
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Terima Kasih dan selamat membaca semua💕
Di Vila Raka
Antika bersiap siap untuk ke rumah sakit begitu mendapat kabar dari Rifal mengenai keadaan Aline. Saat itu Raka yang baru selesai mandi pun tersenyum nakal melihat Antika tampak buru buru.
Baru Antika menaikan resleting bajunya tiba tiba Raka menurunkannya membuat punggung mulus Antika terpampang.
"Sayang...kenapa buru buru sekali?? Aku masih ingin bermain denganmu." Ucap Raka sembari memeluk Antika dari belakang.
"Nanti saja ya, sahabat ku sedang dirumah sakit aku ingin menjenguknya. Tadi pagi kan sudah." Jawab Antika berusaha menghindari tangan nakal Raka.
"Tapi aku ingin lagi sayang." Ucap Raka sembari mencium pipi Antika.
"Please ya, nanti saja setelah menjenguk sahabatku." Ucap Antika sembari membalikan badannya menatap Raka.
"Jika nanti kamu harus membayar 10×lipat." Ucap Raka tepat di daun telinga Antika.
Aduh bagaimana ini... Bisa bisa aku pinsan tapi keselamatan Aline lebih penting. Batin Antika.
"Iya, tapi kamu antar aku ke rumah sakit ya." Ucap Antika.
"Baiklah...(Raka mendorong tubuh Antika sampai jatuh diatas ranjang.) Tapi tidak gratis." Ucap Raka sembari menundungi tubuh Antika.
"Kamu bilang nanti setelah pulang." Ucap Antika.
"Nanti 10×lipat... Sekarang untuk ongkos antar jemputnya." Ucap Raka langsung mencium bibir Antika.
Antika yang tidak bisa menolak pun menikmati apapun yang Raka lakukan pada nya. Beberapa saat kemudian Raka dan Antika pun bersiap siap untuk ke rumah sakit. Di dalam mobil Antika menyalakan handphonenya dan melihat ada pesan dari Arila.
Arila Loviana, Antika kamu jenguk Aline dulu saja tidak apa apa... Aku akan menjenguknya setelah mengantar makan siang untuk tameng es.
Sifany Andria, Baiklah tidak apa apa... Kita bertemu dirumah sakit nanti.
Antika pun mematikan handphone nya dan memasukannya kedalam tas. Wajah Antika cemberut saat Raka masuk kedalam mobil. Membuat Raka terkekeh.
"Jadi, istriku ini sedang marah ya." Ucap Raka menggoda.
"Tidak, hanya kesal saja." Jawab Antika ketus.
"Hey kenapa kesal sayang, ini semua salahmu siapa suruh kamu begitu...(Mendekati Antika.) Menggoda." Ucap Raka.
"Sudah jangan dibahas cepat nyalakan mobilnya." Jawab Antika. Raka yang gemas pun mencium bibir Antika sekilas.
"Iya istriku tersayang." Ucap Raka.
Antika hanya memalingkan wajahnya kesal dengan perlakuan Raka.
Di Cerlan Grop
Arila turun dari dalam mobil dan membawa kan kotak makan siang untuk Andian. Langkahnya terhenti begitu melihat Naira turun dari dalam mobil Kean.
Naira diantar Kean, sekertaris Arion itu kan... Apa ada sesuatu aku harus bertanya pada nya. Batin Arila.
"Naira." Panggil Arila. Tampak Naira mendekat sembari tersenyum.
"Kak senior." Ucap Naira sembari tersenyum. Kini keduanya pun berjalan bersama menuju ke perusahaan.
"Kamu habis kencan ya sama peria tadi??" Tanya Arila sedikit menggoda.
"Enggak kak, tadi Naira disuruh mengantar beberapa barkas penting ke rumah sakit tempat presdir CA Grop. Terus pas pulang presdir meminta agar sekertaris nya mengantarku kemari. Jadi kami nggak ada hubungan apa apa kok. Kakak jangan salah paham." Jelas Naira.
"Oh ku kira ada apa apanya. Ya sudah semangat kerjanya ya... Aku keatas dulu." Pamit Arila sembari melambai tangannya.
