
Extra Part
Extra part spesial untuk para readers, jangan lupa komen, like dan votenya ya❤️
{6 Tahun Kemudian}
Hari ini adalah hari ulang tahun si kembar yang ke–5. Terdengar suara tawa anak anak yang tampak bahagia. Namun, ada saja kejahilan diantara mereka. Seperti saat ini, tampak dua anak laki laki yang satu berumur 6 tahun dan satunya lagi 5 tahun tengah memanjat pohon yang lumayan tinggi.
"Renaf, tarik tanganku... Aku juga mau memanjatnya." Ucap anak yang berumur 6 tahun.
"Tidak, nanti aku jatuh... Kamu panjat aja sendiri." Ucap anak yang berumur 5 tahun.
Pada akhirnya mereka berdua pun berhasil memanjatnya dan duduk disana sembari melihat teman teman seumurannya tengah menikmati hidangan. Saat itu, tampak Arila mencari seseorang. Melihat sang istri bingung, Andian pun menghampiri.
"Sayang, kamu cari siapa??" Tanya Andian.
"Mas, kamu lihat Renaf kemana??" Jawab Arila kembali bertanya.
"Loh... Tadi katanya mau ambil kue sama si Delvin." Ucap Andian.
"Pasti mereka keluar... Mas cari dong, acaranya mau dimulai." Ucap Arila sedikit mengomel. Disaat mereka berdua tengah berdebat tampak Raka mendekat.
"Kalian lihat Delvin??" Tanya Raka.
"Tidak, jangan jangan..." Ucap Andian menggantung kemudian pergi ke taman belakang rumah dan disusul Raka.
Sesampainya disana, Andian menepuk keningnya begitu melihat anak bungsunya duduk diranting pohon dengan santainya. Iya, anak laki laki yang berumur 5 tahun adalah anak bungsu Andian dan Arila. Dia jahil, nakal, dan suka membuat onar di rumah. Cavan Renafo Anza.
Sedangkan untuk anak berumur 6 tahun tidak lain anak tunggal Raka dan Antika. Sifatnya sama persis seperti Raka dulu saat masih muda. Delvin Putra Utama. Tampak keduanya tersenyum melihat ayah mereka datang.
"Papi... Lihat, Delvin sudah besar kan... Delvin bisa memanjat pohon tanpa bantuan Papi." Ucap Delvin sembari menggoyangkan ranting pohon yang dia pegang.
"Delvin ayo turun... Acaranya mau dimulai, kalian berdua seperti monyet yang bergelantungan." Ucap Raka sembari mengulurkan kedua tangannya hendak menggendong Delvin.
"Papi jika aku monyet... Papi gorila dong, kan gorila ayahnya monyet." Ucap Delvin membuat Raka memijit pelipisnya. Karena kesal, Raka menggendong tubuh anaknya dari pohon.
"Dasar anak nakal... Sejak kapan gorila punya anak monyet." Ucap Raka sembari menatap anaknya.
"Sejak tadi." Jawab Delvin membuat Raka membeku. Andian menggeleng kepala pelan dan menghampiri anaknya.
"Renafo turun... Atau nanti ayah menghukummu." Ancam Andian.
"Gendong Yah." Ucap Renafo sembari merentangkan kedua tangannya. Andian pun tersenyum dan menggendong putranya itu.
Mereka berdua pun kembali masuk kedalam karena acara ulang tahunnya akan dimulai. Begitu masuk tampak Arila menatap tajam putranya. Membuat Renafo menyembunyikan wajahnya pada dada bidang ayahnya.
"Renaf... Nakal kamu ya, kalau jatuh dari pohon gimana?? Siapa yang ajarin??" Tanya Arila sembari menjewer kecil telinga putranya.
