
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊
Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕
Sedangkan dengan Andian. Andian tampak terjebak diantara kegelapan. Dia mendengar suara Arila yang memanggil namanya. Andian ingin menjawabnya dan memberitau padanya bahwa dia baik baik saja. Namun, bibirnya terasa kaku untuk berucap.
Kenapa aku tidak bisa bicara?? Dimana aku?? Batin Andian.
Andian pun putus asa karena suara Arila perlahan menghilang. Saat itu tiba tiba sorot sinar menerpa wajahnya. Membuat Andian mendekat ke sumber sorotan sinar tersebut. Andian menyingkirkan semak semak yang menghalaunya.
Matanya terbelak saat melihat taman bunga yang terlihat sangat indah. Terdapat air mancur juga kupu kupu berterbangan indah. Perhatian Andian teralihkan saat melihat seorang peria yang duduk dikursi taman sembari memberi makan wortel pada kelinci berbulu putih. Andian pun mendekat ke arahnya. Mata Andian terbelak sekaligus terkejut mengetahui siapa peria itu.
"Kak Glan." Ucap Andian lirih.
Andian merasa bibirnya tidak sekaku tadi saat hendak menjawab panggilan dari Arila. Mendengar panggilan itu, peria itu tersenyum dengan manisnya. Iya, peria itu tidak lain Glan kakak dari Andian dan Antia. Wajahnya tampak bersinar dan tampan seperti saat terakhir kali Andian melihatnya.
Glan pun bangkit dari duduknya dan menatap adiknya. Glan merentangkan kedua tangannya dan memberikan isyarat pada Andian untuk memeluknya. Dengan segera Andian memeluknya. Serasa nyata Andian seperti tidak mau melepaskan pelukannya.
"Kakak aku sangat merindukanmu." Ucap Andian. Tampak Glan melepaskan pelukannya dan menatap Andian sembari tersenyum.
"Aku juga merindukanmu dan adik kesayangan kita." Jawab Glan.
"Kalau begitu kembalilah... Kita kembali seperti dulu, daripada kakak disini sendirian." Ucap Andian.
"Aku tidak bisa kembali meskipun aku ingin kembali... Aku tidak apa sendirian tapi dari sini aku bisa melihat kalian semua." Ucap Glan.
"Kalau begitu aku akan ikut dengan kakak... Aku akan tetap disini." Ucap Andian. Membuat Glan tersenyum dan memegang kedua bahunya.
"Tidak... Kau masih harus kembali... Ada banyak orang yang menanti mu tersadar dari mimpi panjang ini... Aku tetap disini karena kehidupan ku didunia sudah berakhir dan kini aku kembali ketempat asalku." Jelas Glan.
"Tapi siapa yang menanti ku??" Tanya Andian. Glan tersenyum dan menujuk kearah belakang Andian. Membuat Andian berbalik dan melihat Arila yang melambaikan tangannya agar Andian mendekat.
"Andian ayo kembali... Aku sangat merindukanmu." Ucap Arila.
Tanpa pikir panjang Andian berlari mendekat ke arah Arila. Andian pun memeluknya dan mencium kedua pipinya. Setelah itu Andian berbalik menatap Glan. Glan tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Kakak mau Kemana??" Tanya Andian.
"Aku harus kembali keasalku... Aku menunggu kalian disana sampai waktunya tiba... Andian hargailah hidup selagi ada waktu... Perbaiki dirimu selagi ada kesempatan... Selamat tinggal adikku." Jawab Glan dan perlahan menghilang dari pandangannya.
Bertepatan dengan itu, Andian merasa silau dengan cahaya yang tampak menyorot padanya.
Sedangkan dengan Arila yang tengah memegang tangan Andian pun terkejut melihat jari Andian bergerak. Tentu membuatnya bahagia.
"Ma... Pa... Antia... Jari Andian bergerak... Lihatlah." Ucap Arila sembari tersenyum bahagia.
"Benar... (Lyin memegang tangan Andian yang satunya.) Andian... Sadarlah nak...." Ucap Lyin.
