Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episode 30 Season 2



JANGAN LUPA LIKE, VOTE AND KOMENNYA YA😘 💕💖


TERIMA KASIH DAN SELAMAT MEMBACA SEMUA😍😘


I LOVE YOU READERS😙💕


...🥀MBMB🥀...


Avindra berbaring termenung di dalam kamarnya. Dia marah. Tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Jika saja Arisa tidak sakit, mungkin dia bisa membujuk sang kakak untuk tidak marah. Beginilah Avindra yang menahan amarahnya agar tidak melampiaskannya pada siapa pun.


"Avindra, makan siang dulu." Ucap Antia.


"Aku nggak laper bund." Jawab Avindra dari dalam. Semarah apapun Avindra, dia tidak bisa mendiami sang ibu.


"Alan menunggumu diluar." Ucap Antia yang mana membuat Avindra bangkit dari posisinya.


"Suruh dia kesini bund." Ucap Avindra sembari duduk di bibir ranjang. Avindra menekan tombol yang mana secara otomatis pintu tidak terkunci. Setelahnya, dia mengambil ponselnya dari atas nakas.


(Elliot.)💬


^^^Sudah ditemukan??^^^


Elliot: Belum, tapi tenang saja... Anak buah Alan juga ikut membantu.


^^^Aku tunggu kabar baiknya.^^^


Avindra pun meletakan kembali ponselnya saat mendengar suara langkah kaki mendekat.


Cklekk!


"Hai benteng antartika." Ucap Avindra memancarkan senyumannya.


"Jangan sedih, anak buah ku juga ikut membantu... Sepertinya hanya ibumu dan Vian yang tau." Ucap Alan sembari duduk disofa. Yang mana membuat Avindra terkekeh dengan bakat sahabatnya itu.


"Kenapa kemari?? Bukankah—"


"Aku perlu bantuanmu." Ucap Alan memotong.


"Apa imbalan untukku??"


"Aku akan memberikanmu sesuatu di saat hari ulang tahun adikmu." Jawab Alan. Avindra menganggukan kepalanya mengerti. Dia pun duduk disofa dan berhadapan dengan Alan.


"Jadi, apa yang bisa ku bantu??" Tanya Avindra.


"Bebaskan seorang mafia dari tangan Interpol." Jawab Alan.


"Seberapa bahaya dia??"


"Buronan sejak 30 tahun." Jawab Alan. Tampak Avindra menganggukan kepalanya pelan.


"Dimana pusat mafia itu beraksi??" Tanya Avindra.


"Roma, Italia." Jawab Alan.


"Organisasi??"


"RC." Jawab Alan. Yang mana membuat mata Avindra membulat.


"Siapa rekanmu yang ditahan??" Tanya Avindra.


Sedangkan dengan Arisa. Dia bersikeras untuk menemui sang kakak. Namun, begitu mendengar jika ada Alan di kamar Avindra membuat Arisa mengurungkan niatnya. Berhubung sang bunda dan ayahnya tengah menghabiskan waktu bersama, Arisa berniat membuat makan siang untuk Avindra.


"Nona?! Nona seharusnya—"


"Sssttt... Lanjutkan saja pekerajaan kalian, aku ingin membuat pudding untuk kakak... Kalian siapkan makan siang untuknya... Dia belum makan bukan??" Ucap Arisa.


"Baik nona... Tapi nyonya meminta—"


"Tenang... Bunda tidak akan marah... Lagi pula aku sudah sehat." Ucap Arisa memotong.


Pasrah, akhirnya pelayan pun membantu Arisa menyiapkan makan siang untuk Avindra. Setelah semuanya siap, Arisa menunggu sampai Alan keluar. Dan Alan keluar, namun sialnya Alan tengah berbincang dengan Elliot. Pada akhirnya Arisa mamutar jalan dan sampai di kamar sang kakak perlahan.


"Arisa—"


"Kakak bagaimana bisa kamu tidak makan siang?? Ingin sakit seperti ku?? Aku membuatkan pudding kesukaanmu, jika tidak makan Aku akan membunuhmu." Ancam Arisa. Bukannya takut, Avindra justru tertawa kecil mendengar ancaman Arisa yang terdengar sangat lucu. Arisa benar benar pengembali mood untuk Avindra.


"Kau bahkan takut darah, bagaimana membunuhku??" Tanya Avindra.


"Tentu saja menyuruh paman Kean! Buka mulutmu." Jawab Arisa sembari menyondorkan sesuap nasi dan lauk pada sang kakak.


"Arisa—"


"Panggil aku nyonya bunda." Ucap Arisa membuat Avindra terkekeh dan mengacak acak rambut adiknya kemudian menerima suapan dari Arisa.


"Aku bisa sendiri." Ucap Avindra sembari mengambil piring dari tangan Arisa.


"Baiklah... Aku membuatkan pudding caramel khusus untuk kakakku yang tampan." Ucap Arisa.


"Alan sudah pergi??" Tanya Avindra membuat Arisa menghentikan kegiatannya.


"Tadi sedang berbincang dengan kak Elliot." Jawab Arisa singkat. Avindra pun menganggukan kepalanya pelan dan kembali memakan makanannya.


"Kak."


"Hmm??"


"Aku akan kuliah di London, boleh??"


"Tentu saja... Apa?!!" Ucap Avindra sembari menatap Arisa terkejut. Avindra meletakan piringnya diatas nakas dan menatap Arisa.


"Kenapa tiba tiba ingin ke sana?? Apa ada sesuatu—"


"Karena aku marah dengan kakak, sekarang giliran ku kuliah disana... Doakan aku supaya mendapatkan gelar MBA seperti kakak." Ucap Arisa memotong. Yang mana membuat Avindra menghela napas panjang dan menghusap puncak kepala adiknya.


"Adikku memang sudah dewasa... Lalu bagaimana dengan Leon dan Rian?? Dan kamu akan meninggalkan Alan??" Tanya Avindra.


"Soal kak Alan, aku sadar jika aku hanya mengaguminya bukan mencintainya... Dan untuk kak Leon juga kak Rian... Agar adil aku tidak akan memilih salah satu dari mereka." Ucap Arisa.


Avindra pun tersenyum dan mencubit pipi Arisa. Dia tidak percaya jika adiknya tidak mencintai Alan. Namun agar Arisa tidak curiga dan percaya jika Avindra percaya dengan apa yang dia katakan, Avindra menganggukan kepalanya.


"Di London ada teman seperguruan kakak, dia akan melindungimu." Ucap Avindra. Arisa tersenyum dan memeluk sang kakak.


"Arisa sayang kakak."


"Kakak juga menyayangimu." Ucap Avindra sembari menghusap puncak kepala adiknya.


London?? Batin Alan yang sedari awal menguping. Dia pun memutuskan pergi sebelum ada orang yang melihatnya.