
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘
I LOVE YOU READERS😙💕
...🥀MBMB🥀...
Di Mansion
(Visual Mansion👆🏻.)
Alan membersihkan dirinya yang merasa lengket dan kotor dengan noda darah. Dia benar benar jijik dengan darah pembunuh seseorang yang penting baginya. Bahkan Alan sampai membakar jas yang dia kenakan tadi. Ingat, anak holkay mah bebas!
"Kau kembali sekarang??" Tanya Emilio.
"Hanya satu langkah lagi... Aku bisa saja kembali kapan pun." Jawab Alan sembari melonggarkan dasinya. Dia pun berbalik menatap pria tua yang ada dihadapannya.
Kau sudah besar, kira kira seperti apa reaksi ayahmu saat melihatmu sebesar dan setampan ini?? Batin Emilio.
"Dan Rachman, aku rasa kau menyembunyikan sesuatu dariku... Bisa kau katakan sekarang??" Ucap Alan sembari memasukan peluru ke pelatuk pistol.
"Kau menyadarinya?? Astaga, sepertinya arwah Javas memberitaumu." Ucap Emilio terkekeh.
Klak!!
Alan mengarahkan pistolnya pada kening pria yang sudah membesarkannya. Namun, Emilio nampak biasa biasa saja. Membuat Alan tersenyum miring.
"Apa semua pemimpin RC terdahulu tidak takut kematian??" Ucap Alan.
"Kematian akan datang hanya saat kita berhenti berbuat sesuatu... Aku tidak bisa memberitaukannya sekarang Alan, tapi.... Perlu kau tau jika aku... Aku hanya pria lemah yang membesarkanmu, melatihmu cara menarik pelatuk, memberimu pengetahuan tentang mengenali musuh... Tapi meskipun begitu... Tetap saja tidak mengubah fakta... (Alan menurunkan pistolnya.) Hanya ini yang bisa ku beritau padamu Alan, aku... Emilio Sezxy Rachman, bukan ayahmu." Ucap Emilio.
Yang mana membuat Alan tersenyum hambar. Alan melempar pistolnya ke atas ranjang dan memegang kedua bahu Emilio.
"Jika kau bukan ayahku?? Itu artinya aku bukan adik dari Javas??" Tanya Alan.
"Aku tidak menikah, Javas aku adopsi 2 tahun lebih dulu ketimbang dirimu." Jawab Emilio. Alan melepaskan kedua tangannya.
"Ku harap kau belum mati sampai menberitau kebenarannya padaku." Ucap Alan sembari berbalik membelakangi Emilio. Emilio menepuk bahu Alan.
"Yang pasti, ayah mu sangat baik dan ibumu sangat penyayang... Akan ku beritau padamu jika aku memiliki waktu." Ucap Emilio kemudian meninggalkan Alan sendiri.
Hidup dengan kebohongan, apa akan membuatmu hidup lebih lama Rachman?? Batin Alan sembari menggenggam tangannya erat.
Trrriiinnnggg!!
Ponsel milik Alan berbunyi. Alan duduk dibibir ranjang kemudian mengangkat telefon dari Machel.
📞
“A.rc!”
“Hmm??” Respon Alan sembari melepaskan dasinya.
“Kami sudah berhasil mendapatkan rekamannya.”
“Kabar bagus.” Jawab Alan sembari meletakan dasinya disofa.
"Masalahnya, Avindra•••"
"Aku akan mengirim beberapa orang disini untuk menolongnya... Aku akan kembali lusa, ada hal yang perlu ku selesaikan disini." Ucap Alan.
Tut.
Alan langsung mematikan sambungan telefonnya. Dia meletakan ponselnya diatas nakes dan merebahkan dirinya diatas ranjang. Menutup kedua matanya dengan lengan kekarnya.
Hari ini aku banyak bicara... Menyebalkan. Batin Alan. Dia pun memejamkan matanya sejenak guna beristirahat.
NB: Alan menderita Insomia ringan, dia hanya tidur sekitar 2 sampai 3 jam dalam sehari. Lebih rincinya, Alan memiliki kegelisahan dalam tidurnya dan selalu teringat pada masa lalunya yang membunuh banyak orang.
.
.
Dorrr!!! Dorrrr!!!
