
Arion memeluk Antia dari belakang. Antia tak bereaksi mode marahnya kini tengah aktif. Sadar tak ada respon dari Antia,Arion membalikan tubuh Antia agar berhadapan dengannya. Arion mengangkat dagu Antia kemudian menatapnya dalam.
"Jadi gadisku ini sedang marah? Apa yang harus aku perbuat ya?" Ucap Arion menggoda Antia. Antia tak merespon dan hanya memalingkan wajahnya.
"Hey kenapa kau marah sayang? Hey dengarlah gadisku tidak seperti patung tapi seperti bidadari dari surga." Goda Arion yang sukses membuat Antia merona. Antia memukul kecil lengan kekar Arion.
"Humph....(Antia berdiri.) Kakak kenapa tidak pulang?" Tanya Antia. Arion merebahkan tubuhnya pada ranjang Antia.
"Karena aku akan menginap disini." Jawab Arion santai. Sontak membuat Antia mengerutkan keningnya.
"Jika kakak menginap kakak pindah kamar sebelah." Ucap Antia. Arion bangun dan duduk dibibir ranjang menatap Antia.
"Kenapa aku harus pindah? Kau sebentar lagi akan jadi istriku." Jawab Arion dengan nada sedikit tak suka.
"Tapi kak kita belum menikah tidak baik jika yang belum menikah tidur satu ranjang." Ucap Antia sembari menarik tangan Arion berharap Arion berdiri dan pergi.
Namun, Arion menarik Antia dan membuatnya duduk dipangkuannya. Arion memeluk erat pinggang Antia.
"Kalau begitu kita menikah sekarang bagaimana?" Ujar Arion. Antia segera berdiri dan menatap Arion tajam.
"Tidak...kakak berjanji akan menikahiku saat umurku pas 18 tahun...Kakak bangun dan pindah kamar sana...jika perlu tidur satu kamar dengan kak Andian." Ucap Antia. Arion yang mendengar jawaban Antia langsung berdiri.
"Baiklah gadis kecilku aku akan patuh padamu." Ucap Arion sambil beranjak pergi. Namun niatnya diurungkan saat berbalik dan mencium kening Antia membuat Antia merona.
"Selamat malam mimpikanlah aku sebagai mimpi indahmu." Ucap Arion sambil pergi. Antia segera menutup pintu dan merasakan detak jantungnya yang semakin cepat.
Kak Arion pandai sekali dalam hal merayu saat bersamaku... Tapi saat diluar kenapa seperti balok es yang tak mau meleleh. Batin Antia sembari tersenyum dan heran.
Sedangkan dengan Arion baru keluar dari kamar Antia. Arion hendak ke kamar sebelah Antia namun niatnya diurungkan. Dia memilih untuk mengecek keadaan dilantai bawah. Arion menuruni tangga dan mendapati Raka tengah menonton televisi sambil meminum kopi. Begitu melihat Arion datang. *Byurr* Raka menyemburkan kopinya dan menatap Arion.
"Ar kapan kau kemari?" Tanya Raka sambil mengelap bibirnya yang terasa panas. Arion duduk disofa berhadapan dengan Raka.
"Sekitar 2 jam yang lalu... Dan kau disini untuk apa? Seharusnya kau menghabiskan waktumu untuk berkencan dengan calonmu." Ucap Arion dengan nada santai. Raka meletakan cangkir kopi ke meja.
"Kencan?? hahaha kau lucu Ar... Kau tau kan pernikahan ini karena perjodohan dari ayah dan ibuku jika bukan Antia yang memintanya aku juga malas menyetujuinya." Ucap Raka sedikit kesal. Arion menyilangkan kakinya dengan salah satu kaki sebagai tumpuan.
"Tapi cepat atau lambat kau akan menerimanya. Berusahalah menerima jangan menolak." Ucap Arion.
Raka menghela napas panjang kemudian mengaggukan kepala. Saat itulah Andian kembali dan langsung melempar tas kantornya ke sembarang arah. Tampak Andian dengan wajah kesal dan marah. Wajah Andian berubah begitu melihat Arion.
Andian menghela napas panjang dan duduk disamping Raka.
"Kau Cavan Andian Anza kan? Atau kau kesurupan?" Tanya Raka menatap Andian dari atas sampai kebawah. Arion hanya menggelengkan kepala pelan mendapati sikap konyol Raka.
"Jika sikapmu berbeda maka penyebabnya pasti berbeda atau ada hubungannya dengan seorang gadis?" Tebak Arion. Andian langsung melempar bantal sofa pada Arion namun dengan gesit Arion menangkapnya.
"Makhluk bernama Arila itu mengusik pikiranku... Sungguh menyebalkan!!!" Kesal Andian. Arion mengerutkan keningnya heran sedangkan Raka tertawa terbahak bahak.
"Bhahahaha.....Seorang Cavan Andian Anza terusik oleh seorang gadis sungguh kejadian yang langka." Ucap Raka sembari tertawa.
"Diamlah!!! Kamu yang memilihnya menjadi asistenku kau tau tadi diaโ" Ucap Andian terjeda. Andian memalingkan wajahnya dan menghusap wajahnya kasar.
Sial kenapa aku malah seperti ini? Kau bodoh Andian sejak kapan kau menjadi bodoh seperti ini. Batin Andian membodoh bodohkan dirinya sendiri.
"Tadi apa?? Apakah tadi kalian berkencan atau kalian menjadi sepasang kekasih?" Goda Raka membuat Andian menutup mulut Raka dengan bantal sofa.
"Kalian tidak perlu tau. Dan kau Arion apa kau akan menginap disini?" Tanya Andian mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa? Cepat atau lambat adikmu akan bersamaku." Jawab Arion santai. Raka pun terbebas dari bungkaman Andian.
