Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
ALFAREZI RACHMAN [AR.c]



JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MBMB🥀...


Seusai Pesta


Para tetamu pun pamit untuk pulang. Kecuali untuk keluarga dan sahabat Avindra yang saat ini tengah bercerita ria. Avindra mengecurutkan bibirnya kesal karena Ardika memilih bercerita dengan Alan ketimbang dengan dirinya.


"Sayang, dia anak ku kan?? Kenapa bersama dengan Alan??" Ucap Avindra.


"Lah kenapa mas?? Toh, Ardika memang menyukai Alan... Biarkan saja." Jawab Alita lagi lagi membuat Avindra kesal.


"Hiks!!!! Mommy!!! Daddy jahat!!! Satya mau renang tapi gak dibolehin sama Daddy." Keluh Satya sembari memeluk sang ibu.


"Catya cengeng! Maca gitu ajah nangic." Ejek Ardika.


"Namaku Satya! Huh, mommy ayo pulang." Ucap Satya sembari merengek. Yang mana membuat Avina pusing lantaran dia menggendong Santya yang tertidur. Dia pun menatap tajam Delvin yang mana membuat Delvin menelan ludahnya kasar.


"Ayo, ayo kita pulang... Sayang jangan menatapku begitu." Ucap Delvin sembari menggendong Santya.


"Malam ini jangan menyentuhku." Ucap Avina. Dan Delvin tau itu ancaman paling ampuh. Mereka pun berpamitan untuk pulang lebih dulu.


"Loh, Satya sama Santya udah pulang??" Tanya Antia yang ikut bergabung duduk diikuti Arion disampingnya.


"Yah Satya aneh bund, dia ingin berenang dijam segini?? Yang benar saja." Jawab Avindra. Antia hanya tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya pelan. Dia beralih menatap Arisa yang sibuk dengan ponselnya.


"Sayang, ikutlah bercerita dengan kakak kakakmu." Ucap Antia.


"Nggak ah, males." Jawab Arisa tanpa mengalihkan pandangannya. Dan tiba tiba saja Avindra mengambil ponsel Arisa.


"Kakak ih!!! Balikin nggak?!!" Kesal Arisa sembari meraih ponselnya.


"Lagi hujan lebat gak boleh main Hp, ntar kena petir baru tau." Ejek Avindra. Yang mana membuat Arisa kesal dan pergi.


"Aunty!!! Aunty—Hiks!" Ucap Ardika hendak menyusul Arisa. Namun dia terjatuh yang mana membuat Arisa berlari mendekat.


"Ardika... Kamu nggak apa apa—" Ucapan Arisa terjeda lantaran yang berada dihadapannya adalah Alan. Keduanya saling tatap sejenak sebelum akhirnya Arisa menggendong Ardika.


"Hiks catit." Rintih Ardika. Yang mana mendapatkan jeweran kecil dari Alita.


"Bunda sudah bilang jangan lari lari... Dasar nakal!" Ucap Alita membuat Ardika menunduk.


"Sudahlah kakak ipar... Ardika mau tidur dengan aunty??" Ucap Arisa yang mana membuat Ardika menatapnya berbinar.


"Mau!!! Yey!!!" Ucap Ardika girang. Arisa pun menggendong Ardika dan membawanya ke kamar.


"Sudah malam, aku pamit—"


"Di luar hujan lebat Alan... Tante takut kamu kenapa napa, menginaplah disini." Ucap Antia memotong.


"Tapi tan—"


"Omongan orang tua jangan dibantah! Siapkan kamar untuk Alan." Ucap Antia kemudian memerintahkan pelayannya.


"Ayolah Alan, beberapa minggu lalu kau juga menginap disini... Tidak masalah bukan??" Ucap Avindra. Dan mau tidak mau Alan harus menuruti kemauan Antia.


"Sekarang sudah malam, kalian tidurlah." Ucap Arion.


"Baiklah, Alan biar aku antar." Jawab Avindra. Dia pun mengantar Alan ke kamarnya.


"Selamat malam benteng antartika." Ucap Avindra mengejek.


Astaga, dia masih saja begitu... Daripada memikirkan dia, lebih baik aku berduaan dengan istriku. Batin Avindra kemudian menuju ke kamarnya.


