Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 58



Hallo semua sapa dari Author🤗.


Alhamdulilah Author sudah sembuh nih, terima kasih ya yang udah doain author biar cepet sembuh. Dan Author berdoa semoga kalian sehat selalu ya... Selamat membaca ya para pembaca setia Author🤗☺💕❤.


Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


Antia tidak merespon Arion dan memilih untuk kembali tidur membelakangi tubuh Arion. Arion tersenyum dan mendekati Antia. Dia pun mencubit pipi kanan Antia.


"Sayang bangun.... Bentar lagi waktu makan malam." Ucap Arion.


"Emh... Nanti aja kak.... Antia masih ngantuk." Ucap Antia masih memejamkan matanya dan menarik selimut sampai sebatas lehernya.


"Kamu bilang mau pulang sehabis makan malam." Ucap Arion lembut.


Antia membuka matanya dan bangun dari tidurnya. Dia pun duduk dibibir ranjang dengan wajah kesal. Antia pun bangkit dari duduknya hendak ke kamar mandi. Sadar Antia kesal, Arion memeluk tubuh Antia dari belakang.


"Kamu marah sayang??" Tanya Arion.


"Nggak, lepasin kak Antia mau cuci muka. Katanya suruh pulang." Jawab Antia sembari memanyunkan bibirnya.


"Aku nggak suruh kamu pulang sayang... Tapi, bentar lagi waktu makan malam... Kalo kamu nggak makan nanti sakit gimana??" Ucap Arion sehalus mungkin.


"Makan malam?? Emang udah jam berapa kak??" Tanya Antia. Arion memandang jam dinding dikamarnya.


"Jam 8 malam... Kamu pikir jam berapa??" Jawab Arion. Antia melepas pelukannya dan menatap Arion tajam.


"Kenapa kakak nggak bangunin aku dari tadi??" Tanya Antia tampak kesal.


"Nggak tega bangunin kamu... Ya udah cuci muka sana, habis itu makan malam gih." Jawab Arion.


"Kak aku nginep disini ya??" Ucap Antia memohon. Arion menghela napas dan membelai pipi Antia.


"Kita belum menikah sayang akan tidak baik jika tidur bersama." Jawab Arion.


"Tapi sebelum sebelumnya boleh?? Kok sekarang nggak sih??" Tanya Antia.


"Karena nanti mama sama papa kamu khawatir aku ngapa ngapain kamu. Dan sebelumnya kan mama sama papa kamu nggak tau, cuman Andian yang tau." Jawab Arion.


"Iya juga sih... Jadi, kapan lagi dong??" Ucap Antia kemudian bertanya.


"Kalo kita nikah." Jawab Arion membuat Antia merona.


"Apaan sih kak." Ucap Antia memalingkan wajahnya. Arion pun gemas, dan mencium keningnya.


"Udah...udah sana cuci muka dulu... Aku keluar dulu ya." Ucap Arion setelah mencium kening Antia.


Antia masuk kedalam kamar mandi sedangkan Arion keluar dari kamarnya. Di dalam kamar mandi, Antia tersenyum senyum sendiri tidak menyangka waktu berlalu begitu cepat.


Nggak nyangka waktu berlalu begitu cepat... Dulu aku sempet punya niatan buat nolak kak Arion saat lulus... Tapi begitu lulus kenapa aku justru nggak sabar buat nikah sama kak Arion... Dan itu karena aku sudah mencintainya... Jadi, seperti ini rasanya dijodohkan oleh kakakku... Tidak seburuk yang ku duga. Batin Antia sambil tersenyum.


Sedangkan dengan Andian.


Andian membuka matanya perlahan dan melihat Arila yang tidur di pelukannya dengan lengan kekarnya sebagai bantalan. Andian tersenyum dan menyelipkan rambut Arila.


Tampak wajah lelah Arila tertidur pulas tanpa terganggu dengan pergerakan Andian. Kening Arila tampak berkeringat membuat Andian semakin melebarkan senyumannya.


