Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 26 Season 2



JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MBMB🥀...


Tengah Malam


Vila milik Avindra dikepung oleh beberapa anak buah Jovirzo. Mereka menembak kaca Vila dan sayangnya mereka tidak tau jika kaca itu anti peluru. Yang mana membuat anak buah Jovirzo menggedur pintu Vila kuat.


"Keluar kalian para b*adab!!!" Teriak Even.


Cklekk!


Pintu Vila terbuka. Dan dengan santainya Renafo meregangkan ototnya. Tanpa ragu salah satu anak buah Jovirzo mengarahkan pistolnya.


Dorrr!!!


"Wow meleset, kalian benar benar tidak sopan mengganggu orang tidur." Ucap Renafo sembari menggeleng gelengkan kepalanya.


"Tuan muda, dia tuan muda Anza putra bungsu dari Andian... Kakak ipar tuan Anvert." Jelasnya pada Claude. Tampak pria tua disampingnya tersenyum. Dia tidak lain Carlos Jovirzo. Sebelah Even tidak lain Fendi Fermansyah. Dan sebelah kiri Even tak lain Gan Kusuma.


NB: Yang bener Fendi ya, di eps sebelumnya adek kurang teliti okelah skip.😉


"Aaa, ternyata keluarga ku begitu terkenal... Ingin tanda tangan??" Tanya Renafo sembari menaik nurunkan alisnya.


Dorrr!


"Astaga, kalian ini mafia atau bukan?? Menembak saja terus meleset... (Mengeluarkan pistolnya.) Biar aku ajarkan." Ucap Renafo.


Dorrr!!! Dorrr!!! Dorrr!!!


Dengan tepat Renafo membidik dada 3 orang itu dan mereka mati seketika. Renafo pun bersembunyi dibalik tembok sembari menatap pistol pemberian Machel.


"Wah, keren juga ya... Kalo aku jadi mafia pasti banyak yang suka." Ucap Renafo lirih dengan penuh kekaguman.


Dorrr!! Dorrr!!!


"Haish, hanya ini kemampuan tuan Jovirzo??" Ucap Machel.


"Machel??" Ucap Even sembari mengerutkan keningnya.


"Ah aku lupa memberitau, Aku... Machel Orlando... Anak angkat Emilio Rachman, bagaimana kabarmu Fandi Fermansyah??" Ucap Machel.


Dorrr!!


Salah satu anak buah Jovirzo menembak Machel, dan sialnya meleset karena dengan gesit Machel menghindar.


Dorrr!! Dorrr!!!


Bukan Machel yang menembak, melainkan Serly. Wanita yang dikira polos, lugu dan penuh kasih sayang itu ternyata bisa berubah menjadi wanita mengerikan.


"Sese." Ucap Claude dan Even bersamaan.


"Berhenti... Jangan ada yang angkat senjata." Ucap Claude.


"Claud—"


"Ayah aku ingin bicara... (Menatap Serly.) Siapa kamu sebenarnya Serly??" Tanya Claude.


"Serly Elizabeth... Gadis yang pernah kau tahan dan bully itu sekarang berada tepat dihadapanmu." Jawab Serly.


"Hebat Serly... Jika kau bukan milik Machel, aku pasti jatuh cinta padamu." Ucap Renafo dan kembali menembaki serangga yang mengusiknya.


Jika bukan Machel yang menolong dan Rachman mengadopsinya mungkin saat ini Serly menjadi anak buah Jovirzo.


"Hahaha... (Tertawa hambar.) Sial hatiku sakit... Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada gadis yang ku siksa dulu?? (Mengeluarkan pistolnya.) Terima kasih sudah jujur, aku tidak ragu lagi untuk membunuh kalian—"


Dorrr!!! Dorrr!!! Dorrr!!!


Suara tembakan berturut turut dari Elliot Leon dan Reanzo. Sedangkan Rian membantu Machel untuk melindungi Serly. Dalam sekejap hanya enam orang tersisa.


"Wow, sedikit melelahkan... Apa kalian lelah??" Tanya Renafo pada keenam orang yang tak lain Even Claude Geandra dan ayah mereka.


"Rian ada apa denganmu??" Tanya Leon melihat Rian yang tampak ketakutan.


"Melihat mayat sebanyak ini... Terasa asing bagiku." Jawab Rian.


"Ayolah, hanya 15 orang kita kurang membunuh 6 orang lagi." Ucap Renafo sembari merangkul Rian.


