Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 67



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


Di Vila Tua


Antia perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa pusing dan sakit. Antia menatap kaki dan tangannya yang diikat kuat dengan tali. Bahkan mulutnya dibungkam dengan kain. Antia memandang sekitar yang tampak kotor gelap dan menyeramkan baginya.


Dimana ini??? Bukankah tadi aku. Batin Antia.


"Sudah sadar tuan putri??" Ucap seorang peria yang tidak lain Amar Surya.


Antia terus berusaha melepaskan diri. Membuat Amar tersenyum dan mendekat kearah Antia. Saat Amar akan menyentuh wajah Antia, dengan cepat Antia memalingkan wajahnya.


"Hahaha... Jadi kau adik kesayangan Andian?? Dan wanita yang paling dicintai Arion Anvert??? Sepertinya aku akan mendapat dua burung dengan satu peluru." Ucap Amar sembari tertawa layaknya orang gila.


Antia tidak mendengarkan semua ocehan Amar. Melihat hal itu membuat Amar geram, dia pun mencengkram dagu Antia kasar. Membuat Antia meringis kesakitan.


"Beraninya mengabaikanku?!!! Kau harus tau sifat kakak yang kau bangga banggakan itu, Kau tau gara gara kakak mu itu aku harus kehilangan adikku Vinara... Jika saja kakakmu tidak menolak adikku dan mau hidup bersamanya, mungkin aku tidak akan menyimpan dendam pada kakakmu... Tapi gara gara kakakmu menolak adikku...(Mencengkram dagu Antia lebih keras) Membuat adik kesayangan ku bunuh diri... Jadi, jika dia membuat ku kehilangan adik kesayangan ku... Maka aku juga akan membuat dia kehilangan adik kesayangannya!!!" Ucap Amar membentak membuat Antia ketakutan dan menangis.


"Hahaha.... Menangislah!!!! Terus menangis sampai kakakmu itu lihat bagaimana rasanya melihat adik kesayangannya tersiksa!!!" Ucap Amar sembari tertawa bahagia.


Saat itu tampak anak buah Amar mendekat dan membisikannya sesuatu. Amar pun bangkit dari posisinya dan beranjak pergi.


"Gadis cantik... Diam disini ya, aku akan segera kembali." Ucap Amar sembari tersenyum.


Antia terus berusaha melepaskan diri. Meskipun hasilnya masih sama. Antia masih terikat kuat dengan tali itu. Antia pun memandang langit langit Vila sembari meneteskan air matanya.


Kak Arion... Kakak tolong aku... Aku takut... Disini gelap dan kotor, aku takut... Hiks hiks... Batin Antia sembari menangis.


Di Vila Andian


Begitu mendapat telefon dari Kean, Andian langsung bersiap siap untuk pergi. Melihat wajah Andian cemas tentu membuat Arila ikut cemas.


"Andian ada apa??? Apa yang terjadi pada Antia??" Tanya Arila.


"Antia diculik... Aku harus segera menyelamatkannya... Aku memang kakak tidak berguna." Jawab Andian terduduk dilantai. Membuat Arila berjongkok dan memegang kedua bahu Andian.


"Jangan mengatakan hal itu lagi... Sekarang bukan saatnya menyalahkan dirimu... (Andian menatap Arila.) Keselamatan Antia lebih penting sekarang." Ucap Arila.


Sejenak Andian menatap Arila dalam. Andian langsung menarik Arila dan mencium bibirnya dalam. Setelah beberapa saat, Andian pun melepaskan ciumannya dan bangkit dari posisinya.


"Aku ikut ya??" Ucap Arila.


"Tidak... Kau tetap di Vila, keadaan sedang tidak aman... (Mencium kening Arila.) Jaga dirimu baik baik." Ucap Andian.


"Baiklah... Kau juga hati hati." Jawab Arila.


Andian pun mengagguk sembari tersenyum. Setelah itu, Andian pun masuk kedalam mobilnya dan perlahan meninggalkan Vila. Arila masih menatap mobil Andian sampai hilang dari pandangannya.


