Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 75



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


Sesampainya di rumah sakit


Saat Kean hendak keluar untuk membukakan pintu, Antia lebih dulu keluar dan membanting pintunya keras. Hal itu membuat Kean mengerutkan keningnya bingung.


"Ada apa dengan nona muda??" Lirih Kean.


Setelah memastikan nona mudanya aman, Kean pun melajukan mobilnya menjauhi area rumah sakit. Sedangkan dengan Antia, begitu sampai di ruangan Andian dia pun masuk masih dengan wajah kesal.


"Antia kamu sudah pulang sayang, loh kok kesel gitu mukanya... Kenapa??" Tanya Lyin pada putrinya.


"Palingan masalah sama Arion ma, liat aja tuh datangnya sendiri." Tebak Andian.


"Nggak kok... Kakak sok tau." Ucap Antia ketus.


"Beneran nih, tapi kenapa kamu ketus gitu An??" Ucap Raka.


"Apaan sih kak Raka ikut ikutan." Kesal Antia dan duduk disamping Arila.


"Udah jangan kesel gitu An... Nanti cantiknya hilang." Ucap Arila sembari menghusap puncak kepala Antia lembut. Antia hanya mengagguk sembari menghusap perut Arila dan tanpa penolakan. Saat itu Antika bangkit dari duduknya dan menghampiri Raka.


"Sayang kenapa??" Tanya Raka.


"Kita pulang yuk... Aku pengen tidur siang." Jawab Antika. Raka pun tersenyum dan menghusap puncak kepala Antika.


"Baiklah Ayo... Andian aku pamit ya, cepet sembuh jangan sakit mulu... Bibi ikut pulang atau masih disini??" Ucap Raka.


"Kita pulang... Andian sayang mama pulang dulu ya, nanti sore mama kesini bareng papa. (Mencium kening Andian.) Cepet sembuh ya nak." Ucap Lyin.


"Iya mama hati hati dijalan." Ucap Andian.


"Tentu... Antia kamu mau ikut mama nggak??" Tanya Lyin.


"Nggak aku mau sama kakak ipar aja." Jawab Antia.


Lyin pun mendekat dan mencium kening putrinya. Setelah itu Lyin Raka dan Antika pun meninggalkan ruangan.


"Kak aku sedang marah sama Sista." Ucap Antia.


"Marahan?? Kenapa?? Pasti Sista ngejek kamu ya??" Tanya Arila.


"Iya kak, daritadi tuh ngejekin aku katanya aku cemburu... Cemburu buat apa coba aku nggak peduli kalo kak Arion foto sama wanita lain." Jawab Antia. Mendengar jawaban Antia membuat Arila dan Andian tau alasan Antia marah.


"Foto sama wanita lain??" Tanya Arila.


Antia pun menceritakan tentang Arion yang dikepung oleh reporter dan beberapa mahasiswi yang menggemarinya.


"Jadi begitu ya, wajar dong kalo kamu marah... Itu tandanya... (Mencubit hidung Antia.) Kamu sayang sama suamimu." Ucap Arila.


"Siapa yang sayang padaku??" Tanya Arion begitu masuk kedalam ruangan.


Melihat kedatangan Arion, Antia langsung memalingkan wajahnya enggan menatap Arion.


"Kau apakan adikku?? Dia marah marah tidak jelas sejak datang." Ucap Andian.


Arion pun menatap Arila memberikan kode agar Arila pergi. Arila yang mengerti pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Antia. Dia pun berdiri disamping Andian.


"Sayang ayo kita pulang... Kamu kenapa apa aku buat kesalahan??" Tanya Arion sembari duduk disamping Antia.


"Nggak, aku mau disini saja." Jawab Antia ketus. Hal itu pun membuat Arion semakin bingung.


"Arion selsaikan masalah kalian dirumah. Antia berhenti bersikap kekanak kanakan, ikut Arion sekarang." Ucap Andian.


Antia pun pergi mendahului Arion membuat Arion sedikit berlari mengejar Antia. Saat didalam mobil, Arion sesekali menatap Antia yang fokus melihat pemandangan dari luar mobil dengan menyandarkan kepalanya dijendela mobil.


Ada apa denganmu sayang?? Apa marah soal dia telat?? Batin Arion bertanya tanya akan kesalahannya.


Antia langsung menuju ke kamarnya dan duduk diatas ranjang. Arion menghela napas panjang dan menutup pintunya. Dia pun duduk disamping Antia.


"Sayang kamu kenapa??? Kamu marah karena semalam??" Tanya Arion.


"Pikir aja sendiri." Jawab Antia ketus kemudian menarik selimut dan tidur membelakangi Arion. Arion pun memeluknya dari belakang dan menciumi punggung Antia.


"Kalo dipikir pikir aku nggak bisa mikir sayang... Katakan apa kesalahan ku??" Tanya Arion.