"Kakak tidak takut??" Tanya Rian.


"Tentu saja sangat takut." Jawab Renafo menujukan wajah ketakutannya.


Brukhhhh!!


Reanzo memukul pelan lengan saudara kembarnya itu dan menatapnya tajam. Yang mana membuat Renafo terdiam. Dia sengaja bercanda guna mengurangi rasa ketakutannya.


"Sial!! Br*ngs*k!!" Ucap Carlos hendak bergerak namun...


Dorrr!!!


Kali ini bukan Renafo Machel maupun lainnya. Namun tembakan dari belakang yang tak lain dari Alan. Dengan Arion Andian dan Kean dibelakangnya. Jangan lupakan Zain, saat ini dia berada disamping Alan. Disusul para tentara dari helicopter yang perlahan turun dan mengepung keenam orang itu.


"Terdakwa Carlos Jovirzo mafia ilegal dan buronan dari Italia membantu terdakwa Fendi Fermansyah dan Gan Kusuma." Ucap Jendral tentara itu.


"Tangkap mereka, bukti sudah kami berikan bukan??" Ucap Arion.


"Terima kasih atas kerja samanya tuan Anvert." Ucap Jendral sembari mengulurkan tangannya dan keduanya berjabat tangan.


"Kalian hanya perlu menangkap mereka para koruptor... Untuk mafia ilegal ini, aku masih ada sedikit urusan." Ucap Alan sembari berjongkok menyamai tinggi Carlos yang tersungkur.


"Baiklah, kami pergi dulu... Kami harus menggusur kampus ilegal itu, sekali lagi terima kasih atas kerja samanya." Ucap sang Jendral kemudian pergi.


"Zain kau terlihat bugar setelah kehilangan putramu. Malang sekali." Ucap Fendi kemudian melewati Zain.


"Konglomerat b*ngs*t!!" Umpat Fendi pada Arion.


Sese, beraninya kau menyakiti ku... Tak akan aku biarkan kamu bahagia dengan orang lain. Ucap Even dalam hati sembari menatap wajah Serly.


"Ayah!! Bagaimana ayah bisa—"


"Berkat pemuda itu... Dia sahabatmu??" Tanya Andian.


"Yah... Hanya kami yang menganggapnya." Jawab Renafo.


"Papi." Ucap Rian sembari memeluk Zain. Zain tau jika Rian tidak seperti dirinya yang terbiasa melihat mayat berserakan.


"Haha, jika Arisa melihatmu begitu... Mungkin dia akan malu mengakuimu." Ejek Renafo membuat Rian mengecurutkan bibirnya.


"Dimana Avindra??" Tanya Arion.


"Yah Uncle... Sepertinya putramu sedang jatuh cinta... Dia meminta kami menjemputnya saat akan perobohan kampus itu." Jawab Renafo.


"Apa maksudmu??" Tanya Andian.


"Maksudku... Sudahlah, biar Avindra yang menjelaskan nantinya... Kita lihat apa yang Alan lakukan pada dua mafia itu." Jawab Renafo. Kini mereka memperhatikan dan mendengarkan apa yang terjadi.


"Alan—"


"Kau salah... Dia A.rc." Ucap Machel sembari mendekat. Yang mana membuat Claude menatapnya.


"Sudah ku duga... Mafia br*ngs*k!" Umpat Claude.


"Ayah dia bicara apa???" Tanya Rian.


(Anggap aja Alan bicara bahasa Italia ya, wkwkwk.)


"Bahasa Italia." Jawab Zain.


Sepertinya Alan sengaja menggunakan bahasa Italia agar tidak semua orang tau. Batin Elliot. Elliot jelas tau bahasa itu, karena dia dan Avindra menguasai setidaknya 6 bahasa.


"Membunuh kakakku... Bukan saja kejam... Tapi b*doh dan tidak menyayangi hidup." Ucap Alan. Carlos menatap mata Alan yang memerah penuh amarah dan kesedihan.


"A.rc maksudmu—"


"Mungkin jika Rachman mudah di bunuh... Kau akan membunuhnya lebih dulu." Ucap Alan menarik tangan Carlos dan....


Krakkkk!!!


"Ayah!!!" Pekik Claude.


Rachman?? Tidak... Tidak mungkin Emilio kan?? Batin Zain.


