
{}Keesokan Harinya
Pagi pagi Antia sudah bersiap siap. Hari ini adalah hari kenaikan kelasnya. Dengan ditemani sang kakak Antia menuju ke sekolah. Di dalam mobil Antia menyalakan hpnya dan dikejutkan oleh berita utama yang telah dilihat lebih dari 100M orang dalam sehari. Isi beritanya adalah Colvis Anvert Grop Perusahaan terbesar Di Dunia. Antia menatap kakaknya yang fokus menyetir.
"Kak apa kau tau Colvis Anvert Grop itu?" Tanya Antia.
"Oh, itu memang jarang dipublikasikan hanya saja kali ini paparazi berhasil mengungkap." Jawab Andian.
"Begitu ya... Presdirnya sangat hebat mungkin dia melakukan ini untuk orang tuanya." Lirih Antia. Andian menatap Antia sekilas.
"Dia melakukan ini untuk orang yang penting baginya." Jawab Andian. Antia hanya mengerutkan keningnya. Sesampainya disekolah, Andian memakirkan mobilnya.
"Tia!!" Panggil seseorang yang tampak familiar baginya.
"Sista." Ucap Antia. Sista Maharani adalah sehabat Antia satu satunya. Antia dan Andian mendekati Sista.
"Jadi dia sehabatmu?" Tanya Andian.
"Iya kak...Sis ini kakakku Andian... Kakak ini Sista." Jawab Antia memperkenalkan. Andian hanya mengagguk begitu mendapati sapaan dari Sista.
"Sis kau bilang om Reno dan tante Tarti sedang keluar kota kau kemari dengan siapa?" Tanya Antia.
"Oh iya aku kemari dengan kakakku. Sekalian aku akan memperkenalkannya padamu dan kak Andian." Jawab Sista. Antia pun mengagguk sambil tersenyum. Tak berapa lama kemudian, Antia tampak dibuat kagum oleh kecantikan dan kesederhanaan kakak Sista.
"Ini kakakku Arila... Kak dia sehabatku Antia dan sebelahnya kakaknya kak Andian." Jelas Sista memperkenalkan.
Andian melirik sekilas dan seketika langsung berdiri. Dan takala terkejutnya Arila. Andian menarik pergelangan tangan Antia.
"Ayo masuk." Ucap Andian tampak emosi.
"Ayo Sista." Ucap Arila juga takala kesal.
Sedangkan Sista dan Antia bertanya tanya apa ada sesuatu diantara kedua kakaknya. Antia hanya mengikuti langkah Andian begitu melihat wajah Andian yang tampak emosi. Sesampainya di Aula. Andian dan Antia duduk dibangku depan mendengarkan penyebutan peringkat dari kepala sekolah.
"Baiklah yang paling ditunggu peringkat pertama diraih oleh.....Cantia Putri Vania....selamat untuk Cantia." Ucap Kepala sekolah. Dengan gembira Antia berdiri dan memeluk kakaknya.
"Kak aku peringkat pertama." Ucap Antia bahagia. Andian melepas pelukannya perlahan dan menghusap puncuk kepala Antia.
"Kakak bangga padamu... Begitu pun kak Glan jika disini... Naiklah ke atas panggung." Ucap Andian.
Antia pun mengagguk dan dengan semangat naik ke atas panggung. Begitu mendapatkan piala dan piagam Antia tersenyum ke arah Andian kemudian Sista dan Arila. Namun tiba tiba seluruh ruangan gelap. Membuat semua orang panik.
"Tenang tenang jangan panik... Tetap duduk mungkin ini ada kesalahan." Ucap Kepala sekolah menenangkan. Sedangkan Andian hanya menyenderkan punggungnya dan menyilangkan kakinya.
"Aneh tidak biasanya mati lampu seperti ini?" Lirih Andian bertanya tanya. Sedangkan Antia hanya menunduk mendapati ruangan gelap gulita.
Tiba tiba sebuah sorot cahaya tertuju padanya. Membuat Antia yang tertunduk menatap bingung ke sorot cahaya itu. Tak berapa lama kemudian satu sorot lagi menyorot pada peria bertubuh tinggi dan kekar dengan pakaian serba hitam. Antia menatap peria itu bingung.
*Tak tak tak* Suara langkah demi langkah peria itu mendekat pada Antia. Antia hanya bingung dan tersadar saat peria itu tepat didepannya.
*Ctak!* Suara jarinya membuat seluruh ruangan kembali terang. Seluruh orang yang disana pun penasaran dengan peria yang mendekat pada Antia. Peria itu mendekat membuat Antia menunduk takut. Dengan tangan bersarung tangan hitam mengangkat dagu Antia.
