
Antia menyentuh pelan piano itu. Arion pun menghampiri Antia. Antia duduk dibangku depan piano itu. Arion memeluk Antia dari belakang dan wajahnya berada di curuk leher Antia.
Antia yang fokus pun tidak memperdulikan Arion. Antia memainkan pianonya dengan nada yang sangat indah. Bahkan Arion memejamkan matanya menikmati alunan nada yang Antia mainkan.
Antia memainkan piano dengan pikiran fokus pada nasihat nasihat kakak pertamanya. Awalnya Antia sangat benci musik tapi tuntunan dari Glan. Antia sangat mencintai musik. Bahkan nada yang Antia mainkan adalah ajaran dari Glan. Antia pun selesai memainkan pianonya.
"Sayang apa kamu belajar dari kak Glan? Nadamu sangat indah bahkan aku sangat kagum padamu." Ucap Arion masih memeluk Antia.
"Kenapa kamu bisa tau jika nada ini kak Glan yang mengajariku?" Tanya Antia. Arion tersenyum dan mencium pipi Antia membuat wajah Antia merona.
"Karena dulu kak Glan sering memainkannya bersamaku sayang...(Arion melepas pelukannya dan menyentuh biola yanng terpajang pada dinding.) Lama aku tidak memainkan biola ini sejak keenam orang yang aku sayangi pergi." Ucap Arion sembari menyentuh biola.
"Siapa saja?" Tanya Antia penasaran.
"Ibu, kakak, adik, dan nenekku... Mereka meninggalkan ku disaat aku baru berumur 7 tahun. Dan beruntung saat aku terpuruk kedua kakakmu menemaniku hingga tepat aku berumur 8 tahun seorang gadis mungil lahir dan membuatku tau cara tersenyum." Jawab Arion.
"Gadis siapa? Apa itu cinta pertama kakak?" Tanya Antia tampak menutupi rasa cemburunya.
"Bukan hanya pertama tapi juga terakhirku. Gadis yang mungil dan cantik juga menjadi bagian hidupku. Dan tepat saat umurku 13 tahun kakekku meninggalkanku aku pikir kak Glan tidak akan meninggalkanku tapi saat aku berumur 18 tahun tepat saat itu aku di Amerika. Aku merasa kesepian saat kak Glan dikabarkan meninggal. Beruntung ada penyemangat gadis mungil yang senyuman nya selalu ada dalam pikiranku." Jawab Arion menceritakan masalalunya. Tanpa sadar membuat Antia cemburu tanpa alasan.
"Begitu ya, Kak aku mandi dulu." Ucap Antia sedikit ketus. Dia penasaran siapa gadis yang selalu dipikirkan Arion. Namun, Arion sama sekali tidak menyebutkan namanya membuat Antia mengira Arion mencintai orang lain.
"Em...itu pakaian tidur untukmu." Ucap Arion menujukan pada paper bag dimeja. Antia mengagguk dan langsung masuk kedalam kamar mandi.
"Kenapa ekspresinya berubah? Apa dia merindukan kak Glan?" Lirih Arion bertanya tanya. Arion meraih biola yang terpajang.
Sedangkan Antia menatap dirinya dipantulan cermin kamar mandi. Antia menyentuh bibirnya perlahan mengingat saat bibir itu bersentuhan dengan bibir dingin Arion. Antia tersenyum namun senyumnya pudar saat Arion tidak memberitau siapa gadis yang selalu dipikirkannya.
Kak Arion beneran sayang nggak sih ke aku kenapa selalu membuatku kesal begini. Lirih Antia sembari menggosok gigi.
Beberapa saat kemudian Antia keluar dari kamar mandi. Dia tertenggun saat melihat Arion memainkan biola dengan memejamkan matanya seolah sangat menghayati. Dan tentu ketampanan Arion semakin bertambah.
Sedangkan Arion sendiri memikirkan semua pesan yang dikatakan oleh orang yang telah meninggalkannya. Arion seolah masih mendengar suara suara itu dengan jelas. Hingga lantunan lagu berakhir dengan sempurna. Arion menatap biola pemberian mendiang ibunya dan mengepalnya.
Arion meletakan biola pada tempatnya dan menatap Antia yang tengah mengeringkan rambutnya didepan meja rias. Antia sebenarnya sangat kagum pada Arion.
Namun, mengingat kekesalannya Antia berusaha bersikap biasa biasa saja. Arion memeluk Antia dari belakang dan menciumi rambut basah Antia. Melihat sifat jutek Antia Arion melepas pelukannya perlahan.
"Sayang kenapa kamu diam saja? Apa aku membuatmu marah?" Tanya Arion bingung.
"Nggak aku nggak marah." Jawab Antia sedikit ketus. Saat Antia duduk dibibir ranjang Arion duduk mendekat namun Antia menjauh. Arion menangkup wajah Antia dan menatapnya.
"Katakan sayang, jangan acuhkan aku begini bisa bisa aku merasa tak hidup sayang." Ucap Arion lembut.
"Siapa gadis yang selalu kakak pikirkan?" Tanya Antia ketus. Arion berpikir sejenak dan saat sadar Arion tertawa kecil.
"Apa kamu cemburu pada gadisku?" Tanya Arion balik.
"Tidak, Untuk apa cemburu?! Aku mau tidur di kamar tamu saja." Jawab Antia ketus sembari berdiri. Namun Arion menariknya dan Antia terduduk dipangkuan Arion. Arion memeluk Antia dari belakang.
"Sepertinya gadis kecilku cemburu. Sayang dengarkan baik baik. Gadis yang selalu ada dalam pikiranku adalah kau sayang. Nyonya Arion." Ucap Arion. Antia pun mencubit lengan Arion dan berdiri.
"Aw...sayang sakit kamu semakin nakal ya?" Goda Arion. Antia menyilangkan kedua tangannya.
"Kakak membuatku kesal maka rasakan itu." Ucap Antia. Arion menarik Antia dan membuat Antia terbaring disamping Arion.
"Hanya malam ini tidurlah bersamaku, (Memeluk pinggang Antia.) Tenang aku tidak akan menyentuhmu sebelum menikahimu." Ucap Arion.
Antia yang masih kesal hanya memanyun kan bibirnya yang dimana justru membuat Arion mencium bibir Antia sekilas.
"Kak Arion?!!!" Teriak Antia sembari memukuli kecil lengan kekar Arion.
"Iya ya maaf salahmu manyun begitu kan sangat menggoda. Sudah ayo tidur selamat malam my wife." Ucap Arion mencium kening Antia.
"Malam juga my husband." Jawab Antia balik menggoda. Arion gemas dan memeluk Antia. Antia yang masih mengantuk pun tertidur pulas dalam pelukan Arion.