
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊
Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕
Sesampainya didalam kamar. Bukannya langsung tidur, Antika justru mengambil cemilan yang ada di laci dan menyalakan televisi. Antika memakan snack sambil menonton televisi. Melihat hal itu membuat Raka geleng kepala.
Pasalnya, cemilan yang Antika ambil tidaklah tanggung tanggung. Raka pun duduk disamping Antika dan tampak pandangan Antika masih fokus pada televisi sembari terus memakan snacknya.
Raka pun membelai puncak kepala Antika. Karena terganggu, Antika duduk sedikit menjauhi Raka. Bukannya marah, Raka justru tersenyum dengan sikap Antika. Karena terus diabaikan Antika, Raka pun tidur dipangkuan Antika. Dikiranya Antika akan marah namun tidak ada penolakan darinya. Raka memandang perut rata Antika dan menciumnya.
Disinilah anak ku berada, baik baiklah disana nak. Batin Raka sembari tersenyum.
"Sayang kenapa kau terus mengabaikanku??" Ucap Raka pura pura cemberut.
"Sayang, aku sedang fokus menonton televisi... Jadi, aku tidak ingin diganggu." Jawab Antika.
"Baiklah, jika kau mengabaikanku... Masih ada baby junior. Aku akan mengeluhkan hal ini padanya." Ucap Raka.
Antika hanya merespon anggukan dan kembali fokus dengan kegiatannya. Tampak tangan Raka mengelus perut Antika. Sedangkan Antika tampak menyukai suasana itu. Dia sangat senang saat Raka menghusap perutnya.
"Apa yang kau rasakan??" Tanya Raka.
"Tidak ada, hanya semakin hari terasa sedikit berat." Jawab Antika.
"Terima kasih sayang... Karena telah memberiku kebahagiaan terbesarku." Ucap Raka.
"Sudah kewajibanku... Kau mau ini... Ayolah aku akan menyuapimu." Ucap Antika sembari menyondorkan snack di tangannya.
Raka pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Antika. Antika terus menyuapi Raka dan kemudian dirinya. Raka tersenyum melihat Antika yang memanjakannya. Raka bangkit dari posisinya begitu snack di tangan Antika habis.
"Kamu mau kemana??" Tanya Antika.
"Ke kamar mandi, ikut??" Goda Raka.
"Emang boleh ikut??" Tanya Antika polos. Seketika Raka langsung berdiri.
"Boleh tapi tidak sekarang... Jika sekarang aku bisa memakanmu... Kau mengemil saja." Jawab Raka kemudian menuju ke kamar mandi.
Antika tersenyum melihat sikap Raka yang beberapa akhir ini menahan nafsunya. Antika memandang perut ratanya kemudian menghusapnya.
Apa kau mengantuk? Sepertinya kita harus tidur sekarang. Batin Antika.
Karena malas harus berjalan ke ranjang, Antika memilih untuk membaringkan tubuhnya diatas sofa yang saat ini dia duduki. Beberapa saat kemudian Antika pun hanyut dalam mimpinya.
Begitu Raka keluar dari dalam kamar mandi, dia tersenyum melihat istrinya tertidur di sofa dengan kondisi meja masih berserakan penuh dengan snacknya. Dia pun mendekati istrinya yang terbaring.
Istriku tersayang lelah rupanya... Baiklah biarkan suamimu ini menggendong mu ya. Batin Raka.
Raka pun perlahan menggendong Antika. Tampak Antika tidak terganggu sedikit pun. Raka tersenyum saat menatap istrinya. Perlahan dia membaringkannya diatas ranjang kemudian menyelimutinya. Raka pun mencium keningnya dan kemudian beralih menghusap perut Antika.
"Semoga mimpi indah sayang." Lirih Raka.
Setelah itu dia pun memeluk pinggang Antika dan kemudian memejamkan matanya. Perlahan dia juga hanyut dalam mimpinya.
Keesokan Harinya
Arila membuka matanya perlahan. Tampak pandangan pertama yang dia lihat adalah wajah tampan Andian. Arila tersenyum takala mengingat kejadian semalam. Arila pun menuju ke kamar mandi hendak membersihkan dirinya.
Beberapa saat kemudian, Andian juga bangun dari tidurnya. Melihat Arila sudah tidak ada disampingnya, membuat Andian langsung bangkit dari posisinya.
Kemana Arila?? Apakah dia sedang mandi?? Batin Andian bertanya tanya.