Naira pun membalas lambaian tangannya dan pergi menuju keruangannya. Sesampainya di ruang Andian. Tampak Andian masih fokus berkutat dengan leptopnya. Sadar Arila datang Andian pun menutup leptopnya dan memandang Arila tajam.
Sedangkan Arila hanya mengacuhkan Andian dan langsung meletakan kotak makanan nya dimeja. Melihat sikap Arila pun membuat Andian kesal. Andian pun menarik tangan Arila dan memojokannya ke tembok.
"Aw... Apa yang kau lakukan??" Ucap Arila kesal.
"Katakan siapa Afar?? Dan apa hubungan nya denganmu sampai mengajakmu makan siang??" Tanya Andian dengan nada dingin.
"Dia hanya teman kuliahku... Jadi kau yang menyadap handphone ku??" Jawab Arila dan kembali bertanya.
"Jika iya kenapa?? Ingat status dan batasanmu, jangan membuatku kesal...(Andian melepaskan tangan Arila dan duduk disofa.) Cepat suapi aku." Titah Andian membuat kening Arila berkerut.
"Apa?? Kamu ini sudah besar bukan anak kecil lagi. Bahkan Antia juga tidak meminta ku untuk menyuapinya." Ucap Arila.
"Kau istriku, memang salah jika aku meminta mu untuk menyuapiku... Kemarin aku sudah menyuapimu jadi gantian lah." Jawab Andian enteng.
Tanpa sadar ucapan Andian membuat detak jantung Arila berdetak sangat cepat.
Istri?? Apa dia menganggapku istrinya?? Batin Arila.
"Hey kenapa kamu melamun?? Cepat suapi aku." Ucap Andian.
"Iy...iya...dasar tameng es." Gunggam Arila dan tentu di dengar oleh Andian.
"Aku manusia bukan tameng es... Sekali lagi kau memanggilku dengan sebutan itu aku akan menghukummu." Ancam Andian membuat Arila terdiam.
"Buka mulutmu." Ucap Arila.
Andian pun dengan senang hati membuka mulutnya dan memakan setiap suapan dari Arila. Andian sendiri bingung, entah kenapa sejak kemarin dia menjadi sangat terbuka didepan Arila.
Beberapa saat kemudian makanan yang Arila bawa habis tanpa sisa. Saat Andian hendak berdiri Arila menceghat. Membuat kening Andian berkerut bingung. Arila mengambil tissue yang ada di meja dan mengelap bibir Andian. Membuat Andian tertenggun sejenak.
"Dasar kekanak kanakan." Ucap Arila menahan tawa.
"Apa kau bilang??" Ucap Andian tidak terima.
Arila hanya tertawa kecil dan entah mengapa membuat Andian merasa senang. Arila pun mengemasi kotak makan siang nya dan beranjak pergi. Begitu pun Andian yang bersiap untuk pulang.
"Kau bilang akan ke rumah sakit, memang siapa yang sakit??" Tanya Andian.
Iya, beberapa saat sebelum Arila ke kantor Andian dia sudah meminta izin padanya. Tentu Arila terkejut saat kontak Andian diberi nama *Suamiku tampan.* Arila pun dengan segera mengganti kontak nya dengan nama *Tameng es*.
"Sahabat ku Aline, dia kecelakaan semalam dan harus dirawat dirumah sakit." Jawab Arila.
"Oh, kalau begitu aku akan mengantarmu... Kamu menjenguk sahabatmu dan aku menjenguk Arion. Jika kamu pulang kabari aku." Ucap Andian.
"Em...baiklah kalo begitu." Jawab Arila.
Andian dan Arila pun segera keluar dari ruangan tersebut dan menuju ke rumah sakit dengan mobil Andian.
Di Rumah Sakit
Aline kini sendirian diruang rawat. Hanya ada perawat yang mengganti kantong infusnya. Tiba tiba pintu terbuka menandakan seseorang datang. Mata Aline terbelak begitu tau siapa yang datang.
"Kau?!! Untuk apa kau kesini??" Tanya Aline ketus.
