
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
👩💻Sebelum membaca, biasakan like, vote, dan komentarnya readers😘💕
👩💻Jangan Lupa mampir ke karyaku yang lain ya❤😘
👩💻Ingat, ini hanya imajinasi author dan tidak bermaksud menjelek jelekan profesi atau lainnya😉🤗😘
👩💻Terima kasih dan happy reading semua❤
📖📖📖
••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
"Alan!" Panggil Serly membuat Alan menoleh ke arahnya. Tampak dia membisikan sesuatu pada Alan. Alan menatap Avindra sekilas kemudian pergi meninggalkannya sendiri.
Sangat sulit didekati... Dan aku yakin dialah pria yang menyelamatkan Arisa beberapa waktu lalu. Batin Avindra.
Dia melihat setiap sudut taman. Rupanya disana tidak ada cctv satu pun. Dan itu membuat Avindra merasa jika Alan seolah melihat sekitarnya sebelum berbicara.
Akhirnya hari pertama di kampus selesai. Masalah kecil yang muncul membuat Avindra merasa sangat lelah. Itu baru hari pertama, bagaimana dengan seterusnya?? Entahlah yang Avindra pikirkan sekarang adalah bagaimana cara mengajak seorang Alan untuk bekerja sama dengannya.
"Avindra, bagaimana dengan pria itu?? Dia menerima ajakanmu??" Tanya Elliot sembari duduk disamping Avindra dan menyondorkan secangkir coklat panas.
"Dia lebih pandai dariku Ell... Dia menolak padahal aku baru memberikannya kode... Sepertinya dia benar benar pria berbakat, kita sangat membutuhkan bakatnya itu." Ucap Avindra kemudian meminum coklat panas tersebut dengan sangat hati hati. Mungkin karena bibirnya yang terluka membuatnya terasa perih saat meminumnya.
Tampak Elliot menatap Renafo Rian dan Leon yang sedang berenang sedangkan Reanzo tampak sibuk membuat sketsa kampus. Kolam renang dan ruangan santai hanya dibatasi oleh pintu kaca. Jadi bagian luar ruangan bisa terekspos jelas.
"Yah, entah karena bakatnya itu yang membuatnya tidak takut dengan Even... Atau dia memiliki pengaruh tertentu, perkiraannya hanya ada pada dua dasar itu." Jawab Elliot. Tampak Avindra mengangguk anggukan kepalanya.
"Dan aku curiga jika dialah, pria yang menyelamatkan Arisa... Yah hanya perkiraanku ku harap jika itu benar, aku akan langsung memberitau Arisa... Dia pasti akan senang tentang hal ini." Ucap Avindra.
"Tapi jangan sampai dua makhluk itu tau, bisa bisa mereka mengira dia saingan untuk mendapatkan Arisa." Ucap Elliot membuat Avindra tersenyum.
Tring!!! Tring!!! Tring!!!
Ponsel Avindra berbunyi menandakan ada telefon masuk. Avindra meletakan cangkirnya dan mengangkat video call dari sang ibu. Dan tampak Arion yang sedang membujuk Arisa untuk makan namun Arisa menolak. Sampai dia sadar jika sang ibu menelfon Avindra membuat Arisa menatap kearahnya bersemangat.
📞
"Kakak!!" Ucap Arisa bersemangat.
"Kau lihat itu nak?? Adikmu tidak mau makan siang dan minum obat." Ucap Antia sembari menatap putranya tajam. Setelahnya tampak dia memberikan ponselnya pada Arisa.
"Kakak aku merindukan mu." Ucap Arisa.
"Tapi kakak tidak merindukanmu." Ucap Avindra tersenyum mengejek.
"Dasar kakak jelek!!" Jawab Arisa sembari cemberut.
"Masih tidak mau makan?? Dan tidak mau meminum obatmu?? Kakak tidak akan mengabarimu lagi kalau begitu." Ancam Avindra.
"Aku, aku mau makan kak... Tapi ayah baru pulang dan dia bau... Aku tidak mau makan dengan ayah." Elak Arisa membuat Avindra terkekeh.
"Benarkah karena itu?? Baiklah, tidak masalah tapi sekarang makan... Kamu harus cepet sembuh biar bisa kabur dari rumah." Ucap Avindra.
