
JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖
TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘
I LOVE YOU READERS😙💕
...🥀MBMB🥀...
Antia tak henti hentinya mengomeli putri bungsunya itu. Bukan karena marah, tapi dia khawatir dengan kesehatannya. Bagaimana bisa dia tidak makan siang dan malam?? Bahkan Arion sendiri tidak bisa menentang sang istri mengingat tidur terpisah sebagai ancamannya.
"Bunda... Arisa cuman kecapean kok, bunda jangan khawatir." Ucap Arisa.
"Kecapean gimana?? Kamu nggak makan siang sama makan malam cuman nungguin Alan kan?? Suka boleh sayang, tapi pikirkan kesehatanmu... Buka mulutmu." Ucap Antia sembari menyondorkan sesuap nasi.
"Arisa udah kenyang bund—"
"Baru beberapa suap... Pokoknya harus habis." Ucap Antia. Dengan wajah terpaksa, Arisa pun menerima suapan dari sang ibu.
"Maaf mengganggu nyonya... Tuan, anda harus menemui salah satu klyen." Ucap Kean.
"Tunda saja." Ucap Arion.
"Tapi ini permintaan dari Presdir ZA Group tuan." Jawab Kean yang mana membuat Arion berdiri.
"ZA Group?? Kita pergi sekarang... Sayang aku pergi dulu ya, Arisa ayah pergi dulu." Ucap Arion. Dengan bergantian mencium kening dua orang yang sangat penting baginya.
"Kamu hati hati dijalan." Ucap Antia.
"Bay ayah." Ucap Arisa sembari melambaikan tangannya. Arion pun tersenyum dan pergi meninggalkan Antia dan Arisa.
"Bunda nggak kasih tau Lista kan??" Tanya Arisa.
"Nggak... Bunda tau kalau Lista bakalan bolos jika tau kamu begini." Jawab Antia sembari menyuapi Arisa.
"Iya dia selalu begitu... Bund... Arisa mau kuliah di luar negeri boleh??" Tanya Arisa.
"Nggak... Bunda nggak izinin, nanti kamu lupa waktu sama kayak kakak kamu... Kamu tega ninggalin bunda sama ayah??" Jawab Antia.
"Bunda... (Menggegam tangan Antia.) Arisa cuman pengen mandiri dan dewasa... Boleh ya bund, cuman 3 tahun kok." Ucap Arisa memohon.
"Kenapa tiba tiba ingin kuliah di luar negeri?? Disini saja, toh Alan juga menetap di sini." Ucap Antia.
"Please, yah... Arisa pengen mandiri bund." Ucap Arisa dengan mata berkaca kaca. Yang mana membuat Antia menghela napas panjang.
"Bunda akan bicarakan hal ini pada ayah." Ucap Antia. Arisa pun tersenyum bahagia dan memeluk erat Antia.
"Arisa sayang bunda." Ucap Arisa.
"Bunda juga sayang kamu." Jawab Antia sembari menghusap puncak kepala putrinya. Arisa melepaskan pelukannya saat salah satu pelayan datang.
"Nyonya... Tuan muda sudah kembali." Ucapnya.
"Dia sudah kembali... Arisa sayang, kamu istirahat ya... Bunda temui kakak kamu dan calon kakak ipar kamu." Ucap Antia sembari tersenyum.
"Siap bunda." Jawab Arisa sembari mengacungkan jempolnya. Senyumannya pudar saat Antia benar benar pergi.
Sebenarnya Arisa sendiri tidak mau jauh dari keluarganya. Tapi, rasa cintanya ke Alan membuatnya ingin berubah berharap Alan akan menerimanya. Dan jika Alan benar benar tidak menerimanya, Arisa akan pasrah dan membiarkan Alan bahagia dengan wanita pilihannya.
"Kalian sudah kembali." Ucap Antia sembari menghampiri Avindra dan Alita. Sedangkan Elliot duduk disofa tidak ingin mengganggu.
"Bunda ini—" Ucapan Avindra terjeda saat Alita tiba tiba bersimpuh dan memohon pada Antia.
"Nyonya saya tidak ada hubungan apapun dengan putra anda... Biarkan saya pergi, aku mohon!!" Ucap Alita sembari menangis.
"Alita... Apa maksudmu??" Tanya Avindra sembari mendekat. Antia pun membantu Alita berdiri.
"Jangan lakukan itu nak... Berhentilah menangis, aku sangat berterima kasih padamu yang sudah menyelamatkan putraku." Ucap Antia.
"Bu... Bukan aku nyonya... Sungguh... Bukan aku yang menyelamatkannya... Aku bahkan tidak mengenalnya... Ku mohon biarkan aku pergi." Ucap Alita membuat Avindra geram.
"Bunda jangan dengarkan dia, dia yang menyelamatkan ku!!!"
"Apa yang kamu inginkan?? Aku akan memenuhinya sebagai tanda terima kasih ku padamu." Ucap Antia sembari menepuk bahu Alita.
