Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
ALFAREZI RACHMAN [AR.c]



JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


NB: Cerita ini lebih fokus ke Alan ya alias Alfarezi Rachman... Oke😉


...🥀MBMB🥀...


Seminggu Kemudian


Antia tak henti hentinya memarahi Arisa meskipun hanya lewat telefon atau video call. Bagaimana tidak Antia marah, baru seminggu pergi saja Arisa terlalu ceroboh dan hampir terserempet mobil.


“Bunda Arisa tidak apa apa, teman Arisa datang... Arisa tutup telefonnya, sayang bunda.” Ucap Arisa sebelum akhirnya menutup telefon.


"Ya Allah, Arion!!!" Ucap Antia yang mana membuat Arion menyemburkan kopinya karena terkejut. Karena memang, Arion tengah menikmati secangkir kopinya sembari membaca koran.


"Sayang ada apa?? Arisa membuatmu kesal??" Tanya Arion sembari mengelap bibirnya.


"Bagaimana aku tidak kesal?!! Anak itu terluka, bagaimana bisa dia tinggal lama disana?? Dia terlalu ceroboh." Jawab Antia sembari duduk dibibir ranjang.


"Dulu kamu juga ceroboh." Lirih Arion.


"Kamu bilang apa mas?!" Ucap Antia sembari menatap tajam Arion.


"Tidak sayang... Aku hanya mengatakan Arisa memang ceroboh." Jawab Arion.


"Dia memang ceroboh, sama sepertimu!" Ucap Antia yang mana membuat Arion menghela napas panjang. Saat Arion hendak berucap, ponselnya lebih dulu berdering.


"Siapa??" Tanya Antia.


"Dari Zain, sebentar ya sayang." Jawab Arion kemudian mengangkat telefonnya.


📞


“Halo Arion.”


“Ada apa?? Kau membutuhkan sesuatu??” Tanya Arion.


“Aku harus pergi... Tidak bisa ditunda, bisa Antia menjagakan istriku di rumah sakit... Hanya sampai sore, aku janji.”


“Baiklah, setelah makan siang aku akan ke rumah sakit bersama dengan istriku.” Jawab Arion.


“Terima kasih banyak Arion... Aku tutup telefonnya.”


“Terima kasih kembali.” Jawab Arion.


Tut.


"Kenapa mas??" Tanya Antia penasaran.


"Zain harus pergi... Sepertinya dia terlalu sering menunda pertemuan, dan sekarang harus pergi." Jawab Arion.


"Kalau begitu kita kerumah sakit sekarang... Kasihan kak Nira." Ucap Antia yang mana membuat Arion mengecurutkan bibirnya kesal.


"Sayang, kenapa tidak Avindra dan menantu kita yang pergi?? Kita—"


"Kamu ingin mengganggu mereka menbuatkan cucu?? Kita pergi sekarang, jangan seperti anak kecil." Ucap Antia memotong membuat Arion bertambah kesal. Dia pun akhirnya menurut pada sang istri karena bagaimana pun keinginannya mendapatkan seorang cucu juga sangat besar.


"Bunda mau kemana??" Tanya Avindra saat melihat sang ibu sudah berpakaian rapi.


"Ke rumah sakit... Jagain tante Nira... Rian sama ayahnya lagi pergi.." Jawab Antia.


"Bunda tidak perlu pergi, lebih baik kita—"


"Tidak perlu sayang, kamu hanya perlu fokus memberikan bunda cucu... Oke?? Mas ayo berangkat." Ucap Antia yang mana membuat Alita merona.


"Tidak makan siang dulu bund??" Tanya Alita.


"Nanti makan siang di luar... Bunda pergi dulu, Assalamualaikum." Jawab Antia kemudian pergi bersama sang suami.


"Walaikumsalam, hati hati bunda... Ayah." Ucap keduanya bersamaan. Begitu Antia dan Arion pergi, tampak Avindra tersenyum miring.


"Sayang kau dengar itu?? Kita harus sering melakukannya agar Avindra junior hadir." Ucap Avindra meyakinkan Alita. Tampak Alita menggeleng takut.


