
Extra Part—1
Extra part spesial untuk para readers, jangan lupa komen, like dan votenya ya❤️
Hari Anniversary Raka dan Antika
Tampak Antika sibuk memilih beberapa gaun untuk acara penting nanti malam. Tadinya, Raka meminta agar acara itu hanya untuk berdua namun Antika merengek untuk merayakannya bersama keluarga besarnya.
"Nggak muat... (Melempar gaun yang kekecilan dan mengambil gaun lain.) Coba yang ini... Kenapa ini nggak muat juga sih?? Apa aku segendut itu ya." Kesal Antika. Raka yang baru masuk tercengang melihat gaun yang berserakan.
"Sayang, kenapa berantakan begini??" Tanya Raka sembari memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang, kenapa gaunnya nggak muat semua sih?? Apa aku gendut banget ya??" Kesal Antika sembari membelai tangan suaminya yang sedang menghusap perutnya yang menbuncit.
"Kamu nggak gendut kok sayang, cuman gaunnya aja yang kekecilan. Aku sudah memesankan gaun yang muat untukmu... Sebentar lagi juga sampai." Ucap Raka. Hal itu membuat Antika senang dan mencium bibir suaminya sekilas.
"Terima kasih, jadi makin sayang deh." Ucap Antika.
"Menggoda nih ceritanya??" Ucap Raka sembari mencubit hidung istrinya.
"Emm... Sayang, aku boleh nggak undang Lukas buat datang??" Tanya Antika. Tampak raut muka Raka berubah seketika.
"Nggak boleh, ini kan acara keluarga sayang.. Kecuali sahabat kamu, aku nggak ngizinin." Jawab Raka.
"Iya, iya nggak usah ngambek juga. Kalau ngambek gimana mau jaga baby??" Ucap Antika sembari merangkulkan kedua tangannya pada leher kekar suaminya.
"Aku bisa jaga baby kok... Buat aja bisa apalagi jaga." Ucap Raka membuat Antika merona dan memukul lengan Raka.
"Aduh sakit sayang." Ucap Raka. Mereka berdua pun tertawa kecil dengan kebahagiaan mereka.
Di Vila Andian
Arila tangah duduk sembari membaca artikel mengenai ibu hamil muda. Dia ingin kedua anaknya sehat sampai lahir nantinya. Melihat hal itu, membuat Andian mendekat dan menutup kedua mata istrinya dengan kedua tangannya.
"Coba tebak siapa??" Tanya Andian.
"Aku tau itu kamu." Jawab Arila sembari melepaskan tangan Andian dari matanya. Andian pun tersenyum dan duduk disamping istrinya.
"Apa yang kamu baca sampai mengabaikan aku??" Ucap Andian.
"Aku hanya ingin tau apa saja yang dirasakan wanita hamil muda." Jawab Arila sembari menyandarkan kepalanya pada lengan suaminya.
"Baguslah... Kau sudah tidak mual lagi kan??" Tanya Andian sembari menghusap puncak kepala Arila.
"Sedikit... (Memeluk Andian manja.) Tapi, aku ingin Kean membelikan rujak asam manis untukku." Jawab Arila. Tampak Andian terkekeh pelan.
"Ini kamu atau anak kita yang minta??" Goda Andian.
"Baiklah, aku akan menelfon Arion dulu." Ucap Andian hendak mengambil ponselnya diatas nakas. Namun, Arila menceghat membuat Andian mengerutkan keningnya.
"Apalagi??" Tanya Andian.
"Sama... Minta kak Renzo buat petikin mangga muda ya... Secepatnya." Jawab Arila. Andian menghela napasnya panjang kemudian menghusap puncak kepala Arila.
"Baiklah." Ucap Andian membuat Arila bahagia.
Sepertinya aku harus mulai sabar menghadapi Arila, untungnya dia tidak cengeng seperti Antika. Batin Andian. Andian pun menelfon Arion lebih dulu.
📞
"Hallo, Arion aku—" Ucap Andian terpotong.
"Ada apa, kau menelfonku disaat yang tidak tepat." Jawab Arion diseberang sana dengan suara kesal.
"Maaf mengganggu, apa Kean disitu??" Tanya Andian.
"Tidak, dia masih diperusahan. Kenapa??" Jawab Arion diseberang sana.
"Suruh dia pulang sekarang... Jika aku yang meminta dia tidak akan mau." Ucap Andian.
"Ada keperluan apa kau dengannya??" Jawab Arion diseberang sana.
"Arila ingin Kean membelikan rujak asam manis untuknya." Ucap Andian.
"Oh pasti keponakanku yang minta... Baiklah, 20 menit Kean akan datang." Jawab Arion diseberang sana kemudian memutus jaringan telefonnya. Andian menggeleng kepala pelan, takut jika Renzo akan sama kesalnya dengan Arion. Andian memilih untuk mengirim pesan pada Renzo.
Cavan Andian, Kakak petikan mangga muda untuk istriku... Dia sedang merengek, cepat atau aku tidak mau membantu kakak lagi.
Setelah mengirim pesan pada Renzo, Andian hendak meletakan ponselnya kembali. Namun, dia dikejutkan oleh Arila yang memeluknya dari belakang dengan manja. Hal itu membuat Andian tersenyum karena Arila yang pemalu berubah agresif.
"Terima kasih." Ucap Arila. Andian tersenyum dan berbalik menatap Arila kemudian membelai wajah cantiknya.
"Aku tidak mau ucapan, tapi dengan tindakan." Goda Andian.
Mendengar hal itu membuat Arila merona malu. Karena gemas, Andian mencium dalam bibir mungil istrinya. Arila yang terbawa suasana pun melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya. Andian melepaskan ciumannya saat Arila kehabisan napas.
"Aku terima ucapan terima kasihmu." Ucap Andian jail.
"Kau ini." Ucap Arila sembari memukul kecil lengan suaminya.
"Jangan marah, kita tunggu Kean dan kak Renzo... Kau pasti sudah tidak sabar kan??" Ucap Andian dan Arila pun mengagguk dengan mata berbinar.