
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya๐
Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku๐
Terima Kasih dan selamat membaca semua๐๐
Di Mall
Arion membebaskan Antia untuk membeli apapun seperti biasanya. Dan seperti biasa hal itu menjadi penderitaan bagi Kean karena harus membawa belanjaannya. Namun, melihat Arion bahagia membuatnya ikut bahagia.
"Kak Arion sini." Ucap Antia sembari melambaikan tangannya. Arion pun mendekati Antia.
"Kak bukankah ini sangat imut??" Tanya Antia sembari menujukan salah satu boneka beruang berwarna pink.
"Imut seperti dirimu." Jawab Arion.
"Kak Arion ih." Ucap Antia dengan rona diwajahnya. Membuat Arion gemas dan mencubit hidung Antia.
"Kan merona jadi imut." Goda Arion.
Antia tak menghiraukan dan melempar boneka itu ke arah Kean. Dengan gesit Kean menangkapnya. Arion pun mengikuti Antia yang kembali berkeliling. Namun sebelum itu, Arion tampak membisikan sesuatu pada Kean.
"Kak kok Kean pergi??" Tanya Antia.
"Dia meletakan belanjaan kamu... Ayo kita lanjutkan saja." Jawab Arion.
"Em... Kenapa kakak tidak membuka maskernya??" Tanya Antia karena sejak keluar dari dalam mobil Arion masih setia dengan masker hitamnya itu.
"Karena aku terlalu tampan... Bagaimana jika ada yang tergoda olehku." Jawab Arion sengaja memancing Antia.
"Ya sudah godain aja mereka." Ucap Antia kesal dan meninggalkan Arion.
"Hey sayang... Aku hanya bercanda... Jangan marah ya." Ucap Arion. Membuat Antia tersenyum dan merangkul lengan Arion.
Mereka pun melanjutkan belanjanya. Namun beberapa saat kemudian. Semua pengunjung Mall pindah ke lantai dua tiga dan empat. Membuat Antia bingung karena kini tinggal dia dan Arion.
"Kak kok pengunjung mall semuanya pindah ke lantai dua tiga dan empat??" Tanya Antia bingung.
Arion tersenyum dan menarik tangan Antia membawanya ke tengah tengah mall. Antia memandang semua orang yang memandangnya sembari tersenyum. Membuat Antia semakin merasa aneh. Terlebih saat Arion membuka maskernya dan terdengar jelas teriakan dari para pengunjung itu.
"Kak ada apa ini??" Tanya Antia dengan wajah bingung.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu??" Ucap Arion.
"Apa kak??" Tanya Antia.
"Dengar kalian semua!!! Kalian disini sebagai saksi atas apa yang aku ucapkan... Aku Colvis Arion Anvert bertanya padamu Cantia Putri Vania...(Arion berlutut dan menyondorkan kotak cincin yang perlahan dia buka.) Maukah kau menikah denganku??" Ucap Arion membuat Antia terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Terima!!!! Terima!!! Terima!!!" Teriak para pengunjung mall dengan serentak.
Hal itu membuat Antia memandang Arion yang masih berlutut didepannya sembari menunggu jawabannya. Dia juga menatap Kean dan Kean mengaggukan kepala.
"Ak... Aku...(Semua orang tampak penasaran dengan jawabannya.) Aku mau menikah dan menjadi istrimu." Jawab Antia. Suasana hening sejenak.
"Apa?? Bisa kau mengucapkannya lebih keras??" Ucap Arion masih tidak percaya dengan jawabannya.
"Aku mau menikah dan menjadi istrimu Colvis Arion Anvert!!!" Ucap Antia lebih keras.
"Horreeeee!!!!!" Teriak para pengunjung.
Arion bangkit dari posisinya dan langsung memeluk Antia dengan erat. Begitu pula Antia membalas pelukan Arion. Saat itu Kean menepuk tangannya dan tampak bunga mawar putih kesukaan Antia berhaburan. Arion melepas pelukannya dan menyematkan cincin di jari manis Antia. Setelah itu Arion mencium kening Antia dan menatapnya sembari tersenyum.
"Terima kasih sayang aku sangat bahagia." Ucap Arion.
"Aku juga sangat bahagia... Bisa kita pulang sekarang aku malu." Ucap Antia sembari memandang para pengunjung mall yang tampak tersenyum kearahnya.
Arion pun tersenyum dan menggendong Antia ala bridal style. Membuat Antia semakin malu dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Arion. Arion mendudukan Antia didalam mobilnya.
"Jadi kakak yang merencanakan ini??" Tanya Antia sembari menyandarkan kepalanya pada bahu kekar Arion.
"Tentu saja dengan bantuan Kean... Apa kau suka??" Ucap Arion kembali bertanya.
"Sangat suka... Tapi sayang bunga mawarnya banyak banget kok dihaburin gitu??" Ucap Antia sembari memanyunkan bibirnya.
"Kalo kamu mau nanti aku bawakan lagi untukmu bagaimana??" Ucap Arion.
"Terserah... Aku sedang bahagia jangan ganggu aku." Ucap Antia sembari memeluk lengan Arion manja.
Arion tersenyum dan membelai kepala Antia. Saat itulah Kean masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya menjauhi Mall.
