
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊
Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕
"Hehehe... Mom, sekarang kan sudah malam dan dia bukan pacar mom... Masih calon jadi mommy tunggu ya." Ucap Renzo dengan manja.
"Mommy tidak peduli, Raka sudah mau jadi bapak... Andian sudah menikah... Terus nanti kalo Antia nikah kamu belum nikah apa kamu tidak malu?? Mommy juga pengen cepet cepet gendong cucu." Jawab Renia membuat dengan nada sedikit sedih.
"Mommy...(Menangkup wajah Renia dengan kedua tangannya.) Aku sedang berusaha mengejarnya... Bukankah masih ada waktu sebulan sebelum taruhannya selesai?" Ucap Renzo.
"Memang masih ada waktu, mommy hanya khawatir jika perjuanganmu akan sia sia." Jawab Renia. Mendengar hal itu membuat Renzo tersenyum.
"Baiklah, besok aku akan mengutarakan semua perasaanku padanya... Dan jika ditolak perjodohan yang mommy rencana kan pasti akan terjadi." Ucap Renzo seketika membuat Renia tersenyum dan memeluk putranya itu.
"Ini baru anak mommy, sudah sana tidur sekarang sudah malam." Ucap Renia.
Renzo tersenyum dan mencium pipi kanan Renia kemudian menaiki tangga menuju ke kamarnya. Setelah memastikan Renzo masuk kedalam kamarnya, Renia pun mematikan lampu dan kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya.
Andian membuka matanya saat sinar mentari pagi masuk dari sela sela korden. Mata Andian terbelak seketika saat melihat Arila tidur dalam pelukannya dengan lengannya sebagai bantalan. Jarak keduanya sangat dekat.
Andian melihat sekitar mencari keberadaan guling pembatasnya berada. Dan rupanya, guling pembatasnya berada dibawah ranjang.
Jadi yang ku peluk semalaman bukan guling, melainkan Arila?? Batin Andian sembari menatap wajah Arila.
Tanpa Andian duga, Arila memeluk tubuhnya semakin erat. Membuat Andian tersentak kaget. Andian menatap wajah Arila yang sudah membenam didada bidangnya.
Apa dia sengaja atau memang dia masih tidur?? Batin Andian.
Saat Andian hendak bangun, dia merasakan ada pergerakan dari Arila. Andian pun memejamkan matanya berpura pura tidur. Arila perlahan membuka matanya dan terkejut saat dia dengan tidak sengaja memeluk tubuh Andian.
Ya Tuhan, kenapa aku bisa nyaman tidur di pelukannya... Syukurlah dia belum bangun aku akan menjauhkan diriku dulu. Batin Arila.
Saat Arila hendak menjauhkan diri, Arila menatap wajah tampan Andian. Membuat detak jantung Arila berdetak lebih cepat. Dengan keberanian Arila membelai wajah tampan Andian.
Kenapa dia sangat tampan dan menggemaskan saat tidur?? Jika aku mencium nya dia tidak akan tau kan?? Batin Arila.
Sedangkan Andian entah mengapa merasa bahagia saat Arila membelai wajahnya. *Cup.* Tanpa Andian duga Arila mencium bibirnya sekilas. Andian sedikit terkejut namun dia masih menutup matanya. Sedangkan Arila sendiri masih tidak menyangka akan melakukan hal itu padanya.
Apa yang telah aku lakukan??! Untung dia masih tidur jika tidak dia pasti akan memotong bibirku... Tadi sungguh, aku seperti terhipnotis olehnya. Aku harus cepat cepat bangun sebelum dia. Batin Arila hendak pergi.
Namun tiba tiba Andian membuka matanya membuat Arila terkejut setengah mati. Wajah Arila merona, seketika Arila langsung duduk dibibir ranjang.
"Ada apa denganmu??" Tanya Andian pura pura tidak tau.
"Em...itu...tidak ada, aku mandi dulu." Jawab Arila menuju ke lemari dan mencari handuknya.