Begitu mendengar suara gemricik air, saat itulah Andian yakin jika Arila sedang mandi. Andian menatap jam dinding yang menujukan pukul 8 pagi. Andian tersenyum kala sejak hubungannya membaik, Andian menjadi sering telat bangun dari jam biasanya. *Cklekk!!!* Pintu kamar mandi terbuka. Tampaklah Arila yang hanya menggunakan jubah mandinya.
"Baru bangun??" Tanya Arila sembari membuka lemari.
"Kau marah padaku?? Kenapa ketus begitu??" Ucap Andian balik bertanya.
"Tidak, buat apa aku marah sekarang... Semuanya sudah terjadi." Jawab Arila.
"Awas saja jika kau berani ketus lagi padaku... (Mendekati Arila dan menepatkan bibirnya tepat didaun telinganya.) Aku tidak akan melepaskanmu." Ucap Andian.
"Iya ya... Menjauhlah aku akan mengganti pakaianku... Kau bilang akan mengajakku belanja kan?? Cepat bersiap siap." Ucap Arila.
"Iya... Baiklah aku mandi dulu." Ucap Andian dan mencium pipi kanan Arila dimana membuat wajah Arila semerah tomat.
Arila pun menatap Andian yang sudah masuk kedalam kamar mandi. Arila pun menuju ke walk in closet sembari membawa pakaian pilihannya.
Beberapa saat kemudian. Andian dan Arila sama sama rapi. Kini mereka tengah menikmati sarapan paginya. Suasana hening hanya ada suara piring dan sendok yang beradu. Selesai sarapan Arila dan Andian pun hendak pergi ke Mall seperti yang Andian janjikan pada Arila sebelumnya. Namun saat hendak berangkat tiba tiba *Ting tong.* Bel Villa berbunyi. Segeralah Gian membukakan pintunya. Tampak seorang peria dan seorang wanita yang berdiri didepannya. Peria itu tersenyum pada Andian.
"Andian." Panggil peria itu. Merasa familiar Andian pun menoleh dan merasa terkejut.
"Kau... Zain kan??" Tanya Andian memastikan.
"Iya aku Zain sobat... Tidakah kau memelukku." Jawab peria itu yang bernama Zain.
Andian pun memeluk Zain dan Zain membalas pelukannya. Setelah berpelukan, Zain terbelak saat melihat Arila. Membuatnya mendorong Andian perlahan.
"Hey sobat... Apakah gadis menyebalkan itu menjadi istrimu??" Tanya Zain menggoda.
"Hai Arila... Kau mengenalku?? Aku Zain Alison teman satu kampus denganmu dulu." Ucap Zain memperkenalkan.
"Oh iya aku ingat... Senang berkenalan denganmu." Ucap Arila sembari menyondorkan tangannya.
Saat Zain akan menjabat tangan Arila, Andian lebih dulu menampisnya. Membuat Arila bingung dan Zain terkekeh. Sadar yang dia lakukan, Andian menjadi salah tingkah.
"Tidak perlu berjabat tangan... Ada penyakit menular akhir akhir ini. Bisa saja dia membawa penyakit Corona." Ucap Andian tampak sedikit gugup.
"Wah ku rasa kau bukan Andian kutub lagi... Baguslah... Oh iya sayang... Dia Andian sahabatku saat kuliah dulu dan sebelahnya Arila istrinya." Ucap Zain memperkenalkan nya.
"Senang bertemu denganmu... Aku Niranda kau bisa memanggilku Nira." Ucap Nira istrinya Zain.
"Ah iya... Senang berkenalan denganmu juga... Oh iya Ayo duduk dulu." Ajak Arila. Nira dan Zain pun menanggapinya sembari tersenyum.
"Zain kapan kau pulang dari Jerman?? Kenapa sudah 4 tahun ini tidak mengabari ku." Ucap Andian.
"Baru kemarin lusa... Arion bilang istri Raka sedang hamil jadi aku langsung ingat padamu... Maaf karena lama tidak mengabari mu." Ucap Zain.
"Tidak masalah... Baguslah setidaknya Arion mengingatkanmu agar tidak melupakanku." Jawab Andian.
"Hahaha... Andian kau memang masih seperti dulu... Andian adikmu sudah lulus sekarang, apa benar Arion akan menikah dengannya??" Ucap Zain.
"Dia sudah lama menanti... Tentu saja sudah menjadi haknya jika ingin menikahi adikku." Jawab Andian.
"Zain... Nira silahkan minum dulu." Tawa Arila.
"Eh... Maaf ya jadi repotin." Jawab Nira sopan.