"Aku kesini ingin menjengukmu... Aku selalu memikirkan mu jadi aku putuskan kemari. Syukurlah kamu baik baik saja." Jawab Renzo santai dan langsung duduk di sofa.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu." Ucap Aline masih ketus.
"Hey ayolah... Setidaknya ucapkan terima kasih karena aku sudah menolongmu." Ucap Renzo.
Hening. Aline diam karena dia tipe orang yang sangat enggan untuk berterima kasih tapi suka menerima ucapan itu dari banyak orang.
"Aku menyukaimu, kau mau menjadi kekasihku??" Ucap Renzo sembari mendekat pada Aline dengan wajah serius.
Melihat hal itu Aline yang pertama kalinya ada seorang peria yang berani mengungkapkan isi hatinya secara langsung pun merasakan hal yang aneh. Detak jantungnya bergetar sangat cepat. Bahkan Aline bisa mendengar suara detaknya.
Tidak Aline, semua peria didunia ini
br*ngs*k kau jangan sampai terobsesi oleh kata kata manis yang mereka ucapkan. Batin Aline.
"Minggir kau br*ngs*k!!! Siapa yang mau menjadi kekasihmu." Jawab Aline dengan nada sedikit tinggi.
Jauh dari yang Aline pikirkan. Bukan nya marah Renzo malah tersenyum dan tertawa kecil. Hal itu membuat Aline bingung namun dia berusaha menyembunyikannya.
"Kau memang tipe yang aku cari cari... Jika kau tadi menjawab iya, mungkin aku akan berhenti mendekatimu... Tapi kau dengan lantang menjawab tidak dan jangan Salah kan aku jika aku mendekatimu. Aku pergi dulu." Ucap Renzo santai kemudian pergi dari ruangan itu.
"Apa yang peria aneh itu katakan??" Ucap Aline sesaat setelah Renzo pergi.
Sedangkan diluar. Baru Renzo keluar dari ruangan Aline, dia bertepatan dengan Antika dan Raka yang sudah ada didepannya.
"Kakak kenapa ada di ruangan itu??" Tanya Raka.
"Tidak, hanya berkeliling saja... Kalian mau menjenguk gadis yang didalam." Jawab Renzo.
"Aku ke dalam dulu ya." Ucap Antika. Namun sebelum itu Raka mendekat dan mencium keningnya.
"Iya, panggil aku jika butuh sesuatu." Jawab Raka dan diangguki oleh Antika.
"Kakak sudah menjenguk Arion?? Bagaimana keadaannya??" Tanya Raka sesaat setelah Antika masuk.
"Sudah, dia memang bukan manusia... Kemarin dia dengan santai nya berjalan menuju balkon, dan sekertaris gila itu sama sekali tidak menghentikannya." Jawab Renzo.
"Entah bagaimana reaksi Antia jika tau Arion begitu." Ucap Raka.
"Sudah hampir 2 minggu kamu tidak menampakan diri. Kemana saja??" Tanya Renzo.
"Tentu saja menghabiskan waktu dengan istriku." Jawab Raka dengan entengnya.
"Hahaha... Pantas istrimu terlihat lemas begitu... Lain kali beri dia jeda kasihan harus menurutimu terus." Ucap Renzo dan keduanya sama sama tertawa.
"Sedang apa kalian disini??" Tanya Andian yang baru saja sampai.
Arila yang merasa tidak berkepentingan dengan mereka pun langsung masuk kedalam ruangan Aline.
"Oh kau juga mengantar istrimu ya." Ucap Renzo.
"Mereka bertiga bersahabat tidak heran jika satu sakit keduanya datang menjenguk... Bagaimana jika kita menjenguk Arion saja sekarang." Usul Raka.
"Aku memang akan menjenguknya." Jawab Andian melewati Raka dan Renzo begitu saja.
Sedangkan diruang rawat Aline. Arila dan Antika sama sama mencemaskan keadaan sahabatnya. Dan seperti biasa Aline hanya mengatakan agar Arila dan Antika tidak perlu khawatir. Dia sangat tidak suka jika menjadi beban pikiran orang lain.