"Kenapa aku seperti bermimpi ada yang mencium ku tadi??" Ucap Andian melirik ke arah Arila dengan nada seolah dia tidak tau.
Wajah Arila semakin merona membuatnya langsung masuk kedalam kamar mandi begitu menyambar handuknya. Andian hanya menggeleng kepala pelan.
Andian menyentuh bibirnya dan tanpa dia sadar dia kembali tersenyum. *Tok!! Tok!! Tok!!* suara ketukan pintu membuat senyuman Andian pudar. Andian pun bangkit dari duduknya dan membuka pintunya.
"Maaf mengganggu moment anda tuan, kepala pelayan Dev mengirimkan koper ini. Dan iya tuan, sarapannya sudah siap." Ucap pelayan tersebut.
"Baiklah kau bisa pergi... Dan iya buatkan aku jus wortel aku akan meminumnya nanti setelah berenang." Ucap Andian.
"Baik tuan muda." Jawab pelayan tersebut.
Setelah pelayan itu pergi, Andian pun membawa kopernya masuk kedalam kamar. *Cklek!!* Pintu kamar mandi terbuka. Tampak Arila yang hanya menggunakan juban mandinya di ambang pintu.
"Ini pakaianmu, aku akan mandi kau bisa menunggu di ruang makan." Ucap Andian.
"Baiklah." Jawab Arila lirih.
"Dan iya, jangan bertindak agresif saat orang lain tidur." Ucap Andian yang dimana membuat Arila merona karena malu.
Andian tersenyum sekilas sesaat sebelum masuk kedalam kamar mandi. Arila langsung memilih pakaian yang ada didalam koper kemudian menuju ke walk in closet.
Sedangkan Andian sendiri, saat ini dia tengah memandang dirinya dari pancaran cermin. Andian menyentuh bibirnya dan seketika teringat wajah Arila saat merona yang dimana membuat Andian tersenyum.
Lama memandang diri di pancaran cermin, Andian pun merendamkan diri dengan air hangat di bath up. Entah mengapa suasana hati Andian serasa sangat baik saat Arila mencium nya diam diam.
Di Vila Arion.
Arion tampak kesal saat dia harus dibatasi oleh Lyin untuk menemui Antia. Saat ini Arion tengah duduk dibalkon sembari melihat keindahan pemandangan dan kemewahan vilanya darisana.
Dulu Vila yang kutinggali tidak seperempat dari Vila ku saat ini... Dan tak terasa rupanya roda berputar dengan cepat. Batin Arion.
Saat menikmati udara sejuk di pagi hari, tampak Kean mendekatinya dengan wajah sedikit cemas. Meskipun Kean tampak sempurna menyembunyikan kecemasannya, tapi tidak jika didepan Arion.
"Kean ada apa?? Kenapa kau terlihat cemas??" Tanya Arion sembari membalikan tubuhnya.
"Tuan muda, tahanan kita Amar Surya telah melarikan diri kemarin." Jawab Kean dimana membuat wajah Arion tampak cemas.
"Aku tau hal ini akan terjadi Kean."
"Maksud anda tuan??"
"Aku sudah lama tau jika Amar Surya tidak lumpuh... Saat dia mengakui kesalahannya, aku melihat dengan jelas tekukan dari kakinya... Membuat ku penasaran sebenarnya apa tujuannya berpura pura lumpuh dan siapa sebenarnya targetnya." Jelas Arion.
"Di tahanan tempat Amar Surya ditahan, aku menemukan secarik kertas ini tuan...(Memberikan pada Arion.) Dan dari pengakuan Kalfa Wijaya sebelumnya, dapat disimpulkan jika target mereka berbeda tuan." Ucap Kean.
"Jelas kan padaku." Titah Arion.
"Target Kalfa Wijaya adalah anda sedangkan target Amar Surya adalah tuan Andian... Dan dari hasil penyelidikanku mengenai kecelakaan 5 tahun yang lalu, anda dan tuan Andian sebelumnya berniat untuk ke pusat kota namun mobil yang seharusnya digunakan anda justru digunakan mendiang tuan Glan. Dan tepat saat itu anda harus kembali ke Berlin... Kemungkinan besar Amar Surya mengira jika yang didalam mobil adalah anda dan tuan Andian bukan mendiang tuan Glan dan kekasihnya nona Kania." Jelas Kean panjang.
