
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊
Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕
Di Rumah sakit
Andian tampak diperiksa oleh dokter pribadinya. Tentu dengan setia, Arila menemani suaminya disampingnya. Dokter tampak menatap Andian sembari tersenyum.
"Tuan anda sudah stabil jadi besok anda sudah bisa pulang. Tapi ingat, untuk sementara waktu anda jangan terlalu sering begadang ataupun melakukan pekerjaan berat." Ucap sang dokter.
"Terima kasih, aku pasti akan mengingatnya." Ucap Andian.
"Sama sama kalau begitu saya pamit... Panggil saya jika ada sesuatu... Permisi." Pamit sang dokter. Arila pun memeluk Andian dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Akhirnya kau bisa pulang besok." Ucap Arila sembari memeluk Andian.
"Iya, aku sangat merindukan suasana Vila dan... (Mendekati daun telinga Arila.) Menghabiskan waktu denganmu." Ucap Andian. Seketika Arila melepaskan pelukannya dan duduk disamping Andian.
"Tidak bisa, aku sedang hamil jadi kau harus menahannya." Ucap Arila dengan rona diwajahnya.
"Akan ku coba... Tapi bukankah jika sudah hamil tua boleh melakukannya??" Goda Andian.
"Apa yang kau katakan?" Ucap Arila dengan wajah bertambah merona.
Saat itu tampak Zain dan Niranda istrinya datang. Membuat Arila bangkit dari duduknya dan menyapa Niranda. Arila pun memeluk Niranda yang tampak perutnya membuncit.
"Bagaimana kabarmu dan calon anakmu Nira??" Tanya Arila sembari melepaskan pelukannya perlahan.
"Sangat baik... Dan selamat ya bentar lagi kamu juga nyusul." Jawab Niranda sembari tersenyum.
"Terima kasih, ayo duduk." Ajak Arila. Niranda dan Arila pun duduk disofa sedangkan Zain duduk disamping Andian.
"Maaf baru menjengukmu, saat kabar itu aku masih di Amsterdam. Tapi syukurlah kau baik baik saja." Ucap Zain.
"Aku mengerti... Zain istrimu sedang hamil, sejak kapan??" Tanya Andian.
"Hehehe... Sebenernya seminggu setelah aku menjengukmu, aku dan istriku ke Amsterdam berencana untuk bulan madu... Tapi begitu sampai, istriku positif hamil... Yah daripada sebentar disana, aku memilih mengajak istriku jalan jalan selama disana. Dan baru kembali kemarin lusa." Jelas Zain.
"Oh pantas saja, jadi Zain kau harus menahannya lebih lama." Jawab Andian. Tampak Zain tertawa kecil menanggapi ucapan Andian.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu." Ucap Zain serius.
"Apa?? Kenapa sepertinya serius??" Tanya Andian.
"Fandi sudah kembali, (Andian terkejut.) Dia menelfon ku bahwa dia tidak akan kembali ke Berlin sebelum dia memaksa Naira untuk bersamanya." Jawab Zain.
"Aku tau hal ini cepat atau lambat akan terjadi, mengingat Fandi begitu keras kepala dia pasti akan berusaha memiliki Naira sepenuhnya... Tapi kau jangan khawatir, kau ingat Kean tangan kanan Arion?? Dia akan menjaga Naira aku pastikan itu karena, beberapa bulan ini Arion selalu memberikan mereka berdua waktu dengan alasan kerjaan. Jadi, kita ikuti saja alurnya." Jelas Andian.
Zain pun bernapas lega. Alasan dia peduli pada Fandi, karena dia masih ingat kenakalan mereka berdua bersama Raka saat kuliah dulu. Dan Zain dikenal sangat menghormati wanita, itu sebabnya meskipun Naira bukan siapa siapanya Zain selalu berharap agar harga diri Naira tetap terjaga.