"Jadi dialah mafia muda yang paling berbahaya... Yang pernah aku cari selama ini, tak kusangka muncul dengan sendirinya." Ucap Arion.


"Apa??" Ucap Reanzo dan lainnya penuh keterkejutan yang luar biasa.


"Lalu kenapa mereka tidak menangkap Alan??—"


"Tidak semua mafia mudah ditangkap Rian... Selama kekuasaan mereka tinggi, akan sangat sulit menangkapnya." Jelas Zain membuat Rian terdiam.


"Apakah sakit??? Lebih sakit kakakku yang telah kau bunuh!!!"


Krakkkk!!!


"Arghhhhh!!!" Pekik Carlos kesakitan.


Klakkkk!!!


Carlos berkeriangat dingin saat pistol milik Alan tepat di keningnya. Kemudian berpindah kedadanya.


"Dua titik ini sangat mudah untuk dikenai... Jika bertemu kakakku disana, katakan padanya aku bukan adiknya karena dia telah meninggalkan ku." Ucap Alan.


Dorrr!!!


"Ayah!!!!!!!!" Teriak Claude.


Plakkk!!!


Serly menampar Claude. Dia yang emosi melampiaskannya pada Claude.


"Diam kamu!!! Anak pembunuh!!! Jangan pernah muncul lagi dihadapanku!!! Jangan pernah—"


"Serly tenang—"


"Dia membunuh kak Javas Machel... Dia membunuhnya... Hiks, hiks!!!" Ucap Serly sembari menangis. Machel pun memeluknya guna menenangkan.


"Perlu bantuan A.rc??" Tanya Zain. Yang mana membuat Alan berdiri dan menatap Zain.


"Anak buah ku akan datang dan membereskan ini... Jangan khawatir." Jawab Alan.


Beberapa saat kemudian anak buah Alan datang dan menahan Claude. Sedangkan makam Carlos tetap dikubur dengan layak. Arion memanggil beberapa pelayan untuk membersihkan bekas darah yang menyebar dihalaman. Kini mereka berkumpul di ruang utama vila.


"Astaga anak itu membuat ku gila!!! Jika aku kembali tanpa dia, dua singa betina itu akan memakanku hidup hidup." Ucap Arion.


"Kau mengatai adikku singa??" Ucap Andian sembari memincingkan matanya.


"Ah sudahlah." Ucap Arion sembari duduk di sofa.


Arion meminum anggurnya kemudian menatap Alan yang berdiri sembari melihat pemandangan luar dari kaca besar. Tampak Zain menuangkan anggurnya kedalam dua gelas dan membawanya mendekati Alan. Begitu berdiri disampingnya, Zain menyondorkan salah satu gelas anggurnya.


"Untukmu." Ucap Zain. Alan pun menerimanya dan meminumnya sedikit.


"Kadang kehidupan memberikan surga... Kadang juga neraka... (Alan menatap Zain.) Dan aku tebak anak berbakat sepertimu baru mengalami neraka dunia." Ucap Zain.


"Kau sepertinya seorang mafia." Ucap Alan singkat kemudian meminum anggurnya.


"Heh... (Tersenyum hambar.) Aku hanya mafia p*ng*cut yang membuat putraku pergi jauh." Jawab Zain membuat Alan terdiam.


"Kau terdengar menyesalinya... Penyesalan hanya membuat manusia diambang kehancuran." Ucap Alan. Tampak Zain terkekeh mendengarnya.


"Kau salah A.rc... Penyesalan hanyalah rasa dimana keterlambatan kita untuk menyadari kesalahan yang telah diperbuat... Dan aku merasakan itu."


"Kenapa kau menceritakannya padaku?" Ucap Alan tanpa menatapnya.


"Entahlah." Jawab Zain. Suasana hening sampai Reanzo datang menghampiri.


"Setelah ini kau kembali ke Italia??" Tanya Reanzo.


"Aku akan kembali saat penggusuran kampus itu selesai." Ucap Alan sembari meletakan gelasnya.


Grep!!


Reanzo memegang tangan Alan yang memakai souvenir. Elliot yang kenal betul dengan souvenir itu pun bangkit dari duduknya.



(Souvenir Alan👆🏻)


"Kau... Kau pria yang menyelamatkan Arisa waktu itu??" Tanya Reanzo membuat Arion mendekat.


Aku lupa melepaskannya, sial! Umpat Alan.