"Enggak ngerepotin sama sekali kok Nir." Ucap Arila. Tentu membuat Zain dan Nira tersenyum.
"Makasih loh ya." Ucap Nira lagi.
"Iya sama sama." Jawab Arila.
Di Kediaman Anza
Mobil mewah milik Arion memasuki halaman. Kean pun membukakan pintu untuk tuan mudanya. Tampak Arion keluar dengan membawa sesuatu. Arion pun memasuki Kediaman Anza dan diikuti Kean.
Gadis kecilku tersayang... Ini sudah saatnya ku harap kau bisa memberikan keputusanmu. Batin Arion bahagia.
Begitu Arion masuk, tampak Antia Lyin dan Gio tengah bercanda tawa di ruang keluarga. Antia menatap Arion dengan tersenyum begitu pun sebaliknya.
"Arion tumben baru dateng... Biasanya pagi pagi buta udah dateng." Ucap Gio.
"Iya om... Ada sedikit masalah perusahaan yang harus ku urus sendiri." Jawab Arion.
"Begitu ya... Ini anak mama udah dari tadi gerutu katanya kamu belum dateng dateng." Ucap Lyin sengaja menggoda putrinya.
"Mama ih..." Keluh Antia dengan wajah merah semerah tomat.
Arion mendekati Antia dimana membuat Antia semakin salah tingkah.
"Om... Bibi aku izin bawa Antia jalan jalan ya." Ucap Arion.
"Boleh dong sayang. Yang penting hati hati dijalan." Ucap Lyin mewakili.
"Pasti bibi." Jawab Arion.
"Ya udah Antia siap siap dulu... Kak Arion tunggu ya." Ucap Antia kemudian menuju ke kamarnya.
"Arion kamu yakin akan secepat ini??" Tanya Gio.
"Sangat om... Aku butuh doa restu dan dukungan om dan bibi." Jawab Arion.
"Pasti kami sebagai orang tua mendukung mu nak." Ucap Gio.
"Dan aku minta jangan panggil om dan bibi lagi... Kau sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga kami... Kau sudah seperti anak ku sendiri... Panggil kami papa dan mama sama seperti Antia dan Andian memanggil kami." Ucap Lyin.
Dimana membuat Arion terpaku. Baginya panggilan itu sudah lenyap sejak dia masih umur 6 tahun. Tapi, Arion sangat bahagia saat panggilan itu akan segera dia ucapkan. Kean yang mengerti posisi Arion pun menatapnya sendu.
Karena Kean setidaknya sudah pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya sampai dia berumur 12 tahun dan setahun setelah mereka meninggal akhirnya Kean dipertemukan dengan Arion. Lyin pun bangkit dari duduknya dan mendekat pada Arion.
"Kalian berdua kemarilah... Anggap aku sebagai ibu kalian... Mulai saat ini aku tidak hanya memiliki 3 orang anak tapi 5 orang anak... Kemarilah." Ucap Lyin. Arion pun menatap Kean dan begitu pun sebaliknya.
Lyin merentangkan kedua tangannya. Dimana membuat Arion dan Kean perlahan mendekati Lyin kemudian memeluknya layaknya ibu kandungnya. Gio yang melihat suasana haru itu pun ikut meneteskan air matanya. Perlahan Kean dan Arion pun melepaskan pelukannya.
"Terima kasih karena sudah mau menjadi sosok ibu untuk kami." Ucap Kean sembari menghapus air matanya.
"Itu tidak perlu Kean... Sekarang kau tidak hanya punya Arion tapi kau punya kami sebagai ayah ibumu." Ucap Lyin.
"Aku mengerti bu." Ucap Kean pertama kalinya mengucapkan kata ibu setelah lama dia tidak mengucapkannya.
"Dan Arion??" Tanya Lyin.
"Terima kasih mama." Jawab Arion.
Lyin pun tersenyum dan menghusap puncak kepala Arion dan Kean bergantian.
Aku tau seperti apa rasanya hidup tanpa sesosok ayah dan ibu... Mungkin kebanyakan orang jika di posisi kalian akan menyerah begitu saja... Tapi kalian membuat ku terharu... Kalian terus berusaha sampai akhirnya dunia mengenal kalian... Terlebih aku sangat bahagia saat putri ku mendapatkan peria yang sangat mencintainya. Batin Lyin.
Saat itulah, Antia tampak menuruni tangga dan mendekat ke arah mereka. Antia menatap Arion yang terlihat seperti habis menangis.
"Kak Arion... Kenapa kakak menangis?? Dan kau juga Kean??" Tanya Antia cemas.