Di Vila Raka
Raka menatap istrinya yang sudah tertidur dengan pulasnya. Setelah pulang, Antika benar benar langsung ke atas ranjang dan tidur. Raka tersenyum sembari membelai wajah cantik istrinya. Padahal Raka berniat mengajak Antika mengunjungi Vila karena Laura selalu menghubungi Raka untuk mengajak Antika.
"Sayang... Sayang... Bangun." Ucap Raka. Tampak Antika menggeliat dan membuka matanya perlahan.
"Emh... Ada apa??" Tanya Antika.
"Sayang kita siap siap yuk... Ke Vila mama dan papa, mama marah marah karena aku nggak ngajak kamu kesana." Jawab Raka.
Tampak Antika bangun dengan sangat hati hati. Dia pun duduk dibibir ranjang kemudian mengikat rambutnya. Tampak Raka tersenyum dan duduk disamping Antika.
"Gimana tidur siangnya?? Kamu memimpikan aku??" Tanya Raka.
"Tidak aku memimpikan mu dan Lukas... (Wajah Raka berubah cemburu.) Aku bermimpi kau dan Lukas berteman." Jawab Antika.
"Kenapa harus ada dia?? Apa suamimu ini tidak cukup tampan??" Ucap Raka dengan nada cemburu.
Sadar Raka cemburu Antika tertawa kecil dan merangkul lengan Raka kemudian bersandar pada bahu kekar Raka.
"Jadi suamiku cemburu nih?? Padahal aku bercanda sayang... Aku hanya berharap kau berhenti memusuhinya, karena bagaimana pun aku sudah menjadi milikmu kan??" Ucap Antika.
"Hmm... Aku akan mencoba, tapi jika dia berani menggodamu... Aku akan menguliti dia hidup hidup." Jawab Raka.
"Iya aku mengerti suamiku tersayang... (Bayi dalam kandungan Antika menendang saat Antika mengelus perutnya.) Sayang anak kita menendang." Ucap Antika dengan wajah bahagia. Tampak Raka berjongkok didepan Antika dan mengelus perut buncitnya.
"Aku tidak sabar menunggunya lahir." Ucap Raka sembari menatap istrinya.
"Begitu juga denganku, ayo bersiap siap katanya ke Vila mama." Jawab Antika.
"Ayo, mama pasti bahagia mendengar kabar ini." Ucap Raka.
Antika dan Raka pun bersiap siap. Beberapa saat kemudian mereka pun rapi dan menuju ke Vila Laura dan Randy.
Malam harinya.
Seperti yang Kean katakan dia menjemput Naira tepat pukul 8 malam. Kean tampak kagum dengan kecantikan Naira padahal, Naira hanya memoles make up tipis dan terkesan natural.
Fokus Kean, ini tugas dari tuan muda... Tugas bukan untuk bersenang senang. Batin Kean.
Suasana didalam mobil hening. Baik Kean maupun Naira lebih memilih bergulat dengan pikirannya. Awalnya Kean memang selalu menolak jika didekatkan bersama Naira terlebih membawa soal pekerjaan. Namun, selama beberapa bulan mengenal Naira. Kean mulai merasa nyaman terlebih, sifat Naira jauh dari yang Kean pikirkan.
Saat pertama bertemu, Kean mengira jika Naira salah satu wanita yang suka menggoda dan tidak fokus dengan pekerjaannya. Nyatanya, Naira lebih mementingkan pekerjaannya dan perintah dari Arion Raka dan Andian sebagai atasannya.
Tuan Kean kenapa?? Apa ada yang salah ya denganku?? Batin Naira polos.
Sesampainya di kediaman Hordwad.
Tampak Kean membukakan pintu untuk Naira. Naira tampak kagum dengan kemewahan kediaman Hordwad. Saat sibuk mengaggumi kemewahan kediaman Hordwad, Kean mengulurkan tangannya membuat Naira mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa?? Rangkul tanganku." Ucap Kean.
