Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Extra Part



Extra Part—3


Extra part spesial untuk para readers, jangan lupa komen, like dan votenya ya❤️


Aline pun tersenyum kemudian berjalan membuntuti Renzo. Mereka tampak menuju ke teras. Aline manatap Renzo yang sedari tadi diam.


"Ada apa Renzo?? Kenapa kita harus keluar??" Tanya Aline. Renzo tersenyum mendengar ucapan hangat Aline, tidak sedingin dan segalak dulu saat bertemu.


"Kau sudah banyak berubah Aline... Aku senang, dan iya selamat atas pernikahanmu." Ucap Renzo. Bertepatan dengan itu Lyara tidak sengaja lewat. Karena penasaran, Lyara berhenti sejenak mendengarkan perbincangan mereka.


"Terima kasih... Kau juga selamat atas pernikahanmu, istrimu cantik dan baik." Ucap Aline.


"Tapi dia tidak secantik dirimu Aline, (Lyara menegang dan merasakan sesak didadanya.) Sayangnya kau sudah milik orang lain." Ucap Renzo.


"Apa yang sebenarnya ingin kau jelaskan?" Tanya Aline bingung. Tampak Renzo meraih tangan Aline dan menggegamnya erat.


"Aku hanya ingin memberitaumu, sejak awal bertemu denganmu... Aku menyukaimu Aline... Sangat, kau tipe wanita yang aku inginkan." Jawab Renzo membuat Lyara berkaca kaca.


"Tidak ada gunanya kau memberitaukan hal itu, aku sudah menikah dengan peria yang kucintai." Ucap Aline.


"Aku tau, memang terlambat... Tapi, Aku mencintaimu Aline." Ucap Renzo membuat Lyara meneteskan air matanya seketika.


Jika kau masih mencintainya, kenapa harus menyentuh ku Renzo?? Kenapa kau membuatku sesakit ini. Batin Lyara kemudian meninggalkan tempat itu.


"Tapi itu dulu, semua perasaan yang miliki itu dulu... Sekarang, aku sedang berusaha mencintai istriku... Dia memberikan sesuatu yang berharga padaku, aku hanya ingin memberitaumu hal ini Aline... Dan aku merasa lega telah mengatakannya padamu... Meskipun begitu, bisa kita menjadi sahabat Aline." Ucap Renzo sembari mengulurkan tangannya. Tampak Aline tersenyum dan menjabat tangan Renzo.


"Tentu... Kau sudah selesai bicara kan?? Ikut aku, aku ingin mengenalkanmu pada suamiku agar tidak ada kesalahpahaman." Ucap Aline dan diangguki oleh Renzo.


Mereka pun kembali masuk kedalam dan menghampiri Afar yang sedang berbincang dengan Arion. Sedangkan Lyara, dia duduk disamping Renia dengan tatapan kosong. Dilihatnya Renzo tertawa bahagia. Hal itu membuat Lyara merasa sedih karena baru pertama melihat Renzo sebahagia itu.


"Lyara sayang kamu kenapa??" Tanya Renia.


"Aku tidak apa apa mommy." Jawab Lyara sembari tersenyum.


"Mommy kira kenapa??" Ucap Renia.


Dengan pikiran melayang, Lyara ikut berbincang dengan Renia dan lainnya. Saat mereka sibuk berbincang, tiba tiba seseorang datang. Seorang yang tidak diundang namun hadir disana.


"Happy Anniversary sahabatku Raka." Ucap seorang peria yang tak lain Fandi. Hal itu membuat Naira menunduk menyembunyikan rasa takutnya.


"Kamu kenapa Naira??" Tanya Arila.


"Tidak apa apa." Jawab Naira senyum paksa.


"Kak Lyara temani aku menemui kak Antika"


Peria br*ngs*k itu lagi?? Batin Kean.


"Gawat, Raka tidak mengundangnya... Kenapa dia bisa datang??" Ucap Zain. Tampak Andian memandang ke arah Naira yang sedang berbincang dengan Arila.


"Itu karena dia... Kurasa akan ada hal yang terjadi." Ucap Andian.


"Terima kasih Fandi." Jawab Raka dengan enggan. Tampak Fandi tersenyum menatap Naira. Naira yang ketakutan pun hanya menunduk.


"Naira temani aku mengambil jus sekalian kau juga." Ajak Arila.


"Ayo." Jawab Naira.