"Aku ingin pergi dari sini." Jawab Alita.
"Baiklah... Seseorang akan mengantarmu pergi." Ucap Antia.
"Bunda!!! Tidak!!!! (Menarik tangan Alita.) Kau tidak bisa pergi dari sini... Kamu calon istriku... Jangan berniat lari ataupun pergi dariku!!" Ucap Avindra. Antia melepaskan gegaman Avindra pada Alita.
"Biarkan dia pergi... Seseorang didepan akan mengantarmu pergi." Ucap Antia.
"Terima kasih nyonya... Saya permisi, Saya berhutang budi padamu." Jawab Alita buru buru pergi.
"Alita!!!! Alita!!!! Bunda kenapa membiarkannya pergi?!!! Argh!!!!!" Ucap Avindra dengan emosi meluap. Dia menendang meja kaca sampai pecah dan berlari menyusul Alita.
"Tante kenapa membiarkannya pergi??" Tanya Elliot.
"Tante tidak menduga jika Avindra sangat menyukai gadis itu... Elliot, bisa tolong lacak kemana Vian pergi mengantar Alita??" Ucap Antia.
"Jadi—"
"Iya... Ini memang rencana tante... Tanpa sepengetahuan Avindra bantu tante... Dan iya, katakan hal ini pada Alan." Ucap Antia kemudian membisikan sesuatu pada Elliot.
"Alita!!! Alita!!! Vian berhenti!!! Vian!!!!!!" Teriak Avindra saat mobil yang membawa Alita pergi jauh. Alita menoleh sekilas menatap Avindra yang berlutut. Dilihatnya wajahnya penuh kesedihan.
"Tuan, anda tidak memberitau kemana aku pergi padanya kan??" Tanya Alita.
"Saya hanya patuh pada nyonya... Jika tuan muda membunuhku sekalipun saya tidak akan memberitaukannya." Jawab Vian membuat Alita bernapas lega.
.
.
.
"Jadi kau, Presdir ZA Group... Astaga yang benar saja." Ucap Arion terkekeh melihat Alan duduk dihadapannya. Iya, Alan adalah Presdir ZA Group yang kedudukannya diatas CA Group. ZA sendiri singkatan dari Zaials nama belakang Alan.
"Bisa kau bebaskan mafia dari tahanan Interpol??" Tanya Alan tanpa basa basi.
"Tergantung seberapa bahaya mafia itu." Jawab Arion.
"Dia buronan sejak 30 tahun." Ucap Alan.
"Apa?!! Kau bercanda Alan?? Saat aku membebaskan Zain saja memerlukan waktu kurang dari 3 bulan untuk melawan bukti bukti... Dan kau memintaku membebaskan mafia buronan sejak 30 tahun dalam waktu 1 bulan??" Ucap Arion terkekeh.
Iya, dengan kekuasaan dan bakatnya Arion bisa membebaskan para mafia dengan melawan bukti bukti. Jangan lupakan jika dulu Arion cucu dari mendiang Anvert yang mana Anvert sendiri Consigliere mafia Italia atau pengacara mafia di Eropa.
"Aku akan memenuhi semua permintaan anda." Ucap Alan.
"Termasuk menikahi putriku??" Tanya Arion yang mana membuat Alan terdiam.
"Aku hanya bercanda... Alan, Aku sudah tua... Bakatku juga sedikit menurun... Minta bantuanlah pada Avindra, karena dia yang menemukan bukti saat membebaskan Zain 3 tahun lalu." Jelas Arion.
"Aku mengerti... Terima kasih atas saranmu." Ucap Alan kemudian pergi.
Mafia buronan sejak 30 tahun??? Apa yang dia maksud... Emilio?? Batin Arion sembari menatap punggung Alan yang perlahan menjauh.
"Sebenarnya siapa dia sebenarnya?? Mafia?? Presdir?? Dia terlalu berbakat." Ucap Arion.
"Tuan, bukankah ini kesempatan anda agar bisa—"
"Aku tau maksudmu Kean... Tapi, Aku yakin... Kelak Alan memang menjadi pendamping hidup Arisa... Melihat potensinya, aku menjadi tenang jika Arisa akan bahagia disampingnya... Jika Avindra bisa membantunya... Dia akan meminta Alan menikahi Arisa... Terpaksa atau tidak Alan pasti akan memenuhinya." Ucap Arion sembari tersenyum. Wajahnya tetap memancarkan ketampanan meskipun sudah dimakan usia.
Saat Alan hendak masuk kedalam mobil. Dia mendapatkan pesan dari Elliot. Yang mana membuatnya terdiam ditempat.
Ini akan sama sama menguntungkan. Batin Alan. Dia pun masuk dan duduk di jok belakang.
"Bagaimana?? Apa yang tuan Anvert katakan??" Tanya Machel.
"Hanya Avindra yang bisa membantu... Ke Kediaman Anvert sekarang." Jawab Alan. Machel pun menganggukan kepalanya kemudian melajukan mobilnya.