"Gadis kecilku... Selamat untuk keberhasilanmu dan kita akan bertemu nanti." Ucap peria itu.
"Benar benar nekat." Lirih Andian.
Antia menatap peria itu sampai atap aula tertutup rapat. Antia tersadar dari lamunannya dan kembali duduk.
"Kak kenapa kau diam saja? Kakak mafia itu mencium keningku tadi." Kesal Antia.
"Dia pasti memiliki nama bukan seorang mafia... Karena sudah terlambat... Ayo kita pulang." Ajak Andian sambil berdiri.
Antia pun mengagguk dan mereka dengan bangga pun keluar dari Aula. Saat Andian melewati Arila mata setajam elang itu melirik. Sungguh peristiwa langka bagaimana seorang Andian menatap wanita yang dianggapnya sangat menjengkelkan.
"Menjauhlah dari hadapanku." Ancam Andian pada Alira tentu membuat Arila hanya menunduk takut.
Begitu diparkiran Antia berhenti membuat Andian yang hendak masuk kedalam mobil mengurungkan niatnya.
"Adapa? Ayo masuk." Ucap Andian. Antia menunduk sejenak menatap piala dan piagamnya.
"Kak kita pergi ke makam kak Glan... (Antia menatap Andian berkaca kaca) Ini peringkat pertama untukku aku ingin kak Glan tau." Ucap Antia pelan. Andian menghela napas panjang dan mengangkat dagu Antia.
"Tentu, Kenapa tidak agar kak Glan tau kecerdasan adik kecilnya." Jawab Andian.
Antia pun mengagguk tersenyum. Di perjalanan hening menyelimuti. Antia masih mengingat peria yang tanpa penolakan tubuhnya mendekatinya.
Terlintas saat melihat reaksi kakaknya begitu menemui Alira. Dengan keberanian penuh Antia pun menatap Andian.
"Kakak ada masalah ya dengan kak Arila?" Tanya Antia. *Ckiiittt!* Andian mengijak rem tiba tiba membuat kening Antia terbentur.
"Aduh." Rintih Antia. Seketika membuat Andian cemas.
"Kau tidak apa apa? Salahmu sendiri kenapa menanyakan hal konyol itu." Ucap Andian. Antia menghusap keningnya dengan wajah cemberut.
"Hal konyol apa? Kakak terlihat jelas membenci kak Alira." Ungkap Antia membuat Andian sadar.
Andian pun melanjutkan perjalanan sembari merutuki dirinya sendiri. *Adapa denganku? Hampir saja Antia terluka* Batin Andian.
Sampailah di tujuan. Andian dan Antia menuju ke batu nisan dengan bertuliskan nama lengkap kakak pertamanya Glanavo Putra Anza. Setelah mendoakan Glan, Antia berjongkok dan mengelus batu nisan kakaknya.
"Hallo kak Glan, Kakak pasti sedang tenang di surga... Ini bukan pertama kali aku kemari menjengukmu... Kau lihat aku sudah besar kak... Dan aku mendapat peringkat pertama seperti impianku...Aku harap kau bahagia mendengar kabar ini kak." Ucap Antia tak terasa sampai meneteskan kristal bening. Andian pun menepuk bahu Antia.
"Sudah sore ayo pulang kak Glan sangat bahagia mendengar ini.... Ayo jangan menangis ya." Ucap Andian menenangkan. Antia pun mengagguk dan meninggalkan makam kakaknya.
Tanpa mereka sadari seorang datang setelah mereka pergi. Peria yang memakai hodie hitam, celana jans hitam, sarung tangan hitam juga masker hitam. Peria itu berjongkok dan mengelus batu nisan makam Glan. Peria itu membuka maskernya dan tampaklah wajah yang sangat tampan dan rupawan.
"Kak Glan, aku sudah menepati janji jadi izinkan aku menjaga gadis kecilku dan adik kecilmu...Kau bahkan bilang ingin melihatnya bersanding dengan peria yang pas tapi justru kau pergi...Akan aku pastikan dia bahagia bersamaku...Dan kasusmu akan aku selsaikan...Aku permisi." Ucap Peria itu.
"Maaf tuan muda, Tuan Gio menolak dan akan tetap menjodohkan nona Antia." Ucap sekertarisnya. Peria itu memasang wajah dingin dan mengerikan. Tangannya mengepal erat. Peria itu perlahan berdiri.
"Baiklah... Ku rasa aku harus memberinya pelajaran. Sebarkan berita tentang kemunculanku di Indonesia kita lihat apa dia masih menolakku." Ucap Peria itu.
"Baik Tuan Muda." Jawab mutlak dari sekertarisnya. Peria itu kembali menggunakan maskernya. Dan meninggalkan pemakam diikuti oleh lebih dari 8 orang.