Mereka berdua pun menuju ke sudut ruangan yang agak sepi. Naira dan Arila duduk berdua disana. Saat semua orang lengah, Fandi mendekat ke arah Naira.


"Hai Arila." Sapa Fandi.


"Hai." Jawab Arila singkat. Sedangkan Naira diam dengan tangan bergetar. Melihat hal itu, Fandi mendekat dan menyentuh tangan Naira.


"Kenapa bergetar begini?? Kau takut??" Bisik Fandi didaun telinga Naira. Naira pun berdiri dari duduknya.


"Aku izin ke toilet." Ucap Naira pada Arila.


Belum Arila menjawab tampak buru buru Naira menjauhi Arila dan Fandi. Arila yang tidak tau apa apa pun membiarkan Fandi mengikutinya.


Sepertinya Fandi bukan orang baik... Apa hubungannya dengan Naira?? Kenapa dia berani bicara begitu. Aku harus menyusul Naira. Batin Arila kemudian menyusul Naira.


Dan benar saja. Arila melihat Naira yang dibungkam oleh Fandi dan Fandi sedang menciumi leher jenjang Naira. Naira tidak bisa memberontak lantaran Fandi mengunci kedua tangannya.


"Hey lepaskan dia... Dasar peria br*ngs*k." Ucap Arila sembari menarik lengan Fandi. Karena tertutup oleh nafsu, Fandi menghempaskan tubuh Arila.


"Aaaaa!!!!" Teriak Arila dan “Bruk!!!” kepalanya membentur tembok dan Arila tak sadarkan diri. Saat akan membuka resleting gaun Naira, tiba tiba “Bugh!!! Bugh!!! Bugh!!” Kean memukul habis habisan Fandi.


“Prankk!!!” Gelas anggur yang Andian pegang tiba tiba saja jatuh. Sejenak Andian memikirkan Arila.


"Kau kenapa Andian?? Kau baik baik saja??" Tanya Arion. Andian menatap ke sudut ruangan dan tidak menemukan Arila. Bertepatan dengan itu Andian mendengar teriakan Arila dari toilet.


"Arila." Lirih Andian kemudian berlari menuju ke arah toilet.


Mata Andian terbelak melihat Arila digendongan Kean sedangkan Naira dengan wajah sembab dan kondisinya berantakan. Dia menatap Fandi yang tersungkur disana. Andian menggendong Arila yang tak sadarkan diri.


"Andian bawa dia ke kamarku." Ucap Raka. Tanpa bicara lagi Andian buru buru membawa Arila ke kamar Raka. Melihat hal itu membuat para tamu heboh.


"Arila." Ucap Tarti kemudian bangkit dari duduknya. Tarti dan lainnya pun menyusul Andian. Sedangkan Naira menangis dan menyalahkan dirinya. Melihat hal itu Kean mendekat ke arahnya.


"Ini semua salah ku tuan... Salahku." Ucap Naira. Dan tanpa diduga Kean memeluk tubuh Naira membuat dia terkejut.


"Ini bukan salahmu... Untung aku datang disaat yang tepat." Ucap Kean.


Naira membalas pelukannya dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Kean. Melihat hal itu, Arion tersenyum karena dapat dilihat Kean begitu peduli dan mungkin sudah memiliki perasaan pada Naira. Senyum Arion pudar dan menatap Fandi dingin.


"Fandi Fermansyah... Sudah berkali kali Aku ingatkan untuk tidak menyentuh wanita yang bukan milikmu, apalagi secara paksa." Ucap Zain dingin.


"Aku tidak peduli!!!!" Ucap Fandi keras meskipun dia terluka cukup parah. Tampak Zain menelfon seseorang.


📞


"Kalian datang kemari secepatnya." Ucap Zain singkat kemudian mematikan ponselnya.


"Arion hubungi Dicko dan katakan jika anak kesayangannya berada dimarkasku. Aku takut jika dia terus disini... Andian akan membunuhnya dan itu sia sia." Timpal Zain.


"Serahkan padaku." Ucap Arion. Beberapa saat kemudian, tampak anak buah Zain yang dia telefon datang dan menyeret Fandi pergi.


"Bawa dia ke markas, jika Dicko datang maka biarkan dia menunggu." Ucap Zain.


"Baik tuan muda." Jawab mereka kemudian membawa Fandi pergi.


"Lepaskan aku!!! Zain kau sahabat yang tidak setia!!! Aku bersumpah, kau dan anak anakmu kelak akan bermusuhan denganku.. Fandi Fermansyah!!! Ingat itu Zain." Ucap Fandi sebelum pergi.


