
Di Colvis Anvert Grop
Arion baru kembali dari perusahaan Andian. Kini dia menuju ke kamar di ruangannya yang biasa dia gunakan untuk istirahat. Arion memejamkan matanya sejenak. Namun, Arion terbangun saat suara bel pintu ruangannya berbunyi. Arion menekan tombol otomatis dan pintu terbuka. Datanglah Kean dengan raut muka ragu.
"Maaf menggaggu istirahat anda tuan muda." Ucap Kean mengawali. Arion membuka matanya dan masih dalam posisi.
"Adapa Kean? Katakan cepat aku ingin istirahat." Jawab Arion masih dalam posisi.
"Tuan muda nona Antia tidak ada di Villa kepala pelayan Gian mengira Antia pergi bersama anda tuan." Ucap Kean. Seketika Arion terbangun dan berdiri. Arion meremas baju Kean dan menatapnya tajam.
"Kenapa kamu tak memberitauku sebelumnya Kean??!! Katakan apa Andian sedang mencarinya?" Tanya Arionsambil menggoyangkan tubuh sekertarisnya itu.
"Iya tuan muda, nomor nona muda tidak aktif dan sulit dihubungi... Sampai sekarang para anak buahku belum menemukan nona muda." Jawab Kean. Mata Arion memerah dia pun meraih kardigennya dan beranjak pergi. Tentu sekertaris pribadinya mengikuti tuannya.
Di Sebuah Cafe
Antia dan Antika tengah berbincang. Mereka tertawa kecil lantaran Antia menceritakan kekonyolan Raka pada Antika. Antia melihat arloji yang melingkar di tangannya. Waktu sudah menujukan pukul 5 sore. Antia meraih tasnya dan berdiri.
"Kak Antika aku harus pulang sekarang sudah sore terima kasih traktirannya." Pamit Antia. Antika pun ikut berdiri dan mengagguk.
"Iya hati hati dijalan ya." Jawab Antika. Antia mengagguk dan segera keluar dari cafe tersebut. Antia menyalakan handphone nya namun tidak menyala.
Aduh, mati lagi gimana kabarin kakak ya kalo gini? Semoga aja kak Raka udah kabarin ke kakak kalo aku belanja bareng kak Antika. Batin Antia berpikir positif.
Sebelumnya di kediaman Raka.
Antia menarik Antika masuk ke dalam sampai bertemu keempat orang yang tampak berbincang.
"Eh, Antia kamu tumben datang ke rumah bibi kangen ya?" Ucap Laura sambil mendekati Antia.
"Iya Bi, ini aku bawain makanan kesukaan paman dan bibi. Sama cup cake buat kak Raka tapi karena ada kak Antika buat kak Antika aja deh." Jawab Antia sambil tersenyum menghadap Antika.
"Antia kenapa begitu kakak juga mau lah." Sungut Raka begitu datang.
"Kakak kan uangnya banyak jadi beli sendiri ya kak... Sekali kali ngalah lah sama calon kakak iparku." Ucap Antia menggoda. Raka hanya memalingkan wajahnya kesal.
"Rand apa ini putrinya Gio dan Lyin?" Tanya Calvin memandang Antia.
"Iya dia putri bungsunya...(Memandang Antia.)Antia ini ayah dan ibu dari Antika namanya om Calvin dan tante Tina." Jawab Randy kemudian memperkenalkan. Antia tersenyum ramah.
"Hallo tante om kenalin aku Antia adik sepupu kak Raka." Jelas Antia sembari tersenyum.
"Wah cantiknya, kamu mirip banget sama ibu kamu." Puji Tina.
"Iya tante semua orang juga bilang begitu, em...ayo sekalian makan siang disini kalo bareng kan rasanya enak." Ajak Antia sembari menaruh paper bag pada meja makan.
"Terima kasih loh ya kamu ini baik banget." Ucap Tina dan dijawab senyuman oleh Antia.
Mereka pun makan siang bersama.