Hari mulai gelap. Zain dan Niranda pamit untuk pulang. Setelah Zain dan Niranda pergi tampak wajah Andian kesal. Melihat wajah kesal Andian membuat Arila mengerutkan keningnya.
"Kenapa dengan wajahmu??" Tanya Arila.
"Aku hanya kesal, kenapa mereka datang saat kita akan pergi." Jawab Andian ketus.
"Jadi kau marah hanya karena itu?? Jangan marah dong... Nanti tampannya hilang." Ucap Arila menggoda Andian.
"Kau bilang apa hmm??" Tanya Andian.
"Tidak dengar ya sudah." Jawab Arila dan hendak pergi.
Namun dengan cekatan Andian menarik pinggang Arila dan mendempetkan tubuh mereka. Andian pun membelai wajah Arila dengan tangan kanannya.
"Jadi kau berani menghindar setelah menggoda ku hmm?? Tidak semudah itu nyonya Cavan." Ucap Andian.
"Benarkah?? Ku rasa kau lupa satu hal... Bahwa ada Gian yang melihat kita." Ucap Arila.
Tampak Andian menatap Gian dan memintanya pergi. Setelah itu Andian menatap Arila yang mengira Andian akan melepaskannya.
Kenapa dia tidak melepaskanku?? Batin Arila.
"Kau pikir aku akan melepaskanmu?? Kau menggunakan trik yang salah nona." Ucap Andian.
"Ah...tidak...aku...aku." Ucap Arila gugup.
Andian mendekatkan wajahnya membuat Arila menatapnya dalam. Wajah Andian semakin mendekat membuat Arila hanya memejamkan matanya. Kini jarak mereka semakin tipis dan tinggal sesenti lagi kedua bibir mereka menyatu. Saat akan menyatu tiba tiba *Tring...Tring...* handphone Andian berbunyi membuat Andian menjauhkan wajahnya dan menghusap wajahnya kasar.
Akh.... Dasar pengganggu. Batin Andian.
Melihat Andian melepas pelukannya membuat Arila kabur dan menuju ke kamarnya dengan segera. Dan membuat Andian bertambah kesal. Andian pun mengangkat telefonnya.
๐
"Dasar pengganggu tidak bisakah membiarkan ku menikmati moment ku." Ucap Andian begitu mengangkat telefonnya.
"Hey ini bibi sayang... Mengganggu katamu???" Jawab Renia diseberang sana.
"Bibi?? Maaf bi aku kiraโ" Ucap Andian terpotong.
"Sudahlah... Bibi hanya ingin memberitaumu besok kau dan istrimu datang ke KUA di pusat kota." Jawab Renia diseberang sana.
"KUA?? Memang siapa yang menikah??" Tanya Andian.
"Tentu saja Renzo." Jawab Renia diseberang sana.
"Secepat ini bi??" Tanya Andian terkejut.
"Tentu saja... Makanya pernikahannya diadakan di KUA." Jawab Renia diseberang sana.
"Baiklah aku dan Arila akan datang." Ucap Andian.
"Good... Ini baru keponakan ku. Sudah sana lanjutkan menggoda istrimu." Jawab Renia diseberang sana.
"Apa Bibi...(Renia memutuskan sambungan telefon.) Bibi ini... Karena aku tidak ingin di ganggu aku matikan saja handphonenya." Ucap Andian kemudian memasukan handphonenya ke dalam saku.
Sedangkan di dalam kamar, Arila sudah berpura pura tidur. Karena dia tau, jika menggoda Andian sedikit saja maka akan berakhir besok pagi. Dan itu membuat Arila lelah.
*Cklekk.* Tampak Andian membuka pintu kamar dan kemudian kembali menutupnya. Andian pun mengunci pintu kamarnya dari dalam. Andian memandang Arila yang terlihat jelas pura pura tidur.
Membuat Andian tersenyum penuh arti. Andian naik ke atas ranjang dan berbaring disamping Arila. Arila pun bernapas lega saat Andian tidak melakukan seperti yang dia pikirkan.
"Arila ada kecoa dirambutmu!!" Ucap Andian tiba tiba.
Mendengar nama hewan yang paling dia takuti itu keluar. Tentu membuat Arila bangkit dari posisinya. Tapi *Brukh!!!* Arila justru menindihi tubuh Andian. Membuat Arila terbelak begitu sadar dengan posisinya.
Kena kau Arila... Siapa suruh berani menggodaku. Batin Andian.
Gawat... Habislah aku... Batin Arila
Saat Arila hendak bangkit dari posisinya, Andian kembali menariknya dan membuat jarak mereka semakin menipis. Karena tidak nyaman dengan posisinya, Arila hendak menggerakan badannya. Namun tangan Andian menarik pinggangnya. Kini Arila tidak bisa lepas dari cengkraman Andian.
"Mau kemana?? Setelah menggodaku berani untuk kabur??" Tanya Andian sembari membelai wajah Arila.
"Ti...tidak... Hanya saja aku tidak nyaman dengan posisi ini." Jawab Arila.
Andian menarik tengkuk Arila dan mencium nya dalam. Masih mencium Arila, Andian memutar posisinya dan kini Arila berada dibawah kukungannya. Mereka pun akhirnya menghabiskan waktu bersama.