"Yoo!! Avindra kau terlalu ganas." Ucap Deryl.


"Iya, kasihan calon menantu bunda." Ucap Antia dan lainnya tertawa kecil. Sedangkan Alita tersipu malu sembari memukuli kecil Avindra.


"Jadi kakak... (Menyatukan tangan Avindra dan Alita.) Kalian harus menikah, sebelum aku pergi... Nanti jika aku pergi, siapa yang akan cerewet mengatur dekorasi pernikahannya??" Tanya Arisa dan membuat Avindra terkekeh. Dia memberikan cubitan pada pipi Arisa.


"Tentu saja adikku yang paling cerewet ini yang akan mengaturnya." Ucap Avindra. Arisa tertawa kecil dan memeluk Avindra sekilas.


"Kakak!" Pekik Arisa saat Deryl menggendongnya.


"Dasar adik nakalku... Kau melupakan kakakmu yang tampan ini." Ucap Deryl.


"Anak nakal! Turunkan Arisa atau dia akan jatuh." Ucap Lyara sembari menjewer putranya.


"Mommy... Kau kejam." Ucap Deryl cemberut sembari memegangi telinganya.


"Hahaha!!" Semua orang tertawa bahagia. Kecuali Alan, yang tengah menatap sepasang suami istri yang sudah lanjut usia tanpa diketahuinya.


Ibu... Ayah... Batin Alan.


Seusai pesta, Arisa duduk termenung di balkon. Disatu sisi dia bahagia saat sang kakak mendapatkan kebahagiaannya dan juga seluruh keluarganya berkumpul. Namun disisi lain Arisa kecewa.


Alan hanya mengucapkan selamat ulang tahun tanpa memberikannya hadiah. Bukan tanpa alasan, Arisa ingin mendapatkan hadiah dari Alan setidaknya untuk kenang kenangannya begitu dia pergi ke luar negeri.


"Kalau kakak bahagia... Kenapa aku tidak kan??" Ucap Arisa sembari meneteskan air matanya. Dia menangis sampai sesegukan.


Aku ikhlas jika kakak memang bukan jodohku... Aku ikhlas. Batin Arisa.


Beberapa bulan kemudian


Arisa sudah lulus dari sekolahnya dan saat ini dia juga sudah diterima di salah satu kampus terbesar di London. Tidak hanya itu, Avindra dan Alita akhirnya meresmikan hubungan mereka disusul Reanzo dengan pasangannya.


Untuk Leon dan Rian, dia sedang berusaha move on dari Arisa. Machel dan Serly sudah resmi bertunangan. Elliot masih menyukai kesendiriannya sama seperti ayahnya dulu. Deryl dan Delvin masih sama, mereka berdua menikmati masa masanya di club dan perusahaan.


Sedangkan Renafo, dia tengah belajar bela diri dan menembak dengan diajari Machel maupun Alan. Dan untuk Alan sendiri dia sibuk dengan perusahaannya di bantu oleh Machel. Alan tidak akan mengatakan mengenai orang tuanya kecuali Emilio sendiri yang memperkenalkannya pada orang tuanya.


Untuk Antia dan Arion, dia sedang mengantar putri cintanya ke bandara. Tentu dengan Avindra dan istrinya menemani. Antia memeluk erat Arisa dengan meneteskan air matanya.


"Jangan lupa mengabari bunda... Belajarlah yang rajin." Ucap Antia.


"Tentu saja bunda... Dan kakak ipar, kabari aku jika aku akan menjadi aunty yah." Ucap Arisa menggoda kakak ipar nya.


"Tentu saja... Bukan begitu sayang??" Jawab Avindra membuat Alita merona.


"Aku berangkat dulu... Sampai jumpa." Ucap Arisa sembari melambaikan tangannya. Dia menyeret kopernya dan pergi meninggalkan keluarganya.


Kak Alan... Apakah kau tidak melihat ku untuk kali ini saja?? Batin Arisa saat dia berada didalam pesawat. Dan pesawat yang Arisa naiki itu perlahan meninggalkan landasan.


🥀🥀🥀


"Antia." Panggil Arion pada istrinya yang sedang duduk dipangkuannya. Dia memeluk istrinya dari belakang.


"Hmm??"


"Jika aku lebih dulu tiada... Apa yang akan kau lakukan??" Tanya Arion.


"Jika kamu lebih dulu tiada... Maka aku akan mengatakan... Aku akan menjaga anak dan cucu kita."


"Boleh aku meminta satu hal padamu??" Tanya Arion lagi.


"Apa itu??"


"Jika kelak kita terlahir kembali... Entah di dunia ini atau bahkan abadi di akhirat... Maukah kau tetap menjadi istriku... Hawaku, Sintaku, Juliet ku, dan Aisyah ku??" Tanya Arion.


"Tentu saja... Aku akan menjadi istrimu... Hawamu... Sintamu... Julietmu... Dan Aisyahmu."


Arion mengeratkan pelukannya.


"Aku mencintaimu Antia."


"Aku juga mencintaimu Arion."


Dimalam yang gelap dengan bintang bertaburan, Arion dan Antia menambahkan kenangan manis. Meskipun mereka tidak lagi muda, tapi Cinta mereka tetap sama sejak muda sampai tua. Semua berawal dari Dijodohkan Oleh Kakakku.


...🥀-Tamat-🥀...


Yahoo dah tamat nih, Adek mau ngucapin Minalaizin walfaizin yah... Kan besok lebaran jadi kalau adek ada salah, adek minta maaf🤗🙏🏻❤❤ Terima kasih untuk pembaca setia Matchmaking By My Brother sampai tamat ini... Siapa ortunya Alan?? Nanti Alan sama Arisa atau lain?? Pertanyaan itu Insyallah akan adek jawab di Season 3, jadi pantengin terus yah😉 Bay bay Readers😘❤👋🏻



(Colvis Avindra Putra Anvert.)



(Alita.)



(Alandra Zailas [Alfarezi Rachman, A.rc])



(Colvis Arisa Putri Anvert.)