"Kakak mengejekku?? Lihat aku akan makan." Ucap Arisa tampak terpaksa memasukan sesuap nasi dan lauknya.
"Anak pintar." Ucap Avindra.
"Ah iya kak, dimana yang lain?? Kakak sendirian??" Tanya Arisa sembari mengunyah makanannya.
"Tidak, Elliot dan kak Rean sedang sibuk dengan ponselnya... Rian Leon dan Kak Renaf sedang berenang." Jawab Avindra.
"Kakak bibirmu terluka??!! Apa ada yang memukulimu kak??" Tanya Arisa seketika ponsel beralih pada Antia.
"Oh bunda rupanya kau disana." Ucap Avindra terlihat tenang.
"Kenapa dengan bibirmu?? Jawab bunda!" Tanya Antia tegas.
"Ini?? (Menujuk bibirnya sendiri.) Karena gigitan seorang gadis bunda, ayolah bukankah ayah biasa seperti ini saat bersamamu." Ucap Avindra membuat Elliot merinding dengan penjelasan asal asalan sahabatnya itu.
"Dasar anak nakal!!! Awas saja saat pulang nanti, bunda tutup telefonnya kamu baik baiklah disana." Ucap Antia.
"Tentu bunda." Jawab Avindra.
Tut.
Telefon berakhir. Tampak Avindra meletakan ponselnya dan memijit pelipisnya. Alasan yang Avindra berikan benar benar membuat dirinya sendiri muak. Tapi, itulah alasan terbaik agar sang bunda dan adiknya tidak curiga.
"Alasan macam apa itu Avindra??" Tanya Elliot dengan nada kesal.
"Hey ayolah... Cepat atau lambat juga kelak aku akan merasakan hal ini, begitu juga denganmu setelah menikah nanti... Oh astaga, aku sangat membenci pernikahan." Jawab Avindra.
"Jika kau terus begitu, bisa bisa adikmu yang lebih dulu menikah." Ucap Elliot.
"Tidak masalah, justru itu yang aku inginkan." Jawab Avindra sembari bangkit dari duduknya. Dia pun menghampiri Reanzo yang tampak fokus dengan seketsa denah kampus itu.
"Ada sesuatu kak??" Tanya Avindra sembari duduk dihadapannya.
"Lihat ini... Setidaknya seperti inilah gambar keseluruhan kampus Arumettra Bangsa." Ucap Reanzo. Tampak Avindra mengamatinya dengan teliti.
"Aku dan Renafo sudah mengelilingi kampus itu... Anehnya, tidak ada ruangan dimana saluran dari rekaman cctv dikampus itu... Sangat tidak mungkin jika dilihat oleh satu orang, mengingat cctv sebanyak itu pasti harus dikendalikan oleh orang ahli." Jelas Reanzo.
"Bukan tidak ada ruangan saluran cctvnya kak... Tapi ruangan itu pasti tersembunyi." Ucap Avindra.
"Sepertinya begitu." Ucap Reanzo. Avindra menujuk ke taman depan perpustakaan.
"Di taman ini sama sekali tidak ada cctv satu pun." Ucap Avindra.
"Kau tau itu??" Tanya Reanzo.
"Iya aku tau... Tadi Alan membongkar identitasku, dan ku rasa pria itu mengetahui situasi sekitar... Tenang saja, Alan tidak akan membongkar identitas karena aku tau tujuan dia." Jawab Avindra.
"Jadi pria itu bernama Alan, memang apa tujuannya ke kampus itu?? Atau jangan jangan—"
"Iya, tujuannya sama dengan kita... Sayangnya dia seorang individual, sangat sulit didekati tapi dia mudah mengerti apa yang lawan bicara katakan walapun berupa teka teki... Aku pastikan cepat atau lambat dia akan bergabung dengan kita." Ucap Avindra.
"Sangat disayangkan, dan... Avindra kapan test di mulai??" Tanya Reanzo.
"Pekan depan setelah hari libur." Jawab Avindra.
"Ku dengar Leon dan Rian juga mendaftar dibagian Keamanan." Ucap Reanzo.
"Ku harap salah satu diantara mereka berdua ada yang lulus test... Ini bisa membantu kita selangkah lebih maju." Ucap Avindra sembari menatap Rian dan Leon yang sibuk berenang.
