Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
ALFAREZI RACHMAN [AR.c]



JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕



...🥀MBMB🥀...


Setelah memamerkan hasil ujiannya pada sang kakak, Arisa merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia merindukan kamar serba pinknya dan juga keluarganya. Namun, keinginannya untuk tidak manja lebih kuat dari kerinduannya.


"Kira kira kak Alan lagi apa ya?? Astghafirullah Arisa, apa yang kau pikirkan?? Lupakan pria itu ok!" Ucap Arisa.


Ting!! tong!!


Siapa yang datang?? Aduh, males banget sih! Kesal Arisa. Dengan malas, Arisa membuka pintu vila kecilnya. Dilihatnya tidak ada siapa pun disana. Hanya ada seikat bunga tulip kuning dan sebuah surat didalamnya.


"Bunga dari siapa ini??" Lirih Arisa sembari melihat sekelilingnya. Tidak ada siapa pun disana yang mana membuat Arisa memilih membuka surat itu di dalam. Arisa meletakan bunga tersebut dimeja dan membuka amplop pink yang berisikan surat.


Untukmu, Arisa


Semangat dalam meraih cita citamu dan keinginanmu untuk mandiri, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Oh iya, aku tau kau menyukai bunga Lavender. Tapi alasanku memberikanmu bunga tulip itu karena ada yang mengatakan jika seseorang mencintainya namun tidak terbalas dilambangkan oleh bunga tulip berwarna kuning. Dan itu ungkapanku untukmu Arisa. Tapi, aku sadar. Kau memang tidak ditakdirkan untukku. Aku akan berusaha melupakanmu.


Mencintainya bukan berarti harus memilikinya kan??


~Cristina Leon ^_^


"Kak Leon... Maafin Arisa kak, Arisa nggak bermaksud kasih harapan ke kakak." Ucap Arisa dengan air mata menetes. Dia bisa bayangkan seperti apa sakitnya Leon karena dia sendiri merasakannya saat secara tidak langsung Alan menolaknya. Dia pun menelfon Leon dan tak lama diangkat.


📞


“Hai manis, kau menyukai bunganya?”


“Suka... Tapi makna dari bunga itu Arisa nggak suka kak.” Jawab Arisa.


“Benarkah?? Maafkan aku, itu hanya mewakili perasaanku saat ini.”


“Kakak nggak apa apa??” Tanya Arisa dengan mata berkaca kaca.


“Tidak terlalu... Hanya hatiku sangat sakit.”


“Hiks... Hiks... Maafin Arisa, Arisa nggak bermaksud—”


“Jangan menangis... Arisa, jika Avindra tau dia akan membunuhku... Kau tidak perlu minta maaf, aku akan berusaha melupakanmu meskipun itu sulit... Tapi tidak apa apa, aku mendukungmu dengan Alan... Dia tampan dan berbakat juga bisa diandalkan untuk melindungimu... Jangan menyerah Arisa, tidak semua batu itu sulit dihancurkan oleh air.”


“Terima kasih kak.” Ucap Arisa dengan menahan air matanya.


“Dan iya, Lista mungkin akan sampai divilamu... Dia tidak bisa jauh darimu dan memutuskan untuk satu kampus denganmu.”


“Lista ini... Aku tutup telefonnya kak, mungkin kakak ingin beristirahat.... Sampai jumpa.”


“Sampai jumpa, Arisa.”


Tut.


Arisa mematikan telefonnya. Dia menghusap air matanya dan menaruh bunga tulip tersebut pada vas bunga.


Ting!! Tong!!


Sepertinya Lista sudah datang. Batin Arisa. Dia pun mendekati pintu dan membuka pintu vila kecilnya.


Cklekk


"Huwaaa!! Arisa aku sangat merindukanmu... Aku bersyukur akhirnya bisa denganmu." Ucap Lista sembari memeluk sahabatnya.


"Kau berlebihan... Ayo masuk, kamu pasti lelah... Istirhatlah." Ucap Arisa. Keduanya pun masuk kedalam vila dan beristirahat.


Kak Leon benar, tidak semua batu itu sulit dihancurkan oleh air. Batin Arisa.


...🥀🥀🥀...


3 Tahun Kemudian


Banyak sekali perubahan. Dimulai dari Delvin Reanzo dan Avindra mereka sudah menjadi seorang ayah. Anak Delvin kembar laki laki dan perempuan. Kedua anaknya sudah berumur 3 tahun. Anak pertamanya diberi nama Santya Putri Utama dan anak keduanya diberi nama Satya Putra Utama. Mereka hanya lewat 3 menit.


Untuk anak pertama Reanzo adalah laki laki. Meskipun terlahir premature, tapi dia berkembang layaknya anak lahir normal. Anak pertamanya diberi nama Kanzyan Nickolas Anza. Di umurnya yang baru 2 tahun dia sudah bisa berkembang dengan baik.


Dan anak dari Avindra dan Alita seumuran dengan si kembar. Bedanya si kembar lahir lebih dulu daripada anak pertama Avindra. Anak pertama Avindra juga laki laki. Dari wajahnya lebih mirip dengan Alita namun kemungkinan besar sifatnya menurun dari sang ayah. Dia Colvis Ardika Anvert.


Untuk Elliot, dia juga sudah memiliki seorang anak laki laki dan baru berumur 1 tahun. Meskipun sudah 2 tahun menikah tapi ada sedikit konflik yang mana Elliot baru mencintai istrinya setelah satu tahun menikah. Anak pertamanya diberi nama Nathaniel Amanra Pratama.