Naira pun mengagguk dan merangkul tangan Kean. Mereka berdua pun masuk kedalam. Tampak Hordwad seperti lama menunggu kedatangan Kean. Dia pun mendekat ke arah Kean dan Kean mengulurkan tangannya.
"Saya perwakilan dari CA Group, tuan Arion tidak bisa menghadiri acara dan dia berharap anda mau menerima hadiah kecil darinya." Ucap Kean. Tampak tuan Hordwad menjabat tangan Kean.
"Saya mengerti tuan Kean... Sebuah kehormatan karena anda mau menghadiri acara ini... Saya ucapkan terima kasih atas kedatangan anda dan... (Menatap Naira.) Dia?" Ucap tuan Hordwad.
"Dia wanitaku." Jawab Kean membuat Naira mengerutkan keningnya.
"Oh iya ya... Saya paham silahkan nikmati hidangan yang telah kami siapkan." Ucap tuan Hordwad.
"Wah perwakilan dari CA group datang ke acara ulang tahun ini, benar benar langka." Ucap salah satu tamu.
"Benar... Secara CA group perusahaan terbesar baik dalam bidang keuangan dan lain sebagainya. Tidak disangka mengirimkan perwakilan bahkan tangan kanannya sendiri." Sahut tamu lainnya.
Memang benar setiap ada undangan seperti acara ulang tahun Arion selalu menolak dan memilih memberikan hadiahnya tanpa mengirimkan perwakilan. Namun, kali ini Arion memanfaatkan hal itu untuk mendekatkan Kean dan Naira.
Kean mengambil segelas anggur sedangkan Naira sendiri mengambil segelas jus. Naira merasa risih saat semua membicarakan dirinya. Dia ingin menjaga jarak dengan Kean namun, Kean tidak membiarkannya pergi.
"Tuan apa sangat aneh ya... jika anda hadir diacara seperti ini??" Tanya Naira dengan nada berbisik.
"Kenapa kau menanyakan hal itu??" Jawab Kean kembali bertanya.
"Ya karena semua orang menatap kita dengan aneh." Ucap Naira.
"Mungkin karena ini pertama kalinya tuan muda mengirimkan perwakilan untuk menghadiri acara pribadi ini." Jawab Kean.
Dan tampak Naira mengagguk paham. Saat itu tampak seorang peria berjalan melewati Kean dan Naira. Mata Naira terbelak sekaligus tubuhnya bergetar saat tau siapa peria itu. Peria itu tersenyum menatap Naira yang menunduk. Peria itu tidak lain Fandi yang ikut hadir dalam acara. Melihat tubuh Naira bergetar membuat Kean menatapnya.
"Ada apa??" Tanya Kean sembari menaruh gelas anggurnya.
"Ti...tidak, aku permisi ke toilet dulu." Jawab Naira.
Kean mengagguk dan tampak Naira pergi menuju ke toilet. Kean menatap punggung Naira yang perlahan menjauh dari pandangannya dimana membuatnya merasa gelisah.
Ada apa denganku?? Apa aku sakit?? Batin Kean.
Sedangkan di toilet. Naira menghela napas panjang berkali kali didalam kamar mandi. Naira gemetar ketakutan, dia takut jika Fandi akan melakukan sesuatu padanya. Merasa lebih baik, Naira pun keluar kamar dari kamar mandi. Begitu keluar Naira terkejut saat Fandi berada dihadapannya. Saat Naira hendak pergi tampak Fandi menarik tangan Naira dan memojokannya ke tembok.
"Ku mohon lepaskan aku." Ucap Naira berusaha memberontak.
Tampak Fandi mencium leher Naira yang tercium sangat harum. Melihat ekspreksi Fandi membuat Naira ketakutan dan meneteskan air matanya.
"Lama tidak bertemu kamu semakin menggoda ya sayang... Aku ingin memilikimu sekarang juga." Ucap Fandi hendak mencium bibir Naira.
Namun baru akan mendekat tiba tiba ada yang menarik tubuh Fandi.
Visual Naira