Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 48



Jangan lupa Like, Vote and Komennya ya😘


Terima Kasih dan selamat membaca semua💕


Keesokan harinya


Andian membuka matanya begitu mendengar suara alarm dari handphone nya. Dengan malas Andian pun mematikan alarm dan hendak bangun. Andian terkejut saat Arila masih dalam pelukannya bahkan lengan kekarnya sebagai bantalan.


Melihat wajah polos dan damai Arila membuat Andian tidak tega membangunkan nya. Dengan perlahan Andian pun menarik lengannya dan memberikan bantal pada Arila. Setelah itu, Andian pun bangun dan menyambar handuk nya kemudian menuju ke kamar mandi.


Beberapa saat setelah Andian masuk ke dalam kamar mandi, Arila membuka matanya perlahan. Tidak ingat apa yang terjadi semalam, Arila bangun dan duduk dibibir ranjang guna mengumpulkan kesadaran. Setelah itu Arila pun memandang jam didinding.


Sudah pukul 5 pagi... Kenapa aku tidur begitu nyenyak semalam?? Batin Arila berusaha mengingat.


Hingga lama mengingat akhirnya Arila mengingat kejadian semalam. Wajah Arila merona begitu mengingat bagaimana lembut nya sikap Andian padanya saat itu.


Semalam benar si tameng es kan?? Kenapa dia begitu lembut?? Tidak Arila, kamu tidak boleh jatuh cinta padanya. Ingat setelah Antia menikah aku dan dia akan bercerai. Batin Arila.


*Cklekk!!!* Pintu kamar mandi terbuka. Tampak Andian memakai handuk dipinggang nya dan memamerkan perut sixpacknya. Membuat Arila memalingkan wajahnya malu.


Andian yang melihat nya hanya menggeleng kan kepala pelan. Andian pun menuju ke walk in closet setelah mengambil pakaian dari dalam lemari. Sedangkan Arila sendiri menuju ke kamar mandi guna membersihkan diri.


Andian keluar dengan jas kantornya. Tanpa menunggu Arila, Andian pun keluar dan menuju ke ruang makan. Tampak Antia sudah menunggunya dengan senyuman dibibir nya.


"Selamat pagi kak." Sapa Antia begitu Andian duduk.


"Pagi." Jawab Andian singkat seperti biasanya.


"Em...dimana kakak ipar???" Tanya Antia.


"Masih bersiap...Gian...(Gian mendekat.) Apa semalam ada masalah dengan listrik nya kenapa tiba tiba mati??" Tanya Andian.


"Iya tuan, karena saya hendak memasangkan lampu di kamar nona Antia jadi sesaat saya mati kan sambungan listriknya... Saya hendak membangunkan anda tapi saya kira anda sudah tidur dijam begitu." Jelas Gian.


Andian pun meresponnya dengan anggukan kepala. Arila yang sudah rapi dengan pakaian nya tampak menuruni tangga dan bergabung sarapan bersama. Tidak ada percakapan apa pun lagi hanya ada suara piring dan sendok.


Selesai sarapan Antia mengambil tasnya. Begitu pun Andian dengan tas kantornya.


"Kakak ipar kami berangkat dulu. Kakak jaga diri baik baik." Ucap Antia sembari melambaikan tangannya.


"Iya, kamu juga belajar yang rajin." Jawab Arila sembari tersenyum.


Setelah berpamitan Antia langsung masuk ke dalam mobil. Sedangkan Andian memandang Arila membuat Arila salah tingkah dan langsung masuk ke dalam Vila. Andian pun masuk ke dalam mobilnya dan melajukan nya menjauhi Vila.


Di Vila Raka


Antika yang mendapat sapaan dari mentari pagi malas membuka matanya. Dia begitu lelah setelah semalaman menghabiskan waktu bersama Raka. Sedangkan dengan Raka, dia sudah siap dengan jas kantornya. Melihat Antika masih tidur membuat Raka mendekat.


"Istriku tersayang bangun. Apa kamu tidak mau sarapan??" Ucap Raka sembari mencium pipi kanan Antika.


