Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 60



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


Sesampainya di Sekolah Antia


Setelah memakirkan mobil mereka ditempatnya, mereka pun memasuki gerbang sekolah. Tampak para siswa dan siswi tengah berkumpul dengan keluarga mereka yang ikut hadir dalam wisudanya.


"Arila kau bilang adikmu juga wisuda?? Dimana dia??" Tanya Andian berbisik ditelinga Arila.


"Aku juga sedang mencarinya." Jawab Arila.


Pandangan Arila terpaku pada kedua orang tuanya yang mendekatinya. Tentu bersama adiknya Sista. Mata Arila berkaca kaca lantaran sejak menikah sudah lama tidak bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Ayah... Ibu." Ucap Arila dan berlari memeluk Tarti dan Reno secara bergantian.


"Aku sangat merindukan kalian." Ucap Arila.


"Ayah dan ibu juga merindukan kamu sayang." Ucap Tarti mewakili.


Sedangkan Lyin Gio dan lainnya tersenyum melihat adegan tersebut. Arila memandang Sista dan langsung memeluknya.


"Selamat ya dek bentar lagi kamu lulus." Ucap Arila sembari melepas pelukannya.


"Iya kak... Makasih ya doanya." Ucap Sista.


"Sama sama." Jawab Arila.


"Lama tidak berjumpa tuan Vanect." Ucap Arion.


"Iya, anda semakin tampan saja tuan Arion." Jawab Reno.


"Hahaha... Tentu saja tampan... Dia itu calon menantuku." Ucap Gio menyela. Membuat Reno Arion dan lainnya tertawa kecil.


"Acara wisuda akan dimulai... Untuk seluruh hadirin yang datang segera memasuki aula sekolah." Ucap salah satu guru.


Dengan bersemangat semua orang pun memasuki aula. Namun, Arion justru pergi berlawanan arah. Antia ingin menceghat namun, Sista menggandeng tangannya agar masuk bersamanya.


Kemana kak Arion pergi?? Batin Antia bertanya tanya.


Sesampainya di aula semua orang pun duduk dengan rapi. Suasana hening sampai kepala sekolah masuk kedalam mimbar aula dan memberikan beberapa patah kata sambutan. Melihat Antia tampak mencemaskan sesuatu membuat Sista menepuk bahu Antia pelan.


"Ada apa An?? Kenapa kau tampak gelisah??" Tanya Sista.


"Kak Arion tadi pergi... Sampe sekarang belum masuk aula... Kemana kak Arion sebenarnya??" Ucap Antia.


"Mungkin dia ke kamar mandi atau mengambil barangnya yang tertinggal. Sudah jangan cemas... Berbahagialah setelah ini kau kan akan menikah dengan pangeran dongeng mu." Ucap Sista dan membuat Antia tenang.


"Baiklah... Mari kita umum kan siswa berprestasi di tahun ini jatuh kepada...... Cantia Putri Vania. (Semua orang bersorak gembira.) Silahkan Cantia naik ke atas panggung." Ucap Kepala sekolah.


Dengan wajah bahagia, Antia bangkit dari duduknya dan menuju ke atas panggung. Kepala sekolah pun memberikan penghargaan berupa piagam pada Antia. Saat itulah, Antia melihat Arion yang duduk dibangku paling depan dan tersenyum memandangnya.


Jadi, kak Arion sengaja duduk didepan. Batin Antia sembari tersenyum.


"Cantia silahkan ucapkan sepatah dua patah mengenai hasil kerja kerasmu ini." Ucap wali kelas Antia yang berada disampingnya.


Antia pun mengagguk dan menuju ke mimbar memberi sepatah dua patah tentang keberhasilannya. Tampak mata Arion dan Andian berkaca kaca. Mereka masih tidak menyangka jika gadis kecil yang selalu tertawa riang kini sudah dewasa.


Begitu pula dengan Renzo dan Raka. Setelah memberikan sepatah dua patah kata, seluruh hadirin di aula bertepuk tangan ria. Mereka tampak bangga dengan keberhasilan Antia. Antia pun kembali duduk. Namun dia memilih duduk disamping Arion.


"Apa kau bahagia??" Tanya Antia berbisik.


"Sangat bahagia... Apa itu artinya kita bisa segera menikah??" Ucap Arion dengan nada berbisik pula.


"Kak Arion ih... Mikirin itu mulu, nggak ngucapin selamat ke aku??" Tanya Antia cemberut. Membuat Arion gemas dan mencium pipi Antia secepat kilat.


"Selamat atas keberhasilan mu calon istriku." Jawab Arion membuat Antia merona.


Arion pun terkekeh melihat sikap Antia. Beberapa saat kemudian, wisuda telah usai. Antia sempat tidak menyangka dengan prestasi juga kelulusannya. Rasanya hal itu berlalu begitu cepat. Saat mereka hendak pergi, Renia justru menceghat.


"Kenapa langsung pulang... Ayo kita berfoto berhubung satu keluarga besar kita tengah berkumpul." Ucap Renia.


