Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 56



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Maaf kalo banyak typo, maklum novel pertama ku😊


Terima Kasih dan selamat membaca semua😙💕


Di Kediaman Wismajaya


Aline sedang dalam dilema saat ini. Disatu sisi dia diberitau oleh ayahnya mengenai wasiat dari mendiang ibunya yaitu tidak lain adalah perjodohannya dengan seorang yang dia pernah cintai tidak lain Afar. Dan disisi lain Aline sedikit tersentuh dengan sikap Renzo pada dirinya.


Tidak Aline, kau bukan wanita yang mudah bimbang... Pilihan ibu adalah yang terbaik.... Jadi, selama ini Afar berpura pura padaku?? Kenapa?? Apa dia percaya jika aku dan Renzo ada hubungan?? Batin Aline.


Merasa jengah dengan pikirannya saat ini, Aline mengambil kunci mobilnya dan berniat pergi kesuatu tempat untuk menenangkan dirinya.


Saat menuruni tangga, Aline melihat ayahnya tengah berbincang dengan kedua orang tua Afar. Dan ada Afar tentunya disana. Rifal pun menatap Aline memberikan dia kode untuk mendekat. Aline pun dengan patuh mendekati ayahnya dan duduk disampingnya.


"Aline, ini sahabat masa kecil ayah dan ibu namanya tante Killa dan om Zaka." Jelas Rifal.


"Duh Rif jangan disuruh panggil tante dong... Kan bentar lagi mau jadi keluarga jadi panggil aku mama ya sayang, sama kayak Afar." Ucap Killa.


"Iy...iya ma." Ucap Aline malu malu saat Afar menatapnya.


"Kata Afar kamu galak, mama rasa Afar salah nilai kamu deh... Kamu kan cantik dan menggemaskan." Ucap Killa membuat Aline dan Afar saling menatap.


Lama menatap Afar menatap Killa ibunya dan ibunya pun mengaggukan kepalanya. Afar bangkit dari duduknya membuat Rifal dan Aline ikut bangkit.


Tampak Afar mendekat ke arah Aline. Aline tersentak kaget saat Afar berlutut dihadapannya. Afar mengambil sebuah kotak dari saku dan membuka perlahan didepan Aline. Kotak itu tidak lain kotak cincin. Afar pun mengulurkan tangannya.


"Realine Putri Wismajaya maukah kau menjadi istriku??" Ucap Afar membuat detak jantung Aline tidak karuan.


Aline menatap Rifal Killa dan Zaka secara bergantian. Tampak mereka mengaggukan kepala. Mambuat wajah Aline yang selalu dingin tersenyum dan menerima uluran tangan Afar.


"Aku mau Cafaran Zaka Putra." Ucap Aline membuat Afar bangkit dari posisinya dan memeluk Aline.


Aline pun membalas pelukan Afar. Jujur dilubuk hati Aline paling dalam, alasan dia bersikap dingin adalah karena Afar di kabarkan memiliki tunangan dan tentu Aline tidak tau jika tunangan yang semua orang maksud adalah dirinya.


Afar menyematkan cincin dijari manis Aline. Setelah itu Afar pun mencium kening Aline membuat Aline merona malu. Afar pun duduk di sebelah Aline dan Rifal berhadapan dengan Zaka.


"Jadi, kapan nih pernikahan kalian diselenggarakan??" Tanya Killa tampak tak sabaran.


"Kami serahkan pada kalian." Jawab Afar mewakili.


"Bagaimana jika pekan depan... Lebih cepat lebih baik bukan?? Bagaimana menurutmu Aline sayang??" Ucap Killa.


"Em... Aku ikut keputusan Ayah." Jawab Aline.


"Rif bagaimana??" Tanya Killa.


"Aku rasa setuju." Jawab Rifal tanpa ragu.


Saat ketiga orang tua mereka membahas pernikahannya, Afar mendekati daun telinga Aline dimana membuat Aline sedikit risih.


"Jadi, kau masih berpura pura menolak ku??" Bisik Afar.


