
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Di Vila
Pemindahan Arisa dirawat di Vila berjalan dengan lancar. Mengingat kejadian tadi pagi membuat Arion waspada dan memerintahkan beberapa anak buahnya berjaga. Dan masalah lain muncul. Saat ini Arisa merengek pada Avindra untuk tidak pergi. Bagaimana bisa Avindra pergi saat dia baru 3 hari dirumah?? Tentu saja Arisa tidak mau ditinggalkan oleh kakaknya.
"Kakak jangan pergi.... Yah?? Arisa nggak mau ditinggal kakak." Ucap Arisa memohon.
"Hey ayolah, kakak masih di Indonesia... Tidak keluar negeri.... Kakak pasti akan sering pulang, Ya... Ingat minum obat teratur dan jangan nakal, nurut sama bunda dan ayah." Jawab Avindra sembari memberikan cubitan di hidung Arisa. Dan saat Avindra beranjak pergi, Arisa menggenggam tangan Avindra.
"Hiks.... Hiks... Kenapa kakak mau pergi?? Kakak nggak sayang lagi sama Arisa???" Ucap Arisa sembari menangis. Tentu membuat Avindra merasa sakit melihat adiknya menangis.
"Kakak sangat sayang padamu... (Menghusap air mata Arisa.) Itu sebabnya kakak harus melanjutkan pendidikan kakak agar membuatmu bangga... Kakak berjanji akan pulang saat kamu ulang tahun... Dan kita bermain kembang api bersama ya." Bujuk Avindra. Tampak Arisa terdiam menatap sang kakak.
"Dan kakak berjanji akan menemukan kakak penyelamatmu... Bagaimana???" Timpal Avindra.
"Ulang tahun ku masih 7 bulan lagi... Kakak berjanji akan pulang saat aku ulang tahun??? Dan membawa kakak penyelamat???" Tanya Arisa. Avindra pun tersenyum dan menujukan jari kelingkingnya.
"Kakak berjanji." Ucap Avindra. Arisa pun meraih jari kelingking kakaknya dengan kelingkingnya.
Cup.
Avindra memberikan ciuman pada kening adiknya. Avindra pun pergi mempersiapkan diri untuk ke Vila sore ini. Antia pun mendekati putrinya yang masih terdiam.
"Kakakmu sudah berjanji, jadi kamu mau makan kan??" Tanya Antia.
"Kenapa kakak harus dewasa bund, aku ingin seperti dulu bermain dan selalu bersama kakak... Kenapa kakak harus pergi???" Jawab Arisa. Antia pun memegang tangan Arisa membuat Arisa menatap sang ibu.
"Kamu tau bagaimana hubungan bunda dan paman Andian kan?? (Arisa menganggukan kepalanya.) Bunda dulu sama sepertimu, jahil, nakal, dan keras kepala... Dan bunda tidak sepertimu... Katakan apa bunda dan ayah pernah tidak menyayangi kamu dan memberikan apa yang kamu mau??" Ucap Antia.
"Tidak, bunda dan ayah selalu menuruti kemauan Arisa." Jawab Arisa.
"Jadi makannya... Biar bunda suapi." Ucap Antia. Arisa pun tersenyum dan menerima suapan pertama dari ibunya.
"Sayang, Sista Lukas dan Leon datang menjenguk." Ucap Arion begitu masuk bersama dengan Sista Lukas dan Leon.
"Hallo Arisa, bagaimana keadaanmu??" Tanya Leon begitu mendekat.
"Sudah membaik kak, ah iya Lista sekolah ya??" Jawab Arisa kembali bertanya.
"Iya, mungkin nanti siang dia kemari." Ucap Leon. Saat itu perhatian mereka teralih pada Sista yang mengomel pada Arion.
"Kau ini ayah bagaimana?? Lihat anakmu terluka seharusnya••" Bla, bla, bla Sista terlalu banyak bicara.
Leon menepuk keningnya sendiri. Inilah alasan kenapa Leon tidak memberitaukan keadaan Arisa pada ibunya. Sedangkan Lukas tampak tidak bisa bicara mengingat sang istri dalam mode cerewet. Antia memberikan mangkuknya pada Leon.
"Suapi Arisa, mereka berdua memang tidak kenal umur." Ucap Antia yang akan memisahkan sahabat dan suaminya itu. Leon pun duduk dan menyuapi Arisa. Namun, Arisa menceghat.
"Biar Arisa makan sendiri kak." Ucap Arisa.
"Tidak apa apa, ayo buka mulutmu." Ucap Leon. Dengan tersenyum, Arisa menerima suapan dari Leon.
"Kamu pasti menangis karena Avindra akan pergi." Ucap Leon membuat Arisa terkejut.
"Bagaimana kakak tau??" Tanya Arisa. Leon menyuapi Arisa sebelum akhirnya menjawab.
"Matamu basah, dan pasti karena Avindra akan pergi kuliah... Secara dia baru pulang 3 hari yang lalu." Jawab Leon. Meskipun dia diam diam menyukai Arisa, tidak bisa dipungkiri kalau Leon lebih pengertian pada Arisa dibandingkan dengan Rian.
"Kakak bisa berjanji satu hal pada ku??" Tanya Arisa.
"Katakan." Jawab Leon.
"Kakak janji akan jaga kakakku sampai dia pulang... Bisa kakak berjanji hal itu??" Tanya Arisa. Leon tersenyum dan menghusap puncak kepala Arisa.
"Tentu saja." Jawab Leon. Dan jawaban itu membuat Arisa tersenyum.
"Sudah selesai kan ceramahnya???" Ucap Antia membuat Sista menatap Arion jengah. Jika terjadi sesuatu pada Arisa dan Antia, Sista selalu menceramahi Arion layaknya guru BP. Sista pun mendekat ke arah Arisa dan Leon.
"Lihat Arisa, ayahmu tidak berdaya saat tante memarahinya... Tenang, jika terjadi sesuatu padamu dan bundamu... Tante tidak tinggal diam." Ucap Sista.
"Terima kasih tante." Jawab Arisa sembari tersenyum.