"Kau benar adik ipar... Ayo kita berfoto sebagai kenang kenangan." Ucap Lyin. Dan diangguki setuju oleh semuanya.


"Kean kau yang memotret kami." Titah Arion.


Kini semuanya tengah dalam posisi. Tentu dengan senyuman terpancar diwajahnya. *Ckrek!!! Ckrek!!! Ckrek!!!* Tiga potret didapat. Mereka pun melihat hasilnya.


"Ini bisa dijadikan kenang kenangan. Sangat indah saat semuanya berkumpul." Ucap Antia.


"Ini lah keluarga sayang." Jawab Lyin.


"Ma... Pa... Ayo kita ke makam kak Glan... Aku ingin dia juga bahagia dengan kita berkunjung ke makamnya." Ucap Antia.


"Aku juga ikut... Glan juga keponakanku." Sela Renia.


"Baiklah... Ayo kita pergi ke makam sekarang." Ucap Gio.


Saat akan menuju ke parkiran, mereka mendengar perdebatan antara Raka dan Antika. Tentu membuat Laura Lyin dan Renia mendekat. Sedangkan yang lain, hanya melihat dari kejauhan.


"Raka ada apa??" Tanya Laura.


"Ma... Aku pengen ke mall bareng Raka... Tapi dia nggak mau." Jawab Antika dengan mata berkaca kaca.


"Raka kamu turuti saja dia... Mungkin Antika lagi ngidam pengen bareng sama kamu." Ucap Lyin.


"Tapi Bi—" Ucap Raka terpotong.


"Kamu ini dibilangin malah bantah... Pentingkan dulu istri kamu sana." Ucap Renia. Raka pun menghela napas panjang dan menggandeng tangan Antika.


"Ayo sayang... Katanya mau ke mall." Ucap Raka.


"Yey.... Ayo." Ucap Antika bahagia.


Setelah Raka dan Antika memasuki mobilnya, Gio Anzo dan Randy mendekat.


"Tadi ada apa??" Tanya Gio.


"Biasa mas... Ibu hamil muda pasti banyak maunya... Ayo kita berangkat sekarang." Jawab Lyin.


Mereka pun memasuki mobil mereka masing masing. Perlahan mobil yang mereka kendarai menjauhi area sekolah.


Di perjalanan, Raka yang fokus menyetir sesekali melirik ke arah Antika. Tampak wajah Antika sangat bahagia. Raka yang tadinya kesal pada Antika tiba tiba luluh begitu melihat wajah bahagia Antika. Sadar sedari tadi diperhatikan, Antika pun memandang Raka.


"Kenapa?? Kamu marah ya sama aku?? Kalo begitu kita puter balik aja." Ucap Antika menunduk. Raka memandang Antika dan tersenyum.


"Tidak aku tidak marah sama sekali... Istriku tersayang." Ucap Raka.


"Benarkah kau tidak marah padaku??" Tanya Antika memastikan. Raka pun mengagguk kepala pelan.


"Aku tidak marah sayang." Jawab Raka.


"Baguslah... Maaf ya jika beberapa hari ini aku membuatmu kesal... Aku sendiri juga tidak tau kenapa menjadi seperti ini." Ucap Antika.


"Tidak apa apa sayang... Mungkin ini bawaan dari baby junior." Ucap Raka sembari mengelus perut Antika dengan salah satu tangannya.


"Ish geli... Fokus sama jalan entar nabrak." Ucap Antika.


Raka pun tersenyum dan kembali fokus menyetir.


Di pemakaman


Antia Arion dan lainnya perlahan me langkah kan kaki mereka ke makam Glan. Mereka pun menaburi bunga dan berdoa untuk ketenangannya. Setelah itu, Antia pun berjongkok dan membelai batu nisan kakaknya.


"Hallo kak Glan, apa kau tau aku sekarang sudah lulus dan mendapatkan penghargaan ini kak... Aku harap kakak bahagia mendengar kabar ini. Paman dan bibi juga disini mengunjungimu. Mereka sangat merindukanmu." Ucap Antia tak terasa air matanya mengalir.


Arion yang merasa sakit melihat Antia menangis pun mendekat dan membawa nya kedalam pelukannya. Kini giliran Lyin sang ibu yang merasa sangat kehilangan.


"Mama sangat merindukanmu nak." Lirih Lyin.


Andian memandang Gio yang rupanya sedari tadi meneteskan air matanya. Membuat Andian yakin jika sebenarnya Gio sangat menyayanginya.


Glan... Aku akan segera menikah... Kau tau aku sangat sakit karena harus menerima kenyataan ini... Andai aku yang ditempatmu bukan dirimu. Batin Renzo.


"Kakak ipar Antia jangan menangis... Glan akan sangat sedih disana." Ucap Renia.


"Sudahlah... (Menghusap air matanya.) Ayo kita pulang sekarang hari mulai gelap." Jawab Lyin berusaha tersenyum.


Semua pun mengagguk setuju dan perlahan meninggalkan makam tersebut.