
Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘
Terima Kasih dan selamat membaca semua💕
Sedangkan Antika, tubuhnya gemetar dan duduk di bath up sembari meneteskan air matanya. Dia sudah memakai piyama lengkap namun takut keluar. Dia takut jika Raka benar benar akan merengkut kesuciannya malam ini.
Bunda Antika takut, Apa yang harus Antika lakukan...Apa dia akan benar benar memprawaniku malam ini? Tapi aku belum siap... Aku takut hiks...hiks...hiks. Batin Antika sembari menangis.
Tubuhnya tersentak kaget begitu mendengar ketukan pintu yang sangat keras. Antika menghapus air matanya dan menghela napas panjang.
"Hei apa yang kau lakukan?? Keluarlah jangan membuatku menunggu." Ucap Raka sambil mengetuk pintu.
"Se...sebentar." Ucap Antika terbata bata.
Dia pun dengan perlahan membuka pintu kamar mandinya. Seketika dia terkejut ketika Raka langsung menarik Antika dan mencium bibirnya dengan lembut dari yang tadi.
Apa yang terjadi pada peria ini? Apa dia sudah bertaubat atau memang dia hanya ingin menggodaku? Batin Antika disela sela ciumannya.
Raka menuntun tubuh Antika sampai ke ranjang dan menundungi tubuh Antika. Dia kembali menciumi bibir mungil Antika dengan tangan satunya membuka kancing piyama.
"Malam ini kau nikmati saja sentuhan suami mu ini sayang." Ucap Raka tepat di telinga Antika.
Membuat tubuh Antika bergetar dan kepalanya menggeleng berkali kali menahan tangan Raka yang akan membuka piyama tidurnya. Namun tenaganya kalah telak dengan Raka.
Antika pun menangis sejadinya. Mendengar isakan tangis Antika, membuat Raka menghentikan kegiatannya. Dia memandang wajah takut Antika. Raka melepas kuncian tangannya seketika Antika menutupi tubuhnya dan meringkuk sembari menangis.
Melihat hal itu membuat Raka tersadar. Kebenciannya membuat lupa dengan apa yang dia lakukan. Raka bukanlah tipe peria yang berani main tangan pada wanita. Dia pun menghela napas dan menutupi tubuh Antika.
"Maafkan aku....Tidurlah aku tidak akan memaksamu." Ucap Raka menyelimuti Antika.
Antika hanya mengagguk pelan dan membenarkan kancing piyama nya. Dia pun mulai memejamkan matanya berusaha untuk tidur.
Sedangkan dengan Raka dia pun berdiri dan menuju ke balkon kamar Antika. Raka berkali kali menghela napas panjang. Raka memandang Antika yang mulai tertidur kemudian memandang ke pemandangan luar.
Apa yang ku lakukan?? Aku tau ini semua salahku yang tidak menanyakan keberadaan Antia pada Ayah dan ibu... Tapi tidak seharusnya aku menyiksa Antika... Aku sudah berjanji pada Antia agar berusaha menerimanya dan bukan menolak atau menyiksanya... Jika Antia tau perlakuanku pada Antika dia pasti sangat membenciku. Apa aku harus meminta maaf pada Antika? Batin Raka berpikir.
Raka pun berjalan perlahan mendekati Antika yang sudah terlelap. Raka membaringkan tubuhnya di samping Antika. Dia menatap wajah Antika yang tertidur lelap.
"Maafkan aku Antika...Aku berjanji akan berusaha menerimamu...dan tidak menyiksamu." Lirih Raka kemudian mencium kening Antika.
Raka pun memeluk tubuh Antika dari belakang dengan wajah membenam pada punggung Antika.
Di Vila Andian.
Antia merasa bahagia takala dia mendengar jika Andian menyetujui perjodohan nya dengan Arila. Dari awal Antia memang berniat menjodohkan Andian dengan Arila. Namun, Tuhan memihak padanya sehingga tanpa Antia bertindak Arila dan Andian bisa bersatu.
Aku harap kakakku berubah. Aku senang kakak tidak bertengkar dengan papa saat berkumpul tadi. Aku harap kak Arila bisa merubah kak Andian baik sifat maupun kebiasaannya. Batin Antia sembari menatap bintang bintang yang menghiasi langit malam.
Saat itu Arion masuk dan menutup pintunya perlahan. Arion tersenyum melihat Antia berdiri di balkon kamarnya. Arion memeluk Antia dari belakang dan menciumi rambut panjang Antia.
"Kak Arion?? Kenapa kakak belum pulang?"
"Apa istriku mengusirku?"
"Bukan begitu, kakak Mengaggetkan ku tadi."
"Apa yang kau pikirkan?"
"Apa kakak yakin kak Arila bisa merubah kak Andian?"
"Aku percaya...tapi...(Antia melepas pelukan Arion dan menatap Arion.) Kemarin kakak kemana? kenapa tidak mengabariku seharian?"