"Huff... Huff...Andian!!! Kau ingin membunuhku? Aku hampir kehabisan napas bisa bisa Cayra janda muda." Ucap Raka kesal. Andian mengangkat kedua bahunya.
"Salahmu menanyakan hal yang konyol. Bagaimana apa Antia akan berusaha menerimamu?" Tanya Andian. Arion menurunkan kakinya dan duduk tegap.
"Dia mulai menerimaku...Jika pun menolak aku hanya bisa melindunginya tanpa memiliknya dan itu yang membuatku resah." Jawab Arion dengan nada sedikit sedih.
"Tenanglah aku yakin Antia menerima mu... Aku sebagai kakaknya jujur baru pertama melihatnya begitu ceria dari biasanya...Dan itu semua berkat dirimu Ar." Ucap Andian. *Trriing!* Handphone Arion berbunyi.
"Aku angkat telepon dulu." Ucap Arion dan diangguki oleh Andian dan Raka.
๐
"Kuberi waktu 5 detik untuk menjelaskan." Ucap Arion dengan nada dingin.
"Maaf mengganggu Tuan muda, Anda harus segera ke markas sekarang ini mengenai nona Antia." Jawab Kean diseberang sana.
"Baiklah jemput aku sekarang." Ucap Arion.
"Baik Tuan Muda." Jawab Kean. *Tut* Telefon berakhir.
"Adapa Ar? Kenapa kau terlihat cemas?" Tanya Raka. Arion memasukan Handphone nya kedalam saku.
"Tidak ada....Aku harus pergi masih ada urusan yang perlu ku selesaikan." Jawab Arion berusaha tenang.
"Tapi Arion ini sudah malam." Ucap Raka sembari melihat arloji di tangannya. Arion berdiri dan memakai kardigen hitamnya.
"Malam atau pun siang jika menyangkut orang yang aku sayangi, Aku tidak akan diam." Jawab Arion sambil memakai sarung tangan hitam. Saat Andian hendak bertanya Kean datang.
"Mari Tuan Muda." Ucap Kean dengan hormat. Arion mengagguk dan berjalan mendahului Kean.
"Aku pergi dulu dan jaga Antia." Pamit Arion. Secara bersamaan Raka dan Andian mengagguk pelan. Beberapa saat setelah Arion pergi, Antia tampak menuruni tangga. Antia melihat sekeliling mencari seseorang.
"Emm... Kak dimana Kak Arion?" Tanya Antia tampak ragu. Raka tertawa kecil membuat kening Antia berkerut sempurna.
"Waah...Apa kau mulai menyukai Kak Arion mu itu?" Tanya Raka menggoda membuat pipi Antia merona.
"Ka...Kak Raka apaan sih cuman tanya juga." Jawab Antia dengan rona diwajahnya. Andian menggeleng wajah pelan dan menyenderkan tubuhnya.
"Tidak perlu berbohong... Ada rona dipipimu mungkin kau mulai menerimanya. Dan itu sangat bagus karena kerja keras Arion selama ini tidak sia sia." Ungkap Andian. Antia sedikit terkagum karena rupanya Arion begitu memperjuangkannya.
"Ini sudah malam aku mau tidur dulu selamat malam." Pamit Antia kemudian pergi. Andian dan Raka pun menjawabnya dengan agukan.
Di Markas
Arion dan Kean masuk kedalam penjara bawah tanah. Arion mendapati seseorang yang sudah terluka akibat cambukan. Arion menatap Kean meminta penjelasan.
"Tuan muda dialah orang yang membuat Tuan Glan tiada...Dan dia masih tutup mulut tidak mau mengatakan siapa yang ingin membunuh nona Antia." Jelas Kean. Tentu membuat tangan Arion mengepal sempurna menahan emosi. Arion mencengkram baju orang tersebut.
"Sudah lebih dari 5 tahun dan akhirnya aku menemukanmu...katakan siapa dalang semua ini atau kau akan menjadi salah satu dari mereka." Ancam Arion kemudian memperlihatkan beberapa mayat manusia yang tak berkulit dipaku pada balok kayu. Orang tersebut tentu ketakutan.
"Bagaimana? Masih tutup mulut juga?" Ucap Arion mengancam. Karena masih diam Arion meminta Kean mengeluarkan pisau tajam favoritnya. Orang tersebut masih diam membuat kesabaran Arion hilang.
"Baiklah aku tidak pernah mengingkari ucapanku... Kean!!! Kuliti dia hidup hidup dan paku dia pada balok kayu." Titah Arion dengan nada tinggi.
"Baik Tuan Muda." Jawab Kean sambil mengagguk hormat.
Arion dapat mendengar rintihan dari orang itu hingga suaranya perlahan menghilang. Arion menggegam erat tangannya karena masih belum tau siapa yang selama ini ingin membunuh Antia. Kean pun menghampiri tuannya begitu selesai melaksanakan tugas darinya.
"Tuan muda bagaimana dengan informasi dalang dibalik kejadian 5 tahun yang lalu?" Tanya Kean yang berdiri disamping Arion.
"Ku rasa mereka pembunuh bayaran, (Berbalik menatap Kean) Pembunuh bayaran akan memilih mati dibandingkan memberitau siapa yang memerintahnya. Terus cari rekan rekan mereka dan perketat keamanan Antia." Titah Arion sembari berbalik membelakangi Kean.
"Baik Tuan Muda akan saya laksanakan." Jawab Kean dengan hormat. Arion mengepal tangannya erat.
Siapapun yang ingin mengusik kebahagiaan ku dengan orang yang aku sayangi 1 orang pun tidak akan ku lepaskan. Batin Arion dengan wajah dingin. Arion pun masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan markas.
Merci pour votre soutien et votre visite Douces salutations de ma part๐๐