
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘
I LOVE YOU READERS😙💕
...🥀MBMB🥀...
Keesokan Harinya
Pagi pagi seusai jogging, Avindra langsung pergi bersama dengan Elliot. Dia benar benar akan mengukapkan identitas sebenarnya pada Alita dan menikahinya. Bahkan Avindra tak sempat sarapan yang mana membuat Antia ceramah pagi pagi pada sang suami.
"Lihat putramu itu, lengannya masih terluka tetap saja nekat mencari gadis itu." Ucap Antia sembari menata piring diatas meja.
"Sayang itu artinya Avindra benar benar serius padanya... Sama seperti aku ke kamu sayang." Ucap Arion sembari memeluk istrinya dari belakang.
"Serius apanya?!! Anak itu biasa memainkan hati wanita... Awas saja jika tidak serius, aku akan menyeretnya ke KUA dan menikahkan dia dengan gadis itu... Panggil Arisa, kenapa dia belum bangun sampai sekarang!" Jawab Antia dengan nada kesal. Arion mencium pipi istrinya sebelum akhirnya menuju ke kamar putri kesayangannya.
Ting!!
Arion menekan tombol bel yang tersedia disamping pintu Arisa.
"Sayang... (Membuka pintu.) Tumben tidak dikunci... Astghafirullahalazim Arisa!!!" Pekik Arion saat melihat putri kesayangannya itu tergeletak dilantai tepatnya didepan kamar mandi. Arion menggendong Arisa dan membaringkannya diatas ranjang.
"Sayang!!! Sayang!!! Arisa... Tubuhnya panas sekali." Lirih Arion sembari menyentuh kening putrinya.
"Mas— Arisa!!! Arisa sayang... Mas dia kenapa?? Kok tiba tiba begini?? Panggil dokter cepat!!! Sayang...." Ucap Antia sembari membelai wajah pucat putrinya. Sedangkan Arion memerintahkan pelayan untuk memanggil dokter.
"Sayang... Kenapa dokternya lama sekali?!!" Kesal Antia.
"Sabar sayang, dokter sedang menuju kemari." Ucap Arion menenangkan istrinya.
"Tadi Arisa ngapain mas?? Kok bisa gini??" Tanya Antia dengan wajah penuh kecemasan.
"Aku juga nggak tau sayang... Arisa tergeletak disana, dia sepertinya pinsan." Jawab Arion.
Beberapa saat menunggu, akhirnya sang dokter datang. Dia pun memeriksa Arisa. Sedangkan Antia hanya bisa melihatnya penuh kecemasan.
.
.
.
"Tidak. Sampai kapan pun aku tidak biarkan kamu bebas begitu saja. Beritau aku siapa orang tuaku baru kau bisa ikut para Interpol itu." Ucap Alan menatap tajam Emilio. Emilio tersenyum.
"RC mafia buronan sejak 30 tahun lalu... Sepertinya ada yang mengambil foto korban yang telah kita bunuh dan memberikan bukti bukti pada Interpol... Aku hanya dipenjara, tidak akan mati... Jika aku mati pun, aku memiliki cara memberitaukan hal itu dengan istimewa." Ucap Emilio. Alan menarik kerah baju Emilio dan menatapnya dalam.
"Katakan kebenarannya jika ingin tetap hidup!" Ucap Alan.
Gubrakkk!!!
Para Interpol datang dengan membawa senjata dan mengepung Alan juga Emilio. Alan melepaskan cengkramannya.
"Emilio, serahkan diri anda... Ikutlah kami." Ucap salah satu Interpol. Emilio menganggukan kepalanya menyerahkan kedua tangannya sebelum akhirnya dibrogol.
"Izinkan aku bicara dengannya... Tenang, aku tidak ada tenaga untuk kabur." Ucap Emilio. Dia pun berjalan mendekat dan menatap Alan.
"Kau bisa menghubungi Luhan jika ingin tau siapa orang tuamu... Membunuh tanpa merasa berdosa." Ucap Emilio kemudian pergi bersama Interpol. Setelah Emilio pergi, Alan mengeluarkan ponselnya menelfon salah satu rekannya itu.
📞
“A.rc??”
“Katakan, apa yang Rachman berikan padamu??” Tanya Alan tanpa basa basi.
“Sebuah surat, kau akan kesini atau—”
“Kirim saja kesini, aku menetap di Indonesia mengembangkan bisnisku disini... Untuk RC, aku serahkan padamu dan Fenio.” Ucap Alan.
“Baik A.rc!”
Tut.
Setelah menelfon Luhan, tampak Alan mengirimkan pesan pada Machel.
(Machel)💬
^^^Umumkan identitasku ke media sekarang! ^^^
Machel: Hah?? Kau tidak bercanda kan??
^^^Umumkan saja, ini perintahku! Dan buat janji pada Tuan Anvert.^^^
Machel: Baiklah.
Setelah itu, Alan tampak keluar dari Vila Emilio dan mengendarai mobilnya menuju ke perusahaannya.
Avindra sedikit kecewa saat Alita ternyata sudah pindah dari rumah kayu itu. Yang mana membuat Avindra singgah ke sebuah restoran untuk sarapan.
"Kau bilang dia sebatang kara, lalu kemana dia pergi??" Tanya Elliot sembari menatap Avindra.
"Dia tidak akan jauh dariku." Jawab Avindra membuat Elliot menggelengkan kepalanya pelan.
"Makan yang benar... Ku dengar semalam Alan memarahi Leon dan Rian." Ucap Elliot.
