
...Menanti dan Menunggu memang melelahkan, tapi Dinanti dan Ditunggu itu sebuah keberuntungan. ...
...🥀MBMB🥀...
Tengah Malam
Arisa terbangun karena seperti biasanya dia merasa kehausan saat tengah malam. Dan alangkah terkejutnya saat melihat Alan tertidur pulas disampingnya. Wajahnya yang tampan dan damai membuat siapa pun menatapnya teduh.
Kalo aku foto gak apa apa kan?? Batin Arisa sembari meraih ponselnya dan memotret Alan yang tertidur.
(Hasil fotonya👆🏻.)
Ganteng banget sih, kan susah bencinya. Batin Arisa.
"Apa kamu kurang kerjaan??!" Tanya Alan tiba tiba membuat Arisa terkejut. Terlebih saat Alan membuka matanya dan bangkit dari tidurnya.
Gleg.
Dengan susah payah Arisa menelan ludahnya kasar. Takut Alan akan memarahinya dengan kalimat singkat namun menyakitkan.
"I...itu... Aku...—"
"Sadari posisimu, pengantin pengganti!" Ucap Alan kemudian pergi menuju ke kamar mandi meninggalkan Arisa yang terdiam. Sakit?? Tentu saja sangat sakit.
Kakak jahat, tapi kenapa aku gak bisa benci ke kakak?? Batin Arisa.
Prankkk!
Arisa membanting ponselnya membuat Alan sedikit terkejut. Arisa mengabaikan Alan begitu saja kemudian keluar untuk niat pertamanya mengambil minum. Bahkan Arisa mengijak ponselnya yang dibanting.
**Handphone ini kesukaanku karena sudah lebih 5 tahun menemaniku itu sebabnya aku merawatnya.* ~Arisa*.
Alan menghela napas panjang membiarkan ponsel itu tetap disana. Dia memilih mengambil ponselnya dan ditatapnya baru jam 1 pagi. Dan sesuai dugaannya, saudaranya yang ada di Italia tampak mengucapkan selamat atas pernikahannya. Dan bahkan ada yang memintanya untuk kesana karena ingin bertemu dengan Arisa.
Meskipun RC sudah bubar... Mereka tetap mengingat ku, setidaknya ini alasan aku tidak membencimu Emilio. Batin Alan sembari menatap balkon.
Dan saat itu juga Alan sedikit menoleh mendapati Arisa yang kembali naik diatas ranjang kemudian menarik selimutnya sampai sebatas leher.
Haus banget sih, kenapa bunda suruh aku tidur lagi sih?? Gak di kasih minum lagi. Batin Arisa sembari memelankan dehemannya. Hingga saat itu pintu terbuka dan tampaklah Avindra membawakan segelas air. Sadar Avindra datang, Arisa menyingkirkan pecahan ponselnya ke kolong ranjang.
"Kakak." Ucap Arisa.
"Kakak tau kenapa kamu bangun, minumlah setelah itu kembali beristirahat hmm??" Jawab Avindra sembari menghusap puncak kepala adiknya. Sekilas dia menatap Alan yang berdiri di kaca balkon seolah mengabaikan Avindra.
Maafkan kakak Arisa, kamu pasti menderita dengan sikap Alan... Tapi kakak yakin Alan memang tepat untukmu. Batin Avindra kemudian pergi. Dengan wajah senang Arisa pun meminumnya kemudian kembali tidur.
Alhamdulilah, untung ada kakak... Kakak emang yang terbaik. Batin Arisa kemudian tidur. Begitu Arisa tertidur pulas, Alan pergi keluar guna melihat keadaan.
"Kenapa ayah tidak tidur??" Tanya Alan saat melihat Zain berdiri didekat jendela besar yang ada di hotel tersebut.
"Tidak apa, Arisa sudah tidur??" Jawab Zain dan kembali bertanya.
"Sudah." Jawab Alan singkat. Zain hanya meresponnya dengan anggukan kepala pelan.
"Jangan berniat menceraikannya Alan... Atau kamu akan membuat keluarga Alison dan Anvert bermusuhan... Arisa putri kesayangan dan satu satunya Arion, dia bisa melakukan apa pun demi kebahagiaan putrinya... Apa pun, termasuk jika kamu menceraikannya Arion akan langsung bertinda... Dia memang ayah yang luar biasa." Ucap Zain. Alan hanya terdiam. Toh, memang begitu sifatnya.
"Tidak, mereka akan ikut mengantar Arisa ke vilamu." Jawab Zain. Alan tak merespon, toh dia tau jika Arion berharap lebih padanya sebagai menantu.