Kamu pasti kelelahan... Tapi itu tidak masalah, sekarang dan seterusnya kau milik ku seutuhnya. Batin Andian.


Andian di buat gemas saat Arila mulai merespon begitu Andian mencubit hidungnya. Andian terus mengganggu Arila dari mencubit hidung pipi dan berkali kali mencium punggung tangan Arila.


Merasa terganggu akhirnya Arila membuka matanya perlahan. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah tampan Andian. Andian tersenyum dimana membuat Arila merona dan menundukan wajahnya.


Seketika dia sadar jika dirinya hanya berbalut selimut. Andian menarik dagu Arila agar menatapnya.


"Sekarang dan seterusnya kau milik ku seutuhnya... Jadi jangan membahas perceraian itu lagi karena hal itu tidak akan pernah terjadi." Ucap Andian.


"Aku mengerti." Jawab Arila dan berusaha bangkit dari posisinya.


"Kau mau kemana?? Biar ku bantu." Ucap Andian.


"Aku... Aku hanya ingin mandi saja." Jawab Arila.


"Mandi?? Bagaimana jika kita mandi bersama??" Goda Andian membuat Arila risih.


"Tidak... Tidak aku mandi dulu baru kau." Ucap Arila dengan sekuat tenaga menuju ke kamar mandi. Andian hanya terkekeh melihat sikap Arila.


Andian pun bangkit dari posisinya dan langsung menyambar pakaian dari lemari kemudian menuju ke walk in closet. Sedangkan Arila di dalam kamar mandi dia duduk di bath up dengan pikiran fokus pada kejadian sebelumnya.


Dia sangat jahat, apa dia tidak meminta maaf dulu padaku sebelum tersenyum padaku?? Tubuh ku serasa hancur berkeping keping tapi dia seolah tidak memiliki salah padaku. Batin Arila kesal.


Beberapa saat kemudian. Arila keluar dengan piyama tidurnya. Arila melihat sekeliling dan tidak dapat menemukan Andian.


Kemana tameng es itu pergi?? Batin Arila bertanya tanya.


Arila menuju ke meja rias dan duduk didepannya. Arila mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Setelah itu, Arila pun keluar dari kamarnya dan menuruni tangga dengan langkah sedikit tertatih.


Arila melihat Andian yang sedang berkutat didapur tanpa bantuan dari pelayan. Arila pun mendekati Andian.


"Memang kau bisa memasak??" Tanya Arila tampak ragu.


Karena sejak Arila menikah dengan Andian, dia tidak pernah melihat Andian memasak. Andian menatap Arila sekilas dan tersenyum.


"Kau meragukanku??" Ucap Andian.


Arila duduk dikursi perlahan sebelum akhirnya menatap Andian.


"Sedikit, karena aku tidak pernah melihatmu memasak." Jawab Arila.


"Kau bisa bertanya pada adikku sesering apa aku melakukan hal ini." Ucap Andian.


"Memang kau dan Antia sudah berapa lama tinggal di Vila??" Tanya Arila.


Andian menghentikan kegiatannya, membuat Arila menatap Andian penuh tanya.


"Sudah 4 tahun." Jawab Andian singkat.


Melihat reaksi Andian membuat Arila diam. Andian menyajikan makanan yang sudah dia buat untuk Arila. Arila tampak ragu untuk memakannya. Membuat Andian terkekeh.


"Makanlah, aku tidak mencampur racun pada makananmu." Ucap Andian.


Arila mulai memakan makanannya. Mata Arila terbelak saat rasa masakan Andian sangat enak menurutnya.


"Ini sangat enak... Aku tidak menyangka kau bisa memasak." Puji Arila.


"Untuk itu jangan hanya melihat wajah tampanku... Tapi juga keahlianku." Ucap Andian.