"Beraninya kau membohongiku aku tidak akan memaafkanmu." Jawab Aline dengan nada lirih.


"Karena aku ingin memberimu kejutan, dan benar alasanmu selalu dingin pada teman temanmu karena mengira salah satu dari mereka adalah tunangan misteriusku?? Kau memang pencemburu berat." Ucap Afar membuat Aline memalingkan wajahnya yang merona.


Tanpa mereka sadari seorang yang membawa bukat mawar merah di tangannya merasa sedih melihat kejadian itu. Dia pun membuang bukatnya ke tong sampah dan keluar dari Kediaman Wismajaya.


Orang itu tidak lain Renzo yang berniat mengutarakan perasaannya. Namun malangnya Renzo, cinta pertamanya bertepuk sebelah tangan. Renzo pun masuk kedalam mobilnya dengan wajah dingin nya.


Jika sejak dulu aku menerima perjodohan mommy, pasti aku tidak akan merasakan sakit ini... Semua berakhir... Berakhir... Mungkin memang sudah takdirku untuk dijodohkan. Batin Renzo sembari melajukan mobilnya secepat mungkin.


Di Vila Raka


Setelah sarapan, Raka kembali ke kamarnya guna mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor. Sedangkan Antika tengah duduk bersama Laura dan Randy.


Beberapa saat kemudian, Raka tampak menuruni tangga dan sudah rapi dengan pakaian kantornya. Raka pun menghampiri mereka guna berpamitan.


"Ma, Pa aku berangkat ya... Antika...(Memandang wajah Antika yang tampak cemberut.) Istriku tersayang... Ada apa denganmu??" Ucap Raka meletakan tas kantornya dan duduk disamping Antika.


"Bisakah kau bekerja dirumah saja??" Ucap Antika sembari menunduk.


"Tidak bisa sayang...(Menghusap puncak kepala Antika.) Andian sedang tidak ada jadi aku yang ambil alih... Nanti akan aku usahakan pulang lebih awal bagaimana?? (Antika mengaggukan kepala.) Istri yang baik, aku berangkat dulu ya... Jaga dirimu dan baby baik baik." Ucap Raka sembari mencium kening Antika dan bangkit dari duduknya.


"Jangan sedih ya, aku janji akan pulang cepat jika sudah selesai semuanya." Ucap Raka.


Antika hanya mengaggukan kepala pelan. Raka menghusap perut rata Antika sembari tersenyum. Sedangkan Laura dan Randy hanya tersenyum melihat kebahagiaan putranya.


"Aku berangkat ya... Ma aku titip Antika." Ucap Raka.


"Tentu sayang... Hati hati lah dijalan." Jawab Laura.


Raka pun mengagguk dan menghampiri mobilnya. Perlahan mobil yang Raka kendarai menjauhi kawasan Vila. Laura memandang Antika yang tampak sedih.


Laura pun memberi kode pada Randy untuk meninggalkan mereka berdua. Randy pun mengaggukan kepala dan pergi membiarkan Laura bersama Antika. Setelah Randy pergi, Laura pun mendekati Antika.


"Antika sayang, ayo masuk... Jangan sedih dong kan ada mama sama papa." Ucap Laura. Antika menatap Laura dan memeluknya.


"Sudah...sudah jangan sedih ayo masuk... Kasihan baby junior ikutan sedih kalo mamanya sedih." Ucap Laura dan diangguki oleh Antika.


Laura dan Antika pun masuk kedalam Vila. Sejujurnya, Antika sendiri bingung dengan perubahan dirinya. Dia merasa lebih emosional sejak dia hamil.


Sedangkan dengan Andian.


Selesai sarapan, Arila ikut membantu kedua pelayan yang tengah membersihkan meja makan. Sedangkan Andian sendiri tengah berenang di kolam yang tempatnya disamping ruang olahraga.


Saat Arila membawa piring kotor ke wastafel, dia melihat salah satu pelayan tengah membuat jus. Arila pun mendekat dan ikut memotong wortel membuat pelayan itu terkejut.