Selesai makan siang Raka yang tak suka diacuhkan oleh Antia memutuskan untuk ke kamarnya. Sedangkan Antia sibuk berbincang dengan Antika.
"Em Antia mau jalan jalan sama kakak nggak? Kakak traktir deh." Ajak Antika. Tentu mata Antia berbinar.
"Mau kak ayo, sudah lama banget nggak jalan jalan rasanya bosen dirumah." Jawab Antia.
"Baiklah ayo mau ikut kakak atau bawa mobil sendiri nih?" Tanya Antika.
"Aku sama kakak saja nanti pulangnya bisa naik taxi online. Paman Bibi bilang ya ke kak Raka aku jalan jalan sama kak Antika." Pamit Antia. Laura dan Randy pun mengagguk pelan.
"Hati hati ya nak, Antika tante titip Antia ya." Ucap Laura.
"Pasti tante, kami pamit dulu." Jawab Antika. Mereka berdua pun meninggalkan kediaman Raka dan pergi jalan jalan sampai akhirnya mereka beristirahat di cafe.
Seusai dari Kediaman Raka
Antia menunggu taxi didepan cafe. Antia berkali kali menatap arlojinya dan taxi belum juga datang datang membuat Antia kesal.
Kenapa tidak ada taxi yang lewat, baru pukul 5 sore sudah sepi. Ada telefon umum aku akan menelfon kakak agar menjemputku. Batin Antia sembari menatap telefon umum diseberang sana.
Sebenarnya Antika berkali kali menawarkan tumpangan tapi Antia tau jika Antika mengantarnya maka akan berurusan dengan kakaknya.
Antia melihat ke kanan dan kiri memastikan tidak ada kendaraan. Saat merasa aman perlahan Antia berjalan mendekati telefon umum itu. Namun, saat menyebrang sebuah mobil hitam melintas.
"Aaaaaaaa!!!!!!" Teriak Antia sambil menutup matanya.
"Antia sayang kamu darimana saja?? Hampir aku mati jika tadi menabrakmu." Ucap seseorang yang tidak lain Arion.
Antia terdiam dia tidak menyangka jika Arion begitu mengkhawatirkannya. Saat Antia hendak melepas pelukan Arion dia merasakan curuk lehernya basah.
Apa Kak Arion menangis? Segitu khawatirnya kak Arion padaku?? Kenapa aku merasa tersentuh dan detak jantungku tak karuan? Batin Antia.
Antia melepas perlahan dan menatap Arion. Dan benar saja mata Arion memerah namun wajahnya tampak biasa meskipun matanya keluar air mata. Antia menunduk merasa bersalah.
"Maafin Antia kak buat kakak khawatir, Tapi kenapa kakak menangis?" Tanya Antia menatap Arion.
Arion menangkup wajah Antia. Antia menatap mata Arion begitu pun sebaliknya. Arion menatap Antia dalam.
"Karena aku tidak ingin kamu kenapa kenapa aku sangat mengkhawatirkan mu. Kamu adalah hidupku Antia. Aku takut kamu meninggalkanku." Ucap Arion. Antia mengangkat tangannya menghusap air mata Arion.
"Aku tidak mungkin meninggalkan kakak sebenarnya tadi aku ingin mengabari tapi handphone ku mati itu sebabnya aku hendak ke telefon umum." Jelas Antia.
Arion menggegam tangan Antia dan menarik Antia mendekatinya. Antia merasa aneh ketika jarak mereka terkikis habis. Tanpa Antia duga Arion mencium bibirnya. Antia hanya membelakan matanya terkejut. Arion melepas ciumannya begitu tau Antia menahan napas.
"Berjanjilah akan tetap disampingku Antia." Ucap Arion sembari menciumi tangan Antia. Antia hanya tersenyum dan mengaggukan kepala.
"Malam ini kamu menginap di vilaku jangan membantah." Ucap Arion sembari menarik pelan Antia kedalam mobil.
"Tapi kak Andian belum diberi kabar." Ucap Antia saat Arion memasangkan sabuk pengaman padanya.