Suara tembakan membuat Avindra tetap dalam persembunyiannya. Sialnya dia berada di dalam hutan karena mobil yang dia bawa menabrak salah satu pohon. Alhasil, Avindra terus berlari sampai ke dalam hutan lebat. Hutan itu terletak sekitar 12 kilometer dari kampus Arumettra Bangsa.
Sial!! Lengan dan kaki ku terluka. Batin Avindra.
"Keluar kau tuan muda Anvert!!" Panggil anak buah Claude.
Dorr!!! Dorr!!! Dorr!!!
Tiga kali suara tembakan terdengar. Yang mana itu peringatan terakhir agar Avindra muncul. Namun hasilnya tetap sama. Avindra masih bertahan di persembunyiannya.
"Kita kembali saja, dia sudah terluka parah pada kaki dan lengannya... Hutan ini juga lebat, dia akan menjadi santapan harimau dengan kondisinya itu." Usul salah satunya.
"Aku setuju... Kita kembali sekarang." Jawabnya. Mereka pun pergi meninggalkan hutan membuat Avindra bernapas lega.
"Syukurlah mereka sudah pergi, beruntung aku berhasil mengalihkan perhatian Claude... Sekarang Leon pasti berhasil menyalin rekaman dan data mengenai korupsi itu." Ucap Avindra sembari mengingat kejadian beberapa saat lalu.
•Flashback On
Avindra Reanzo dan Leon sudah bersiap untuk menyusup pada bagian lorong. Sedangkan Serly Machel dan Renafo bersiap untuk mencari dimana lukisan tersebut berada. Dan untuk Rian, dia tengah mematikan cctv dan laser pelindung disetiap sudut perpustakaan.
"Renaf itu dia lukisannya." Ucap Machel sembari menujuk ke arah sebuah lukisan.
"Kau membawa alatnya??" Tanya Serly. Machel pun tersenyum bangga dan mengeluarkan benda pipih dari sakunya. Machel memberikan alat itu pada Renafo. Renafo pun menempelkan benda pipih itu pada salah satu balok yang berlubang.
Klakkk!
Lukisan itu tergeser dan benar saja ada ruangan didalamnya. Renafo menghela napas panjang dan menatap Machel juga Serly. Dengan bersamaan Machel dan Serly menganggukan kepalanya. Mereka bertiga memakai maskernya dan menyusup masuk.
"Hey siapa—"
Dorr!!
Belum pengawal tersebut mengucapkan katanya, Machel lebih dulu menembaknya. Suara tembakan itu memicu para pengawal lain dan 4 orang yang bekerja mengendalikan cctv kampus.
"Renaf kau fokus pada data yang ada di ubin itu." Ucap Machel.
"Aku mengerti." Jawab Renafo. Dengan kemampuan bela diri Serly, dia melumpuhkan para pengawal dan Machel menembaknya sampai meninggal.
Prankkk!!!
Ubin yang Renafo pukul dengan batang besi itu akhirnya pecah. Tampak sebuah barkas didalamnya. Entah ide dari siapa sampai data hasil korupsi disimpan ditempat seperti itu.
"Renaf kau mendapatkannya??" Tanya Reanzo begitu datang.
"Sudah kak, ini datanya." Jawab Renafo kemudian memberikan barkas tersebut. Sedangkan Leon langsung fokus pada laptopnya dan menyalin rekaman cctv tersebut.
"Bagaimana orang di luar???" Tanya Machel.
"Avindra sudah mengungkap identitasnya, dan dia menjadi buronan demi mengalihkan perhatian pengawal lainnya." Jawab Reanzo tampak cemas.
"Astaga, bagaimana jika Avindra terluka??" Ucap Serly cemas.
"Entahlah, tapi Avindra tetap mengabari kita jika terjadi sesuatu... Karena dia membawa handphonenya." Jawab Leon tidak teralihkan dari kegiatannya.
"Ku harap Avindra baik baik saja... Kau bisa mengabari Alan." Ucap Reanzo. Machel menganggukan kepalanya dan menghubungi Alan.
•Flashback Off
Sial!! Apa aku akan mati sekarang?? Batin Avindra. Perlahan pandangannya buyar dan dia pun tidak sadarkan diri.