"Dan kau harus tau, Arion kesal padaku karena membatalkan resepsi... Itu seolah menujukan jika aku tidak menganggap Arisa sebagai menantuku dan Arion marah karena itu." Ucap Zain lagi. Alan hanya menghela napas panjang, seharusnya dia tidak membatalkan resepsi pernikahannya karena bagaimana pun Arisa kini resmi menjadi menantu keluarga Alison.
"Uncle tampan!!!" Panggil Ardika membuat Alan dan Zain terkejut. Ardika berlari kecil menghampiri Alan dan dengan sigap Alan menggendongnya.
"Kenapa belum tidur??" Tanya Alan.
"Tidak mengantuk, Opa sudah tua sehalusnya tidul bial tidak sakit." Ucap Ardika sembari menatap tajam Zain seolah memarahinya. Yang mana membuat Zain terkekeh.
"Saat memarahi ku kamu sangat mirip dengan ayahmu, pangeran kecil." Ucap Zain sembari mencubit hidung Ardika.
"Tidak, aku lebih tampan dali ayahku... Karena ayahku sudah tua dan aku masih muda." Ucap Ardika membuat Zain semakin gemas. Dan saat itu juga tampak Alita datang bersama suaminya.
"Disini kamu rupanya, bunda mencarimu kemana mana." Ucap Alita sedikit memarahi putra kecilnya itu. Dia pun mengambil alih Ardika ke gendongannya.
"Kenapa rambut bunda basah?? Bunda mandi tengah malam?? Nanti dedek bayinya bisa sakit gimana??" Tanya Ardika bertubi tubi membuat Alita menatap suaminya yang menahan tawa.
"Dedek bayinya tidak akan sakit... Kau tenang saja son." Ucap Avindra sembari menghusap puncak kepala putranya.
"Baiklah, bunda ayo tidul... Aldika mengantuk." Ucap Ardika sembari menyandarkan kepalanya.
"Baiklah ayo." Ucap Alita sembari membawa Ardika ke kamarnya. Disusul Zain yang kembali ke kamarnya.
"Aku juga kembali ke kamarku." Ucap Avindra sembari hendak pergi.
"Kau marah padaku?? (Avindra menghentikan langkahnya.) Bahkan kau tidak menanyakan tentangku." Ucap Alan. Avindra hanya tersenyum, kemudian menoleh Alan sekilas.
"Bagi seorang kakak, kebahagiaan adiknya adalah yang utama... Sampai kamu mau menerima Arisa, jangan berharap aku akan mau bicara denganmu Alan." Ucap Avindra kemudian pergi. Alan terdiam. Menatap punggung Avindra yang perlahan menjauh.
Pagi Harinya
Seperti yang Zain katakan, Arion dan keluarganya mengantar Arisa sampai depan Vila mewah Alan. Sambutan hangat dari para pelayan yang menjaga di vila Alan. Dan iya, ini sangat berat untuk Antia. Dia harus dipisahkan dengan putri kesayangannya.
"Jangan lupa sesekali datang ke vila... Bunda akan sangat merindukanmu." Ucap Antia dengan linangan air mata. Arisa tersenyum kemudian menghapus air mata sang ibu.
"Pasti bunda, tanpa bunda suruh." Ucap Arisa.
Karena Arisa merasa pernikahan ini tidak akan bertahan lama. Batin Arisa.
"Aldika mau ikut aunty, Aldika mau ikut." Ucap Ardika sembari membawa koper kecilnya. Dan yang membuat lainnya gemas, dalam koper kecilnya itu hanya berisi mainannya.
"Hahaha!!! Ardika setidaknya kamu harus membawa pakaian, bukan hanya mainannya saja." Ucap Rian dan lainnya ikut tertawa kecil. Arisa pun mendekati keponakannya dan memegangi kedua bahu kecil Ardika.
"Ardika boleh kesini jika bisa mengucapkan huruf R dengan benar." Ucap Arisa membuat mata Ardika berbinar.
"Benalkah?? Aunty lihat saja nanti." Ucap Ardika.
"Arisa, kami pulang... Alan titip Arisa." Ucap Arion.
"Pasti." Jawab Alan. Arion dan keluarganya pun pulang meninggalkan Arisa. Toh sekarang Arisa harus ikut kemana pun suaminya pergi.
"Arisa sayang, ayo masuk." Ucap Niranda sembari merangkul Arisa masuk kedalam vila.
Diikuti Alan Zain dan Rian.