"Itu sangat sakit, aku tidak mau." Jawab Alita membuat Avindra lagi lagi menghela napas panjang. Pasalnya mereka berdua melakukan 'hal itu' hanya sekali saat malam pernikahan. Avindra tidak tega melihat Alita yang berteriak kesakitan karena dirinya. Terlebih diiringi tangisan.


"Karena itu kita harus sering melakukannya agar tidak sakit, sayang." Ucap Avindra.


"Tapi aku takut, itu sangat menyakitkan." Cicit Alita sembari menundukan pandangannya.


"Baiklah aku tidak akan memaksa, aku ke ruang bacaku dulu... Panggil aku jika makan siang sudah siap." Ucap Avindra kemudian pergi setelah memberikan ciuman di kening Alita. Alita menatap punggung Avindra yang perlahan menjauh.


Apa Avindra marah?? Batin Alita. Saat hendak menyusul sang suami, seseorang datang dan memanggil namanya.


"Alita, dimana Avindra." Tanyanya.


"Di ruang baca, perlu aku panggilkan??" Jawab Alita kembali bertanya.


"Tidak perlu." Ucapnya kemudian meninggalkan Alita.


Lebih baik aku bantu pelayan siapkan makan siang, aku akan memasakan makanan kesukaannya. Batin Alita.


"Nona anda tidak per—"


"Tidak apa apa Vian, Avindra sepertinya marah... Biarkan aku memasakan makanan kesukaannya." Ucap Alita memotong. Vian pun membiarkan Alita memasak.


Sedangkan dengan Avindra. Dia duduk di sofa dengan kasar. Berkali kali dia menghela napasnya. Kesal? Tentu saja, karena bagaimana pun Avindra juga seorang pria yang memiliki hawa n*fsu terlebih dia kini pria yang sudah menikah.


Ting!


Pintu terbuka membuat Avindra menoleh. Dia menatap malas saat tau yang datang adalah pria penyebab Arisa pergi. Siapa lagi jika bukan Alan.


"Apa ini??" Tanya Arion.


"Apa mendapatkan gelar MBA di kampusmu tidak berguna?!" Ucap Alan datar. Dengan kesal Avindra membaca barkas yang Alan berikan. Namun, wajah kesalnya memudar saat dia sudah membaca barkas tersebut.


"Jadi, ibu dari Alita adalah—"


"Mas." Panggil Alita dari balik pintu. Alan pun bangkit dari duduknya, sejenak dia menatap Avindra.


"Hubungi aku jika ada sesuatu... Dimana paman Arion??" Ucap Alan kemudian bertanya.


"Ayah dan bunda di rumah sakit, mereka menjaga tante Niranda... Om Zain dan Rian harus pergi jadi ayah dan bunda ku mewakili sebagai keluarga jika ada sesuatu." Jelas Avindra membuat Alan terdiam.


"Aku pergi dulu." Ucap Alan kemudian pergi.


Aneh, raut wajah Alan berbeda saat aku mengucap tante Niranda... Apa ada sesuatu?? Batin Avindra. Baru hendak bangun, Alita lebih dulu masuk dan mengunci pintu ruang baca Avindra.


"Ayo makan siang berdua." Ucap Alita sembari meletakan baki berisi makanan yang pas dua porsi ke meja.


"Kamu makanlah lebih dulu... Hmm?? Aku mau mandi." Ucap Avindra hendak membuka pintu. Namun dengan cepat Alita menceghat dengan memeluknya dari belakang.


"Mas jangan marah... Aku mau melayanimu lagi jika kamu mau makan." Ucap Alita membuat Avindra menghela napas panjang. Dia berbalik menatap Alita dan menangkup pipi sang istri dengan kedua tangannya.


"Aku tidak mau kamu terpaksa melayaniku... Aku tau kamu takut, aku bisa menahannya sampai kamu—"


"Aku mau melayanimu, jika aku berteriak kesakitan... Tolong tetap lanjutkan, aku ingin melayanimu karena ini tugasku sebagai istrimu." Ucap Alita sembari menatap Avindra.


"Aku mencintaimu Alita." Ucap Avindra sembari mendorong tubuh Alita ke ranjang yang ada di ruang baca.


"Aku juga." Jawab Alita. Keduanya pun menghabiskan waktu bersama.


...🥀🥀🥀...