Sedangkan dengan Alan, dia menghubungi Machel untuk mengirimkan jas kantornya besok pagi. Setelah itu, Alan pun melepaskan jasnya dan menyisahkan kemeja putihnya. Dia pun menuju ke kamar mandi guna membersihkan diri.


Aneh, ibu tidak menelefon... Atau memang tante sudah mengabari ibuku sebelumnya?? Batin Alan begitu selesai mandi. Kini dia memakai piyama hitam.


Dilihatnya waktu menujukan jam 1 pagi. Yang mana membuat Alan langsung merebahkan dirinya untuk tidur. Toh, dia bisa bangun jam 2 3 atau pun 4 mengingat insomnia ringan yang dialaminya.


Pagi Harinya


Machel benar benar datang untuk memberikan jas kantor milik Alan. Dan tanpa sarapan, Alan pergi begitu saja yang mana membuat Antia geleng geleng kepala. Seolah Alan menghindari sesuatu.


"Molning Oma... Opa.... Molning Ayah!" Sapa Ardika yang sudah rapi dengan seragamnya.


"Pagi cucu Oma... Hmmm, sudah mandi ternyata." Ucap Antia sembari mencium pipi cucunya.


"Tentu saja... Aunty yang memanditan Aldika." Jawab Ardika sembari naik ke kursinya untuk duduk.


"Hohoh... Pantas saja... Ardika, kau bilang sudah besar kenapa masih dimandikan??" Ejek Avindra.


"Tenapa?? Temalin ayah cama bunda mandi belsama... Ayah mutuli bunda ya, tenapa bunda teliak teliak??" Ucap Ardika dengan polosnya. Yang mana membuat Antia dan Arion tertawa kecil sedangkan Avindra bingung menjelaskannya.


"Ah... Sudahlah, ayo sarapan setelah ini kita berangkat ke sekolah." Ucap Avindra menghindari pertanyaan sang anak.


"Ote, dimana bunda?? Tentapa tidat calapan??" Tanya Ardika.


"Bunda sedang sakit, jadi ayo makan dan pamitan dengan bunda." Jawab Avindra.


"Cuapin aunty." Pinta Ardika dengan smile eyesnya.


"Baiklah, biar aunty suapin." Ucap Arisa kemudian menyuapinya.


"Alita sakit apa?? Kemarin dia baik baik saja??" Tanya Antia.


"Entahlah bund, dia terus terusan mual dan bilang sakit kepala... Jadi aku tidak ke kantor hari ini." Jawab Avindra.


"Bunda akan panggil dokter... Bagaimana jika sakitnya parah?" Ucap Antia dan direspon anggukan oleh Avindra.


Seusai sarapan, Avindra mengantar sang putra ke sekolah. Lebih tepatnya PAUD. Dan untuk Antia juga Arisa mereka mengecek keadaan Alita. Sedangkan Arion menggantikan posisi Avindra sementara waktu.


Di ZA Group


Saat Alan tengah fokus dengan laptopnya, sang ibu datang dengan membawa sekotak makanan. Dia baru saja ditelefon Antia jika Alan pergi tanpa sarapan.


"Ibu... Kau berlebihan, aku bisa memakannya sendir—"


"Biar ibu suapin, ayo buka mulutmu!" Ucap Niranda. Yang mana membuat Alan membuka mulutnya menerima suapan dari sang ibu. Beberapa saat kemudian, makanan yang Niranda bawa habis tanpa sisa. Alan menatap wajah Niranda yang tampak kesal.


"Ibu masih marah denganku??" Tanya Alan.


"Tidak! Ibu hanya iri dengan teman teman ibu yang sudah menggendong cucu." Jawab Niranda ketus. Yang mana membuat Alan menghela napas panjang.


"Aku terima perjodohannya ibu." Ucap Alan yang mana membuat wajah ketus Niranda berubah menjadi wajah penuh kebahagiaan.


"Benarkah??? Huwaaa suamiku, putra kita akan menikah!!! Ibu akan siapkan undangan dan resepsi mewah untuk anak ibu." Ucap Niranda kemudian pergi tanpa membawa kotak makanan yang dia bawa.


"Ibu kotak makannya... Astaga, ibu ini." Lirih Alan sembari memijit pelipisnya.


Jika bukan demi ibu... Aku tidak akan mau menerima perjodohan dengan Felicia. Batin Alan sembari menghela napas panjang.


...🥀🥀🥀...


NEXT PART\=>