Sedangkan Lista, dia melanjutkan kuliahnya menyusul dengan Arisa. Biasalah best friend forever. Leon, dia sibuk dengan istrinya yang baru hamil muda. Maklum baru bisa move on dari Arisa.


Untuk Deryl, dia masih sibuk dengan kehidupannya yang memainkan para gadis dan menghabiskan waktunya untuk berada di kantor. Bukan tanpa alasan, Deryl hanya ingin kebebasan tanpa tekanan dari orang tuanya yang terus terusan memintanya menikah.


Jangan lupakan Machel dan Serly, kali ini Serly tengah hamil anak kedua mereka sedangkan anak pertamanya baru berusia 2 tahun. Anak pertamanya perempuan dan diberi nama Sellyna Putri Orlando. Dan untuk Rian, dia baru saja bertunangan dengan pacarnya. Sama bor, kaya si Leon baru bisa move on.


Dan untuk Emilio, dia sudah meninggal saat melakukan transaksinya. Tentu dia bisa meninggal dengan tenang karena sesuai keinginannya, Emilio dimakamkan disamping makam Cecilia tepatnya di kota Milan. Dan untuk RC, tidak sepenuhnya dibubarkan. Karena ada beberapa orang yang masih mengabdi pada Alan karena dia penerus RC selanjutnya.


Untuk Alan. Gak usah ditanya lagi. Saat ini dia sibuk dengan kesendiriannya tanpa memikirkan seorang gadis. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor bahkan sampai dimarahi Niranda karena 1 minggu tidak pulang.


Seperti saat ini, Alan tengah fokus pada laptopnya. Entah apa yang dia kerjakan sampai fokusnya tidak teralihkan sedikit pun.


Tok. Tok. Tok.


"Masuk." Ucap Alan tanpa beralih dari laptopnya.


"Halo Anazo." Sapa Serly begitu masuk keruangan.


"Panggil aku seperti biasanya." Ucap Alan sembari menatap Serly. Tampak wanita berbadan dua itu tertawa kecil.


"Astaga, sudah 3 tahun tapi kau masih saja begitu... Dimana suamiku, dia tidak ada diruangannya??" Tanya Serly.


"Dia mengajukan kerja sama dengan Owarhez Group... Sebentar lagi juga datang, kalau butuh sesuatu ada Nanda diluar." Jawab Alan.


"Aku mengerti... Wajahmu terlihat masam, tante Nira memintamu menikah ya??" Tebak Serly.


"Ya, dia membandingkanku dengan Rian... Aku tidak menyukainya." Jawab Alan.


"Hahaha... Maklum lah, adikmu akan menikah sedangkan dirimu masih sendiri... Luhan baru saja menelfonku, dia baru saja mengunjungi makam tuan Rachman... Dia berharap kamu—" Ucap Serly sembari duduk disofa.


"Lupakan hal itu, aku masih membencinya." Ucap Alan.


Tampak Serly menganggukan kepalanya mengerti. Wajar jika Alan membencinya, itu karena dia sudah terpisah dari orang tuanya sejak baru lahir sampai dia berumur 24 tahun. Tapi Alan tidak sepenuhnya membenci Emilio Rachman, karena tanpa dia menyelamatkannya dari serangan racun sudah pasti Alan tiada sejak dikandungan Niranda.


"Baiklah... Dan untuk gadis itu?? Apa kau masih tidak membalas cintanya??" Tanya Serly seketika membuat Alan terdiam. Gadis yang Serly maksud tidak lain Arisa.


"Ku dengar dari Avindra... Dia pergi ke luar negeri agar mandiri dan lebih dewasa... Avindra menyalahkanmu karena hal ini." Timpal Serly.


"Aku tidak peduli." Jawab Alan dingin.


Brakkk!


Machel membuka pintu keras dan tampak terburu buru masuk.


"Sayang disini kau rupanya... (Memeluk Serly.) Kau tau aku sangat mencemaskanmu." Ucap Machel tampak cemas.


"Hey sayang aku sudah bilang akan menyusulmu kan?" Ucap Serly sembari melepaskan pelukan suaminya.


"Machel bagaimana penandatanganan kontrak dengan Owarhez group?" Tanya Alan.


"Tentu saja berhasil... Oh iya, Avindra mengundang kita diacara ulang tahun anaknya yang ke 3 tahun... Oh astaga Ardika ternyata sudah besar, dia sangat menggemaskan." Jawab Machel. Tampak Machel menatap Alan dengan tatapan penuh arti.


"Lalu kapan kau akan menyusul Alandra Putra Alison." Ucap Machel membuat Alan menatapnya tajam.


"Hehe aku bercanda... Sayang ayo kita pulang... Dan iya Alan, Arisa sekarang terlihat dewasa dengan rambut pendeknya... Lihat saja di postingan ignya." Ucap Machel sebelum akhirnya pergi.


"Masih saja menyebalkan." Lirih Alan. Dia pun kembali pada pekerajaannya dan mengabaikan ucapan Machel begitu saja.


...🥀🥀🥀...


NB: Tenang, kali ini gak ada konflik kok... adek capek soalnya bikin kebanyakan konflik. Jadi adek cuman fokus ceritain si benteng Antartika alias Alan ya wkwkwk🤣🤣


NEXT PART\=>