♦♦♦♦♦
"Itu saja yang ku dengar Alan, karena hampir ketahuan jadi aku mengetuk pintu." Jelas Serly.
"Gonar!!!" Geram Serly tidak terima.
"Ada hal lain Serly??" Tanya Alan.
"Emm, ada... Dia mengajak ku berkencan pekan depan." Jawab Serly membuat Machel melotot.
"Apa?! Sinbet kau—"
"Protesnya nanti saja b*doh! kau menerima ajakan itu kan??" Tanya Alan. Sedangkan Machel merasakan dadanya bergemuruh.
"Iya aku menerimanya." Jawab Serly. Tampak Alan menganggukan kepalanya.
"Luangkan waktu itu untuk menanyakan tentang perpustakaan." Ucap Alan.
"Memang ada apa di perpustakaan??" Tanya Machel. Tampak Alan mengeluarkan tabletnya dan memperlihatkan sebuah foto lukisan.
"Dibalik lukisan ini ada tombol tidak lain tombol untuk masuk ke ruangan tersembunyi yang mengendalikan cctv kampus... Tapi aku masih belum tau soal pengamanan di dalam perpustakaan itu, ku harap kau tidak mengecewakan aku Serly." Jelas Alan.
"Akan aku usahakan." Jawab Serly. Alan hanya menganggukan kepalanya kemudian pergi.
"Astaga sehari dia hanya bicara 8 kali... (Machel menghitungnya saat Alan bicara dengannya.) Irit sekali bicara apalagi tersenyum... Kau pernah melihat Alan tersenyum sinbet??" Tanya Machel.
"Emm... Sepertinya tidak pernah, apa pipinya itu bermasalah ya??" Jawab Serly sembari menatap punggung Alan yang menjauh.
"Dan kau kurang kerjaan sekali, menghitung berapa kali Alan bicara." Ucap Serly.
"Hey sinbet justru ini hobi baru ku... Emm sejauh ini rekor tertinggi 23 kali bicara dalam sehari bukankah fantastis." Jawab Machel.
"Terserah, aku mau tidur siang." Ucap Serly bangkit dari duduknya.
"Sepertinya kau lupa jika... Kamar disini hanya ada 2 yang artinya... Kau harus tidur sekamar dengan ku." Ucap Machel.
"Apa??! Kenapa nggak kamu aja yang tidur sama Alan?" Protest Serly.
"Hey sejak kapan Alan mau tidur berdua?? (Serly terdiam.) Kenapa kau protest, bukankah dulu saat kecil kita selalu tidur berdua?" Ucap Machel.
"Itu dulu bukan sekarang gonar." Jawab Serly.
"Lah apa bedanya?? Waktu itu kita juga tidur bareng pas nyusup ke geng gelap London... Nah, atau kau takut aku berbuat sesuatu pada mu?? Hahaha... Tenang sinbet, tubuh datar dan seperti kaca itu tidak membuat ku bern*fsu... Lebih baik mencari wanita di club." Ucap Machel membuat Serly geram.
Bugh!!!
Serly menendang kaki Machel membuat Machel kesakitan.
"Dasar m*sum!" Ucap Serly kemudian pergi ke kamar Machel.
"Aduh! Sakit sinbet!! Galak banget sih jadi orang... Pantesan jomblo." Kesal Machel kesakitan. Dia pun menyusul Serly yang meninggalkannya pergi.
Cklekk!!!
Tampak Serly membuka mulutnya lebar lantaran kamar Machel sangat berantakan seperti kapal pecah. Dan tampak Machel cengengesan dibelakang Serly.
(Visual berantakannya kamar Machel.)
"GONAR!!!!" Teriak Serly membuat Machel menutupi dua telinganya dengan kedua tangannya.
"Astaga Sinbet, gitu amat sih teriaknya... Kalau gendang telingaku pecah gimana??" Protes Machel.
Serly masuk kedalam kamar Machel dan mulai menata kamar yang sangat berantakan itu. Dan Machel dengan santainya duduk di sofa (Anggap aja ada sofa disudut kamar ya wkwkwk.) menatap Serly yang mengemasi pakaiannya. Karena sejak dulu hobi Machel memberantakan kamar dan selalu Serly yang mengemasinya sebelum ketahuan Alan.
