Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 23 Season 2



JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


🥀MBMB🥀


Di Roma Italia


Tanpa kembali ke Mansion, Alan langsung ke pemakaman. Dan dia sudah terlambat. Leonard sudah dikubur beberapa saat lalu. Alan berjongkok kemudian mendoakan seseorang yang penting baginya. Setelahnya dia berdiri dan menatap makam baru tersebut.


NB: Sedikit info, di Italia tepatnya di kota Roma ada makam khusus muslim(Islam.) Kalian bisa cari di goggle atau sumber berita lainnya, Oke skip😉



(Visual makam di Italia👆🏻.)


Alan menggenggam tangannya erat. Tertulis jelas dalam bahasa Italia nama dan tanggal kematian Javas Leonard.


"Bukankah aku memintamu untuk menguburnya saat aku datang." Ucap Alan saat seseorang mendekatinya. Orang itu tak lain Emilio Rachman.


"Tidak baik jika menundanya... Terlepas dari itu, Javas pasti bisa istirahat dengan tenang saat kau memanggilnya kakak." Jawab Emilio.


"Anak buah Jovirzo yang membunuhnya??" Tanya Alan sembari menatap pria berumur 48 tahun itu.


"Tebak saja, ku dengar kau mengusik putranya... Itu sebabnya Javas disekap di dalam mobilnya saat kembali bertugas." Jawab Emilio.


"Dia bisa bela diri, biar ku tebak ada lebih dari 8 orang yang menyerangnya langsung." Ucap Alan kemudian bergegas pergi.


"Alan mau kemana kau??" Tanya Emilio membuat Alan menghentikan langkahnya.


"Bukankah sudah menjadi tradisi keluarga Rachman, Per versare il sangue di un assassino a un funerale come onore (“Menyiram darah pembunuh ke pemakaman sebagai kehormatan.”)." Jawab Alan kemudian pergi meninggalkan Emilio.


"Membunuh orang terdekat Alan, sama saja mengundang dewa kematian... Zain jangan salahkan aku." Lirih Emilio menatap punggung Alan.


Alan masuk kedalam mobilnya dan sang supir pun menjalankannya menuju ke mansion. Sesampainya di mansion keluarga Rachman, Alan langsung menuju ke ruang persenjataan. Yang mana ruangan tersebut hanya bisa dibuka oleh Alan. Dulu ada yang meninggal karena berani masuk ke ruangan tersebut. Bahkan Emilio sendiri tidak berani mengutik apapun yang Alan rahasiakan.



(Visual ruang persenjataan👆🏻.)


"Sudah lama aku tidak menggunakan kalian... Untuk membunuh pembunuh istimewa, maka pistol yang digunakan juga harus istimewa." Lirih Alan.


Pada akhirnya dia mengambil pistol jenis Smith & Wesson 500 Magnum yang masih berada di dalam kotak kaca dengan bagian bawah bewarna gold. Yang artinya pistol itu sangat atau bahkan tidak pernah digunakan Alan. Namun, ini pertama kalinya Alan akan menggunakannya.



(Pistol Smith & Wesson 500 Magnum👆🏻.)


"Luhan, sudah menemukan siapa yang menyekap Javas??" Tanya Alan tanpa menatap Luhan yang fokus pada komputernya.


"Sebentar.... Yup, mereka... Dia bukan anak buah Jovirzo, lebih tepatnya mereka menyewa dari organisasi pembunuhan lain." Jawab Luhan.


"Ada berapa orang??"


"Sekitar 6 orang dari kelas ahli." Jawab Luhan.


"Artinya ada 2 atau 3 orang yang bukan dari organisasi pembunuhan... Coba cari lagi." Ucap Alan. Luhan menganggukan kepalanya dan kembali berkutat.


"Sudah ku duga A.rc, 3 orang itu tidak lain Marco Zeo dan Einstein... Mereka bertiga tangan kanan Jovirzo." Jawab Luhan.


"Tunggu, jangan bilang jika kau—"


"Mereka bukan tandinganku." Jawab Alan kemudian pergi.


Astaga, yang benar saja. Batin Luhan sembari menggeleng gelengkan kepalanya pelan.


"Ke sisi utara Roma." Ucap Alan sembari membuka sarung tangan hitamnya.


"Iya A.rc." Jawabnya kemudian mobil pun berjalan menuju ke sisi utara Roma. Dimana tempat itu tidak lain mansion para tangan kanan Jovirzo.


NB: Anggap aja mereka bicara pake bahasa Italia ya, maklum soalnya adek gak terlalu bisa bahasa Italia😭 Oke skip😉


.


.


"Ya, kurasa dia akan menangis selama 7 hari." Jawab Zoe membuat ketiga pria itu tertawa.


"Ini salahnya karena mengusik tuan muda Claude... Jika saja Rachman gampang dibunuh, mungkin kita bisa membunuhnya." Ucap Marco.


"Sama seperti putranya yang sulit bicara dan dibunuh." Timpal Einstein. Ketiganya pun tertawa terbahak bahak dan saling bersula. Namun gelak tawa mereka berhenti saat melihat seseorang dengan tangan berlumuran darah. Dan orang itu tak lain Alan.