"Tadi pagi kenapa deket deket sama siswi centil itu... Nggak sekalian diajak kencan??!" Jawab Antia dengan nada kesal. Mendengar hal itu membuat Arion tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


"Oh ternyata hanya karena itu, apa istriku sedang cemburu??" Goda Arion.


"Kenapa nggak boleh??" Ketus Antia.


"Boleh banget dong sayang... Itu artinya kamu sangat mencintaiku. Ya sudah aku minta maaf... Lain kali aku akan minta Kean untuk menjauhkan ku dari wanita seperti mereka." Ucap Arion. Tampak Antia membalikan tubuhnya dan menatap Arion.


"Janji??" Tanya Antia. Arion pun mencium kening Antia.


"Janji sayang, kamu berani mengacuhkan aku jadi terima hukuman dariku sayang." Jawab Arion sembari tersenyum penuh arti.


Pada akhirnya Arion dan Antia pun menghabiskan waktu bersama. Mereka tidak peduli entah itu siang atau malam, yang mereka pedulikan hanyalah kenangan manis diantara mereka.


Di sebuah butik


Kean tampak menunggu Naira yang tengah mengganti gaun yang baru dia pilihkan. Untuk mengusik kebosanannya, Kean memainkan handphonenya. Saat itu tampak salah satu pelayan datang.


"Tuan, nona sudah menggantinya... Bagaimana menurut anda?" Tanya pelayan tersebut.


Mata Kean terbelak saat melihat Naira yang biasanya dikuncir kuda mengurai rambut panjangnya. Ditambah gaun merah tua yang menambah kesan elegan.


"Tuan... (Kean tersadar.) Apa tidak ada gaun lain?? Ini—" Ucap Naira terjeda.


"Tidak... Bungkus saja gaun itu." Titah Kean pada pelayan. Dengan tersenyum pelayan itu pun mengagguk.


Setelah membeli gaun, Naira dan Kean pun masuk kedalam mobil. Didalam mobil Naira mengerutkan keningnya lantaran Kean tak kunjung menyalakan mobilnya.


"Tuan anda baik baik saja??" Tanya Naira.


Membuat Kean yang diam diam memperhatikan Naira pun menyalakan mobilnya tanpa menjawab Naira. Sesampainya di kontrakan Naira.


"Pukul 8 malam kamu sudah harus bersiap, saya paling tidak suka menunggu." Ucap Kean.


"Saya mengerti... Terima kasih tuan, hati hati dijalan." Ucap Naira.


Kean hanya mengagguk dan melajukan mobilnya. Sudah beberapa bulan ini Naira tinggal di kontrakan kecil karena ayah dan kakak tirinya mengusirnya setelah rumah milik mendiang ibunya diatas namakan kakak tirinya.


Namun, Naira tetap bersemangat untuk bangkit. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Naira selalu mengunjungi makam ibunya. Naira menatap paper bag yang dibawanya kemudian tersenyum. Naira pun masuk ke dalam kontrakan dan tinggal menunggu sampai acara nanti malam.


Di Apartemen


Lyara merasa lelah karena setelah makan siang, Lyara langsung membersihkan apartemennya tentu dengan bantuan Renzo. Karena kelelahan membuat Lyara tertidur disofa didepan televisi. Renzo yang baru selesai mandi pun keluar dari kamar sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Dimana Lyara?? Batin Renzo.


Renzo tersenyum saat melihat Lyara yang tertidur pulas disofa. Dimata Renzo Lyara sangat imut dengan posisi tidurnya yang memeluk bantal sofa. Renzo duduk disampingnya dan perlahan membelai wajah cantik istrinya.


Cantik, dan dia adalah istriku. Batin Renzo.


Sejenak tatapan Renzo terkunci melihat bibir merah dan mungil milik istrinya. Membuat Renzo mengingat bagaimana dia mencium dan mel*m*tnya dengan kelembutan. Perlahan Renzo mendekatkan wajahnya dan mencium bibir istrinya itu. Dengan kelembutan Renzo kembali menikmati bibir istrinya.


Merasa teransang, Renzo menjemah tubuh istrinya sampai Lyara meresponnya dengan lenguhan dan menggeliat. Perlahan Lyara membuka matanya.


"Apa yang ka—" Ucap Lyara terjeda lantaran Renzo lebih dulu membungkamnya dengan ciuman.


Lyara tidak bisa menolak karena Renzo mengunci kedua tangan dan kakinya. Juga Lyara takut jika banyak bergerak akan membuatnya terjatuh ke lantai. Setelah itu, Renzo melepaskan ciumannya dan berbisik didaun telinga Lyara.


"Aku tidak bisa menahannya lagi... Aku menginginkanmu." Ucap Renzo.


Belum Lyara menjawab Renzo kembali membungkamnya dengan ciuman. Pada akhirnya mereka pun menghabiskan waktu bersama disofa tanpa penolakan dari salah satu pihak.