Matchmaking By My Brother

Matchmaking By My Brother
Episod 4



Di Kediaman Anza


Gio masih memikirkan kenapa bisa sorang yang baginya tak pantas menjadi pendamping Antia yang sejak dulu keluarganya dihina olehnya justru mengancamnya. Saat itu Lyin datang dengan wajah bahagia dan senyum mengambang diwajahnya. Dia pun duduk disamping suaminya.


"Pa Antia mendapat peringkat pertama di sekolahnya. Apa kita tidak menjenguknya?" Ucap Lyin. Gio menghusap puncak kepala Lyin dan mencium keningnya.


"Tentu tapi aku tidak ingin bertengkar dengan anak sialan itu." Jawab Gio. Lyin tampak sedih dengan jawaban suaminya. Namun karena kerinduannya pada kedua putra putrinya Lyin memilih menemuinya tanpa suaminya.


"Baiklah." Jawab Lyin. Gio pun menyalakan televisi dan tampaklah sebuah berita.


"Selamat Sore, Di sore yang cerah ini bertepatan dengan berita cerah jua... Siapa yang tidak tau Colvis Anvert Grop yang baru baru ini menduduki peringkat pertama dunia... Dalam sekali ketukan jari perusahaan manapun bisa menjadi miliknya... Tentu kabar gembira jika sang presdir muda misterius akan menampakan diri. Dalam Konfersi pres Presdir CAG mengundang seluruh Presdir di Indonesia. Penasaran besok kami beri siaran langsungnya."


Berita itu sekilas membuat Gio penasaran. Datanglah sekertarinya Bima.


"Tuan anda barusan mendapat undangan dari konfersi pres atas penyambutan Presdir CAG." Ucap Bima.


"Baiklah besok aku akan datang." Jawab Gio. Bima pun pamit undur diri.


"Kau mau kesana sekarang atau besok?" Tanya Gio.


"Sekarang saja, Jika besok Andian pasti tidak ada dirumah. Aku pamit dulu." Jawab Lyin kemudian pamit pergi. Gio pun mengaggukan kepala.


Di Vila


Antia dan Andian juga sama tengah melihat berita itu. Antia sangat penasaran terlebih saat tau jika pengaruh peria itu sangatlah kuat.


"Kak apa kau pernah bekerja sama dengan presdir itu?" Tanya Antia. Andian mengganti chanel TV.


"Belum pernah sangat sulit untuk bernegosiasi dengannya." Jawab Andian.


"Begitu ya, kakak pernah bertemu dengannya?" Tanya Antia ingin tau.


"Sudah, Kau juga sudah tapi lupakan saja." Jawab Andian. Membuat kening Antia berkerut. *Ting tong.* Suara bel Vila.


"Gian!" Panggil Andian. Gian tau maksud dari Andian pun membukakan pintu.


"Tuan nona... Nyonya besar datang." Ucap Gian. Saat Antia hendak pergi Andian menceghat.


"Tunggu... Apa Gio ikut dengannya?" Tanya Andian.


"Tidak tuan muda. Nyonya besar hanya bersama sekertaris Bima." Jawab Gian. Andian pun menyikirkan tangannya yang menceghat Antia pergi. Antia dengan bahagia menghampiri ibunya. Dia pun memeluk Lyin.


"Mama Antia rindu mama." Ucap Antia. Lyin mengelus puncak kepala Antia dan menciumnya.


"Mama juga sayang...selamat ya atas keberhasilan kamu... Maafkan mama karena tidak ada disaat kamu menerima semua penghargaan ini." Ucap Lyin sembari menunduk.


"Iya ma Antia ngerti... Yuk masuk kak Andian ada didalam." Ajak Antia. Lyin dan Antia pun masuk sedangkan Bima menunggu didalam mobil. Lyin melihat Andian tampak fokus dengan televisinya.


"Andian." Ucap Lyin mendekat.


"Mama... Gimana kabarnya? Gio sialan itu nggak sakiti mama kan?" Tanya Andian. Lyin menggegam tangan putra dan putrinya.


"Tidak ada yang bisa sakiti mama selama ada kalian. Kamu sudah ke makam kakak Glan sayang?" Tanya Lyin pada Antia.


"Sudah ma... Pasti kak Glan seneng disana." Jawab Antia. Lyin mengagguk dan mencium kening Antia.


"Terima kasih ma...Nanti Antia akan memakannya." Jawab Antia.


"Antia kakak ingin bicara empat mata dengan mama masuklah kedalam kamar." Ucap Andian.