"Eh nona muda, saya bisa sendiri." Ucap pelayan itu.


"Tidak apa apa, untuk apa jus ini??" Tanya Arila.


"Tuan muda yang memintanya nona, dia ingin meminumnya setelah selesai berenang." Jawab pelayan.


"Oh... Baiklah kau lanjutkan pekerjaan yang lain... Aku yang akan mengantarkan jus ini padanya." Ucap Arila.


"Baik nona muda... Saya permisi." Pamit pelayan tersebut.


Beberapa saat kemudian jus sudah siap. Arila pun membawa jusnya menuju ke kolam renang. Sesampainya disana, Arila melihat suasana kolam yang tampak tenang.


Dimana tameng es?? Sudahlah aku letakan disana saja. Batin Arila.


Arila pun meletakan jusnya di meja samping kursi santai yang terletak disamping kolam. Setelah meletakan jusnya, Arila melihat ke arah kolam.


Kelihatannya kolamnya dalam, tapi tidak ada tameng es dimana dia?? Batin Arila.


Arila merinding karena dia sangat takut dengan kedalaman air. Terakhir kali berenang, Arila tenggelam yang membuatnya terauma. Saat Arila berbalik tiba tiba.


"Apa yang kau lakukan disini??" Ucap Andian tiba tiba.


Kedatangan Andian yang tiba tiba membuat Arila terkejut dan terjatuh kedalam kolam. Andian langsung melepas kaosnya dan ikut masuk kedalam kolam. *Byurr!!!* Andian berenang mendekati Arila. Andian tampak meraih tangan Arila.


Arila langsung memeluk tubuh Andian erat. Karena kedalaman kolam sebatas dada Andian, Andian bisa berdiri didalam kolam tersebut. Arila memeluk tubuh Andian sangat erat membuat Andian tersentak.


"Hey lepaskan... Ini tidak dalam." Ucap Andian hendak melepas pelukan dari Arila.


"Tidak...tidak jangan lepaskan." Ucap Arila dengan wajah ketakutan dan memperat pelukannya.


"Tidak ada gunanya kau takut, semakin kau takut akan semakin membuatmu lebih dekat dengan hal yang kau takuti itu... (Arila memandang Andian.) Ini hanya sebatas dadaku turunkan kakimu perlahan, percayalah padaku... Aku akan memegangimu." Ucap Andian.


Perlahan Arila menurunkan kakinya, dia masih berpegangan Andian karena jujur dia masih takut. Setelah menapakan kakinya dengan sempurna, ketakutan Arila sedikit menghilang begitu tau dalamnya kolam hanya sebatas dadanya. Saat Andian hendak melepaskan genggamannya, Arila kembali memeluknya namun kakinya masih menapak didalam kolam.


"Kenapa?? Apa kau masih takut??" Tanya Andian lembut sembari menatap wajah Arila.


"Ak...aku masih takut... Jangan tinggalkan aku." Jawab Arila mendongak memandang wajah Andian.


Andian melingkarkan tangannya pada pinggang Arila membuat Arila menatap Andian. Mereka saling menatap satu sama lain. Andian mendekatkan wajahnya pada Arila sedangkan Arila seolah terhipnotis oleh tatapan Andian.


Mata Arila terbelak saat Andian mencium bibirnya dalam. Karena terbawa suasana, Arila merangkulkan tangannya pada leher kekar Andian. Kini keduanya sama sama menikmati moment itu.


Saat Arila kehabisan napas, saat itulah Andian melepas ciumannya. Suasana menjadi canggung saat mereka sadar akan yang mereka lakukan.


"Pakaianmu basah ayo aku bawa kau kepinggir kolam." Ucap Andian dan diangguki oleh Arila.


Sampai dipinggir kolam, Andian membalutkan handuk pada Arila. Setelah itu Arila pun pergi untuk mengganti pakaiannya yang basah. Sedangkan Andian meminum jus wortel yang di bawakan oleh Arila.