"Sakit ibu... Ayah yang ajarin... Waktu itu ayah panjat pohon, terus paman Raka bilang yang bisa manjat pohon cuman orang dewasa... Jadi kita panjat, berarti Renaf sudah dewasa kan bu... Kan Renaf bisa panjat pohon." Jelasnya membuat Arila menghela napas panjang.
"Sudah, ayo katanya kamu mau potong kuenya." Ucap Arila. Dengan semangat Renafo turun dari gendongan ayahnya.
"Yey... Potong kue, ibu memang yang terbaik." Ucap Renafo berlari menuju ke arah meja yang terdapat kue ulang tahunnya.
"Ibu, kakak es mana??" Tanya Renafo.
"Di kamar, bentar ibu panggilin." Jawab Arila.
Arila pun menaiki tangga dan menuju ke kamar putra sulungnya. Sesampainya disana, Arila membuka pintunya. Tampak seorang anak laki laki berumur 5 tahun tengah berkutat di leptopnya. Arila datang dan menutup leptopnya.
"Rean, kamu sudah sering ibu bilangin... Jangan terlalu sering bermain leptop kamu masih anak kecil tidak baik untuk kesehatan matamu." Omel Arila. Tampak putranya menurut dan meletakan leptopnya diatas nakas.
"Memang apa yang kamu lihat di leptop??" Tanya Arila.
"Tidak, hanya melihat beberapa pengusaha berbakat seperti paman Arion." Jawabnya.
Anak sulung Andian dan Arila hanya lewat 10 menit dengan Renafo. Sifatnya sangat mirip dengan Andian yang dingin dan tidak suka bercanda. Cavan Reanzo Anza.
"Sudahlah... Ayo turun acara sudah akan dimulai." Ucap Arila menggandeng tangan putranya. Mereka berdua pun keluar dari kamar.
"Kakak es... Sini kuenya besar banget." Ucap Renafo tampak bersemangat. Dengan wajah terpaksa dia pun berdiri disampingnya. Mereka berdua pun meniup lilinnya.
"Yey!!!!" Sorak mereka bahagia. Renafo pun memotong kuenya sedikit dan menyuapkannya pada Reanzo.
"Kakak es... Ayolah sedikit saja." Mohon Renafo sembari memasang wajah imutnya. Reanzo pun menerima suapan kuenya sangat sedikit.
"Kakakku yang terbaik." Ucap Renafo. Saat itu tampak Arion datang bersama dengan Antia yang sedang hamil besar.
"Paman tampan." Ucap Renafo dan Delvin bersamaan.
"Halo keponakan paman yang nakal... Renaf, Rean selamat ulang tahun ya." Ucap Arion sembari menyondorkan paper bag yang berisikan hadiah.
"Terima kasih paman, bibi." Ucap Reanzo. Melihat sikap dingin kakaknya melekat pada Reanzo membuat Antia gemas dan menghusap puncak kepala Reanzo kemudian baru Renafo.
"Sama sama sayang." Ucap Antia.
"Bibi, bibi menjadi badut ya?? Kenapa bibi memakai bantal diperut bibi??" Tanya Renafo polos. Hal itu membuat lainnya tertawa kecil.
"Tidak, bunda tidak jadi badut... Ada dedek bayi disini." Ucap seorang anak sembari memeluk Antia.
Anak itu tidak lain putra sulung Antia yang baru berumur 4 tahun. Dia cekatan, cerdas namun suka bercanda. Colvis Avindra Putra Anvert.
"Wah benarkah?? Bibi kapan dia keluar?? Kami ingin melihatnya." Ucap Delvin.
"Nanti dia akan keluar, bunda bilang dia perempuan dan akan sangat cantik... Iya kan bund??" Ucap Avindra.
"Iya sayang." Jawab Antia sembari tersenyum.
"Anak anak, bagaimana jika kalian bermain saja... Tapi jangan main jauh jauh dan jangan panjat pohon." Ucap Arila.