"Kenapa kau menjadi narsis begini??" Tanya Arila sembari mengunyah makanannya.


"Narsis pada istri sendiri dilarang ya??" Jawab Andian membuat Arila terdiam.


Setelah selesai makan malam, Andian dan Arila kembali ke kamarnya. Tanpa mereka sadari, kedua pelayannya tertawa bahagia melihat kedekatan tuan dan nona mudanya.


Sesampainya di kamar, Andian langsung menuju ke kamar mandi. Arila menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam. Arila langsung duduk di sofa dan menyalakan televisinya.


Sudah lama aku tidak menonton televisi, Terakhir bersama Antia sebelum kemari. Batin Arila.


Beberapa saat kemudian Andian keluar dari dalam kamar mandi. Andian menatap Arila yang duduk di sofa sembari menonton televisi. Membuat Andian mendekat dan langsung tiduran dipangkuan Arila. Hal itu tentu membuat Arila terkejut dan menatap Andian yang tanpa rasa berdosa tiduran dipangkuannya.


"Kenapa kau menatap ku begitu?? Kau tidak suka??" Tanya Andian dengan mata terpejam.


"Bukan begitu, kau membuat ku terkejut." Jawab Arila.


Padahal sebenarnya Arila sangat gugup karena ini pertama kalinya Andian mau mendekat dengannya.


"Benarkah?? (Arila mengagguk kepala pelan.) Lupakan hal itu aku ingin tidur." Ucap Andian. Membuat Arila menatap Andian bertanya tanya.


"Tapi tidur dipangkuanmu." Tambah Andian.


"Ap...apa??" Ucap Arila terkejut. Andian bangun dari posisinya dan duduk disamping Arila.


"Dulu jika adikku ketakutan atau tidak bisa tidur aku yang selalu menidurkannya dipangkuan ku... Jadi, kali ini aku ingin merasakan tidur dipangkuan mu." Ucap Andian menatap dalam Arila.


Arila hanya memalingkan wajahnya membuat Andian tersenyum. Andian mematikan televisinya dan langsung menuju ke ranjang disusul Arila.


Arila duduk bersandaran diatas ranjang sedangkan Andian dengan senang hati tidur dipangkuan Arila. Awalnya Arila ragu untuk menghusap usap kepala Andian. Namun, karena Andian tak kunjung menutup matanya membuat Arila menghusap usap kepala Andian perlahan lahan.


Andian berubah setelah menyentuhku, dengan perubahannya yang tiba tiba membuat ku tidak terbiasa. Tapi, aku bahagia dengan begini aku bisa mempertahankan rumah tangga ku. Batin Arila.


Andian yang merasa nyaman dengan usapan Arila pun memejamkan matanya. Tak terasa Andian kini hanyut kedalam alam mimpi. Mendengar deru nafas Andian teratur membuat Arila menghentikan kegiatannya.


Dia tertidur?? Cepat sakali... Mungkin dia memang mengantuk. Batin Arila.


Perlahan Arila memindahkan kepala Andian pada bantal yang empuk. Arila menarik selimut dan menyelimutinya. Namun, dia hentikan saat menatap wajah tampan Andian saat tidur.


Saat tidur kau sangat tampan bagai pangeran dongeng, jika saja kau tidak dingin mungkin banyak wanita diluar berlomba lomba mendekati mu... Aku sedikit penasaran dengan masalalumu sampai sampai kau seperti ayah dan ibu bagi Antia... Namun, aku tidak berani menanyakan hal itu karena aku tau kau pasti masih belum mempercayaiku. Batin Arila tersenyum. Arila mencium kening Andian dengan penuh kasih sayang.


"Good night, my husband.... Sweet dreams." Ucap Arila lirih sesaat setelah mencium kening Andian.


Arila pun menyelimuti Andian sampai sebatas leher dan Arila sendiri tidur membelakangi Andian. Kini mereka pun hanyut dalam mimpi indah mereka.