"Gonar kapan sih kamu dewasanya?!! Badan aja gede tapi masih aja kayak anak kecil... Ini juga sepatu, harusnya ditaro di rak Gonar bukan sembarangan gini... Astaga, kalau udah selesai makan taro di tempat piring kotor Gonar jorok banget sih!" Omel Serly sembari mengemasinya. Sedangkan Machel tampak tersenyum karena sifat Serly tidak berubah sejak kecil.
Serasa diomelin istri. Batin Machel sembari tersenyum.
"Tuh kan kayak orang g*la! Senyum senyum sendiri, bukannya bantuin beresin." Omel Serly.
"Iya... Iya sinbet, (Bangkit dari duduknya dan mencubit pipi Serly.) Cerewet banget sih." Ucap Machel.
"Apaan sih, aku pukul baru tau." Ancam Serly guna menutupi wajah jika dia merona. Dan Machel hanya terkekeh melihat sikap wanita yang sejak kecil bersama.
"Tadi pakaian kotorku ditaro mana??" Tanya Machel menatap Serly yang sedang menata lemari Machel.
"Taro aja disitu." Jawab Serly. Machel menganggukan kepalanya kemudian menarun jaketnya yang kotor itu.
Baru sehari ku tinggal, sudah seperti ini... Bagaimana jika aku memutuskan tinggal di asrama saat itu pasti seperti kapal pecah... Kapan gorila narsis itu dewasa, menyebalkan! Umpat Serly sembari melipat pakaian Machel. Dan saat Serly meletakan lipatan pakaian Machel tiba tiba...
"Aaaaaaaa!! Kecoak!!" Teriak Serly membuat Machel menoleh.
"Astaga sinbet ken—" Ucapan Machel terpotong saat Serly melompat memeluknya bagai koala.
Dan lompatan Serly yang tiba tiba membuat Machel terduduk di sofa dengan Serly yang memeluknya erat sembari menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Machel. Dan Machel merasa sangat nyaman dengan posisi itu.
Cklekk!!!
"Serly kau yang belanja atau–" Ucap Alan begitu masuk. Mungkin jika orang normal akan memandangnya canggung, namun Alan hanya menatapnya datar. Tampak Serly menatap Alan tanpa bangkit posisinya.
"Kalian lanjutkan saja... Dan iya saat aku kembali kamar ini harus bersih tanpa debu sedikit pun." Lanjut Alan kemudian kembali menutup pintu. Machel tersenyum saat menatap Serly yang gugup seperti ketahuan berpacaran oleh ayahnya. Dan ide jahil Machel seketika muncul.
"Sinbet kan cuman kita berdua nih... Gimana kalau kita... Ekhem!" Ucap Machel membuat Serly melotot.
Ctakk!!!
Serly menjitak kening Machel kemudian bangkit dari posisinya. Sedangkan Machel meringis kesakitan sembari memegangi keningnya.
"Jailnya kelewatan, aku patahin kedua kaki kamu baru tau rasa... Udah kamu lanjut bersih bersih aku mau nyuci, untung aja Alan gak ngomel tadi." Ucap Serly sembari membawa pakaian kotor Machel. Tampak Machel tersenyum dan dia pun membereskan kamarnya.
Sedangkan dengan Alan
Dia kini menjadi pusat perhatian para pengunjung supermarket khususnya para wanita. Bagaimana tidak?? Pria setampan Alan tengah mendorong troli yang berisi beberapa bahan makanan. Tentu dia masuk dalam kriteria pria idaman.
Dan Alan tidak meresponnya, benteng antartika itu fokus memilih bahan bahan yang akan dia masak nantinya. Dia pun melepaskan kacamata hitamnya dan seketika para wanita disana tercengang akan ketampanan Alan.
(Style Alan)
"Alan, kita bertemu lagi." Ucap seseorang membuat Alan menoleh.
Tambahan Dari Adek 😁
Anggap aja seperti ini ya logo kampus Arumettra Bangsa... Maaf kalau kurang bagus, setidaknya buat halu semakin good wkwkwk 🤣🤣 Oke itu saja, pantengin terus yah readers... I Love You😍😘😚😊