"Yey, ayo kita bermain." Ucap Delvin Renafo dan Avindra bersemangat sedangkan Reanzo hanya menghela napas panjang.
"Mereka sangat nakal... Kau tau Antia, Renaf dan Delvin baru saja memanjat pohon." Ucap Arila.
"Hahaha... Namanya juga anak kecil kakak ipar." Ucap Antia sembari tertawa kecil.
"Antia ayo duduk bersama Antika dan Niranda... Kamu pasti lelah jika terus berdiri." Ajak Arila.
"Sayang kamu pantau Avindra, awas saja jika dia terluka." Ucap Antia.
"Iya sayang... Kamu hati hati jaga baby angel baik baik." Jawab Arion sembari mencium keningnya.
Antia dan Arila pun menuju ke tempat duduk dimana disana sudah ada Antika dan Niranda yang sedang menggendong anak laki laki 2 tahun.
"Hallo Antia, bagaimana kandunganmu??" Tanya Antika begitu Antia dan Arila duduk.
"Sangat baik, hai Rian tampan." Jawab Antia sembari mencubit pipi Rian Putra Alison, anak kedua Niranda dan Zain. Tampak Rian memegangi pipinya dan membuat lainnya tertawa kecil.
"Berapa umurnya??" Tanya Antia.
"Baru 2 tahun... Selamat atas kehamilanmu yang kedua Antia, aku dengar anakmu perempuan ya?? Pasti dia akan secantik dirimu." Jawab Niranda.
"Hahaha iya, sesuai keinginanku dan suamiku." Ucap Antia.
Mereka pun berbincang sembari tertawa kecil. Diam diam, Niranda menatap ke arah Avindra yang sedang asik bermain.
Jika Anazo masih hidup, dia pasti ikut bermain bersama mereka. Batin Niranda sedih.
"Oh iya, kak Naira tidak bisa ikut hadir... Dia sedang sakit, jadi dia menitipkan hadiah dan doa untukmu." Ucap Antia.
"Ah tidak masalah." Jawab Arila sembari tersenyum.
"Sayang sekali Lyara tidak ada disini." Ucap Antika.
"Iya, kak Renzo sih, kenapa juga Deryl harus disekolahin di Wingshtoon." Ucap Antia.
"Mungkin karena Deryl bersama Delvin akan menjadi keonaran disekolahnya." Canda Arila dan mereka pun tertawa kecil.
Setelah lama berbincang, akhirnya mereka pun berfoto bersama sebagai kenang kenangan nantinya. Semua sudah komplit, hanya Renzo dan Lyara yang tidak ada disana. Mereka berfoto dengan wajah bahagianya.
{Di Roma, Italia.}
Seorang peria berumur 30 tengah duduk sembari mengamati bocah berumur 6 yang seharusnya masih bermain dan bersenang senang tengah berlatih menembak bidikan.
“Dorrr!!!! Dorrr!!!! Dorrr!!!!” Tiga kali tembakan dan tepat mengenai bidikan.
"Kerja bagus, tidak sia sia aku mengajarimu selama ini." Ucap peria itu sembari berdiri.
"Kelak kau pasti bisa melindungi orang yang kamu sayangi." Timpal peria itu. Bocah itu meletakan sarung tangan hitam dimeja.
"Aku hanya mau melindungi orang yang penting bagiku." Ucap bocah itu membuat peria itu terkekeh.
"Terserah padamu." Ucap peria itu. Setelah bocah itu pergi, tampak peria itu menghela napas panjang.
Semuanya akan berlalu seiring berjalannya waktu, begitu pula kau Alan... Kelak kau juga akan hidup dengan orang yang kau cintai, tidak tau siapa dia asal kamu mencintainya aku pasti akan merestuinya. Batin peria itu.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
~TAMAT~
Season 1 sudah tamat nih, semoga para readers suka dengan happy ending nya...😄🌟🎉 Kita akan bertemu di season 2, itu janji.👌😘😚