Semoga Andian baik baik saja. Batin Arila.


Tentu membuat Arila berlari masuk kedalam Vila. Sesampainya didapur, dia melihat Gian tergeletak tak sadarkan diri. Arila pun menepuk pipi Gian.


"Gian kau kenapa.... Gain....Emmm." Ucap Arila terbata lantaran seseorang membungkamnya dari belakang.


Arila hendak memberontak namun dia lebih dulu pinsan karena efek obat bius. Orang yang membungkam Arila pun menggendong Arila membawanya keluar Vila. Disamping itu, Andian merasa gelisah. Dia terus memikirkan Arila.


Ada apa ini?? Apa Arila baik baik saja?? Batin Andian.


Di Kediaman Anza


Arion bergegas masuk kedalam Vila Kediaman Anza. Tampak para pelayan tergeletak disana. Membuat Arion semakin cemas. Sampai di kamar pelayan terdengar teriakan Lyin.


"Ibu!!! Ibu di dalam?!!!" Teriak Arion.


"Arion, tolong ibu nak!! Suamiku terluka dan tak sadarkan diri!!!" Jawab Lyin didalam.


"Ibu mundur!!! Aku dobrak pintunya!!!" Teriak Arion.


Tanpa pikir panjang, Arion mendobrak pintunya. *Brakk!!!!* Pintu terbuka dan tampak Gio yang terluka tak sadarkan diri. Arion pun mendekati Lyin.


"Bu apa yang terjadi?!!!" Tanya Arion.


"Nak... Selamatkan Antia, Antia dalam bahaya... Ibu sangat khawatir... Penculik itu bahkan menyeret Antia sampai terluka." Jawab Lyin sembari menangis. Mendengar hal itu membuat Arion mengepalkan tangannya erat.


"Ibu serahkan Antia padaku... Sekarang ibu bawa ayah Gio ke rumah sakit. Aku akan menyelamatkan Antia." Ucap Arion. *Tring.* Handphone milik Arion berbunyi. Segera Arion membukanya. Tampak pesan dari nomor yang tidak dikenal.


New Number, Tuan muda Anvert datanglah bersama Tuan Andian ke Vila tua ujung kota... Cepatlah jika ingin calon istrimu ini selamat.


Arion pun mengepalkan tangannya. Saat itu tampak Andian datang. Saat itulah Arion langsung menarik tangannya untuk keluar.


"Ibu, Kean akan kemari... Ibu tunggu disini jangan kemana mana... Ayo Andian." Ucap Arion.


"Kemana?!!" Tanya Andian.


"Jangan banyak tanya!!!" Jawab Arion bentak.


Arion pun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sepanjang perjalan, Arion tidak memperdulikan kecepatan mobil yang dia kendarai. Yang dia pedulikan adalah keselamatan Antia.


Sedangkan saat Lyin menunggu Kean, Raka lebih dulu datang. Tampak dia berlari dan menghampiri Lyin.


"Raka... Selamatkan Antia... Arion dan Andian sedang menyusulnya. Bibi khawatir mereka kenapa kenapa." Ucap Lyin cemas.


"Bibi tenang ya... Sekarang kita bawa paman ke rumah sakit dulu... Aku akan menyusul mereka." Jawab Raka.


Lyin pun mengaggukan kepala. Raka pun menggendong Gio sampai kedalam mobilnya. Saat hendak pergi tampak mobil Kean memasuki Vila. Kean keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri Raka.


"Kean kau lacak Arion... Susul dia soal paman Gio serahkan padaku." Ucap Raka.


"Baiklah... Aku pergi dulu." Jawab Kean kemudian masuk kedalam mobilnya.


Setelah mobil Kean pergi, Raka pun melajukan mobilnya ke rumah sakit. Sejenak Raka memikirkan Antika yang menangis karena ditinggalkan olehnya begitu saja. Namun, dia berani mengambil resiko jika Antika marah padanya. Karena saat ini Raka mementingkan pamannya yang tidak sadarkan diri.