"Iya, Alan yang menyelamatkan putri bungsu Anvert... Dia juga yang membiayai rumah sakit waktu itu." Jawab Machel dan mendapatkan tatapan tajam dari Alan.


"Jadi dia saingan baru kita." Ucap Leon dan Rian bersamaan.


"Apa itu benar??" Tanya Arion. Alan melepaskan cengkraman tangan Reanzo.


"Lain kali ajarkan putri anda untuk melihat kanan kiri sebelum menyebrang." Ucap Alan.


Arion memeluk Alan, dia sungguh berterima kasih pada Alan. Sangat berterima kasih.


"Terima kasih... Meskipun kau pria dingin, tapi kau tetap pria yang menyelamatkan putriku." Ucap Arion. Yang mana membuat Alan terdiam. Pelukan itu mengingatkannya pada Rachman. Namun dia segera mengenyahkan pikirannya karena Rachman belum memberitau siapa ayah dan ibu kandungnya.


"Aku mengerti." Jawab Alan kemudian pergi ke kamarnya.


"Maaf paman, saudara ku itu memang begitu... Dia sulit berinteraksi pada sekitar." Ucap Machel.


"Tidak masalah, aku paham diposisinya... Aku ikut berdua pada kalian, kelak jika aku ke Roma... Aku akan mengunjungi makam kakak kalian." Jawab Arion.


"Terima kasih." Ucap Machel.


"Antar aku ke kamar." Ucap Serly. Machel menganggukan kepalanya dan mengantar Serly ke kamarnya.


"Zain dia sepertinya mudah berinteraksi padamu... Rian jangan jangan ayahmu punya simpanan." Ucap Arion bercanda.


"Hey Arion kau pikir aku tidak setia pada istriku... Itu karena kami para mafia mengerti apa yang dialami satu sama lain." Jawab Zain.


"Tapi ini berbeda, kau terlihat seperti seorang ayah yang menasihati putranya." Ucap Kean dan diangguki setuju oleh Arion.


"Itu hanya perasaan kalian saja." Ucap Zain.


Melihat A.rc... Mengingatkan ku pada Anazo, dia pasti sudah sebesar dia jika masih hidup. Ucap Zain dalam hati.


"Sinbet... Jangan cengeng gitu deh, ketahuan Alan aku yang diomelin." Ucap Machel karena Serly tak henti hentinya menangis. Dia ingat betul saat Javas menyuapinya dengan penuh kasih sayang. Javas adalah sosok ayah kedua bagi Serly.


"Kenapa harus kak Javas yang pergi... Kenapa?? Aku belum sempat melihatnya untuk yang terakhir kali... Aku benci tuan Jovirzo... Sangat membencinya!" Ucap Serly. Yang mana membuat Machel memegang wajah Serly dengan kedua tangannya. Dia menghapus air mata Serly dengan kedua jempolnya.


"Udah... Diem dengerin aku... Mau menangis darah pun, kakak tidak akan pernah kembali... Mungkin ini takdirnya untuk meninggalkan kita... Kita berdoa saja semoga kakak bisa tenang dialam sana... Terlebih, A.rc sudah memanggilnya kakak." Ucap Machel. Yang mana membuat Serly terdiam menatap Machel dengan tatapan kosong.


Cup.


Machel mencium bibir Serly dalam. Yang mana membuat Serly memejamkan matanya mengikuti permainan Machel. Sampai Serly hampir kehabisan napas, saat itulah Machel melepaskan ciumannya.


"Aku cinta sama kamu... Serly." Ucap Machel membuat detak jantung Serly berpicu sangat cepat.


"Ap... Apa?? Sejak kapan??" Tanya Serly tergagap. Kalimat yang Serly tunggu selama ini akhirnya dia dengar.


"Sejak kamu, diadopsi tuan Rachman... Aku mencintaimu, apa kau mau menikah denganku??" Ucap Machel penuh ketulusan dan kasih sayang. Membuat Serly memalingkan wajahnya tak percaya.


"Berikan aku waktu—"


"Tidak masalah, aku akan memberimu waktu sampai kamu benar benar mencintaiku." Ucap Machel. Serly pun membalas pelukan Machel.


"Terima kasih." Ucap Serly. Tanpa mereka sadari, seseorang melihatnya dan tersenyum. Orang itu tak lain Alan yang mengintipnya saat mendengar isakan tangisan Serly.


Akhirnya kalian bersatu. Batin Alan.