Melihat hal itu Arion pun menekan tombol khusus memanggil dokter. Beberapa saat kemudian, dokter datang dan langsung memeriksanya. Setelah memeriksanya tampak dokter tersenyum.
"Selamat Nona... Suami anda telah melewati masa kritisnya." Ucap sang dokter membuat semua orang tersenyum bahagia.
"Jadi dokter kapan suamiku sadar??" Tanya Arila.
"Mungkin dalam waktu dekat ini nona... Jadi bersabarlah dan terus berdoa." Jawab dokter.
"Baiklah dokter kami mengerti." Ucap Antia. Arila mencium punggung tangan kekar Andian.
"Terima kasih.... Kau sudah mau bertahan untuk ku dan anak anak kita." Ucap Arila.
"Ma...pa Arila ingin berdua dengan Andian... Bisa kalian keluar?? Arila mohon." Ucap Arila.
"Baiklah sayang kita menunggu diluar. Ingat jangan bersedih... Andian sudah terbebas dari masa kritisnya jadi kita tunggu sampai dia sadar." Ucap Lyin.
Arila pun mengagguk setelah itu Lyin dan lainnya pun membiarkan Arila berdua dengan suaminya. Setelah mereka pergi, Arila tampak tersenyum menatap Andian. Dia pun menggegam tangan Andian dan mengelusnya.
"Aku yakin kau tidak akan meninggalkan aku... (Mencium kening Andian.) Cepatlah sadar aku menunggumu." Ucap Arila.
Arila pun duduk disamping ranjang Andian dan menyandarkan kepalanya dibibir ranjang. Tentu Arila terus menggegam tangan Andian sampai akhirnya dia tertidur. Melihat hal itu, membuat Antia bahagia karena Arila dan Andian kini sudah saling mencintai. Karena tidak ingin mengganggu, Antia Arion Lyin dan Gio menunggu diluar. Raka yang baru keluar ruangan pun mendekat kearah mereka.
"Bagaimana kak?? Laki laki atau perempuan??" Tanya Antia.
"Prediksinya laki laki tapi tidak tau saat lahir nanti. Bagaimana keadaan Andian sekarang??" Jawab Raka.
"Dokter bilang Andian terbebas dari masa kritisnya." Ucap Arion.
"Syukurlah... Aku bisa bernapas dengan lega sekarang... Lalu kapan dia sadar??" Tanya Raka.
"Aku yakin dia akan sadar... Secara dia seperti manusia bernyawa 7." Canda Raka.
"Raka kau ini." Ucap Lyin sembari menjewer telinga Raka sekilas.
"Aduh bibi sakit..." Ucap Raka. Mereka pun tertawa kecil.
Saat itu terdengar handphone milik Antia berdering. Segeralah Antia membukanya. Tampak ada sebuah pesan dari Sista.
Sista Maharani, Antia kau sudah mengerjakan skirpsi yang dosen berikan minggu lalu... Besok skripsinya harus dikumpulkan.
Aduh aku hampir lupa... Sekarang masih sore lebih baik aku pulang mengerjakan skirpsi dan baru kembali kesini. Batin Antia.
Cantia Putri, Aku hampir lupa... Aku masih dirumah sakit... Kau tau kakakku sudah menggerakan jarinya.
Balasan pun terkirim. Beberapa saat kemudian tampak balasan dari Sista muncul.
Sista Maharani, Benarkah... Aku turut bahagia jadi kapan kakak ipar sadar?
Cantia Putri, Mungkin dalam waktu dekat... Oh iya ada kabar membahagiakan kau mau tau apa?
Sista Maharani, Kabar bahagia apa??
Cantia Putri, Kakak ipar sedang mengandung dua bayi sekaligus >_<
Sista Maharani, Ini kabar yang sangat membahagiakan... Ayah dan ibu ku pasti sangat bahagia. ^_^
Cantia Putri, Tentu saja mereka kan akan menjadi kakek dan nenek.
Antia yang sibuk membalas chat dari Sista pun mengabaikan Arion. Arion mencoba mencubit pipi Antia namun tidak ada reaksi. Tentu membuat Arion kesal dan mengintip apa yang disibukan oleh Antia.