"Apa istriku sedang mencemaskan ku atau merindukan wajah tampanku?"
"Kak Arion aku tidak bercanda."
"Baiklah aku rasa kau memang harus tau, Kau ingat kecelakan kak Glan? (Antia mengaggukan kepala.) Kecelakan itu sebenarnya ditunjukan untukku tapi justru mengenai kak Glan...(Antia terkejut.) Untuk itu aku menyelidiki dalang dibalik semua ini... dan akan aku buat dia menderita."
"Jadi, kak Glan meninggal karena rencana pembunuhan yang ditunjukkan untuk kakak tapi malah mengenai kakakku? Kak berjanjilah buat orang itu menderita aku sangat membencinya."
"Tentu...(Mencium kening Antia.) Istirahatlah aku akan menenangkan kakakmu...dia pasti perlu aku untuk menenangkan nya."
Antia mengagguk dan perlahan Arion pergi. Antia pun menarik selimutnya dan memejamkan matanya sampai membawanya ke alam mimpi.
Sedangkan dengan Andian. Dia berkali kali menghela napas panjang. Di satu sisi dia hanya seorang pengusaha yang tentu tidak ada pengaruhnya dengan mafia dan disisi lain dia sangat menyayangi Antia.
Andian memukul tembok berkali kali tanpa memperdulikan luka di tangannya. Ketika akan memukulnya lagi tangan Andian terceghat karena ada sebuah tangan yang menceghatnya.
Andian menatap kepada pemilik tangan tersebut yang tidak lain Arion. Arion menghempas tangan Andian kasar dan menatapnya tajam.
"Apa ini Cavan Andian Anza yang ku kenal??? Yang merasa terpukur hanya untuk menikahi seorang gadis...(Memegang kedua bahu Andian.) Ayolah Andian berusahalah berubah... jika bukan untuk dirimu setidaknya untuk Antia dan Kak Glan."
"Tapi kau kenal diriku Arion, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menikah...hal konyol yang hanya bisa membuat seseorang menjadi bodoh karena terlalu terobsesi oleh cinta dan wanita. (Andian berdiri dan membelakangi Arion.) Maka besok Antia sedih atau tidak aku akan tetap membatalkan pernikahan konyol ini."
"Jika kau membatalkannya maka aku akan menjadi penggantinya."
"Apa maksudmu?! Bagaimana dengan Antia kau bilang akan menjaga dan membuat Antia bahagia?"
"Dan jika kau tidak menikahi putri dari Reno Vanect maka Antia setiap hembusan napasnya akan dalam bahaya. (Andian tersadar.) Daripada aku melihatnya dalam bahaya lebih baik aku mengorbankan perasaanku."
Andian terduduk dan mengacak acak rambutnya. Arion benar, bagaimana pun kesepakatan yang berurusan dengan Mafia pasti akan sulit untuk dihindari.
Arion berjalan meninggalkan Andian sendirian. Saat di ambang pintu Arion berbalik menatap Andian.
"Keputusan ada ditanganmu, Jika kau menolak aku akan menerima...tapi jangan salahkan aku jika Antia menangisi ku." Ucap Arion meninggalkan Andian.
Andian pun merebahkan dirinya diatas ranjang. Dia menghela napas berkali kali. Andian memejamkan matanya dan terlelap dalam tidurnya.
{}Keesokan Harinya
Antika terbangun dari tidurnya. Setelah mengumpulkan kesadaran Antika merasakan berat di pinggangnya. Rupanya tangan kekar Raka memeluk erat tubuh Antika.
Dia masih tidur, Aku harus berhati hati jika dia bangun dia pasti akan memarahiku. Batin Antika.
Dengan perlahan Antika menyingkirkan tangan kekar Raka. Butuh waktu cukup lama Antika akhirnya terbebas dari Raka. Antika pun mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum Raka bangun.
Beberapa saat kemudian Antika pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk saja. Dia berjalan mendekati Raka dan melambaikan tangan didepan wajah Raka memastikan dia masih terlelap.
Syukurlah dia masih tidur, aku harus cepat mengambil pakaianku sebelum Raka terbangun. Batin Antika sambil berjalan menuju ke arah lemarinya.
Dengan perlahan Antika membuka lemari pakaiannya dan mengeluarkan pakaian yang hendak dia gunakan. Setelah mendapatkan pakaiannya Antika menutup lemari dan berbalik.
"Aduh..." Rintih Antika begitu mendapati seperti membentur sesuatu.
Saat matanya terbuka Antika menelan ludahnya karas. Ternyata benda keras yang membentur keningnya adalah dada bidang Raka. Antika menunduk dengan tubuh bergetar.
Apa aku bisa selamat kali ini, Tuhan kenapa Engkau biarkan Raka bangun dari tidur nyenyaknya? Batin Antika sembari menunduk.