"B*r*ngs*k siapa kau?!! Kalian jangan diam saja." Titah Einstein. Namun dalam hitungan menit mereka tersungkur tak berdaya.


Dorr!! Dorr!! Dorr!!!


Tiga kali tembakan mengenai kaki kiri Einstein, Zoe, dan Marco. Kedahsyatan tembakan itu membuat mereka lumpuh tak berdaya. Bahkan kaki Einstein patah dengan tulang keringnya menjulang keluar dari dagingnya. Bisa dibayangkan??? Saat Zoe akan mengambil pistolnya, Alan lebih dulu menembak bagian lengannya.


Dorrr!!


"Arghhh!!!!!!" Rintih Zoe memegangi pergelangan tangannya. Alan menarik kursi dan duduk dihadapan ketiga pria yang sudah terkapar itu.


"Apa kalian serangga tangan kanan Jovirzo?? Cih, bahkan kalian tidak bisa mengambil pistol dengan benar... Sangat mengecewakan." Ucap Alan.


"Si... Siapa... Siapa kau biad*b!!" Ucap Einstein dengan sekuat tenaganya. Alan menatap tangannya dan tersenyum miring.


"Aku?? Pria terakhir yang kalian lihat sebelum kematian." Ucap Alan.


"Sial!! Dimana yang lain, apa mereka tidur?!!!" Teriak Zoe memanggil pengawal yang diluar.


"Ah iya, aku lupa memberitau kalian... (Menembak semua cctv yang terpajang disetiap sudut ruangan.) Sampah yang melindungi kalian... Semuanya sudah mati... Tidak, bukan semuanya... Hanya satu yang selamat tapi kemungkinan cacat." Jelas Alan sembari memutar pistolnya dengan gerakan perlahan.


"Siapa kau sebenarnya?!!" Kini Marco berteriak.


"Aku penyebab kematian kalian, A.rc!" Ucap Alan menembak kepala Marco.


Dorrr!!!!!


"Marco!!!" Teriak Zoe dan Einstein.


"Malang, temanmu sudah menyusul kakakku... Dan iya, jika kalian menyusul kakakku katakan padanya... Aku bukan lagi adiknya karena dia meninggalkanku." Ucap Alan sembari mengarahkan pistolnya di kening Zoe.


Dorrrr!!!!


"Zoe!!!" Teriak Einstein.


Klak!!!


Kini pistol itu mengarah pada kening Einstein. Membuat Einstein berkeringat dingin dan menatap mata penuh amarah dari mata Alan.


"Membunuh kakakku hanya karena aku membuat Claude patah tulang itu adalah tindakan bodoh... Kau harusnya ingat, kenali kemampuan musuhmu sebelum membunuhnya." Ucap Alan.


Dorr!!!


Einstein sudah terkapar mati seketika. Alan bangkit dari duduknya menatap sekilas mayat ketiganya. Alan mengambil gelas bir yang masih kosong dan mengambil darah ketiganya sampai gelas itu benar benar penuh.


"Bakar mansion ini, dan sampah lainnya kalian makamkan di pemakaman Milan." Titah Alan pada anak buahnya. Entah sejak kapan mereka datang, yang pasti mereka akan melaksanakan perintah Alan.


"Ke makam kakakku, dan tinggalkan aku sendiri pastikan tidak ada orang selain aku dipemakaman." Ucap Alan sembari masuk kedalam mobil.


"Baik A.rc." Jawabnya kemudian melajukan mobilnya menuju ke pemakaman.


Sesampainya di Pemakaman


Alan turun dari dalam mobilnya dan menuju ke makam Javas Leonard. Alan menyiram sekeliling makam Javas dengan darah dari ketiga tangan kanan Jovirzo. Setelahnya, Alan meletakan gelas tersebut disamping batu nisan Javas.


Brukhh!


Alan berlutut dan meremas tanah yang masih basah itu dengan tangannya yang masih berlumuran darah. Bibirnya ingin mengucapkan sesuatu namun terceghat saat dia meneteskan air matanya. Bahkan sampai sesegukan.


"Ka... Kakak...." Dengan sekuat tenaga Alan mengucapkan panggilan yang sangat dinanti oleh Javas sejak ia masih hidup.


"Kakak." Alan meneteskan air matanya tanpa henti. Rasa penyesalan yang sangat mendalam karena tidak bisa melihat wajah Javas untuk terakhir kalinya.


Kau belum memberitau ku apa yang Rachman sembunyikan dariku, kenapa kau lebih dulu pergi... Sial! Batin Alan.


"Arghhhhh!!!!" Teriak Alan dengan air mata terus menetes.


Ini pertama kalinya Alan meneteskan air matanya dengan wajah penuh kesedihan. Sebelumnya dia hanya meneteskan air matanya tanpa reaksi apapun di wajah tampan dan datarnya itu. Setelah puas berada dimakam Javas, Alan kembali ke mansion guna membersihkan diri. Dan dia berniat kembali ke Indonesia sekitar jam 2 pagi. Karena bagaimana pun, Alan membutuhkan istirahat.