Sista Maharani, Iya juga ya... Em Antia kapan denganmu bukankah kau akan pergi honeymoon setelah kakak ipar sadar nanti, kenapa tidak secepatnya saja.
Melihat chat dari Sista pun membuat Antia merona. Tanpa membalas chat darinya Antia mematikan handphonenya dan memasukannya kedalam tas tangannya. Saat menatap Arion tampak Arion tersenyum senyum sendiri membuat Antia risih.
"Kenapa senyum senyum begitu??" Tanya Antia dengan nada berbisik.
"Kenapa tidak kau balas chat dari Sista... Apa kau malu sayang??" Jawab Arion menggoda.
"Jadi kamu mengintip chat ku... Dasar tidak punya pekerjaan." Kesal Antia sembari memanyunkan bibirnya.
"Oh manyun terus... Mau aku cium hmm??" Goda Arion.
"Ehem!!!!!" Secara serentak Raka Antika Lyin dan Gio berdehem. Membuat Antia merona malu.
"Kayaknya menantu mama ini pengen berduaan ya sama istrinya, sampai tidak kenal tempat." Ucap Lyin.
"Mama apaan sih.... Antia mau pulang dulu ngerjain skripsi." Ucap Antia.
"Ngerjain skripsi atau ngehabisin waktu bareng suami??" Goda Raka.
"Ish kak Raka apaan sih... Ayo kita pulang." Ucap Antia sembari menarik Arion pergi. Melihat hal itu pun membuat semuanya terkekeh.
Diparkiran tampak Antia memandang Arion kesal. Melihat hal itu membuat Arion tersenyum dan memeluk Antia dari belakang.
"Beneran mau ngerjain skripsi?? Bukannya tadi kamu bilang mau nungguin Andian sadar, bahkan sampai nggak mau makan siang." Goda Arion. Antia melepas pelukannya dan menatap Arion.
"Kalau kamu nggak mau pulang... ya udah aku naik taxi aja." Ucap Antia kesal.
"Jangan dong sayang... Ya udah yuk pulang jangan kesel kesel gitu nanti cantiknya hilang gimana??" Ucap Arion menggoda Antia.
"Nggak peduli lagian siapa suruh bikin kesel. Jadi pulang nggak, kalau nggak ak—" Ucapan Antia terjeda lantaran Arion membungkam nya dengan ciuman dibibirnya. Saat Antia kehabisan napas saat itulah Arion melepas ciumannya.
"Udah ya jangan ngambek... Ayo kita pulang." Ucap Arion. Dengan raut muka kesal Antia masuk kedalam mobil. Mereka pun menuju ke Vila kediamannya.
Sedangkan dengan Renzo.
Dia tampak frustasi karena tidak menemukan Lyara. Renzo menepikan mobilnya dijalan yang tampak sepi. Renzo memukul stir mobilnya.
"Ah!!!! Ini semua salah ku, harusnya aku melupakan Aline... Lyara tidak salah dia bahkan bertanya baik baik tapi aku malah membentaknya... Aku memang peria br*ngs*k!!!! Mungkin dirumah mama Yuni, aku akan mencarinya kesana." Ucap Renzo.
Tanpa pikir panjang, Renzo pun kembali melajukan mobilnya menuju kekediaman Yuni.
Sedangkan Lyara sendiri tengah berada disebuah apartemen tersembunyi. Apartemen itu terletak diperbatasan kota tidak heran jika suasananya sepi dan tersembunyi. Lyara duduk dibalkon kamarnya, perlahan air matanya jatuh takala mengingat ucapan Renzo padanya.
"Pantas saja sebelum tidur Renzo selalu menatap handphonenya bahkan sampai tak berkedip... Ternyata dia memandang foto wanita yang dicintainya itu, sepertinya aku gagal untuk mempertahankan pernikahan ini.... Usahaku selama dua bulan ini sia sia." Lirih Lyara sembari menangis. Lyara pun merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan tertidur dengan lelapnya.