"Emh... Nanti saja aku masih lelah. Kamu pergilah bekerja." Jawab Antika sembari menarik selimutnya sampai batas leher.


"Aku akan pergi setelah dapat morning kiss darimu." Ucap Raka menggoda.


Tanpa diduga Antika mencium bibir nya sekilas dan kembali tidur.


"Udah sana berangkat." Ucap Antika. Raka pun tersenyum dan mencium kening Antika.


"Baiklah sayang, aku berangkat dulu kamu jangan lupa sarapan." Ucap Raka kemudian pergi.


Raka pun menuruni tangga dan melihat kedua orang tuanya sedang di meja makan hendak sarapan.


"Loh sayang langsung berangkat?? Nggak sarapan dulu??" Tanya Laura begitu melihat Raka langsung mengambil tas kerjanya.


"Iya ma, Raka hampir telat metting nanti bisa bisa Andian ngomel. Raka sarapan di kantor aja. Oh iya ma... Entar bangunin Antika buat sarapan ya tadi mungkin dia masih kelelahan." Jawab Raka sembari menggunakan kardigannya.


"Begitu... Iya entar mama bangunin... Kamu hati hati dijalan ya sayang." Ucap Laura dan diangguki oleh Raka yang dengan buru buru langsung keluar.


"Pa lihat kan, anak kita udah berubah." Ucap Laura.


"Iya ma...nggak nyangka dulu bejatnya gimana jadi berubah gini. Papa seneng lihatnya." Jawab Randy.


"Iya ma...papa juga nggak sabar mau gendong cucu." Ucap Randy.


Setelah perbincangan kecil Randy dan Laura pun melanjutkan kegiatan sarapannya. Setelah selesai sarapan, Laura membawa nampan berisi sarapan pagi untuk Antika.


Laura pun masuk ke dalam kamar Raka dan melihat Antika masih tertidur diranjang. Laura tersenyum melihat pakaian Antika masih berserak dilantai. Laura meletakan nampan nya diatas nakas dan membangunkan Antika.


"Antika sayang... Bangun nak sarapan dulu." Ucap Laura sembari menepuk pelan pipi Antika.


"Ma...mama." Ucap Antika terkejut dan langsung bangun dengan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Hahaha... Jangan kaget gitu dong sayang... Ini mama bawain sarapan buat kamu... Pantes Raka bilang kelelahan rupanya habis begadang ya." Ucap Laura dengan nada menggoda. Tentu hal itu membuat Antika merona malu.


"Ya udah mama suapin ya." Ucap Laura sembari menyondorkan makanan.


"Ng...nggak ma...Antika bisa sendiri." Jawab Antika.


"Nggak apa apa sayang... Sekali kali mama pengen nyuapin menantu mama." Ucap Laura.


Antika yang tidak ada alasan untuk menolak pun menerima setiap suapan yang Laura berikan. Laura pun memandang Antika sembari tersenyum.


Beberapa saat kemudian sarapan yang Laura bawa habis tanpa sisa. Laura pun mengambilkan minum dan menyondorkan nya pada Antika. Laura menyelipkan rambut panjang Antika ke telinga membuat Antika menoleh.


"Terima kasih ya sayang... Berkat kamu putra mama satu satunya mau berubah." Ucap Laura sembari tersenyum tulus.


"Maksud mama??" Tanya Antika yang sebenarnya ingin tau lebih tentang suaminya.


"Kamu tau nggak sayang, dulu saat masih SMA Raka jarang banget kesini... Bahkan nggak sekali pun mama bisa ngerasain sarapan bareng anak mama sendiri... Raka dulu sering banget buat onar di SMA bahkan sering ke klab sama temen temennya... Mama juga didatangin banyak gadis yang nangis minta Raka buat balik sama mereka... Tapi mama sendiri juga bingung mau gimana... Sampe pas kelas 3 SMA kakak sepupunya Raka, Glan memarahinya begitu pun Andian. Mereka disuruh papa buat ngerubah sikap Raka bagaimana pun caranya. Tapi Raka masih bandel, sampai Glan meninggal buat dia sadar dan tidak pernah ke klab lagi... Tapi, dia masih suka mainin hati gadis membuat mama kesal dan menjodoh kan dia berkali kali... Sampai akhirnya dijodohkan sama kamu baru mau dan akhirnya Raka berubah sekarang." Jawab Laura panjang menceritakan kenakalan putra nya.