"Baiklah kak... Ma Antia ke kamar dulu ya." Pamit Antia kemudian mencium pipi Lyin. Antia pun pergi Andian pun berdiri dan menuju ke jendela yang cermin panjangnya membentang. Lyin pun menepuk bahu tinggi putranya.


"Apa yang ingin kau bicarakan Andian?" Tanya Lyin pada putranya. Andian berbalik dan menatap ibunya.


"Ma...dia berhasil menepati janjinya dan dia memang pantas untuk Antia." Ucap Andian tanpa basa basi. Lyin tersenyum dan menggenggam tangan Andian.


"Pilihamu adalah yang terbaik... Bukankah kau dan Glan berjanji akan memberikan yang terbaik? Antia adalah gadis yang polos dan baik dia adikmu... Setelah kepergian Glan keputusan mengenai itu hanya ada padamu." Jawab Lyin. Andian pun mengagguk.


"Besok dia akan mengungkap dirinya dan aku rasa semua orang yang menghinanya akan segera mendapat hal yang setimpal." Ucap Andian.


"Dia memang berusaha untuk mewujudkannya mama bisa melihat dia hanya ingin ada seseorang yang bisa menemaninya dalam hati kecilnya." Jelas Lyin.


Andian mengagguk paham karena sedari kecil sehabat misteriusnya itu bertentangan dengan orang tuanya dan dengan kakeknya mantan bos mafia terbesar seasia dan itulah mengapa sehabatnya bisa ahli dalam bela diri daripada Andian. Andian sendiri bahkan belajar darinya. Sedangkan dengan Antia sambil mengemil coklat buatan ibunya Antia melihat grup chat kelas. Dan seperti dugaan Antia kini di kelas 3A.


"Akhirnya dikelas impian." Lirih Antia bahagia. Meskipun harus terpisah dengan Sista yang di kelas 3B. Tiba tiba ada nomor tidak dikenal menelfon Antia berkali kali. Membuat Antia takut dan enggan mengangkat telefon. Sampai lebih dari 70 kali. Lyin datang membawa coklat panas kesukaan Antia.


"Sayang daritadi ada yang telefon kenapa tidak diangkat?" Tanya Lyin sambil meletakan baki diatas nakas. Takut jika Lyin akan mengangkat akhirnya Antia memutuskan mengangkatnya.


"Iya ma Antia angkat telefon dulu ya." Pamit Antia.


"Mama juga sayang... Mama pulang dulu ya sayang patuhlah dengan kakakmu ya... Mama pulang dulu." Pamit Lyin sambil mencium kening Antia. Lyin pun pergi dan Antia mengangkat telefonnya.


📞


"Hallo ini siapa ya?" Ucap Antia membuka pembicaraan. Antia hanya mendengar suara tawa kecil yang terdengar bahagia.


"Hallo!!! Jika kamu penjahat aku akan adukan pada kakakku." Ucap Antia yang sebenarnya takut namun memberanikan diri.


"Gadis kecil apa kau mengira aku penjahat?" Jawab diseberang sana.


"Aku bukan gadis kecil...Aku tutup telfonnya."


Ucap Antia sambil menutup teleponnya.


Saat hendak mematikan hpnya, ada chat dari nomor misterius itu. [Gadis kecilku besok kita akan bertemu.] Begitulah isi chat tersebut. Antia pun mematikan telefonnya. Benaknya terus bertanya tanya siapa peria yang mencium keningnya dengan dalam dan siapa perppia yang menelfonnya tadi. Hingga dia menjatuhkan tubuhnya pada ranjang dan terlelap dalam tidurnya.


Disisi Lain


Peria muda berwajah misterius itu tersenyum. Membuat sekertarisnya tidak mempercayai jika dia adalah tuannya yang selama ini berwajah dingin.


"Kean dia memang gadis kecilku." Ucap Peria itu dengan tersenyum sembari menggoyangkan gelas coktailnya.


Kean Arjuna Pratama tangan kanan sekaligus sekertaris kepercayaannya. Sifatnya dingin dan kejam. Jika tuannya mengatakan iya maka semua akan dia lakukan.


"Tuan muda apakah nona muda itu yang membuat anda menguasai dunia?" Tanya Kean. Peria itu meletakan gelasnya ke meja kacanya dan berdiri kemudian menatap indahnya malam kota.


"Bukan hanya dunia apapun akan aku lakukan demi untuknya." Ucap peria itu sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.