"Tidak ada apa apa sayang... Ayo kita pergi sekarang... Ma... Pa... Kami pamit." Jawab Arion.
"Iya... Hati hati dijalan ya sayang." Jawab Lyin mewakili.
Arion mengaggukan kepala dan menggandeng tangan Antia. Mereka pun memasuki mobil dan perlahan meninggalkan kawasan Kediaman Anza.
Sedangkan dengan Renzo
Hari ini adalah hari dimana Renzo dan kedua orang tuanya akan melamar seorang gadis. Mereka sengaja melakukan lamaran secara diam diam sebelum nantinya menikah.
Lama menunggu akhirnya dua orang tua dari gadis itu datang menghampiri Renzo Renia dan Anzo yang tengah duduk menunggunya. Juga sepasang suami istri yang masih muda.
"Maaf membuatmu menunggu Zo." Ucap seorang peria yang sebaya dengannya.
"Hahaha, kau ini seperti dengan siapa Al... Sebentar lagi juga kita akan jadi besanan." Ucap Renia pada peria itu yang tak lain Alfa.
"Iya Ren... Ini toh putra tunggal kamu??" Tanya Alfa.
"Iya... Renzo ini paman Alfa dan tante Yuni yang sebentar lagi juga jadi ayah dan ibu kamu... Dan yang itu kakak ipar kamu." Jawab Renia memperkenalkan.
"Senang bertemu dengan kalian paman... Tante dan kakak." Ucap Renzo sembari tersenyum.
"Waduh sopan dan tampan ya anak kamu Ren... Cocoklah jadi menantuku." Ucap Yuni dan disambut tawa kecil.
"Eh iya... Mana si cantik itu... Masa calon suaminya dateng dia nggak muncul." Ucap Renia.
"Eh iya... Lusi panggil adik kamu ya." Ucap Yuni.
"Iya ma." Jawab Lusi putri sulungnya.
Oh jadi dia kakak iparku... Aku pikir dia yang jadi calon istriku. Batin Renzo bernapas lega.
"Oh iya sayang, mommy tau kamu suka sama gadis yang bodynya bagus dan perhatian... Makannya mommy jodohin kamu sama dia... Dia itu cantik banget." Ucap Renia berbisik ditelinga putranya.
Di hatiku masih tetap Aline yang tercantik. Batin Renzo.
*Tak,tak,tak* Suara langkah kaki mendekat. Membuat Renzo yang tadinya menundukan kepala mengangkat pandangannya. Matanya terbelak saat melihat gadis secantik itu. Gadis itu duduk disamping ibunya dengan pandangan masih menunduk.
"Lyara sayang... Ini calon suami kamu namanya Renzo... Dan itu calon mertua kamu tante Renia dan om Anzo." Ucap Yuni memperkenalkan.
"Hallo kak... Tante om... Kenalin aku Lyara." Ucap Lyara sembari tersenyum manis.
"Ya ampun cantik banget deh calon menantu ku... Berapa umur kamu nak??" Tanya Renia.
"25 tahun tante." Jawab Lyara. Dimana membuat Renzo terkejut.
Mommy ini apa apaan sih... Kok njodohin aku sama yang masih seger gini... Nggak tau apa bentar lagi umur ku memasuki kepala 3. Tapi nggak apa apa sih lumayan. Batin Renzo.
"Langsung saja, kapan pernikahannya akan berlangsung??" Tanya Alfa.
"Besok gimana Al... Nikah secara diam diam aja dulu buat pendekatan mereka entar kalo udah deket tinggal umumin pernikahan mereka." Jawab Renia.
"Mommy... Itu terlalu cepat... Kenapa harus besok??" Keluh Renzo.
"Lebih cepat lebih baik... Lagi pula cuman ijab qobul terus sah deh... Kenapa kamu bikin susah??" Jawab Renia.
"Sepertinya kamu udah nggak sabaran aja Ren... Ya sudah besok kita ke KUA saja karena memang pernikahannya mendadak jadi ijab qobulnya dilaksanakan disana saja. Bagaimana??" Usul Yuni.
"Setuju... Jadi besok ya pernikahannya... Maklum lah pengen cepet cepet gendong cucu." Ucap Renia membuat semuanya tertawa kecil.
Kak Renzo ganteng banget... Nggak nyesel aku terima perjodohan mama... Aku tidak peduli jika dia dingin padaku nanti... Yang pasti aku akan berusaha sebaik mungkin mempertahankan rumah tanggaku. Batin Lyara.
Bonus Malam Minggu🤗☺