"Begitu ya ma... Harus nya mama nggak perlu berterima kasih, ini sudah kewajiban Antika sebagai istri untuk merubah sikap buruknya." Ucap Antika dan tentu membuat Laura memeluk nya.


"Iya sayang mama ngerti...(Melepas pelukannya perlahan.) Sekarang kamu mandi ya. Mama sama papa tunggu dibawah." Ucap Laura sembari berdiri dan membawa nampan nya.


Antika pun mengagguk dan menunggu sampai Laura keluar kemudian menutup pintunya.


Jadi bener ya Raka dulu sesering itu sampai sampai mama juga kelihatan sedih banget... Aku kira dia hanya peria playboy rupanya lebih dari itu... Tapi itu dulu dan sekarang dia suami ku yang sudah berubah. Batin Antika sembari tersenyum.


Antika pun memungut pakaiannya dan menuju ke kamar mandi guna membersihkan diri.


Di Sekolah


Antia memasuki sekolah nya begitu keluar dari dalam mobil kakaknya. Tampak dari kejauhan Sista mendekat padanya sembari tersenyum.


"Antia kamu baru berangkat?? Gimana rencana kamu buat nyatuin kakak dan kakak ipar??" Tanya Sista yang langsung menarik Antia duduk disebelahnya.


"Jangan keras keras... Berhasil Sis... Untung Gian bantu buat cari alasannya kalo nggak bisa mati aku... Kayaknya terjadi sesuatu diantara mereka buktinya Kakakku yang super duper males tanya soal yang dianggapnya nggak penting langsung tanya begitu sarapan tadi pagi." Jawab Antia.


"Syukurlah aku harap hubungan mereka membaik... Ibu juga seneng banget pas aku cerita soal suap suapan waktu itu." Ucap Sista.


"Iya apa lagi mama sama papa aku... Mereka bahagia banget kelihatannya." Ucap Antia.


"Eh iya kok pak Lukas lama nggak ngajar ya??" Tanya Antia dimana membuat raut wajah Sista kesal.


"Nggak tau katanya lagi sakit... Semoga aja nggak sembuh sembuh." Jawab Sista.


"Hust...Sista kamu ini jangan asal asalan... Pak Lukas juga guru kita...(Bel berbunyi.) Tuh kan bel bunyi." Ucap Antia.


"Abisnya bahas si kakak tua narsis itu... Ya udah aku balik ke kelas dulu ya... Semangat ngerjain ujiannya ya... Inget mau nikah sama pangeran." Ucap Sista menggoda.


"Apaan sih Sis... Kamu juga semangat ngerjainnya jangan mikirin kakak tua narsis mu itu." Ucap Antia balik menggoda.


Sista pun kesal dan masuk ke kelasnya begitu saja membuat Antia tersenyum. Antia pun menatap pohon yang mulai berbunga dengan indahnya. Dan kemudian memandang langit pagi yang begitu cerah.


Kak Arion, aku tau kamu pasti gelisah menunggu ku sampai detik ini... Bahkan kesehatanmu juga kamu kesampingkan... Aku sangat beruntung terlahir sebagai pasangan sekaligus orang yang kakak perjuangkan... Terima Kasih Tuhan telah memberiku peria setulus dan sebaik kak Arion. Dan tinggal beberapa pekan lagi ujian selesai sampai menunggu hari kelulusan tiba. Batin Antia.


Antia pun masuk ke dalam kelasnya dan mengerjakan ujiannya dengan sungguh sungguh berharap hasilnya memuaskan.


Tidak salah jika berusaha menerima, tapi kesalahan nya terletak pada rasa keterpaksaan untuk menerima ku dalam hidupmu. ~Arila Loviana Maharani