"Mereka berdua sudah sejak lama menyukai Arisa... Lalu Arisa menyukai pria lain tentu saja menganggapnya sebagai saingan... Dan sialnya, Alan tidak peka... Adikku pasti sedih." Ucap Avindra kemudian kembali memakan makanannya.
"Sudah ku duga." Ucap Elliot sembari melihat sekeliling. Dan dia membelakan matanya saat melihat sosok wanita yang Avindra cari.
"Avindra bukankah dia—" Ucap Elliot sembari menujuk. Avindra bangkit dari duduknya, dan pergi setelah minum.
"Bayarkan itu!" Titah Avindra membuat Elliot menggelengkan kepalanya pelan.
"Alita!!" Panggil Avindra. Yang mana membuat Alita menoleh.
"Kakak?! Wah, baru semalam kakak pergi kita bertemu lagi." Ucap Alita sembari tersenyum.
"Emm iya... Aku merindukanmu jadi mencarimu... Kenapa kamu bisa disini??" Tanya Avindra.
"Mencari pekerjaan, dan kakak sendiri??" Jawab Alita kembali bertanya.
"Mencarimu." Ucap Avindra membuat Alita tertawa kecil.
"Untuk apa kakak mencariku??" Tanya Alita.
"Karena—"
"Apakah anda tuan muda Anvert??" Ucap menejer restoran. Yang mana membuat Alita terkejut.
"Aa... Iya ada apa??" Tanya Avindra.
"Wanita ini melamar pekerjaan, dan sepertinya anda dekat perlu dia terima bekerja disini??" Ucapnya.
"Aku akan menjawabnya nanti... (Alita berlari.) Alita!!!" Panggil Avindra sembari mengejar Alita. Menejer restoran pun berjalan mendekat ke arah Elliot.
"Terima kasih bantuanmu." Ucap Elliot.
"Sama sama tuan, saya kembali bekerja." Jawabnya kemudian pergi.
Kamu terlalu berbelit belit Avindra... Maaf aku harus membantumu. Batin Elliot.
"Lepaskan aku!!" Pekik Alita saat Avindra memeluknya dari belakang. Avindra membalikan tubuh Alita.
"Dengarkan penjelasanku Alita!" Ucap Avindra.
"Ak... Aku tidak mengenalmu, biarkan aku pergi." Ucap Alita memohon. Avindra tak tinggal diam, dia memanggul tubuh Alita layaknya karung beras. Alita terus menolak namun tetap saja, tenaganya kalah telak dengan Avindra.
"Elliot buka pintunya!" Titah Avindra. Elliot pun berjalan mendekat membukakan pintu mobil untuk Avindra. Setelahnya dia pun menutupnya dan beralih ke kursi depan untuk menyetir.
"Aku mau pergi!! Aku tidak mengenalmu!! Aku tidak mengenalmu!!" Ucap Alita sembari menangis. Avindra menangkup wajah Alita dengan kedua tangannya.
"Jangan katakan itu lagi, dan berhentilah menangis... Aku akan membuatmu bahagia melebihi adikku... Aku janji... Menikahlah denganku." Ucap Avindra namun direspon gelengan kuat oleh Alita.
"Aku ingin pergi... Aku tidak mau menikah!" Ucap Alita berusaha membuka pintu mobil. Namun usahanya sia sia karena Elliot telah menguncinya. Dia menatap Avindra yang mendekat dan memojokannya.
"Tapi aku mau menikahimu... Alita... Kau sudah masuk dalam hidup ku jadi jangan pernah berniat untuk lari dariku... Satu satunya jalan adalah hidup denganku sebagai istri dan ibu dari anak anakku nantinya." Ucap Avindra. Lagi lagi Alita menggelengkan kepalanya kuat.
"Aku mencintaimu Alita." Ucap Arion. Alita terus menggelengkan kepalanya kuat dengan air mata menetes. Geram. Avindra langsung menarik tengkuk Alita dan mencium bibirnya dengan sangat rakus.
Krakkkk!
Elliot membalikan spionnya agar tidak bisa melihat adegan yang tidak seharusnya. Alita terus menolak sembari memukuli dada Avindra. Namun Avindra tetap saja tidak bergeming. Dia justru semakin memperdalam ciumannya. Beberapa saat kemudian, Avindra melepaskan ciumannya dan memeluk Alita.
"Jangan pergi dariku Alita... Aku mohon." Ucap Avindra. Alita terdiam, dia takut jika nyawanya terancam. Namun, disisi lain Alita tau jika Avindra adalah pria yang baik. Avindra melepaskan pelukannya dan menatap Alita. Suasana hening.
"Bunda ingin menemuimu, dia akan menjelaskan semuanya padamu." Ucap Avindra.
"Aku tidak akan mati kan??" Cicit Alita.
"Tidak terluka sedikit pun... Bahkan hanya goresan sedikit saja tidak akan." Ucap Avindra meyakinkan Alita.
Alita hanya terdiam dan menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil. Hingga beberapa saat kemudian, Alita tertidur yang mana membuat Avindra tersenyum menatapnya. Perlahan dia menidurkan Alita dipangkuannya.
"Dia masih hidup??"
"Aku akan membunuhmu jika menanyakan hal itu lagi Elliot." Ancam Avindra.
"Kenapa dia sangat takut pada keluarga Anvert??" Tanya Elliot.
"Dia takut akan di bunuh oleh seseorang jika memiliki hubungan dengan keluargaku Ell, sangat polos bukan." Jawab Avindra sembari membelai wajah Alita dan menyibak poninya. Setelahnya, Avindra memberikan ciuman singkat pada kening Alita.