"Maaf merepotkanmu Antia... Arion." Ucap Niranda yang terbaring diatas ranjang.


"Tidak sama sekali, Zain sudah banyak membantu kami... Istirahatlah, cepat sembuh agar bisa menceramahi suamimu." Ucap Antia membuat Niranda tersenyum.


"Tentu saja, aku akan cepat sembuh... Doakan aku." Ucap Niranda.


"Selalu, sudah makan siang??" Tanya Antia.


"Suamiku menyuapiku tadi, astaga dia menjadi lebih posesif sejak aku sakit." Jawab Niranda dan direspon tawa kecil oleh Antia dan Arion.


"Tuan, tuan muda Alan datang." Ucap Kean.


"Oh Alan, biarkan dia masuk." Jawab Arion. Tampak Alan masuk sembari membawa paper bag.


"Niranda, kenalkan... Dia sahabat Avindra, Alan... Wajahnya orang China tapi dia orang Italia dan menetap disini... Dan Alan, dia Niranda istri dari Zain." Ucap Arion memperkenalkan.


"Italia." Lirih Niranda kemudian menghela napas. Dia tersenyum menatap Alan.


"Kau sangat tampan... Seperti namamu, panggil aku sesukamu saja... Aku tidak mempermasalahkannya, bukan begitu Arion??" Ucap Niranda sembari tersenyum.


"Ya kau selaku begitu." Jawab Arion sembari duduk disamping istrinya.


"I... Ini untuk anda nyonya, semoga lekas sembuh." Ucap Alan sembari meletakan paper bagnya diatas nakas. Niranda membukanya, rupanya syal rajut berwarna merah kecoklatan.


"Terima kasih... Ini sangat indah." Puji Niranda membuat Alan senang.


"Tentu saja sangat indah, itu sepertinya buatan designer terkenal di Italia." Ucap Antia.


"Dan Alan, kamu sudah menyelsaikan penyelidikanmu??" Tanya Arion.


"Hasilnya sudah ku berikan pada Avindra... Paman bisa memeriksanya, aku kemari hanya ingin memberitau itu... Aku pergi, permisi." Jawab Alan kemudian hendak pergi.


"Tunggu." Ucap Niranda membuat Alan membalikan badannya. Tampak Niranda mengeluarkan sesuatu dari laci nakas.


"Kau masih muda, terimalah ini... Souvenir itu aku buat untuk mendiang putraku, tapi melihat souvenir yang kau pakai... Aku rasa kamu akan menyukainya, mau menerimanya kan??" Ucap Niranda. Alan terdiam menatap souvenir yang Niranda pegang. Antia mengambil souvenir Niranda.


"Pemberian orang tua harus diterima." Ucap Antia melepaskan souvenir Alan dan memakaikan souvenir yang Niranda berikan.


"Astaga itu sangat pas untukmu... Simpan itu untuk gonta ganti." Ucap Niranda. Alan menatap Antia dan Antia menganggukan kepalanya.


"Terima kasih... Aku pergi, permisi." Pamit Alan kemudian pergi.


Kenapa aku merasa sangat hangat saat Alan datang?? Batin Niranda menatap punggung Alan yang menjauh.


Sedangkan dengan Alan, dia menghentikan mobilnya disebuah taman kecil yang sepi. Sepertinya itu taman rahasianya untuk menenangkan diri. Alan duduk di kursi berwarna putih itu. Dirinya terdiam sampai seperti sesuatu dari matanya hendak keluar namun dia tahan.



**Om Zain dan Rian harus pergi jadi ayah dan bunda ku mewakili sebagai keluarga jika ada sesuatu.* ~Avindra*.


Ucapan itu terus terngiang ngiang ditelinga Alan. Alan menghela napas panjang dan menatap souvenir yang ditangannya. Souvenir pemberian Niranda hampir mirip dengan Alan, hanya saja motifnya bulan sedangkan milik Alan bintang.


Drttt!! Drttt!!


Ponsel milik Alan berbunyi. Yang mana membuat Alan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku coatnya. Ternyata telefon dari Machel.


📞


“Alan.”


“Hmm??”


“Ada yang mencurigakan di rumah sakit.”


“Ceritakan detailnya”


...🥀🥀🥀...


NEXT PART\=>