"Maksudmu adalah Kalfa Wijaya menargetkan aku sedangkan Amar Surya Andian... Dan bisa saja dia... Kean apa kau sudah memperketat keamanan Antia??" Tanya Arion.
"Dari awal tuan, saya takut kali ini lebih berbahaya tuan." Jawab Kean.
"Kau ingat apa yang Anvert katakan??" Tanya Arion sembari membalikan tubuhnya, membelakangi Kean.
"Maksud anda, kakek anda tuan??" Ucap Kean memastikan.
"Ku rasa kau lupa Kean, saat dia menghadang peluru dari ayah ku bukankah dia mengatakan agar kita jangan memanggilnya kakek karena sebuah panggilan seperti itu hanya bisa membuat kita lemah... Dan dia juga mengatakan jika bahaya ditakuti, maka tidak ada gunanya manusia memiliki jiwa pemberani jika hanya diselimuti ketakutan... Kita ikuti apa permainan Amar Surya kali ini, jika sebelumnya kita yang membuat alur permainan nya maka kali ini kitalah yang mengikuti alurnya." Ucap Arion panjang.
"Aku mengerti tuan." Ucap Kean.
Saat mereka sama sama menikmati pemandangan dan sejuknya udara dipagi hari ini, tampak pelayan datang menghampiri.
"Maaf tuan muda, nona Antia ada diruang baca anda." Ucap Pelayan itu.
"Kenapa tidak mengajaknya kemari??" Tanya Arion sembari mendekat.
"Sebenarnya nona Antia memerintahkan kami untuk tidak memberitaukan kepada anda kedatangannya, tapi karena nona menolak untuk sarapan jadi saya terpaksa memberitau hal ini pada anda tuan." Jawab pelayan tersebut.
"Dia pasti sedang memainkan piano, kau boleh pergi aku akan kesana sekarang. Dan Kean, kau ambil alih perusahaan sampai aku datang dan bantu Raka jika dia memerlukan bantuan." Ucap Arion sesaat sebelum pergi.
"Baik tuan muda." Jawab Kean.
Arion dengan wajah bahagia pun menuju ke ruang bacanya. Sesampainya disana, Arion membuka pintunya perlahan dan melihat Antia tengah duduk dibangku tepat didepan piano.
Arion menikmati lantunan irama yang Antia mainkan. Sampai Antia menyelsaikan permainan pianonya dan tampak bangkit dari duduknya. Antia terkejut saat Arion tiba tiba memeluknya dari belakang.
"Yah kak Arion dateng kan nggak jadi surprise, pasti pelayan kakak ya yang memberitaukannya??" Ucap Antia tampak cemberut.
"Ini sudah menjadi surprise kok sayang... Kenapa kamu tidak mau sarapan??" Tanya Arion masih memeluk tubuh mungil Antia.
"Aku mau disuapin kakak, aku iri sama kakak ipar Antika... Dia dimanja sama kak Raka hampir aku dicuekin." Jawab Antia sembari berbalik menatap Arion dengan wajah cemberut.
"Jadi istri kecilku sedang ingin dimanja kak Arion mu ini??" Goda Arion.
"Apa tidak boleh??(Merangkulkan kedua tangannya pada leher kekar Arion.) Oh iya kak, pekan depan hari wisuda ku aku tidak mau kakak datang." Ucap Antia membuat kening Arion berkerut.
"Kenapa??" Tanya Arion.
"Karena kakak terlalu tampan, aku tidak mau kakak berpaling dariku karena melihat para gadis disana." Jawab Antia. Arion tersenyum dan mencium bibir Antia sekilas.
"Tenanglah istri kecilku, kak Arion tampanmu ini hanya untukmu... Dan kau hanya untukku. Sudah ayo sarapan." Ucap Arion dan diangguki oleh Antia.