"Jangan pedulikan dia, kita lihat keadaan Arila." Ucap Zain.


Arion mengagguk dan mereka pun menuju ke kamar Raka. Hari Anniversary yang seharusnya membahagiakan bagi Raka dan Antika justru sangat mengecewakan. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Sesampainya disana tampak Arila tengah diperiksa Chris dokter pribadi sekaligus sahabat Andian.


"Kak Arion." Ucap Antia sembari memeluk Arion.


"Jangan takut, Arila akan baik baik saja." Ucap Arion menenangkan istrinya.


"Bagaimana keadaan istriku Chris?? Dan anak anakku??" Tanya Andian begitu Chris selesai memeriksa.


"Jangan khawatir, hanya kepalanya yang terbentur dan janin dalam kandungannya baik baik saja. Dia akan segera sadar nanti." Jawab Chris membuat semuanya bernapas lega. Andian mencium punggung tangan istrinya.


"Syukurlah kau baik baik saja... Aku hampir mati jika kau kenapa kenapa." Ucap Andian.


"Dimana anak haram Dicko!!! Beraninya membuat putri ku dan kedua cucuku hampir celaka." Ucap Reno tampak emosi.


"Tenang paman, Zain mengurus semuanya. Dan akan dipastikan Fandi tidak muncul lagi dihadapan kita." Ucap Arion. Saat itu tampak Arila tersadar. Dengan wajah menangis Arila memeluk Andian.


"Hiks... Hiks... Maafkan aku, aku hampir mencelakakan anak kita." Ucap Arila. Andian mencium pipi istrinya dan menghapus air matanya.


"Tidak perlu... Yang terpenting kau dan kedua anak kita baik baik saja." Jawab Andian dan memeluk erat istrinya guna menenangkan. Antika menyandarkan kepalanya pada bahu Raka sembari tersenyum melihat keadaan Arila baik baik saja.


"Kakak ipar kau baik baik saja kan?? Tidak ada yang sakit lagi??" Tanya Antia cemas. Arila menghusap air matanya dan menggeleng.


"Kakak ipar tenang saja aku akan melindungi kedua keponakanku, akan aku cincang cincang orang yang mencelakakan kedua keponakanku." Ucap Antia membuat semuanya tertawa kecil.


"Antia kau bahkan takut pada kecoak, bagaimana bisa kau melindungi kedua keponakanku." Ucap Sista membuat yang lainnya tertawa. Tampak Antia malu dan merangkul lengan Arion.


"Kak Arion mereka mentertawakan aku... Hukum mereka." Ucap Antia manja.


"Tapi yang Sista katakan benar sayang." Jawab Arion membuat Antia mengerucutkan bibirnya.


"Yang terpenting sekarang Arila baik baik saja." Ucap Lyin.


Raka menatap Kean yang berdiri disamping Naira. Hal itu membuat dia berbisik pada Arion. Arion tampak tersenyum begitu mendengar bisikan Raka.


"Kean, kau menyukai Naira... Akan lebih baik jika kalian berdua menikah." Ucap Arion membuat Kean menatap Naira. Dan yang lainnya tampak menatap keduanya dengan penasaran.


"Akan aku saya lakukan tuan jika dia menerimanya." Ucap Kean membuat Naira terkejut.


"Naira terima saja... Dia melamarmu." Ucap Arila.


"Benar kak Naira... Terima saja." Timpal Sista dan Antia.


"Bagaimana Naira kau menerima adikku melamarmu??" Tanya Arion.


Ragu ragu Naira mengaggukan kepala dan menatap Kean disampingnya. Tampak semuanya tersenyum bahagia. Malam ini banyak sekali kejadian yang terduga.


"Selamat sekertaris gila akhirnya kau mengakhiri lajang lumutmu itu." Ucap Renzo membuat lainnya tertawa kecil.


"Pernikahan kalian lebih cepat lebih baik. Bukan begitu Arion??" Ucap Raka.


"Iya itu lebih baik." Jawab Arion.


"Kenapa membahas pernikahan Kean, kalian melupakan hari ini hari apa??" Ucap Antika membuat lainnya tertawa.


Hari ini banyak kejadian yang terduga... Dan pada akhirnya mereka mendapatkan kebahagiannya masing masing... Begitu pula denganku bahagia dengan wanita yang aku cintai... Selamanya sampai maut menjemput. Batin Arion menatap Antia yang tengah tertawa bahagia.