"Ada Kean yang akan mengabarinya." Jawab Arion sembari menyalakan mobilnya.
Antia pun lega dan menatap keindahan sore hari dari kaca jendela. Antia menatap Arion sekilas. Tampak ketampanannya bertambah saat Arion serius mengemudi. Antia menatap pemandangan luar dan masih mengingat kejadian beberapa menit lalu.
Apa ciuman pertamaku untuk kak Arion, memalukan sekali jika kak Arion sadar aku menahan napasku. Batin Antia.
Antia mentap lampu jalan yang menghiasi jalan. Karena mengantuk Antia akhirnya tertidur dengan kepala masih bersandaran pada kaca jendela mobil.
Sesampainya di vila mewah
Arion melepas sabuk pengamannya. Saat dia menatap Antia rupanya dia sudah terlelap dalam tidurnya. Arion pun mendekat dan mengamati wajah cantik Antia yang tampak lelah. Arion membelai wajah Antia dan mencium keningnya.
"Kenapa sejak kecil kamu selalu membuatku merasa khawatir berlebihan sayang. Apa kamu tidak tau jika tadi aku tak menemukan mu mungkin aku saat ini bersama kak Glan mu." Lirih Arion. Arion melepaskan sabuk pengaman Antia. Dan menggendongnya masuk kedalam vila. Tampak Kean seperti menunggu kehadirannya.
"Saya sudah mengabari tuan Andian." Ucap Kean.
"Gajimu naik 50% Kean, kembali ke perusahan. Aku serahkan padamu karena saat ini aku ingin menghabiskan waktuku dengan gadis kecilku." Jelas Arion.
"Baik Tuan Muda." Jawab Kean kemudian pergi.
Arion pun memasuki vila dan tampak beberapa pelayan datang menghampiri.
"Siapkan beberapa baju tidur dan baju ganti untuknya. Dan iya dia calon nyonya muda disini jadi kalian harus menghormatinya." Jelas Arion pada ke 9 pelayannya.
"Baik tuan muda." Jawab mereka serentak.
"Jun bawa bajunya ke kamarku." Timpal Arion.
"Baik Tuan Muda." Jawab Jun hormat.
Arion menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sebenarnya Arion hanya bersama Jun di vila tapi dia langsung mencari pelayan perempuan karena dia tidak ingin kecantikan Antia dilihat oleh peria manapun.
Sedangkan Jun dia sudah hampir 30 tahun setia bersama Arion. Jun sendiri berumur 50 tahun dan tidak menikah. Dia mengabdi pada mendiang kakeknya Arion hingga menurun pada Arion. Dan Arion sendiri sudah mengaggapnya seperti keluarga.
Perlahan Arion membaringkan tubuh Antia. Arion menyelimuti Antia dengan pelan dan mencium kening Antia. Arion pun menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa saat kemudian Arion keluar dan memakai piyama tidurnya.
Saat itu Jun datang dan menyerahkan beberapa baju yang tuannya minta. Setelah itu Jun langsung pamit pergi. Arion tidak tega membangunkan Antia tapi dia juga tidak rela jika tubuh Antia dilihat orang lain bahkan jika seorang wanita sekalipun.
Arion mendekat pada Antia yang tengah tertidur. Arion membaringkan tubuhnya disamping Antia. Dia membelai wajah cantik Antia. Arion menepuk pipi Antia pelan.
"Sayang bangun...Kita sudah sampai... (Antia mengerutkan keningnya dan membuka matanya perlahan.) Bagaimana tidurmu sayang?" Tanya Arion begitu Antia bangun.
Wajah Antia merona saat wajah tampan Arion sangat dekat dengannya. Antia pun bangun dan menatap sekitar. Antia benar benar tidak percaya dengan dekorasi kamar Arion.
Sangat mirip seperti yang Antia impikan terlebih ada banyak alat musik dipojok ruangan. Antia langsung turun dari ranjang dan mendekati piano yang tampak elegan juga mewah.
Merci pour votre soutien et votre visite Douces salutations de ma part๐๐